Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.
Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.
Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.
Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.
Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapatkan Restu dari calon mertua
Malam harinya, Bara tiba di Rumah lama Keluarga Wijaya. Suasananya hangat dan mewah dengan nuansa klasik, berbeda dengan vila pribadinya yang modern dan minimalis.
Nyonya Wijaya menyambutnya dengan senyum lembut, tapi ada tatapan tajam yang dia sembunyikan. Mereka duduk bersanding di ruang keluarga yang nyaman.
Nyonya Wijaya menuangkan teh hangat ke cangkir anaknya, lalu mulai membuka pembicaraan dengan nada lembut namun penuh strategi.
"Gimana Nak? Kerjaan lancar terus kan? Mama dengar perusahaan makin maju dan sukses ya. Mama bangga banget sama kamu." Tanya Nyonya Wijaya santai.
Bara tersenyum bangga sambil menyesap tehnya.
"Lancar semua ma. Bara akan usaha semaksimal mungkin kok." katanya dengan santai.
Nyonya Wijaya mengangguk pelan, lalu tatap mata anaknya serius.
"Kalau soal karir udah aman, lancar, dan mapan... Terus kapan soal rumah tangga Nak? Bara sudah siap belum? Mama sudah setua ini pengen banget liat kamu punya pendamping hidup, punya keluarga sendiri, dan ada yang jagain kamu" Lanjut Nyonya Wijaya.
Mendengar pertanyaan itu, wajah Bara langsung bersinar. Senyum lebar mengembang di wajahnya. Ingatannya langsung terbang ke sosok Zea yang imut, baik, dan sudah resmi dia lamar.
Dengan penuh keyakinan dan kebahagiaan, Bara mengangguk mantap.
"Sebenernya... Bara udah siap banget Ma. Bahkan sebenernya Bara udah nungguin momen ini buat ngomong sama Mama." Seru Bara bangga.
Mata nyonya Wijaya membelalak sedikit, dia tidak menyangka anaknya akan semudah ini mengaku.
"Maksud kamu? Berarti... kamu udah punya calon? Udah ada wanita pilihan kamu?" Tanya Nyonya Wijaya cepat menahan antisipasi.
Bara mengangguk sangat antusias, matanya berbinar cerah.
"IYA MA! Bara udah punya wanita yang benar-benar bara sayang, hormati, dan mau bara jadikan istri. Dia orangnya baik banget, rajin, tulus, dan yang paling penting dia bikin bara bahagia." Seru Bara.
Bara bicara dengan penuh cinta tanpa sadar kalau dia sedang masuk ke perangkap.
Mendengar penjelasan yang penuh semangat itu, Nyonya Wijaya justru menajamkan pendengarannya.
''Wanita pilihan... baik katanya... tapi kok ada yang laporin lain?'' Batin Nyonya Wijaya.
Dengan wajah tetap tenang, Nyonya Wijaya mengajukan syarat utama.
"Syukurlah kalau begitu Nak. Mama senang dengarnya. Tapi ingat ya, memilih istri itu bukan main-main. Harus jelas asal-usulnya, kelakuannya, dan harus restu orang tua." Ujar Nyonya Wijaya dengan tegas namun lembut.
Ia menatap Bara lekat-lekat.
"Kalau kamu bilang dia wanita yang baik dan pilihanmu... Bawa dia ke sini. Segera. Mama mau ketemu, mau liat langsung, mau kenalan, dan mau nilai sendiri orangnya seperti apa. Bawa dia secepatnya ya Nak, biar Mama bisa pastikan apakah dia memang pantas jadi menantu Mama atau tidak." Lanjut Nyonya Wijaya.
DEG!
Bara sama sekali tidak curiga. Dia malah senang karena akhirnya keluarganya mau menerima Zea.
"BENERAN MA?! Wah asik banget! Siap Ma! Nanti Bara omongin dulu sama dia, terus Bara bawa kesini! Pasti Mama bakal suka kok sama dia! Namanya Zea Ma!" Seru Bara girang.
Sebutan nama "Zea" itu membuat senyum Mama Bara berubah tipis dan dingin.
"Jadi namanya Zea ya... Oke. Tunggu saja ya Nak. Besok Mama akan ketemu 'wanita baik' yang katanya perayu dan genit itu. Mama akan buktikan sendiri kebenarannya." Gumam Nyonya Wijaya dalam hati.
Keesokan harinya, Bara dan Zea bekerja normal seperti biasa.
Namun setelah pulang kerja, Bara langsung menghampiri Zea.
"Sayang... Aku punya kabar baik banget buat kamu!" Kata Bara.
Zea menoleh dengan senyum manis, siap mendengarkan.
"Kabar apa Tuan Bara?" Jawab Zea sopan.
Tiba-tiba Bara mencubit pelan pipi Zea karena gemas, lalu menatapnya dengan tatapan mendelik manja.
"Bisa gak jangan panggil Tuan lagi, sangat tidak rekomendasi!" Protes Bara.
Zea langsung tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
"Ih iya deh iya! Kebiasaan kan emang! Terus panggil apa dong? Mas Bara? Atau Sayang?" Seru Zea.
Bara tersenyum lebar puas dengan perkataan Zea.
"Nah gitu dong! Panggil Mas, atau Sayang, atau apa aja deh yang manis. Pokoknya jangan Tuan lagi kalau lagi berdua. Karena kita calon suami istri, bukan atasan bawahan lagi ." Ujar Bara.
Setelah selesai ngelurusin aturan panggilan, Bara kembali ke topik utama dengan wajah bahagia.
"Tadi Mamaku nelpon dan minta ketemu sama kamu! Dia udah tau kalau aku udah punya pilihan hati, dan dia pengen banget kenalan langsung sama kamu." Seru Bara.
Mata Zea membelalak sedikit, tapi bukan karena takut, tapi karena senang dan terharu.
"Benaran?! Mama kamu eh maksutnya nyonya Wijaya mau ketemu aku?!" Seru Zea antusias.
Bara mengangguk semangat sambil pegang tangan Zea.
"Iyalah! Mama kan pengen liat langsung calon menantunya. Dia minta aku bawa kamu secepatnya ke rumah lama. Gimana sayang? Kamu siap kan?" Lanjut Bara.
Zea sama sekali tidak berpikir negatif atau curiga soal fitnah-fitnah tadi. Dia pikir ini proses yang wajar dan indah.
Dengan senyum lebar dan penuh keyakinan, Zea mengangguk mantap.
"Si-siap sih! Tapi entah kenapa kok rasanya deg-degkan ya" Ujar Zea.
Bara langsung girang dan peluk Zea erat-erat.
"Mamaku baik kok, pokoknya kamu jangan berpikiran aneh-aneh oke!" Seru Bara.
*
*
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Bara membawa Zea datang ke Rumah Lama. Penampilan Zea sangat sopan, anggun, dan berbicara dengan nada lembut sekali.
Mereka duduk bertiga di ruang tamu. Saat Zea mengangkat wajahnya dan menatap Nyonya Wijaya sambil tersenyum...
DEG!
Mata Mama Bara membelalak lebar, napasnya tertahan sejenak.
"Aku akan ke atas dulu, ma jangan menindas calon istriku ya". Ujar Bara, memperingatkan.
"YA AMPUN! JADI INI YANG NAMANYA ZEA" Batin Nyonya Wijaya kaget.
Tiba-tiba ingatan Nyonya Wijaya melayang ke beberapa waktu lalu, waktu itu dia sempat membereskan kamar Bara di rumah lama ini, dan tanpa sengaja melihat sebuah foto polaroid atau foto bingkai kecil yang ditaruh di meja belajar.
Fotonya adalah foto zaman SMA, cewek imut yang senyumnya manis banget. Dan saat itu Bara bilang kalau itu cewek yang dia sukai dari jauh.
"Gila... Jadi selama ini yang ada di foto itu, yang Bara simpan bertahun-tahun, yang Bara kagumin dari SMA, itu Zea! Pantesan wajahnya nempel banget di kepala! Jadi bukan baru kenal kemaren-kemaren doang?! Mereka punya sejarah panjang?!" Batin Nyonya Wijaya.
Rasa kaget dan terharu bercampur jadi satu, akan tetapi tetap ingin menilai sendiri.
Meskipun sudah tahu dan sudah familiar karena sering liat fotonya, Nyonya Wijaya tetap tidak menunjukkan ekspresi kagetnya. Dia tetap bersikap tenang dan sedikit tegas.
Dia masih ingat laporan fitnah yang masuk, "Katanya dia genit, katanya dia perayu, katanya dia manfaatin Bara."
Nyonya Wijaya ingin pastikan sendiri, apakah wanita di foto yang terlihat suci dan polos itu, kelakuannya sama dengan yang diceritakan orang, atau memang dia beneran wanita baik-baik.
Nyonya Wijaya tersenyum tipis, lalu mulai bertanya dengan nada lembut tapi tajam.
"Jadi kamu Zea ya... Saya dengar dari orang lain, kamu ini kerja di perusahaan Bara dan dekat banget sama dia ?" Ujar Nyonya Wijaya.
"Iya Nyonya... Betul. Saya bekerja di sana, namun kami tetap profesional ketika bekerja." Jawab Zea sopan dan rendah hati.
Nyonya Wijaya menatap mata Zea lekat-lekat, mencoba menembus isi hati wanita itu.
" Tapi saya jadi penasaran sebenarnya. Apa sih yang bikin kamu bisa secepat ini dapat hati Bara? Dan apa benar seperti kata orang-orang kalau kamu itu wanita yang pandai mengambil hati dan pandai merayu?" Lanjut Nyonya Wijaya.
DEG!
Zea sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tapi dia tetap tenang.
"Saya terima jika ada yang berkata demikian. Namun saya tulus sama Tuan Bara bukan karena harta atau jabatan, tapi karena memang perasaan itu sudah ada dari lama. Saya siap dinilai kok , karena saya tidak akan melakukan hal yang buruk." Seru Zea tulus.
Saat Zea tersenyum dan menjawab pertanyaan dengan sopan, wajah dingin Nyonya Wijaya perlahan luluh.
Ternyata bukan cuma karena wajahnya familiar, tapi Nyonya Wijaya sadar penuh siapa wanita ini di hadapannya.
"Ya ampun... Jadi ini dia ya? Ini dia wanita yang dari zaman SMA dulu udah bikin anakku klepek-klepek? Ini dia cewek yang fotonya disimpan rapi di meja belajar Bara bertahun-tahun lamanya?" Batin Nyonya Wijaya.
Nyonya Wijaya sangat ingat betul, dulu Bara itu anaknya pendiam dan cuek, tapi kalau bahas cewek bernama Zea ini matanya langsung berbinar.
Bahkan sering melihat Bara melamun sambil liat foto Zea, sering cerita kalau dia kagum banget sama cewek ini, dan Nyonya Wijaya tahu betapa besarnya cinta Bara yang dipendam diam-diam dari dulu.
"Pantesan Bara begitu sayang padanya... Pantesan dia nekat melamar sendiri tanpa nungguin restu dulu. Ternyata ini bukan cinta kemarin sore! Ini cinta yang udah dia rawat bertahun-tahun! Mama senang banget akhirnya mimpi anak Mama jadi kenyataan." Batin Nyonya Wijaya terharu.
Nyonya Wijaya meletakkan cangkir tehnya, lalu tersenyum sangat manis dan hangat ke arah Zea. Tatapan dingin tadi hilang seketika, berganti dengan kelembutan seorang ibu.
"Maaf ya Nak kalau tadi pertanyaan saya agak tajam atau menekan. Sebenernya saya bukan orang jahat kok, saya cuma wanita biasa yang ingin memastikan..." Ujar Nyonya Wijaya lembut.
Ia menatap Zea dalam-dalam.
"Saya ingin pastikan, apakah kamu benar-benar anak yang baik, tulus, dan serius sama Bara. Karena saya tahu, mendapatkan hati Bara itu nggak mudah. Dan melihat kamu sekarang...saya bisa rasakan ketulusan itu." Lanjut nyonya Wijaya jujur.
Zea jadi lega dan senang.
"Terima kasih banyak nyonya sudah mau menilai saya." Seru Zea.
"Eh jangan panggil nyonya dong, panggil mama aja kan sebentar lagi kalian menikah". Kata nyonya Wijaya.
"Dan kamu tahu nggak Nak Zea... Sebenernya Mama ini saksi bisu lho. Mama tahu kalau sebenarnya anak Mama ini sudah mencintai kamu sangat lama sekali. Sejak kalian masih sekolah sampai sekarang. Mama tahu betapa berartinya kamu buat dia." Ungkap Nyonya Wijaya.
DEG!
Zea langsung membelalakkan mata, wajahnya memerah padam.
"B... Beneran? Dari SMA?" Seru Zea kaget.
Mama Bara mengangguk bangga sambil pegang tangan Zea erat.
"Iya sayang... Jadi kamu jangan pernah merasa kurang atau ragu ya. Kamu itu wanita spesial yang sudah dinanti bertahun-tahun. Mama merestui dan menyayangi kamu sepenuhnya." Seru Nyonya Wijaya.