Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29 Jangan Salah Paham
Setelah urusan selesai dari ruang guru. Devina dan Aditya berjalan bersama menuju kelas. Keduanya saling menghela nafas bersahutan.
"Hei? Kenapa loh ikut-ikutan menghela nafas? " tanya Devina melirik tajam Adit.
"Terserah gue dong! Nafas nafas gue! Lagian kenapa juga kita mau dihukum. Padahal kan bisa saja kita menolak hukuman itu, " sesal Adit.
"Kenapa? Menyesal? Tapi, gue penasaran dengan satu hal. " Langkah Devina berhenti mendadak lalu menghadap kepada Adit sehingga langkah Adit pun harus terhenti karenanya.
"Tentang apa? " tanya Adit merasa sangat gugup mendapatkan tatapan curiga dari Devina. Ia menebak pasti Devina ingin bertanya tentang status orang tuanya sehingga Wali Kelas saja tidak berani menghukum dirinya. Kalau benar ia tidak akan bisa menjawab pertanyaan Devina karena ia sudah berjanji tidak akan memberitahu siapapun kalau dirinya adalah anak dari Direktur Sekolah. Atau Ayahnya akan mengirimnya lagi ke luar negeri.
"Tentang, kenapa Wali kelas tidak bisa menghukum loh. Memangnya siapa sebenarnya orang tua loh? "
Seperti dugaan Adit Devina memang penasaran soal itu. Adit terdiam cukup lama menatap Devina seolah tidak berdaya. Mulutnya tertutup sangat rapat, serta rahangnya tidak bergeming sama sekali. Seolah Aditya hanya bisa membalas dengan sorotan matanya. Mencoba supaya Devina bisa mengerti dirinya.
"Ada apa? Kenapa orang tua loh sangat dirahasiakan? Memangnya sehebat apa mereka sampai loh tidak bisa menjawab pertanyaan gue? Sudahlah tidak papah kalau loh gak mau ngasih tahu. Setiap orang pasti punya alasan saat menyembunyikan sesuatu. "
Devina hendak melengos pergi meninggalkan Adit tanpa jawaban. Namun siapa sangka Adit malah menarik tangan Devina dan menghentikan langkahnya. Tatapan Devina membulat sempurna menatapnya terkejut.
"Nanti. Saat gue sudah siap, gue pasti akan cerita soal mereka loh. Tapi tidak bisa untuk sekarang. Kita belum cukup dekat untuk saling berbagi rahasia masing-masing, " balas Aditya dengan serius ia mengatakannya membuat Devina merasa tidak enak hati padanya.
"Yah, gak juga gak papah. Gue ngerti kalau loh gak bisa cerita. Tapi, jika memang nanti sudah siap, gue pasti akan dengarkan, " sahut Devina sambil tersenyum kecil lalu melepaskan genggaman tangan Adit kemudian hendak melanjutkan langkahnya, tapi saat berbalik ia mendapati sosok Aksa yang tengah berdiri tidak jauh di depannya memperhatikan mereka.
Devina bergegas menghampiri Aksa, ia takut Aksa salah paham dengan apa yang dilihatnya barusan. Jadi ia mencoba untuk menjelaskan situasi dan keadaanya tanpa mengurangi atau menambahkan satu kata pun.
"Aksa? Jangan salah paham. Tadi kita cuma ngobrol biasa kok. Tidak ada apa-apa, " ujar Devina cemas Aksa akan marah.
Namun, ternyata Aksa malah tersenyum dan mengelus pelan rambutnya. "Gue tahu. Loh gak perlu ngejelasin apapun sama gue. Karena gue percaya sama loh. Tapi, kalau cemburu, gue memang cemburu. Karena itu, cobalah untuk menjaga jarak darinya, " ungkap Aksa sambil menoleh ke arah Adit dengan tatapan dinginnya.
Aditya tertawa kecil mendengar perkataan Aksa tersebut. Sementara Devina hanya mengangguk menurut kepada Aksa.
"Benar-benar tidak bisa dipercaya. Dasar bucin! " gertak Aditya sembari melangkah pergi mendahului dan melewati mereka menuju kelas.
"Loh mau kemana? Kelas bentar lagi mau dimulai, " ujar Devina bertanya kemana Aksa hendak pergi.
"Hanya berjalan-jalan sebentar sebelum kelas dimulai. Tapi, kenapa loh bisa sampai bolos kemarin, terlebih lagi sama Adit?" tanya Aksa kemudian penasaran akan jawaban dari Devina soal itu.
"Ah, itu... Sebenarnya gue berniat kabur sendiri, gue khawatir sama loh, jadi gue mau nyusul. Tapi, gue gak bisa keluar karena pintu gerbang dijaga ketat sama satpam. Terus tiba-tiba saja Adit datang menyusul dan membawa gue kabur lewat tembok belakang. Gue manjat, " terang Devina dengan jujur dan berterus terang.
"Dasar loh ini. Lain kali jangan lakukan itu lagi. Loh bisa terluka nanti, " balas Aksa sambil menyentil pelan dahi Devina seperti biasanya.
"Baiklah. Gue minta maaf. Mulai sekarang gue gak akan melakukan hal bakal buat loh khawatir, " sahut Devina dengan tegas dan yakin.
"Janji? "
"Janji! "
Devina menerima janji kelingking yang Aksa berikan. Dan mengikatnya dengan cukup kuat. Aksa dan Devina tertawa kecil bersama. Lantas, mereka melangkah berdampingan kembali ke kelas.
"Apa kata wali kelas? " tanya Aksa lagi.
"Memangnya apa lagi. Selama satu minggu ke depan, gue sama Adit harus membersihkan kolam renang setelah pulang sekolah. Jadi, selama seminggu gue gak bisa pulang bareng loh. " Devina memasang wajah sedih dan memelas.
"Hanya kalian berdua?"
"Em! "
"Kalau begitu, haruskah gue ikut gabung? "
"Jangan! Gak usah! Loh kan harus bekerja sorenya. Gunakan waktu loh sebaik mungkin buat istirahat sebelum bekerja. Jangan terlalu lelah, nanti loh bisa sakit. Gue gak papah kok, lagi pula gue gak sendiri. Tapi, loh gak usah khawatir gue janji bakal jaga jarak dari si Adit. Sumpah! "
Aksa tersenyum kecil. Ia tidak bermaksud untuk banyak menuntut Devina atau mengekangnya. Namun sepertinya Devina menganggap nya terlalu serius.
"Tidak perlu sampai segitunya. Bukan berarti loh juga harus menghindarinya. Saat bekerja melakukan hukuman, jangan sampai loh di rugikan karena terus menghindari nya. Kalau loh butuh bantuan nya, loh harus bilang sama dia. Mengerti? " balas Aksa mencoba untuk meluruskan pemahaman yang ditangkap oleh Devina.
"Baiklah. Makasih sudah percaya sama gue, " sahut Devina merasa sedikit lebih tenang sekarang. Tidak terasa mereka sampai di kelas. Devina duduk di bangkunya dan begitu juga Aksa. Beberapa waktu kemudian guru lain datang untuk mengisi kelas dan memulai pelajaran terkahir hari ini.
Beberapa waktu kemudian, kelas akhirnya selesai. Semua murid berhamburan keluar kelas untuk pulang. Devina sedih karena di hari pertama jadian sama Aksa ia malah tidak bisa pulang bareng sebab harus menjalani hukuman atas perbuatannya kemarin.
"Kalau begitu, gue pulang duluan, " ucap Adit berpamitan kepada Devina di kelas sebelum pulang.
"Iyah. Hati-hati yah! Setelah selesai nanti gue telpon loh, " balas Devina.
"Iyah."
Lantas, Aksa pun pergi meninggalkan kelas untuk segera pulang. Namun sebelum itu, ia ingin mampir ke rumah sakit sebentar untuk menengok keadaan Ayahnya hari ini. Sementara itu Adit dan Devina bersiap pergi ke kolam renang yang ada dilantai dua gedung sekolah.
Saat tiba di sana, Devina merasa sangat buruk karena keadaannya begitu kacau balau. Beberapa atlet renang memang sering menggunakan kolam renang disana sehingga selalu berantakan dan kotor. Mereka tidak bisa mengeluh sekarang dan hanya bisa mengerjakan hukuman tersebut.
"Jadi, kita akan mulai dari mana? Jujur saja gue gak pernah bersih-bersih, megang sapu aja gue gak pernah, " ujar Devina dengan senyuman manjanya.
"Yah yah yah, tentu saja loh gak pernah. Memangnya anak konglomerat harus melakukan pekerjaan seperti ini? Kalau begitu, sebelumnya pakai ini, " Adit melemparkan sarung tangan yang ia ambil dari loker penyimpanan barang.
Lantas, Devina segera memakai sarung tangan karet tersebut. Lalu menatap Adit untuk memulai dari mana.
"Tugas loh sikat bagian sisi kolam renang. Hati-hati lantainya licin jangan sampai terpeleset, " ujar Adit memberinya arahan sambil memberikan sikat besar yang khusus untuk lantai.
"Iyah, siap bos! " balas Devina sambil berjalan perlahan untuk melakukan pekerjaannya. Namun karena tidak hati-hati ia malah terpeleset dan hampir jatuh. Untungnya Adit gercep dan segera menangkap tubuh Devina yang memang tidak jauh darinya.
Sejenak tatapan mereka saling bertemu. Devina segera berdiri dari pelukan Adit. "Maaf, gue gak sengaja. Makasih udah nolongin, " ucap Devina dengan grogi.
"Kan gue udah bilang hati-hati lantainya licin." Celoteh Adit menegur nya.
"Iyah, bawel. Gue juga tahu! "
Lantas, mereka pun membersihkan kolam renang serta merapihkan beberapa barang disekitarnya bersama-sama hingga bersih mengkilap.