NovelToon NovelToon
Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Kembalinya Senyuman Zinnia.

Hari itu, Zinnia baru saja selesai makan siang, tapi porsinya sangat sedikit, berneda dari biasanya. Melihat itu, Bi Ijah merasa cemas dan akhirnya meminta Darren untuk datang, karena biasanya hanya Darren yang bisa membuat suasana hati Zinnia lebih baik.

Memang sejak hubungannya dengan Rion berakhir, Zinnia jadi lebih sering berada di kamar. Dan hal itu membuat Bi Ijah mencemaskan keadaannya.

Tak butuh waktu lama, Darren pun datang membawa tumpukan makanan enak dan sekotak besar stroberi premium dengan kualitas terbaik. Dia kemudian mengetuk pintu kamar Zinnia yang nampak sedikit terbuka.

Tok.. Tok.. Tok..

" Masuk !! " Persilahkan Zinnia.

" Lagi apa tuan putriku? " Tanya Darren santai.

Zinnia tersenyum singkat dan mulai beranjak dari tempat tidurnya, dia kemudian menghampiri Darren, lalu memeluknya agak manja.

" Aku lagi kangen sama kamu nih. " Balas Zinnia manja sekali.

" Bisa aja kamu. Tapi kayaknya Kamu masih kepikiran soal Rion ya?" tanya Darren kemudian dengan nada embut sambil meletakkan barang bawaannya di atas meja.

" Ini sudah seminggu sejak kalian putus, tapi kamu masih begini saja... "

Zinnia menarik napas panjang, lalu menatap Darren dengan wajah polos dan sedikit manjanya yang khas.

" Kenapa? Apa kamu khawatir aku bakal mati mendadak? " tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan ngawur itu justru membuat Darren tertawa terbahak-bahak. Gila ya ini anak, situasi lagi sedih juga masih bisa ngelawak.

" Iya takut banget! " jawab Darren ikut bermain nada.

" Takut kamu tiba-tiba mati mendadak entah karena kelaparan, atau emang sengaja nggak makan biar mati perlahan. Ngeri banget, jangan sampai kejadian. "

" Tenang aja. Aku nggak larut dalam kesedihan kok. Dan aku juga nggak bakal larut dalam air, soalnya aku bukan garam atau gula. Tenang, aku bisa berenang jadi nggak bakal tenggelam atau larut perlahan."

" HAHAHAHAHA!!! "

Darren kembali tertawa, kali ini lebih keras dan lepas. Rasanya lega sekali melihat Zinnia masih bisa bercanda seperti ini.

" Terus kenapa kamu jadi jarang banget keluar kamar? Bi Ijah sampai khawatir loh. Dia juga bilang porsi makan kamu jadi berkurang drastis. "

" Itu karena aku lagi diet! " seru Zinnia cepat, " " Badan aku jadi bengkak karna belakangan ini kamu selalu bawain aku makanan enak-enak, sampai badanku melar kayak karet gelang. Ini udah saatnya aku bangkit, ngurusin badan. Kalau Soal jarang keluar itu karena aku lagi asyik banget merangkai bunga, sampai lupa waktu rasanya. Tenang aja semua itu positif kok! Aku bukan tipe orang yang bakal mati konyol cuma karena putus cinta. "

Mendengar penjelasan itu, Darren akhirnya tersenyum lega. Beban di pundaknya terangkat hilang.

" Yaudah kalau gitu... coba tunjukin dong hasil karya kamu belakangan ini. "

" Fine! Tunggu ya, aku ambil dulu. " jawab Zinnia penuh semangat.

Gadis itu lalu melepaskan tangannya pada tubuh Darren dan mulai melangkah perlahan menuju meja riasnya di dekat jendela, kemudian kembali dengan memperlihatkan beberapa hasil karyanya pada Darren. Beberapa buket bunga yang disusun dengan sangat indah, rapi, dan penuh seni.

" Wow... bagus. " puji Darren tulus.

" Hanya bagus? " Zinnia mendongak, wajahnya memelas minta pujian lebih.

" Bagus... bagus banget pokoknya! Top banget deh! Kamu emang bakat kalau soal itu. " Ucap Darren sambil mengacungkan jempol.

" Kalau gitu kasih aku hadiah dong! Kasih aku penghargaan bergengsi selevel Grammy. " Pinta Zinnia manja.

Darren tertawa lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kekanak-kanakan gadis itu. Tapi di dalam hatinya, ia sangat bersyukur dan lega, ternyata Zinnia tidak seburuk yang dikhawatirkan, gadis ini justru mulai menemukan jalannya kembali.

Tanpa berkata banyak, Darren lalu mengambil sebuah kotak berukuran cukup besar, berisikan Stawberry premium yang ia beli. Dengan gerakan dramatis dan penuh gaya, ia menyodorkan kotak itu tepat di hadapan Zinnia, seolah-olah dia sedang memberikan penghargaan paling bergengsi pada pemenang nominasi.

" Dan ini diaaa...!!! Penghargaan yang jauh lebih tinggi dan bergengsi dari Grammy Awards! Yaitu Tropi Kebahagiaan! Khusus dibuat untuk Tuan Putri Zinnia yang cantiknya nggak pernah luntur. "

Mendengar ucapan Darren yang sok formal tapi isinya bikin ngakak itu, kini giliran Zinnia yang tertawa lepas. Tawanya renyah dan ceria, menghapus semua kesedihan yang sempat menghiasi wajahnya selama seminggu terakhir.

Dia menerima kotak berisi stroberi premium itu dengan tangan gemetar karena menahan tawa.

" Hahaha dasar kamu! Sok asik banget. " ledek Zinnia sambil terkekeh.

Dia merasa sangat terhibur. Sungguh keberuntungan besar memiliki Darren di hidupnya. Cowok itu memang selalu jadi orang yang paling mengerti setiap tingkah konyolnya, tahu cara menertawakan hal-hal absurd, dan paling pandai menyikapi setiap sikapnya yang berubah-ubah secara acak.

Bersama Darren, rasa sakit karena perpisahan itu terasa jauh lebih ringan untuk ditanggung.

Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Bi Ijah diam-diam mengintip dan menguping pembicaraan mereka berdua. Wajah tua itu tadinya penuh kekhawatiran, tapi begitu mendengar suara tawa renyah dan lepas yang keluar dari mulut majikannya, suara tawa yang sudah lama hilang. Hati Bi Ijah terasa sangat lega.

Perlahan, dengan senyum tipis, ia mundur menjauh dari pintu, membiarkan kedua anak muda itu menikmati waktu mereka berdua tanpa gangguan.

" Syukurlah.. akhirnya Non Zinnia bisa ketawa lagi. " batinnya penuh syukur.

 

Di dalam kamar, suasana jadi sedikit hening dan hangat setelah tawa mereka mereda. Darren lalu menarik tangan Zinnia, seketika membuat gadis itu mendekat dengan jarak yang tinggal beberapa senti saja.

" Sudah lama aku gak lihat kamu ketawa lepas kayak barusan..." bisik Darren lembut, matanya menatap manik mata Zinnia dalam.

" Ya... itu semua berkat kamu..." jawab Zinnia pelan, pipinya sedikit memerah.

" Zinnia...Kapan ya kamu siap jadi pacarku? Padahal aku setiap hari selalu ada loh buat kamu, tapi kayaknya aku cuma dijadiin pelampiasan sementara ya..."

" Eh kata siapa..." Zinnia memotong cepat, mendongak menatap wajah tampan itu.

" Terus gimana soal hubungan kita? Mau sampai kapan kayak gini? " Darren memasang wajah pura-pura kecewa, padahal di dalam hati dia adalah orang paling sabar dan pengertian sedunia. Bahkan menunggu ratusan tahun pun buat dia gak masalah, yang penting semua itu ia lakukan untuk Zinnia.

" Hm... gimana ya... " Zinnia mengerucutkan bibirnya, berpura-pura mikir keras.

" Udah ah, aku udah nyerah nungguin kamu terus! Sekarang aku mau lahap kamu aja! " seru Darren tiba-tiba.

" Apa sih?! "

Tanpa menunggu jawaban, tangan Darren langsung bergerak lincah mulai menggelitik pinggang ramping Zinnia.

" HAHAHA... HEY STOP!!! INI GAK LUCU... HAHAHA!!! " Zinnia langsung tertawa kegelian, tubuhnya meliuk-liuk mencoba menghindar tapi tangannya ditahan Darren.

" Gak lucu tapi kamu ketawa. " goda Darren sambil terus mencolek-colek, lalu dia berhenti sejenak dan mencolek ujung hidung mancung gadis itu pelan.

" Ya bener juga. aneh emang..." rengek Zinnia sambil terkekeh.

" Tapi aku suka. " balas Darren singkat dan tegas.

Wajah Darren perlahan makin mendekat, sampai akhirnya kening dan hidung mereka bersentuhan. Mata mereka saling bertaut, tenggelam dalam satu pandangan yang penuh makna. Lama mereka diam menikmati momen itu..

Sampai akhirnya, Darren tidak tahan lagi. Dia menunduk sedikit dan mencium bibir Zinnia.

Ciuman itu lembut, hangat, dan penuh ketulusan. Membuat keduanya seakan lupa dengan dunia luar, tenggelam dalam rasa nyaman dan kasih sayang yang mulai tumbuh semakin kuat di antara mereka.

 

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!