Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memakai Kemejanya
“Kalian pengantin baru ya?” Ucap si ibu itu sambil membawa nampan yang berisi dua gelas teh hangat terlihat dari asapnya yang masih mengepul. Aku mengangguk samar, begitupun dengan pak Arsyad disebelahku.
“Bu…. ga usah repot-repot, jadi gaenak.” Ucapku sambil memilin ujung hijab, hijab yang tadinya rapi kini tidak tahu bagaimana bentuknya, apakah sudah miring kanan kiri tidak stabil.
“Tidak repot kok mbak, ibu jadi seneng banget kalau ada tamu, rumah jadi rame gak sepi lagi. Maklum ibu sudah lama ditinggal anak-anak ibu.” Ucapny lagi, ada guratan kesedihan diwajahnya. Mungkin anak-anaknya pergi merantau.
“Anak-anaknya pergi merautau ya bu?” Aku bertanya polos, lengan pak Arsyad menyenggol lenganku.
Si ibu menggeleng pelan, ia tersenyum tipis bibirnya tersenyum tapi sinar matanya terlihat sedih.
“Anak-anak ibu dan bapak pergi mendahului ibu dan bapak.”
Deg, aku jadi merasa tidak enak telah bertanya seperti itu.
“Anak pertama bapak meninggal karena ditabrak lari, pelakunya kabur begitu saja. Anak kedua perempuan sangat cantik, di pergi karena sakit asma yang dideritanya sejak kecil. Kalau masih ada anak perempuan bapak dan ibu mungkin sudah sebesar mbak ini.” Kedua suami istri terlihat sangat sedih.
Aku makin tidak enak, aku mencengkram kuat ujung hijab ini. “Maaf sekali bapak ibu, saya tidak bermaksud buat…”
“Tidak apa-apa mbak, ibu dan bapak sudah ikhlas.” Ucap si ibu dengan senyuman diwajahnya, sungguh pasangan suami istri ini berhati baik sekali.
“Dari tadi kita mengobrol tapi bapak belum tau nama mas sama mbak nya siapa?”
“Saya Arsyad pak, dan ini istri saya Ayleen.” Pak Arsyad meliriku sekilas. Entah mengapa jika pak arsyad mengakui aku sebagai istrinya jantung ku terasa berdenyut sakit, dan…. ada rasa lain, aneh entah apa rasa itu, aku tidak bisa mendeskripsikannya.
“Kalian pasangan yang serasi ya, dari wajah postur tubuh covok banget.” Ucap si ibu.
“Oh iya itu air panasnya sudah siap, mas nya boleh dibantu istrinya buat bersihin lukanya.”
“Gak usah bu, Ayleen bisa sendiri bu.” Ucapku sambil berjalan perlahan mengekori ibu.
“Hem… suami istri harus apa-apa dikerjain bareng dong mbak Ayleen, apalagi pengantin baru biar makin lengket.”
Jangan bu, saya nikah karena terpaksa. Aku ingin menolak tapi si ibu ini sudah memanggil pak Arsyad, dan pak Arsyad pun menurut.
Kami berdua berjalan kearah teras depan yang sudah ditunjukan oleh si ibu, aku duduk dikursi panjang. Melirik sekitar, aku merasa aneh dengan kampung ini, lokasi sangat dekat dengan kota tapi keadaan kampungnya kaya jaman dulu, bahkan mereka masih pakai lampu bohlam kuning sebagai penerangan.
Pak Arsyad mulai membungkukan badannya didepanku, raut wajahnya seperti biasa terlihat datar sekali, jika dilihat-lihat dengan mata tanpa rasa benci pria bermata tajam seperti elang ini memilki paras yang begitu menawan, hidung mancung yang terukir rapi, alis tebal dan jambang yang terukir rapi membingkai wajahnya. Aku pastikan pasti pria ini sangat banyak sekali wanita nya. Apalagi dia seorang pria mapan.
Tatapan pria ini fokus pada luka dikaki ku, ada situ sifat yang baru ku kenal dari pria ini, ternyata dia memiliki empaty yang tinggi.
“Aw…. Perih…” terlalu banyk berfikir sampai tidak terasa pria itu menekan kuat luka dikaki. Baru saja ku bila memiliki ematy yang tinggi, gak jadi deh aku tarik lagi omongan yang itu.
“Pelan-pelan pak!”
Pria itu mendongak, sepertinya dia cukup kesal dengan aku yang terus-terus merengek.
“Lukanya dalam, darahnya mengering didalam.”
Sangat perih, lukanya terasa dibukakan kemudian dibersihkan dengan kain.
“Aw…” Aku terus menggerakan kaki ku kala rasa perih itu muncul.
“Ckc…” pak arsyad berdecak kemudian mencengkram kuat pergelangan kaki ku.
“Aw…. PERIH…” aku mencengkram kuat bahunya kokoh pria itu, sampai wadah air hangat yang berada pada pangkuanku bergoyang dan airnya tumpah membasahi tubuhku, bajuku basah. Ibu… kenapa nasib buruk terus menimpaku.
“Hem..gak bisa diam. Sementara lukanya dibalut pake kain dulu karena disini tidak ada plester. Nanti dirumah ganti!” Pak Arsyad ternyata tidak sekaku seperti apa yang aku bayangkan, dia sering berbicara banyak kepadaku. Aku kira seperti karakter CEO tampan yang dingin dan kejam seperti dalam novel yang sering aku baca, tapi ternyata pak Arsyad tidak seperti itu.
Aku masih terdiam, berfikir keras karena bajuku basah, mana gak bawa baju ganti.
Mata elang itu melirik bajuku yang basah, meliriki sekilas. “Bajumu basah, nanti ganti pakai kemeja saya!”
***
Lagi-lagi aku harus menurut karena dituntut oleh keadaan. Kemeja putih pak Arsyad sangat kebesaran ditubuhku yang kecil ini, kemeja sangat wangi, walaupun sudah bercampur dengan keringat pak Arsyad tapi kemeja ini tetap wangi. Kemejanya sangat panjang di aku bahkan panjangnya sampai paha.
Ketika memasuki kamar yang sudah disedikan oleh si ibu dan bapak tadi, pak arsyad membuka jas hitam dan membuka kemejanya dan menyerahkannya kepdaku. Aku sempat menolak karena takut pak arsyad masuk angin. Tapi dia berasalan dia masih bisa tidur dengan memakai kaos yang membalut tubuhnya. Aku melirik pria itu, ia sudah tidur terlentang dengan tangan kanan sebagai bantalan.
Ini adalah malam kedua kalinya kami tidur dalam keadaan satu kamar, tentunya rasa takut menyelimutiku. Aku berjalan perlahan kemudian medudukan tubuh disamping ranjang kasur kapuk.
“Tidur!, gak perlu takut saya tidak akan apa-apakan kamu Ayleen.”
Aku mulai mengangkatkan kaki, bersandar pada kepala kasur. Lama sampai terdengar suara dengkuran pelan, pak Arsyad sudah tertidur. Aku menarik selimut untuk menyelimuti tubuh pak Arsyad, kalau di masuk angin aku akan merasa bersalah karena kemejanya aku pakai.
“Tidak usah diselimuti saya gerah.”
Aku mengurungkan niat, pria yang sering menggunakan ruangan ber AC ini mungkin sangat kegerahan.
Tidak terasa akupun terlelap.
Aku mengerjapkan mata, berusaha mengingat dan mengumpulkan nyawa.
Ha….. tubuh siapa ini yang aku peluk, dan tangan siapa ini yang berada diatas kepalaku?. Dengan perlahan aku mendongak.
Deg…
Mata Elang itu menatapku tajam.
*
*
Haha… gemes banget author sama Ayleen. Jadi pengen cubit pak Arsyad.
Sayang-sayang ku jangan lupa like, komen dan vote. Kasih bintang juga ya.
LOVE U ALL💗