NovelToon NovelToon
NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Abai Shaden

Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.

​Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Pecahnya Langit dan Perpisahan di Ujung Dimensi

Puncak Es Abadi bukan lagi sekadar gunung; ia telah bertransformasi menjadi pilar energi yang menghubungkan bumi dengan lapisan langit tertinggi. Awan di atasnya berputar dalam pusaran hitam yang mengerikan, sementara petir berwarna ungu—tanda dari kesengsaraan surgawi—terus menyambar-nyambar puncak istana es. Di tengah kekacauan elemen ini, **Wang Jian** dan **Lin Meiling** melangkah masuk ke aula utama yang luasnya menyamai sebuah kota kecil.

Di ujung aula, di atas takhta yang terukir dari tulang naga purba, duduk **Leluhur Wang Sui-Ren**. Kulitnya yang keriput kini tampak transparan, memperlihatkan aliran energi keemasan di balik nadinya. Di atas kepalanya, sebuah janin cahaya berukuran kepalan tangan mulai terbentuk—itulan **Nascent Soul**, manifestasi dari keilahian seorang kultivator.

"Hanya Pemurnian Qi Bintang 3?" suara Leluhur bergema, bukan melalui telinga, melainkan langsung menghantam kesadaran. "Kau datang membawa semut kecil untuk menantang matahari? Wang Jian, kau adalah cacat terbesar dalam silsilahku, namun kau juga adalah kunci terakhir yang kubutuhkan."

### **Pertempuran Dua Generasi: Kehancuran Ruang**

Jian tidak membalas dengan kata-kata. Ia melepaskan **Sayap Malaikat Badai**-nya hingga mencapai bentangan maksimal, delapan meter. Petir hitam dan angin puyuh meledak dari tubuhnya, menghancurkan pilar-pilar es di sekelilingnya.

"Meiling, aktifkan **Formasi Galaksi Terlarang** sekarang!" perintah Jian.

Meiling melompat ke udara, tangannya bergerak secepat kilat membentuk ratusan segel. Cahaya bintang dari **Star-Core** di tubuhnya memancar keluar, menciptakan jaring-jaring energi yang mencoba mengunci pergerakan Leluhur. "Bintang-bintang bersaksi, ruang terkunci!"

Leluhur Wang tertawa. Ia hanya mengangkat satu jari.

*TING!*

Seluruh formasi Meiling retak seketika. "Kekuatan bintangmu hanyalah mainan anak-anak di hadapan Hukum Ruang yang baru kupelajari."

Wang Jian melesat. **"Seni Orisinal: Bor Langit Primordial - Putaran Kesembilan!"**

Jian tidak lagi menyimpan energinya. Ia membakar esensi darahnya untuk memaksa **Inti Primordial Ganda**-nya melampaui batas. Ia berubah menjadi bor energi raksasa yang menembus ruang, menciptakan retakan-retakan hitam di udara.

*BOOOOOOMMMMM!*

Tabrakan antara tombak Jian dan perisai transparan Leluhur menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan seluruh atap istana. Meiling terlempar ke dinding, namun ia segera bangkit dan melemparkan puluhan **Pil Penghancur Meridian** yang telah ia modifikasi dengan energi bintang.

"Mati kau, Penindas!" teriak Meiling.

Pil-pil itu meledak di sekitar Leluhur, menciptakan gas korosif yang mampu melelehkan *Qi*. Leluhur Wang mengernyit; untuk pertama kalinya, ia merasa terganggu. "Gadis kecil yang merepotkan. Kau akan menjadi orang pertama yang melihat kematian kekasihmu."

### **Keputusasaan di Puncak Kekuatan**

Leluhur Wang berdiri dari takhtanya. Setiap langkah yang ia ambil membuat gravitasi di aula tersebut meningkat ribuan kali lipat. Meiling jatuh tersungkur, paru-parunya mulai berdarah karena tekanan yang luar biasa.

"Jangan sentuh dia!" raung Jian.

Jian mengaktifkan **Putaran 6: Pelahap Badai** pada tingkat yang belum pernah ia coba sebelumnya. Ia mulai menyerap tekanan gravitasi tersebut ke dalam tubuhnya sendiri. Tulang-tulang Jian mulai berderit, suara retakan terdengar dari bahu dan kakinya. Namun, ia terus menyerapnya, mengubah tekanan maut itu menjadi bahan bakar untuk serangannya.

"Kau ingin tekanan? Aku akan memberimu **Tekanan Kehampaan**!"

Jian memusatkan seluruh energinya di ujung jarinya, menciptakan sebuah titik hitam kecil yang memiliki massa tak terhingga. Ini adalah puncak dari pemahamannya tentang gravitasi dan angin.

*Syuuuuuu—*

Titik hitam itu melesat. Leluhur Wang yang tadinya tenang, kini melebarkan matanya. Ia terpaksa memanggil **Nascent Soul**-nya yang belum sempurna untuk bertindak sebagai pelindung.

*DUARRRRRRRRRRRRRRRR!*

Aula agung itu lenyap. Yang tersisa hanyalah kawah raksasa di puncak gunung. Separuh dari Puncak Es Abadi hancur berantakan. Leluhur Wang terhuyung, bahu kirinya hancur dan Nascent Soul-nya meredup.

### **Pecahnya Dimensi: Ledakan Kosmik**

"Bocah kurang ajar... kau berani melukai tubuh surgawiku!" suara Leluhur penuh dengan amarah yang murni. "Jika aku tidak bisa memilikimu sebagai tumbal, maka aku akan menghapusmu dari garis waktu ini!"

Leluhur Wang melakukan gerakan tangan yang sangat rumit. Ia membakar seluruh kultivasinya yang tersisa untuk memicu sebuah teknik terlarang: **Ruptur Dimensi**.

Udara di sekitar mereka mulai robek. Lubang-lubang hitam bermunculan, menghisap apa pun yang ada di dekatnya. Ruang dan waktu di puncak gunung itu mulai melintir.

"JIAN! PEGANG TANGANKU!" teriak Meiling panik. Ia melihat sebuah retakan besar terbuka tepat di antara mereka.

Wang Jian berusaha menggapai tangan Meiling, namun gravitasi dimensi yang pecah menarik mereka ke arah yang berlawanan. Dunia seolah-olah terbelah menjadi jutaan fragmen kaca.

"Meiling!" Jian meraung, air mata mengalir dari matanya yang bersinar listrik.

"Jian... apapun yang terjadi... temukan aku!" suara Meiling mulai menjauh, terdistorsi oleh badai dimensi.

Tepat saat tangan mereka hampir bersentuhan, Leluhur Wang melepaskan ledakan energi terakhirnya. *BOOM!* Ledakan itu bertindak sebagai katalis yang menghancurkan stabilitas dimensi sepenuhnya.

### **Perpisahan yang Memilukan**

Sebuah cahaya putih yang membutakan menelan seluruh puncak gunung. Jian merasakan tubuhnya ditarik ke dalam lorong gelap yang penuh dengan kilatan cahaya aneh. Ia melihat sosok Meiling menjauh, tersedot ke dalam retakan dimensi berwarna ungu, sementara dirinya terlempar ke dalam pusaran berwarna biru gelap.

"TIDAAKKKKKK!"

Kesadaran Jian mulai memudar. Hal terakhir yang ia lihat adalah senyum sedih Meiling dan bayangan Leluhur Wang yang hancur bersama istananya saat dimensi tersebut menutup kembali secara paksa.

Hening.

Dunia yang tadinya penuh dengan deru badai dan ledakan energi kini menjadi sunyi total. Puncak Es Abadi telah hilang dari peta, menyisakan lubang raksasa di langit yang perlahan-lahan menutup diri.

### **Terlempar ke Dunia Baru**

Wang Jian terbangun di sebuah tempat yang sangat asing. Tanah di bawahnya tidak terbuat dari es, melainkan pasir berwarna merah darah. Langit di atasnya memiliki dua bulan yang berwarna hijau. Tubuhnya terasa hancur; setiap meridiannya berdenyut sakit, dan **Inti Primordial Ganda**-nya dalam keadaan mati suri.

Ia mencoba bangkit, namun ia jatuh kembali. Ia meraba dadanya, mencari liontin kecil yang diberikan Meiling saat mereka di dasar jurang. Liontin itu masih ada, namun cahayanya telah padam.

"Meiling..." bisiknya parau. Suaranya hilang ditelan angin padang pasir yang kering.

Jian menatap telapak tangannya. Ia masih hidup, namun ia telah kehilangan satu-satunya hal yang memberinya rasa kemanusiaan di dunia yang kejam ini. Ia berada di wilayah yang entah di mana, mungkin ribuan mil dari Benua Tengah, atau bahkan di dunia yang berbeda sama sekali.

Dendamnya pada klan Wang telah terbayar dengan kehancuran Leluhur, namun harganya terlalu mahal.

"Aku akan mencarimu," Jian bersumpah pada langit asing di atasnya. "Meskipun aku harus membelah dimensi ini sekali lagi, aku akan menemukanmu, Meiling."

### **Status Kultivasi Akhir - Bab 19:**

* **Nama:** Wang Jian

* **Ranah Kultivasi:** **Pemurnian Qi Bintang 4** (Terobosan paksa saat pertarungan, namun saat ini dalam kondisi **Terkunci** akibat cedera dimensi).

* **Fisik:** Luka Dalam Serius, Meridian Terguncang.

* **Lokasi:** **Benua Pasir Merah** (Wilayah Luar Dimensi).

* **Status Mental:** Patah hati, namun memiliki determinasi baru untuk menembus batas ruang dan waktu.

* **Nama:** Lin Meiling

* **Status:** **Hilang** (Terlempar ke Dimensi Ungu/Benua Mistis).

* **Ranah Terakhir:** Pemurnian Qi Bintang 1 (Puncak).

1
evelyn Syaquita
new saga
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.
evelyn Syaquita
Tahapan dari Qi Condensation hingga [Tahap Tertinggi] dijelaskan dengan detail yang memuaskan, membuat pembaca ikut merasakan jerih payah sang protagonis dalam bermeditasi dan menerjang kesengsaraan langit (Heavenly Tribulation).😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!