NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Tuntas

Matahari pagi ini menyapu kaca-kaca gedung Sudirman dengan cahaya yang begitu putih, seolah-olah semesta sedang berusaha membasuh sisa-sisa kegelapan semalam. Aku berdiri di depan jendela kantor privatku, menyesap kopi hitam tanpa gula. Rasa pahitnya tidak lagi terasa mengganggu; ia terasa jujur, berbeda dengan janji-janji manis yang selama tujuh tahun ini kutelan bulat-bulat.

​Ruangan ini sunyi. Sebuah kesunyian yang mahal. Tidak ada lagi suara Kaivan yang memanggil namaku setiap lima menit, tidak ada lagi aroma rokok yang menempel pada dokumen-dokumen yang ia lempar ke mejaku. Hanya ada aku, data-dataku, dan masa depan yang mulai terlihat sangat jelas.

​Ketukan di pintu memecah lamunanku. Pak Dimas masuk dengan wajah yang jauh lebih tua dari biasanya. Ia memegang sebuah map hitam.

​"Arelia," panggilnya, suaranya berat. "Kaivan sudah menyerahkan kunci kantor dan tanda pengenalnya pagi tadi. Dia tidak berani menunjukkan wajahnya di sini setelah apa yang terjadi semalam. Saya sudah menandatangani surat pemecatan tidak hormat untuknya."

​Aku mengangguk pelan. Tidak ada ledakan kegembiraan dalam dadaku. Hanya ada rasa lega yang hambar. "Terima kasih, Pak. Ini yang terbaik untuk keamanan data kita."

​"Bastian Adhitama secara pribadi meminta agar tim legal kita tidak memperpanjang masalah ini ke ranah hukum, asalkan Kaivan menandatangani perjanjian kerahasiaan yang sangat ketat. Dia melakukannya karena kamu, Arelia. Dia tidak ingin namamu terseret dalam skandal pencurian data di awal jabatan barumu," lanjut Pak Dimas.

​Aku tertegun. Bastian memikirkan hingga sedetail itu. Ia melindungiku bahkan dari bayang-bayang skandal yang bukan kesalahanku.

​"Saya mengerti, Pak. Terima kasih."

​Baru saja Pak Dimas keluar, sebuah keributan terdengar dari arah lobi divisi riset. Suara teriakan wanita yang melengking, memecah ketenangan kantor yang biasanya sangat profesional. Jantungku berdegup kencang. Aku tahu suara itu.

​Aku melangkah keluar dari ruanganku. Di tengah ruangan, di antara kubikel-kubikel yang kini membeku, berdiri Nadine. Ia tidak lagi terlihat seperti wanita anggun yang kulihat di galeri seni atau di foto Instagram. Rambutnya berantakan, matanya sembab, dan ia mengenakan gaun yang tampak kusut. Di tangannya, ia memegang sebuah tas tangan mahal yang ia ayunkan ke arah Maya yang mencoba menghalanginya.

​"Mana Arelia?! Mana wanita ular itu?!" teriak Nadine.

​Aku melangkah maju, membiarkan semua pasang mata tertuju padaku. "Aku di sini, Nadine. Berhenti berteriak, ini kantor, bukan panggung dramamu."

​Nadine menoleh padaku, matanya berkilat penuh kebencian. Ia berlari ke arahku, namun Maya dan seorang satpam segera menahannya.

​"Kamu puas sekarang?!" teriaknya, suaranya pecah oleh tangis. "Kaivan dipecat! Dia kehilangan segalanya! Dia bahkan nggak punya uang buat bayar asuransi rumah sakitku bulan depan! Kamu benar-benar tega menghancurkan laki-laki yang sudah menemanimu selama tujuh tahun?!"

​Aku menatapnya dengan tatapan yang sangat datar. "Aku tidak menghancurkan Kaivan, Nadine. Kaivan menghancurkan dirinya sendiri saat dia memutuskan untuk menyabotase data perusahaan demi egonya yang terluka. Dan soal asuransimu... kenapa kamu meminta tanggung jawab padaku? Bukankah kamu yang dia pilih sebagai 'tujuan'?"

​"Tapi dia nggak punya apa-apa sekarang!" Nadine terisak, jatuh berlutut di lantai marmer. "Dia cuma punya aku, dan aku sedang sakit! Kamu yang selama ini punya uang, kamu yang sukses, kenapa kamu nggak bisa bantu sedikit saja sebagai sahabat?"

​Aku berjalan mendekatinya, berjongkok agar mata kami sejajar. Aku ingin ia melihat kejujuran di mataku.

​"Dengarkan aku, Nadine," suaraku sangat rendah, hanya bisa didengar olehnya. "Selama tujuh tahun, aku menjadi penopang hidupnya agar dia bisa terlihat hebat di depanmu. Selama tujuh tahun, aku yang membayar harga untuk setiap kesenangan yang kalian nikmati berdua secara tidak langsung. Sekarang, saat aku berhenti menjadi penopangnya, dia runtuh. Itu bukan salahku. Itu adalah bukti bahwa dia memang tidak pernah memiliki fondasi yang kuat."

​Aku berdiri kembali, menatapnya dari atas ke bawah. "Kamu bilang dia cuma punya kamu? Bagus. Itulah yang dia inginkan, kan? Nikmatilah kesunyian itu berdua. Nikmatilah hidup tanpa 'asisten' gratisan yang selama ini kalian manfaatkan. Sekarang, silakan keluar sebelum satpam menyeretmu keluar dengan paksa."

​Nadine menatapku dengan tatapan tidak percaya. Ia menyadari bahwa wanita yang ada di depannya ini bukan lagi Arelia yang mudah diperdaya dengan air mata. Satpam membimbingnya keluar. Ia terus mengoceh, namun suaranya perlahan hilang ditelan pintu lift yang tertutup.

​Suasana kantor kembali hening. Aku menoleh ke arah rekan-rekan kerjaku yang masih terpaku.

​"Kembali bekerja," kataku tegas. "Kita punya target kuartal yang harus diselesaikan."

​Aku kembali ke ruanganku. Tanganku sedikit bergetar saat menutup pintu. Menghadapi Nadine secara langsung terasa seperti memotong tali terakhir yang menghubungkanku dengan masa lalu yang beracun itu. Semuanya sudah tuntas. Benar-benar tuntas.

​Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Bastian.

​Bastian Adhitama: Saya dengar ada 'tamu' tidak diundang di kantormu. Kamu oke? Saya sedang menuju ke sana.

​Aku tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar sampai ke mata.

​Arelia: Aku baik-baik saja, Bastian. Segalanya sudah diselesaikan. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.

​Sepuluh menit kemudian, Bastian muncul di ambang pintuku. Ia tidak langsung bicara. Ia hanya menatapku, memastikan bahwa aku memang benar-benar baik-baik saja. Ia berjalan mendekat, lalu menyerahkan sebuah map kulit yang elegan.

​"Apa ini?" tanyaku.

​"Kontrak baru untuk tim riset pribadimu. Saya ingin kamu memilih orang-orang terbaik untuk membantumu. Kamu bukan lagi bawahan, Arelia. Kamu adalah mitra," ucap Bastian. Ia mengulurkan tangannya. "Dan sore ini, saya ingin mengajakmu ke sebuah tempat. Tidak ada urusan bisnis. Hanya ada aku, kamu, dan Jakarta yang baru saja kamu taklukkan."

​Aku menyambut tangannya. Genggamannya hangat dan kokoh, memberikan rasa aman yang tidak pernah kudapatkan sebelumnya.

​Saat kami berjalan keluar kantor, aku melewati kubikel lama Kaivan. Meja itu kini kosong melompong. Tidak ada foto, tidak ada berkas, tidak ada jejak. Hanya sebuah meja kayu yang dingin.

​Aku terus berjalan, tidak menoleh lagi. Pintu lift terbuka, dan kami melangkah masuk. Saat pintu lift tertutup, aku melihat pantulan diriku di cermin.

​Arelia. Seorang wanita yang akhirnya berani memilih tujuannya sendiri.

​Nyaris jadi kita?

​Bukan. Itu adalah judul dari sebuah buku yang sudah kubakar habis abunya. Mulai hari ini, ceritanya adalah tentang aku. Tentang langkah-langkahku yang tidak lagi ragu. Dan tentang seseorang yang tahu bahwa aku bukan sekadar tempat untuk pulang, tapi adalah destinasi yang layak untuk diperjuangkan.

​Jakarta di luar sana tampak begitu luas, begitu penuh dengan kemungkinan. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa tersesat di dalamnya. Segalanya sudah tuntas. Dan hidupku baru saja dimulai.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!