Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Hasrat dan Ketakutan
Ardi menatap Arumi yang berdiri di depan jendela. Siluet tubuhnya entah mengapa begitu indah. Ardi berjalan menuju Arumi dan melingkarkan lengannya di perut isterinya. Ardi dapat merasakan Arumi terkejut dan menegang. Ardi membenamkan kepalanya di bahu Arumi. Sudah lama dia tak menyentuh isterinya yang harum itu.
"Mas?" panggil Arumi.
"Hm?"
"Malu, diliat Kayla," bisik Arumi. Bukannya melepaskan pelukannya, Ardi malah semakin mengeratkannya. Kepalanya bergerak, mencium lekuk leher Arumi. Ardi dapat merasakannya, ketegangan yang Ardi salurkan lewat kecupan kecil itu pada Arumi.
"Mas..." nada Arumi semakin melemah.
"Hm?"
Ardi mendongak, melihat pipi merah Arumi dari samping. Entah mengapa, hal itu membuatnya semakin bergairah.
"Lagi?" tanya Ardi dengan nada berbisik.
"Kayla..." bisik Arumi sambil menoleh menatap Ardi.
Mata mereka bertemu. Setelah beberapa hari Ardi menghindari tatapan itu. Ardi baru sadar, ternyata tak ada yang perlu ditakuti lagi. Dia tahu Arumi. Dia paham isterinya. Arumi tak akan pernah mencurigainya. Apa yang Ardi takutkan selama ini ternyata hanya ada di dalam kepalanya saja.
Ardi melepaskan pelukannya perlahan lalu berjalan, duduk di samping Kayla.
"Bikin apa, Kay?" tanya Ardi pada Kayla. Arumi melihat sesuatu yang sudah jarang sekali terjadi.
"Bikin istana princess, Pa," jawab Kayla sambil sibuk menyusun lego.
"Woah! Bisa?"
"Bisa,"
Arumi duduk di sofa ruang keluarga, mengamati interaksi antara suami dan puterinya yang jarang sekali terjadi. Arumi sedikit lega, mungkin apa yang selama ini dia rasakan hanyalah bumbu-bumbu pemanis biduk rumah tangganya.
Sentuhan Ardi yang mengejutkannya tadi cukup menenangkan pikirannya tentang Ardi yang selama ini kacau. Tapi, masih ada sesuatu yang mengganggu pikiran Arumi. Dimas. Arumi masih bertanya-tanya mengapa Arumi teringat Dimas saat Ardi menyentuhnya.
Arumi mencoba menepis pikirannya tentang Dimas dengan berjalan ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk Ardi. Ardi menatap Arumi yang sedang sibuk di dapur. Ardi merasa semua akan baik-baik saja di antara dirinya dan Arumi selama Arumi tak tahu gairah satu malam yang dia luapkan bersama Farida.
Kayla terlihat sudah menguap beberapa kali saat Ardi membantunya menyusun lego. Ardi tersenyum melihat puteri kecilnya yang tak ingin berhenti bermain di tengah kantuk yang menyergapnya.
"Udah ngantuk, Kay? Gosok gigi sama papa?" tanya Ardi. Kayla menatap Ardi sejenak lalu mengangguk perlahan. Ardi tersenyum.
Arumi melihat Ardi menggendong Kayla ke kamar mandi saat dirinya sedang menyiapkan bumbu nasi goreng. Arumi dan Ardi saling menatap lalu saling tersenyum. Rasa itu kembali ada. Percikan itu kembali ada.
'Aku rasa... semua akan kembali seperti biasa,'
***
Ardi dan Arumi menikmati makan malam dalam diam. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ardi mulai menyadari bahwa yang dia perlukan adalah bersikap seperti biasa, bukan menghindar, dan dia akan mencoba memperbaikinya mulai sekarang.
Arumi, meskipun merasa sedikit curiga, dia mencoba menghalau pikiran negatif tentang Ardi akan perubahan sikapnya yang tiba-tiba.
'Mungkin ada sesuatu yang membuat Mas Ardi butuh waktu untuk lebih tenang. Dan sekarang... mungkin... dia sudah lebih tenang,' pikir Arumi.
"Nasgor kamu enak," kata Ardi memecah keheningan setelah menyuapkan suapan terakhir ke mulutnya.
"Makasih, Mas," ucap Arumi sambil tersenyum.
"Oh ya, akhir pekan ini kita ke taman bermain," kata Ardi. Arumi terkejut.
"Kayla bilang sama aku tadi pas gosok gigi. Takut mama lupa bilang lagi katanya," lanjut Ardi. Arumi tersenyum.
"Dasar, Kayla," kata Arumi sambil meletakkan piring di tempat cuci piring.
Arumi sedang menyalakan kran untuk mencuci piring ketika Ardi memeluknya dari belakang. Arumi terkejut.
"Aku kangen, Rum," kata Ardi lalu mengecup lekuk leher Arumi.
"Iya, aku cuci piring dulu sebentar, Mas," kata Arumi. Ardi seketika mematikan kran. Lalu memutar tubuh Arumi.
"Aku udah kangen banget," bisik Ardi lalu mendaratkan kecupan di bibir Arumi.
Seluruh tubuh Arumi bergetar. Ardi melepaskan kecupannya lalu tersenyum menatap Arumi.
"Aku mau kamu," bisik Ardi lalu menggendong tubuh Arumi ke kamar.
Perasaan bahagia menyergap Arumi. Malam ini, semua akan kembali seperti dulu lagi. Pernikahannya yang sempat hambar akan kembali manis mulai malam ini.
Ardi menidurkan Arumi di atas kasur. Kembali, Ardi mendaratkan ciuman ke bibir Arumi yang lembut dan manis. Rasanya sudah lama sekali Ardi tak merasakan bibir Arumi yang dulu selalu menjadi candu baginya.
Ardi mengulum bibir Arumi perlahan. Tangannya bergerak perlahan membuka kancing baju Arumi. Ardi dapat merasakan nafas Arumi yang mulai memburu. Ardi melepaskan kecupannya perlahan. Bibirnya lalu mendarat ke lekuk leher Arumi sambil tangannya yang tak berhenti menyentuh tubuh Arumi. Bibir Ardi terus turun, menjelajah seluruh tubuh Arumi yang sudah lama tak terjamah.
Arumi merasakan sensasi yang luar biasa dalam tubuhnya. Seluruh tubuhnya meremang mendapat sentuhan dari Ardi. Desah kenikmatan perlahan keluar dari bibirnya. Ardi semakin liar meluapkan hasrat yang tertahan selama ini. Malam itu, Ardi yakin, kehidupan pernikahannya akan kembali.
Di saat semua terasa berjalan baik-baik saja di tengah kenikmatan yang telah lama tak dinikmati oleh Ardi dan Arumi, entah mengapa, Ardi melihat wajah Farida yang nakal di wajah Arumi.
"Uh... Ah... Terus, Mas... Mmmhhh..." bahkan suara Arumi yang lembut berubah menjadi desahan nakal Farida yang menggoda.
Ardi menggelengkan kepalanya. Wajah Arumi kembali disana. Terlihat memejamkan mata menikmati sensasi malam penuh gairah mereka. Nafas Ardi kembali memburu. Namun, sedetik kemudian, wajah Farida kembali tampak.
"Kenapa berhenti, Mas? Mmmhhh... Enak kan? Lebih nikmat daripada sama isteri mu kan?"
Ardi memejamkan matanya, mencoba mengusir bayang-bayang Farida dari pikirannya. Cengkeraman tangan Arumi kembali membuat Ardi tersadar, bahwa dirinya tengah bergelut dengan hasrat dan ketakutan.
Desahan lembut Arumi kembali memasuki relung hati Ardi, membuatnya kembali pada jalur yang tepat. Sensasi yang mereka rasakan sudah hampir menuju puncaknya saat Ardi kembali mendengar suara Farida.
"Uuh... Yaaah... Dikit lagi, Mas... Mmhh... Aaaah~"
Seketika Ardi berhenti, lalu berbaring di samping Arumi. Arumi mengerutkan alisnya, merasa ada yang aneh pada Ardi. Dia tahu Ardi belum terpuaskan, tapi dia lebih heran mengapa Ardi tiba-tiba berhenti.
"Aku capek, Rum," kata Ardi sambil menarik selimut dan menutupi matanya yang terpejam dengan lengannya.
Arumi bangkit, memakai kembali pakaiannya perlahan sambil mengamati Ardi yang kembali menjadi mode dingin. Arumi merasakan sesuatu yang aneh yang tak bisa Arumi jelaskan.
Arumi kembali berbaring di kasur. Dia menoleh ke arah Ardi yang masih diam. Arumi memejamkan matanya. Matanya terpejam, tapi pikirannya mencoba mencerna apa yang terjadi dengan Ardi hari itu.
'Tiba-tiba dia manis. Lalu, tiba-tiba dia dingin. Sebenernya apa yang terjadi sama kamu, Mas?'
***