seorang wanita cantik turun dari motor merapikan rambut panjang yang sedikit berantakan tertiup angin,lalu ia melangkah menuju fakultasnya,karna melangkah sambil menunduk melihat handphone kakinya tersandung batu, tubuhnya tersentak ke depan Aluna memejamkan mata karna dia yakin tubuh nya sebentar lagi akan mencium tanah, tapi setelah beberapa saat dia tidak merasakan sakit justru dia merasa tubuh nya ada yang menahan, saat Aluna membuka mata pandangan nya berhenti pada sorot mata tajam nan dingin..
penasaran dengan ceritanya? yuk lanjut baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen kaka Agustin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Vika mengetuk ruangan Lusi
Di pintu tertulis manager keuangan
terdengar suara dari dalam
"masuk"
Vika membuka pintu pelan
Lusi menatap Vika tersenyum remeh
semenjak di angkat menjadi manager sikap Lusi menjadi sombong ,bahkan kepada Vika yang sahabatnya pun seperti itu.
"ada apa Vika" tanyanya
"maaf Bu, ibu dipanggil pak Hendra keruangan nya" jawab Vika
Lusi mengernyit heran "baik saya akan segera ke sana" ucap nya
Lalu pika pamit
Dan keluar dari ruangan itu
Tidak lama setelah merapikan penampilan Lusi juga keluar dari ruangan nya
Dia bertanya tanya 'ada apa pak Hendra memanggilnya'
Tapi sesaat dia tersenyum bahagia
Karna dia menyangka bahwa dia akan dinaikan jabatan nya.
Dia mengetuk ruangan kepala HRD
terdengar suara berat dari dalam
menyuruhnya masuk
Lusi membuka pintu pelan
Lalu melangkah masuk
Tersenyum manis
"siang pak, apa bapak memanggil saya?" tanyanya memastikan
Hendra mengangguk lalu menyuruh Lusi duduk
"silahkan duduk" ucap nya
Lusi duduk di kursi berhadapan dengan meja kerja Hendra
"ada apa ya pak" tanyanya masih dengan senyum manis
Hendra menghela nafas berat
" Lusi, mulai hari ini jabatan mu di turunkan menjadi staf biasa" ucap Hendra
Bagai tersambar petir di siang bolong
Lusi terkejut, tubuhnya tegang
Matanya mengerjap masih mencerna setiap kata yang di ucap kan kepala HRD itu.
"apa...tidak mungkin"ucap nya lirih
"maaf Lusi, itu sudah keputusan bos" kata Hendra , dia juga sebenarnya kasihan
kepada Lusi, tapi mau bagaimana lagi
"memangnya apa salah saya pak?" tanyanya lirih
"Saya juga tidak tahu , karna pak Alfian tidak menyebutkan apa kesalahan kamu" jawabnya
"saya tidak terima pak, bagaimana mungkin saya di turunkan sedangkan kinerja saya sangat bagus selama ini" ucapnya marah
Hendra menghela napas panjang
"kalau kamu mau protes, protes lah ke bos jangan ke saya"katanya kesal
Lusi keluar tanpa permisi
"dasar tidak punya sopan santun," ucapnya
Pantas saja jabatan nya di turunkan ternyata attitude nya nol besar.
Begitulah manusia jika derajat di naikan sedikit saja langsung sombong.
Hendra menggelangkan kepala.
......................
Lusi keluar dari lif langkahnya cepat
Menahan emosi
sepatu hak tinggi nya menggema di lorong yang sepi
Dia sampai di depan pintu ruangan Alfian
Menghela napas lalu mengetuk pintu pelan
Tok..tok..
"masuk " terdengar suara berat dari dalam
Lusi membuka pintu pelan lalu melangkah masuk
Alfian tidak mengalihkan pandangan nya dari laptop
dia sudah tau siapa yang datang keruangan nya
"ada apa" tanya dingin
"kenapa bapak menurunkan jabatan saya, apa salah saya pak" tanyanya
Alfian menaikan alisnya, tersenyum miring
Menatap lusi tajam
"kau yakin ,tidak tau kesalahan mu?" tanyanya
suaranya yang berat dengan aura dingin membuat suasan menjadi tegang.
Lusi menelan ludah
"tidak tau pak, karna memang saya tidak pernah melakukan kesalahan apapun" jawabnya percaya diri
Alfian benar2 muak melihat tingkah pongah bawahan nya itu
"jangan buang waktuku, keluar lah sebelum aku hilang kesabaran" katanya dingin
"dan ingat ini , jangan pernah menyentuh calon istriku, jika kau berani menyentuhnya lagi , bukan hanya kau yang akan hancur, tapi keluargamu juga" lanjutnya tajam.
Lusi menegang, kepercayaan diri nya luruh seketika,tubuhnya kaku mendengar ancaman itu.
Dia tau sekarang,kenapa jabatannya di turun kan , pasti karna kejadian tadi di pantry
"keluar" ucap Alfian tegas
Lusi berbalik melangkah keluar dengan langkah yang sedikit goyah,
dia kembali keruangan nya dengan wajah pucat.
......................
Aluna menaikan alisnya, kala melihat Lusi keluar dari ruangan Alfian dengan wajah pucat, seperti orang ketakutan.
Dia lalu berjalan menuju pintu ruangan Alfian
Mengetuk 2 kali
Lalu masuk setelah di izinkan .
"maaf pak ,ini ada berkas yang harus di tandatangani " ucapnya formal
raut wajah yang tadi tegang penuh amarah luruh seketika saat mendengar suara lembut calon istrinya
"sini sayang, mas lihat dulu" jawabnya lembut
Aluna mencebik kesal
"ini masih jam kerja pak, bersikaplah profesional" ucap luna sopan
Alfian terkekeh mendengan teguran dari wanita yang di cintai nya itu
"baiklah, mana saya lihat dulu" ulangnya dengan nada formal
Lalu Aluna menyerahkan berkas yang tadi dia bawa
Alfian memeriksanya dengan teliti
Lalu menandatanganinya
'kamu tampan sekali mas kalau sedang fokus seperti itu 'batin Aluna
"ini sudah" ucap Alfian , meletakan berkas ke meja tepat di hadapan Aluna
Aluna tersadar lalu mengambil berkas itu
Dan pamit keluar
Sebelum tangan nya mencapai gagang pintu
Alfian lebih dulu menarik tangan nya
"tunggu sayang" ucapnya lembut
"ada apa pak" tanyanya
Alfian tersenyum tipis, sebenarnya tadi dia melihat sekilas Aluna yang sedang menatap kagum dirinya.
awalnya dia ingin menggoda, tapi setelah melihat wajah lelah itu dia jadi tidak tega
"setengah jam lagi kita pulang," ucapnya
sambil mengelus kepala wanitanya dengan lembut
"iya pak, kalau begitu saya permisi dulu" jawabnya sambil tersenyum hangat
Alfian mengangguk sebagai jawaban
Membiarkan Aluna keluar dari ruangan nya
Dia pun segera merapih kan pekerjaan nya.
......................
Di ruangan lain
Lusi sedang membereskan barang2 nya
Dia tidak menyangka karna prilakunya terhadap Aluna siang tadi
Akibatnya fatal, untung saja dia tidak di pecat,
"kalau saja wanita sialan itu tidak mengadu mungkin sekarang aku masih duduk di ruangan ini" ucapnya kesal
"lihat saja aku akan balas dendam" katanya dengan emosi tertahan.
bukan nya sadar dia malah semakin menjadi
Dia tidak tau saja , apa yang akan Alfian lakukan jika dia berani mencelakai Aluna lagi.
......................
Setengah jam telah berlalu
Alfian bangkit dari kursinya
Mengambil tas dan jas yang tersampir di sopa
Lalu melangkah keluar menuju ruangan Aluna
Tanpa mengetuk
Dia membuka pintu dan masuk kedalam
"ayo sayang, kita pulang" ucapnya
Aluna yang fokus tidak sadar dengan
Kedatangan Alfian
"loh mas, bikin kaget saja" ucapnya
Alfian tersenyum tipis" sudah ,besok lagi di lanjutkan , " katanya
Aluna mengangguk lalu membereskan barang2 nya
Dan melangkah mendekati Alfian
"ayo mas," ajaknya
Mereka lalu keluar dari ruangan
Melangkah menuju lif,
Sesampainya di lantai bawah
Para karyawan yang berpapasan menunduk hormat dan menyapa, memberi jalan untuk mereka
Alfian membukakan pintu untuk Aluna
Setelahnya dia masuk dan mengemudikan mobil dengan pelan meninggalkan
Area perusahaan.
......................
Aluna duduk bersandar sambil memejamkan mata
rasanya lelah sekali, hari pertama kerja ,
Sangat berkesan untuk nya.
Alfian yang melihat itu
Mengelus kepala Aluna
"capek sayang" tanyanya
"huum" jawabnya singkat
"mau langsung pulang atau jalan dulu" tawarnya
"pulang saja mas, rasanya badan ku lelah sekali " jawabnya lirih
"baiklah sayang" ucapnya
Dia lalu menurunkan sandaran kursi yang di duduki Aluna
Agar calon istrinya itu nyaman .
Aluna tersenyum mengucap terimakasih atas perhatian Alfian
Lalu Alfian membalasnya dengan mengecup tangan Aluna .
Tidak butuh waktu lama nafas Aluna teratur ,dia sudah terlelap
Alfian mengemudikan mobil dengan pelan takut mengganggu tidur Aluna
Setelah sampai
alfian turun dari mobil
Membuka pintu penumpang pelan2
Lalu menggendong Aluna
Masuk kedalam rumah.
udah baca ceritanya malah berhenti di tengah jalan lagi...
awas aja... 😤😤