NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Raka mengambil foto Fadil dari map itu.

Anak kecil itu terlihat sedang berjalan di gang, difoto dari jauh.

Bu Lestari melihat foto itu dan wajahnya berubah.

“Anak kecil juga mereka foto?”

Para pedagang mulai marah.

“Kurang ajar.”

“Ini bukan pemeriksaan.”

“Mereka mau menekan orang kecil.”

Pria berkemeja putih berusaha mengambil kembali mapnya, tetapi tangannya berhenti di udara saat Raka menatapnya.

Raka berkata pelan, “Aku sudah bilang.”

Tidak ada yang berani bicara.

“Jangan sentuh orang biasa.”

Ia mengangkat foto Fadil.

“Apalagi anak kecil.”

Dua petugas rompi langsung mundur.

Pria berkemeja putih mencoba bicara.

“Kami hanya membawa dokumen. Kami tidak—”

Raka memotong, “Kau tahu isi map ini.”

Pria itu diam.

Mata Dewa membaca ketakutannya.

Dan kebohongannya.

Raka mengangkat tangan.

Cahaya emas kecil muncul, lalu masuk ke map. Semua dokumen palsu di dalamnya terbakar dari bagian tengah. Tidak ada api besar. Tidak ada asap tebal. Kertas-kertas itu berubah menjadi abu tipis, sementara mapnya tetap utuh.

Para pedagang terdiam melihatnya.

Pria berkemeja putih mundur sampai punggungnya menabrak tiang pasar.

Raka menatapnya.

“Kau akan kembali kepada Hendra.”

Pria itu mengangguk cepat.

“I-iya.”

“Sampaikan ini.”

Raka melangkah maju.

“Pak Harun aku lepaskan karena dia diseret.”

Langkah kedua.

“Bu Lestari aku lindungi karena dia disentuh.”

Langkah ketiga.

“Tapi kalau Fadil atau anak kecil mana pun masuk ke permainan kalian…”

Cahaya emas di mata Raka menyala lebih terang.

“…aku tidak akan memberi surat peringatan.”

Pria itu hampir jatuh.

Raka menunjuk tangannya.

“Ulurkan tangan kananmu.”

Pria itu menggeleng panik.

“Bang, jangan. Saya cuma bawahan.”

“Bawahan yang membawa daftar target.”

“Bang, saya mohon…”

“Ulurkan.”

Tubuh pria itu bergerak sendiri.

Tangan kanannya terulur dengan gemetar.

Raka menyentuh ujung jarinya.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada suara keras.

Namun pria itu menjerit.

Ia jatuh berlutut, memegang tangan kanannya. Tulangnya tidak patah, tetapi seluruh jarinya terasa seperti diremas oleh besi panas.

Raka menatap dua petugas lain.

“Kalian juga.”

Dua petugas itu langsung berlutut sebelum disentuh.

“Bang, ampun!”

“Kami tidak tahu ada foto anak kecil!”

Mata Dewa bergerak.

Yang satu berbohong.

Yang satu tidak.

Raka menatap petugas di sebelah kiri.

“Kau tahu.”

Petugas itu pucat.

“Bang…”

Raka menyentuh bahunya.

Cahaya emas masuk ke tubuhnya.

Ia tersungkur, napasnya berat.

“Mulai hari ini, setiap kali kau menerima uang untuk menekan pedagang kecil, dadamu akan terasa seperti ditindih batu.”

Petugas itu mengangguk cepat sambil menangis.

Raka menatap petugas satunya.

“Kau tidak tahu. Tapi kau ikut menakuti orang kecil.”

Petugas itu gemetar.

Raka menyentuh udara di depannya.

Cahaya emas kecil masuk ke dadanya.

“Cap ringan. Cukup untuk membuatmu berpikir sebelum menerima perintah berikutnya.”

Petugas itu langsung menunduk.

“Makasih, Bang. Saya… saya tidak akan ulangi.”

Raka menoleh kepada pria berkemeja putih yang masih memegang tangan.

“Kembali ke Hendra.”

Pria itu mengangguk panik.

“Sekarang.”

Mereka bertiga langsung pergi dari pasar. Langkah mereka kacau. Orang-orang menyingkir, tetapi tidak ada yang membantu.

Setelah mereka pergi, pasar masih hening beberapa detik.

Lalu suara para pedagang mulai naik.

“Bagus!”

“Biar tahu rasa!”

“Mereka kira orang pasar bisa diinjak terus?”

Bu Lestari masih berdiri di belakang lapaknya. Matanya sedikit berkaca-kaca, tetapi ia menahan diri.

Raka mengambil surat yang tadi tidak ikut terbakar, lalu menyerahkannya kepadanya.

“Ini surat panggilan. Simpan. Nanti kalau mereka datang lagi, tunjukkan bahwa laporan sebelumnya sudah dipermalukan di depan pasar.”

Bu Lestari menerima surat itu dengan tangan gemetar.

“Raka, Ibu tidak tahu harus bilang apa.”

“Tidak perlu bilang apa-apa.”

Raka menatap lapak itu.

“Lanjutkan dagang.”

Bu Lestari mengusap matanya cepat, lalu mengangguk.

“Beli apa?”

Raka terdiam sebentar.

Pertanyaan itu terlalu biasa untuk suasana yang baru saja terjadi.

Beberapa pedagang langsung tertawa kecil, ketegangan sedikit pecah.

Raka menatap susunan cabai dan bawang.

“Apa saja yang bisa dimasak cepat.”

Bu Lestari mengambil beberapa sayur, cabai, bawang, dan telur dari pedagang sebelah. Ia memasukkannya ke kantong plastik.

“Ini. Tidak usah bayar.”

Raka langsung menggeleng.

“Bayar.”

“Raka—”

“Bu, kalau saya tidak bayar, nanti pedagang lain pikir saya preman.”

Seorang pedagang di samping langsung tertawa.

“Preman mana yang habis bikin petugas berlutut terus beli bawang, Ka?”

Dimas yang entah sejak kapan muncul di belakang kerumunan langsung menyahut, “Preman versi hemat mungkin.”

Raka menoleh.

Dimas mengangkat dua tangan.

“Aku cuma lewat. Tiba-tiba pasar sudah ramai. Aku tidak ikut campur.”

Bu Lestari akhirnya tersenyum tipis.

Raka membayar belanjaannya.

Bukan karena jumlah uangnya penting.

Tapi karena ia ingin orang-orang pasar melihat satu hal.

Ia bisa membuat musuh berlutut.

Tapi kepada pedagang kecil, ia tetap membeli seperti orang biasa.

Di rumah keluarga Mahendra, Hendra Wiranata menerima laporan itu dengan wajah keras.

Pria berkemeja putih berdiri di depannya, memegang tangan kanan yang masih gemetar.

“Dia membakar dokumen di depan pedagang, Pak.”

Hendra menatapnya dingin.

“Dan kau membiarkannya?”

Pria itu menunduk.

“Kami tidak bisa bergerak.”

Hendra mengepalkan tangan kanan, tetapi langsung meringis karena rasa sakit dari tanda Raka masih tersisa.

Ia mulai marah.

Bukan hanya karena rencananya gagal.

Tapi karena Raka tidak hanya mematahkan langkahnya.

Raka membuat bawahannya takut menjalankan perintah.

Itu jauh lebih berbahaya.

Orang seperti Hendra hidup dari jaringan.

Jika jaringannya takut menulis, takut membawa surat, takut menekan orang kecil, maka kekuatannya akan habis tanpa perlu dipukul.

Pintu ruangan terbuka.

Surya Mahendra masuk bersama Reza dan Hei Yan.

Surya menatap Hendra.

“Gagal lagi?”

Hendra tidak suka nada itu.

“Raka muncul di pasar lebih cepat dari perkiraan.”

Reza tertawa sinis.

“Bukankah kau bilang surat lebih bersih daripada darah?”

Hendra menatapnya tajam.

“Dan bukankah kau yang membuat dia menjadi masalah sejak awal?”

Reza langsung maju, tetapi Surya menahan dengan satu pandangan.

“Cukup.”

Hei Yan berjalan mendekati meja, mengambil sisa foto yang berhasil dibawa pulang. Foto Fadil sudah tidak ada karena dibakar Raka, tetapi beberapa foto lain masih tersisa.

“Dia bereaksi keras saat anak kecil masuk daftar.”

Surya menatap Hei Yan.

“Itu batasnya.”

Hei Yan tersenyum tipis.

“Batas sekaligus pemicu.”

Bram yang berdiri di belakang langsung menegang.

Ia tidak suka arah pembicaraan itu.

Surya menatap Hei Yan lebih serius.

“Kau menyarankan menyentuh anak kecil?”

Hei Yan menatapnya santai.

“Aku menyarankan memahami apa yang membuatnya bergerak paling cepat.”

Surya terdiam.

Reza berkata, “Kalau anak itu penting, pakai saja.”

Bram spontan mengangkat wajah.

“Jangan.”

Semua orang menoleh kepadanya.

Reza menatap Bram dengan marah.

“Apa katamu?”

Bram sadar ia sudah bicara terlalu cepat, tetapi kali ini ia tidak bisa menelan kembali kata-katanya.

Ia menunduk, tapi tetap bicara.

“Jangan sentuh anak kecil itu, Bang. Raka sudah bilang. Kalau kita sentuh, dia tidak akan datang ke kantor. Dia akan datang ke rumah ini.”

Reza mendengus.

“Biar datang.”

Bram menatapnya dengan wajah pucat.

“Bang Reza belum lihat langsung saat dia marah.”

Reza melangkah mendekat.

“Jadi kau takut?”

Bram menjawab pelan, “Iya.”

Ruangan hening.

Jawaban itu jujur.

Terlalu jujur.

Bram melanjutkan, “Saya preman, Bang. Saya pernah lihat orang bawa parang, pistol rakitan, massa, apa saja. Tapi Raka beda. Dia tidak marah seperti orang biasa. Kalau dia bilang datang, dia datang.”

Surya memperhatikan Bram tanpa bicara.

Hei Yan tersenyum, seperti menikmati ketakutan itu.

Reza justru semakin kesal.

“Keluar.”

Bram menatap Surya.

Surya mengangguk kecil.

Bram keluar dari ruangan.

Namun di luar pintu, ia tidak langsung pergi.

Ia berdiri beberapa detik, napasnya berat.

Untuk pertama kalinya, Bram berpikir untuk benar-benar berhenti mengikuti Mahendra.

Bukan karena ia jadi orang baik.

Tapi karena ia mulai sadar, berada di sisi Mahendra mungkin berarti berdiri di tempat yang akan dihantam Raka.

Di dalam ruangan, Surya menatap Hei Yan.

“Kita tidak menyentuh anak itu.”

Reza langsung protes.

“Pa!”

Surya menoleh tajam.

“Aku bilang tidak.”

Reza mengatupkan mulut.

Surya melanjutkan, “Raka menghukum sesuai tingkat kesalahan. Kalau kita menyentuh anak kecil, kita memberi dia alasan untuk menghukum tanpa batas.”

Hei Yan tersenyum tipis.

“Kau semakin memahami caranya.”

“Aku memahami risiko.”

Hendra duduk dengan wajah kesal.

“Kalau begitu apa langkah berikutnya? Surat gagal. Tekanan lapangan gagal. Preman gagal. Makhlukmu juga gagal.”

Hei Yan tidak tampak tersinggung.

“Kalau semua pintu luar gagal, buka pintu dalam.”

Surya menatapnya.

“Jelaskan.”

Hei Yan meletakkan telapak tangannya yang masih memiliki luka emas di atas meja.

“Raka menemukan jejak segel di tempat tinggalnya. Itu berarti masa lalunya terhubung dengan titik tertentu di Pontianak.”

Hendra mengerutkan kening.

“Apa hubungannya dengan rencana kita?”

“Kita cari orang yang tahu asal-usulnya.”

Surya diam.

Hei Yan melanjutkan, “Bukan menyerang orang yang ia lindungi. Bukan memancing amarahnya. Cari catatan lama. Rumah sakit. Panti. Data kelahiran. Orang yang dulu menemukan bayi bernama Raka Pratama.”

Reza mengerutkan kening.

“Bayi?”

Hei Yan tersenyum.

“Takhta sebesar itu tidak mungkin jatuh ke tubuh manusia tanpa pintu masuk.”

Surya mulai mengerti.

“Kau ingin menemukan asal tubuhnya.”

“Benar.”

Hei Yan menatap luka emas di tangannya.

“Jika aku tidak bisa mencabut takhta dari luar, aku harus tahu bagaimana takhta itu masuk sejak awal.”

Hendra perlahan mengangguk.

“Data lama bisa dicari.”

Surya menatapnya.

“Kau bisa?”

Hendra tersenyum dingin.

“Kalau manusia pernah dicatat, aku bisa menemukan kertasnya.”

Di pasar, Raka sedang membantu Bu Lestari merapikan kembali barang yang sempat berantakan.

Dimas memandangnya sambil bersandar pada tiang.

“Ka, kau sadar nggak?”

Raka tidak menoleh.

“Apa?”

“Musuhmu makin hari makin banyak jenisnya. Preman ada. Pejabat ada. Orang kaya ada. Makhluk asing ada. Besok apa lagi? Mantan ketua RT dari dunia lain?”

Beberapa pedagang tertawa.

Raka mengambil kantong belanjaannya.

“Kalau ada, kau yang sambut.”

Dimas langsung menunjuk dirinya sendiri.

“Aku? Dengan senjata apa? Sendok nasi?”

Bu Lestari ikut tersenyum.

Suasana pasar mulai kembali hidup.

Namun Raka tetap memperhatikan sekitar.

Ia tahu serangan hari ini sudah selesai.

Tapi Mahendra belum berhenti.

Hei Yan juga belum berhenti.

Bedanya, kali ini Raka tidak akan menunggu mereka menyentuh orang lain.

Sistem berbicara.

[Tuan akan bergerak lebih dulu?]

Raka berjalan keluar dari pasar.

“Ya.”

[Target?]

Raka menatap jalan besar di depan pasar.

“Hendra sudah dua kali memakai surat.”

Ia memasukkan tangan ke saku jaket.

“Sekarang aku ingin tahu di mana dia menyimpan semua kertas kotornya.”

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!