Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Teman Lama
Di warung kecil di pinggir jalan, tempat sederhana dengan bangku kayu, Mela dan Dino duduk berhadapan dengan dua teh hangat di depan mereka.
Mereka saling diam, tidak ada yang bicara. Hanya saling menatap, seperti dua orang yang sama-sama menyimpan banyak hal tapi, tidak tahu harus mulai dari mana.
"Jujur, aku nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini," ucap Dino akhirnya.
Mela tersenyum kecil. "Kenapa begitu?"
"Ya... Karena setahuku, kamu hidup di kota."
Mela mengangguk pelan. "Iya, itu memang benar." Ia menunduk sejenak, menarik napas. "Aku memang tinggal di sana, setelah menikah," lanjutnya.
Dino diam, tidak menyela.
"Tapi sekarang, aku kembali," kata Mela.
Ucapannya sederhana namun, cukup menjelaskan banyak hal. Dan, Dino memperhatikannya.
"Ada yang berubah?" tanyanya hati-hati.
Mela tersenyum tipis. "Banyak." Mela menyeruput teh hangatnya, lalu pandangannya beralih ke luar dimana kendaraan berlalu lalang.
"Aku sudah bercerai."
Dino terdiam. Tangannya yang tadi hendak mengambil gelas, berhenti di udara. Namun, ia tidak bertanya lebih jauh dan membiarkan Mela kembali melanjutkan ucapannya.
"Sekarang, aku fokus di desa. Memulai dari nol dengan menanam sayur pelan-pelan."
Dino akhirnya tersenyum. Bukan karena heran, tapi karena kagum.
"Kamu masih sama seperti dulu," ucapnya.
Mela mengernyit. "Sama gimana?"
"Kalau sudah ingin sesuatu, kamu nggak mau setengah-setengah."
Mela tertawa kecil. "Dulu aku keras kepala, ya?"
"Sangat," jawab Dino cepat.
Mereka tertawa ringan, membuat suasana mencair dan tidak ada lagi rasa canggung di antara mereka.
"Kalau kamu gimana?" tanya Mela.
Dino mengangkat alis. "Aku?" tanyanya menunjuk dirinya sendiri.
Mela mengangguk.
Dino bersandar sedikit. "Biasa saja."
"Biasa saja gimana?" tanya Mela penasaran.
"Ya, seperti yang kamu lihat, aku bekerja untuk hidup."
Mela berdecak sambil menyipitkan mata sedikit. "Masih saja suka jawab seadanya," gerutunya. "Semua orang bekerja juga untuk hidup. Begitu juga denganku."
Dino terkekeh pelan. Tangannya meraih teh hangat di depannya dan meneguknya sedikit. Sampai, pertanyaan lain keluar dari mulut Mela, yang membuat gerakannya terhenti.
"Dino... Kamu sudah menikah?"
Dino menatap Mela. Pertanyaan itu sederhana, namun entah kenapa, terasa berbeda. Ia terdiam sejenak lalu, menggeleng pelan. "Belum."
Mela sedikit terkejut. "Kau belum menikah?"
Dino tersenyum tipis. "Iya, belum ketemu yang cocok.”
Mela mengangguk pelan, tidak bertanya lebih jauh. Namun di antara mereka, ada sesuatu yang tidak diucapkan. Tentang masa lalu, tentang hal yang… pernah hampir terjadi.
"Dunia ini terasa kecil, ya," gumam Mela, sambil menatap keluar.
Dino menatapnya lurus. "Iya."
Karena dari semua tempat, dari semua kemungkinan, mereka justru bertemu lagi di titik ini.
Dan kali ini, tidak ada yang tahu apakah mereka akan kembali berpisah. Atau justru, memulai sesuatu yang dulu tertunda.
***
Matahari mulai condong ke barat saat Mela dan Dino keluar dari warung. Suasana jalan masih ramai, tapi tidak sepadat sebelumnya.
Mela mengangkat tas kainnya. "Aku duluan, ya."
Dino menahan lengan Mela. "Aku antar, ya" ucapnya.
Mela langsung menggeleng. "Tidak usah. Aku sudah biasa sendiri."
"Bukan soal itu." Dino menyelipkan tangan ke saku. "Kamu bilang, kamu punya lahan sekarang dan menanam banyak sayuran, kan."
Mela mengernyit tipis. "Iya, kenapa?"
Dino mengangkat bahu santai. "Aku penasaran saja. Aku mau lihat sekaligus mengecek sayuran mu."
Mela terdiam sejenak menatap Dino. Lalu, menghela napas pelan. "Ya sudah."
"Tunggu di sini, aku ambil mobil dulu." Dino berbalik kembali ke tokonya, mengambil mobil pick-up miliknya, lalu berhenti tepat di depan Mela.
"Ayo naik!" ajak Dino.
Mela tersenyum, lalu naik di kursi sebelah Dino.
Selama perjalanan pulang, tidak banyak percakapan. Namun, tidak juga canggung. Sesekali mereka saling melirik, tertawa kecil karena hal-hal sederhana. Sampai akhirnya, mereka tiba di depan rumah Mela.
Dino memperhatikan sejenak rumah itu, sederhana namun, terlihat rapi dan hidup. "Rasanya... Sudah lama sekali aku tidak ke sini," gumam Dino.
Mela mengerutkan keningnya. "Memangnya, selama ini kamu kemana? Maksud ku... Apa kamu tidak pernah main ke desa ini?"
"Bu-bukan begitu. Tapi, a-aku sibuk dengan pekerjaan ku," ujar Dino tergagap.
"Oh!" Mela masuk lebih dulu. "Mau minum?" tanyanya dari dalam.
Dino yang berdiri di depan pintu, menggeleng pelan. "Tidak usah repot-repot. Kita langsung ke lahan mu saja."
Mela menoleh heran. "Kenapa?"
Dino melirik ke arah sekitar. Beberapa orang terlihat memperhatikan. Tidak terang-terangan, namun cukup jelas baginya.
"Sejak tadi, kita sudah jadi tontonan," ucapnya pelan.
Mela terdiam, lalu sedikit menghela napas. Ia mengerti maksud Dino. Dan, ia yakin setelah ini akan ada gosip baru.
"Kalau begitu, kita langsung ke lahan saja,"ucapnya.
Dino mengangguk. Mereka berjalan ke arah lahan yang tidak jauh dari rumah. Langkah mereka berdampingan namun tidak terlalu dekat.
"Kita sudah sampai," ucap Mela.
Langkah mereka terhenti di pinggir lahan. Suara ramai dari keempat sahabatnya langsung terdengar.
"Mel! Kamu sudah— "Yati yang sedang memegang ember langsung berhenti. Tatapannya berpindah dari Mela ke pria di sampingnya. "Eh?"
Darmi dan yang lain yang sedang merapikan tanaman juga ikut menoleh dan diam beberapa detik.
Mela menggaruk pelan tengkuknya yang tidak gatal. "I-Ini Dino."
"Dino?" ulang Yati pelan.
Darmi menyipitkan mata, menatap pria itu dari atas sampai bawah. "Dino?" gumamnya.
"Iya, dia teman lama ku," jawab Mela.
Dino mengangguk sopan. "Selamat sore, mbak. Aku teman lama Mela, Dino."
"Teman lama?" ulang Yati lagi. Nada suaranya mulai berubah.
Darmi langsung menyikut pelan lengan Yati. Namun, matanya masih tidak lepas dari Dino.
"Iya, mbak. Dino dari desa sebelah," jawab Mela cepat.
"OH!" Jawab mereka serempak, panjang dan penuh arti.
Mela langsung memalingkan wajah, merasa sedikit canggung. "Dia mau lihat lahan kita," ucapnya, mengalihkan pembicaraan.
Dino melangkah maju sedikit. Matanya menyapu lahan itu. Tanaman yang mulai tumbuh rapi, sistem air yang sederhana namun teratur.
"Lumayan," gumamnya.
"Lumayan?" ulang Surti dengan alis yang terangkat.
Darmi menyilangkan tangan. "Ini sudah bagus, tahu."
Dino tersenyum tipis. "Iya. Maksudku, lebih dari yang aku kira." Dino berjalan perlahan di antara bedengan. Memeriksa beberapa tanaman. Tangannya menyentuh daun, melihat tanah. "Kamu yang urus semua ini?" tanyanya.
Mela mengangguk. "Iya, bareng mereka." Ia menunjuk Darmi dan yang lain.
Darmi dan yang lain, mendekati Mela dan berbisik pelan.
"Sebenarnya, untuk apa teman mu itu kemari, Mel?" tanya Asih.
"Dia yang nantinya akan mengambil sayuran kita, mbak. Makanya, dia datang sekalian lihat lahan kita," jawabnya.
Darmi dan yang lain saling pandang. Lalu, senyuman penuh arti perlahan muncul.
"Oh... Jadi, ini ‘orang kota’ yang akan mengambil sayuran kita," bisik Yati pelan, namun tetap terdengar.
Mela langsung menatap tajam. "Mbak Yati!"
Dino tidak tersinggung, justru ia tertawa kecil, membuat suasana mencair.
Matahari perlahan mulai turun. Cahaya keemasan menyapu lahan.
Dino pamit pada Mela dan yang lain, dan akan datang besok mengambil sayuran milik Mela. Mereka juga bertukar kontak agar mudah berkomunikasi.
Setelah mobil dino menjauh, Darmi dan yang lain berdiri di samping Mela.
"Dino ganteng, ya," ucap Surti tiba-tiba.
Mela mengalihkan pandangannya, menatap Surti. "Ganteng, wong dia laki-laki," balas Mela sedikit ketus.
"Cie... Cemburu! " goda yang lain.
"Ck, apa sih, mbak? Siapa yang cemburu?"
Darmi dan yang lain terkekeh, senang melihat ekspresi Mela yang malu. Tapi kemudian, ia terdiam, teringat sesuatu.
"Kalau gak salah, dia yang dulu suka berangkat sekolah bareng sama kamu, kan Mel?"
Mela mengangguk pelan. "Iya, mbak."
"Oalah, pangling aku, Mel. Dia tambah ganteng soalnya," seru Darmi.
Mela kembali berdecak, memutar bola matanya.
Darmi tertawa pendek. "Aku pikir, dia bakal jadi pengusaha kayak mantan suamimu," ucapnya.
Mela langsung menatap Darmi dengan kening mengeryit. "Kenapa mbak Darmi berpikir begitu?"
"Ya, soalnya aku pernah dengar, teman kamu dari desa sebelah kuliah di Jakarta. Aku pikir Dino. Tapi, kayaknya bukan."
Mela terdiam, pandangannya kembali beralih pada jalan, dimana mobil dino melaju. Tapi kemudian, ia menatap keempat sahabatnya.
"Sudah sore, ayo pulang!" ajak Mela
"Gasss!"
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??