Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Di hadapan beberapa warga desa yang masih mencoba menghadang, tongkat milik Danu kembali bergetar.
Lantaran tidak ada warga desa yang bisa menghadangnya, dia pun segera mengejar Budi dan menangkapnya.
Setelah itu, Danu membawa Budi kembali dan melemparkannya ke kaki Kira seraya berkata,
"Kak Kira, aku berhasil menangkapnya!"
Budi tampak putus asa. Kemarin, dia telah dipukul sangat parah. Hari ini, nasibnya tidak perlu dikatakan lagi.
Kira diam saja. Dia kemudian memandang Jamal sambil berkata,
"Cepat tangkap dia."
"Cepat belenggu dia!" perintah Jamal dengan terburu-buru pada pasukannya.
Kedua prajurit kekar pun membelenggu Budi yang gemetaran. Kepala Desa benar-benar digulingkan dari jabatannya hari ini.
Di sisi lain, seluruh warga desa menyaksikan ini dengan ekspresi yang rumit. Meskipun berasal dari desa yang sama, Budi juga sudah menindas mereka. Namun, tiap kali panen, perkelahian yang terjadi di Dusun Silali lebih sedikit dibanding desa lainnya.
"Kalian berani?" teriak Budi.
Ketika belenggunya dieratkan, dia menatap Jamal sambil menggertakkan giginya dan berkata,
"Jamal, kita ini rekan. Kamu benar-benar ingin melakukan ini? Aku akan membayar 2.000 rupiah dan mentraktir semua orang untuk minum. Jangan bawa aku ke pengadilan daerah!"
"Kamu anggap aku ini apa? Kamu pikir bisa membeli ku dengan 2.000 rupiah? Aku, Jamal, adil dan berintegritas. Aku nggak mementingkan diri sendiri. Mana mungkin aku melanggar hukum demi mendapat keuntungan pribadi? Bawa dia!"
Namun, Jamal mengutuk diam-diam,
'Cuih! dasar pelit. Sudah ditangkap, hanya memberiku 2.000 rupiah? Kira saja memberiku lebih dari mu.'
"Kurang?"
Melihat ekspresi Jamal, Budi akhirnya mengerti.
Dia pun memandang ke arah Kira sambil menggertakkan giginya, lalu berkata,
"Nggak peduli seberapa banyak uang yang dia berikan padamu, aku akan menggandakannya. Cepat lepaskan aku!"
Mendengar ini, mata Jamal langsung berbinar. Dua kali lipat dari 5.000 rupiah? Itu artinya 100.000 rupiah!
Detik berikutnya, Jamal kembali tersadar bahwa perhitungannya salah. Namun, nominal yang ditawarkan Budi sebesar 10.000 rupiah itu termasuk cukup menggiurkan.
Budi diam-diam merasa bangga. Sifat Jamal memang sangat tamak, dia berani melakukan apa pun asalkan diberi imbalan yang setimpal. Saat lni, sebaiknya dia memberikan sejumlah uang kepada Jamal untuk membereskan pecundang ini.
Setelah itu, barulah Budi akan membuat perhitungan pada Jamal.
Kira melirik Jamal sekilas dan berkata,
"Kamu tergoda?"
"Omong kosong apa? Memangnya aku ini orang yang mementingkan keuntungan?"
Ekspresi Jamal tampak suram, dia melambaikan tangan sambil berkata,
"Budi bersekongkol dengan perampok, bawa dia ke pengadilan daerah!"
"Jamal, kamu... kamu..."
Seketika, Budi tercengang.
Entah mengapa sifat Jamal tiba-tiba berubah. Tanpa berbicara sama sekali, Jamal hanya tersenyum sinis. Dia memang menyukai uang, tetapi Jamal bisa membedakan uang mana yang pantas diterimanya.
Budi adalah orang yang licik. Kalau hari ini Jamal mengambil uangnya, cepat atau lambat, Budi pasti akan membalasnya.
Sementara itu, Kira adalah orang yang murah hati. Dia bahkan memberi uang kepada pencuri, jadi tentu saja tidak masalah jika Jamal menerima uangnya. Apalagi, hari ini Jamal sudah mendapat keuntungan. Masa depan masih panjang, masih banyak kesempatan jika ingin mendapatkan uang.
Budi menatap Kira dengan tak berdaya, dia memohon,
"Tuan Kira, aku bersalah. Asalkan Tuan bersedia melepaskan aku, aku tidak akan berani bertentangan dengan Tuan lagi!"
Kira menggeleng sambil berkata,
"Aku tidak percaya denganmu, sebaiknya kamu pergi ke pengadilan saja!"
Selanjutnya, dua orang pengawal berbadan kekar itu membawa Budi pergi. Lantaran permohonan ampunnya tidak diindahkan, Budi berteriak dengan marah,
"Kalian pikir, kalian telah mengalahkan ku? Asal tahu saja, aku punya antek-antek di daerah ini. Kalian tidak akan berdaya menghadapi ku. Cari Orang, cepat cari orang!"
Kira melihat kepanikan Budi, tetapi orang lainnya tidak bereaksi sama sekali. Budi dibawa pergi bersama dengan Liam, Teja, dan Gandi ke pengadilan kota.
Tidak lama kemudian, Doddy, Tony, dan kedua pria kekar menahan seorang pencuri dan dua komplotannya. Uang yang dicuri juga telah ditemukan.
Setelah menyewa dua buah kereta dari desa dan Kira yang menuliskan sebuah surat gugatan, semua orang bergegas berangkat.
"Kak Kira!"
Doddy berkata dengan gugup,
"Menurut Kakak, apakah kita akan bertemu dengan pemimpin kabupaten kalau mengajukan gugatan nanti?"
Semua orang yang berada dalam kedua kereta itu merasa gugup. Tidak ada seorang pun di desa ini yang pernah bertemu dengan pemimpin kabupaten. Pada dasarnya, memang tidak ada yang ingin bertemu dengannya.
Pasalnya, kalau bertemu dengan pemimpin kabupaten, berarti mereka sedang terlibat dalam sebuah gugatan kasus yang besar.
"Belum tentu!"
Jamal lanjut bergumam,,
"Tugas dari pemimpin kabupaten memang adalah mengadili kasus. Namun, kalau kasusnya tidak terlalu besar, dia hanya akan menandatangani surat gugatannya, kemudian diserahkan pada anak buahnya. Kasus kita ini melibatkan kepala desa, tapi juga tidak termasuk ke dalam kasus yang besar!"
Tony menjawab,
"Lalu, bagaimana kita harus menyampaikan surat gugatan ini? Apa kita harus menabuh gendang di depan kantor pengadilan?"
Ekspresi Jamal berubah drastis ketika menjelaskan,
"Gendang di depan pengadilan itu tidak boleh ditabuh sembarangan. Gendang itu disebut sebagai Gendang Pengumuman. Kalau pemimpin kabupaten sedang bertugas, petugas pengadilan akan menabuh gendang untuk memberi tahu semua orang. Orang yang ingin mengadu, bisa mengajukan aduannya pada saat itu."
"Selain itu, kalau pemimpin kabupaten ingin mengumpulkan seluruh petugas pengadilan, gendang ini juga akan ditabuh. Hanya saja, suaranya berbeda dengan saat bertugas. Kalau ada rakyat kecil yang ingin mengadu dan menabuh gendang itu, orang itu harus dipukul terlebih dulu sebelum menyuarakan keluhannya. Kalian harus jaga sikap nanti!"
Semua orang mengangguk mendengar penjelasan itu. Di sisi lain, Kira menghela napas.
Pada dasarnya, ada beberapa prosedur yang harus dilalui untuk mengajukan sebuah kasus. Dimulai dari tingkat kabupaten, provinsi, dan negara!
Jika ingin melangkahi salah satu prosedur untuk mengajukan gugatan, sang penggugat harus dihukum dengan menerima pukulan terlebih dahulu.
Dalam kasus ini, jika tidak ada keterlibatan pegawai kecil di kabupaten, pemimpin kabupaten hanya akan menandatangani surat gugatan tersebut.
Sekarang Jamal juga tidak yakin, apakah kasus ini akan diangkat di pengadilan. Dia sendiri juga tidak ingin bertemu dengan pemimpin kabupaten. Hanya cendekiawan terpilih yang tidak perlu memberi hormat kepada para pejabat.
Ada beberapa cendekiawan yang tidak punya hak istimewa sama sekali. Seperti rakyat biasa, mereka harus wajib militer, tidak boleh memiliki budak, dan akan tetap dihukum jika masuk penjara.
Setelah gerombolan mereka tiba di kabupaten, Jamal menunjukkan plakat di pinggangnya kepada penjaga gerbang kota. Setelah itu, mereka pun masuk ke dalam kabupaten. Begitu memasuki gerbang kota, kereta mereka dihalangi oleh sebuah kereta kuda yang mewah.
Di depan kereta kuda tersebut terdapat papan kayu berbentuk bulat dengan latar belakang hitam dan huruf emas yang bertuliskan 'Silali'. Budi langsung merasa senang melihatnya. Raut wajah Jamal berubah drastis.
Di kabupaten, ada tiga keluarga kaya yang terkenal, yaitu Sutedjo, Silali, dan Wibowo. Ketiga keluarga ini menguasai industri yang paling menguntungkan, yaitu kain, gula, garam, dan beras. Keluarga Silali adalah pedagang garam terbesar di kabupaten tersebut.
Sebelumnya, Budi mengeklaim memiliki hubungan dengan Keluarga Silali di kabupaten. Saat itu, semua orang menganggap omongannya itu hanyalah bualan belaka. Sekarang, tampaknya omongannya memang benar.
Tirai kereta dibuka, terlihat seorang pemuda yang mengenakan kain penutup kepala dan jubah brokat, turun dari kereta tersebut. Dia memberi salam kepada Kira dari kejauhan dengan hormat,
"Saudara Wahyudi, lama tidak bertemu!"
Wahyudi adalah namanya sebelumnya. Kira membalasnya dengan ekspresi datar,
"Katakan saja langsung apa mau mu!"
Mahendra Silali, pewaris Keluarga Silali di kabupaten, memiliki usia yang sama dengan Kira. Mereka berdua lulus sebagai murid sekolah rendah pada saat yang sama.
Tahun ini, Mahendra juga berhasil menjadi sarjana tingkat menengah. Dia adalah seorang pemuda berbakat yang terkenal di kabupaten tersebut.
Saat mereka masih belajar di kabupaten, Mahendra sangat sombong dan meremehkan Kira yang berasal dari desa. Kira menikahi Wulan pada masa lalu.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Kira tidak lagi melanjutkan pendidikannya. Oleh karena itu, keduanya tidak terlalu banyak kontak lagi.
Namun, Keluarga Wulan dan Keluarga Mahendra memiliki hubungan yang baik. Wulan dan Mahendra juga merupakan teman di masa kecil.