NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Maria keluar dari pantry dengan langkah pelan. Apron sudah dilepas, tapi jejak kelelahan masih terlihat jelas di wajahnya. Bukan hanya lelah fisik tapi ada sesuatu yang lebih berat hari ini.

“Nindi, kamu sudah selesai?” tanyanya lembut.

Nindi yang sedang merapikan meja kasir langsung menoleh. “Iya, tinggal sedikit lagi.” Ia melirik Maria, lalu tersenyum kecil. “Kamu sudah mau pulang?”

Maria mengangguk. “Iya… sudah waktunya.”

Namun suaranya tidak sepenuhnya ringan. Nindi bisa merasakannya. Tanpa banyak pikir, ia menghampiri dan memeluk Maria sebentar.

“Aku sebenarnya ingin sekali ke rumahmu,” ucap Nindi pelan. “Tapi aku tidak bisa melawan Sonya.”

Maria tersenyum tipis. “Aku mengerti. Dia hanya khawatir. Takut Dion membuatmu tidak nyaman.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan jujur saja, aku sendiri juga belum tentu bisa menjagamu kalau dia sedang tidak stabil.”

Nindi terdiam. Ada rasa bersalah yang muncul di dadanya.

“Kamu mau ke rumah Maria?” suara Clay tiba-tiba muncul dari samping.

Nindi menoleh cepat. Sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Sejak tadi, ternyata Clay masih memperhatikannya dan mengamati dari jauh tanpa benar-benar mendekat. Seolah menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke dalam percakapan.

Dan sekarang Clay masuk. Hal sederhana itu justru membuat sesuatu di dalam diri Nindi kembali terusik. Rasa kesal yang tadi sudah berusaha ia tekan, perlahan naik lagi ke permukaan.

“Kamu mau ke rumah Maria?” Clay mengulang pertanyaannya.

“Bukan urusanmu,” Jawaban itu tajam. Lebih tajam dari yang seharusnya. Dan Clay merasakannya. Ia menatap Nindi beberapa detik, rahangnya mengeras tipis, sebelum akhirnya menghembuskan napas pelan.

“Kamu benar,” lanjut Clay pelan. “Itu bukan urusanku.”

Nindi tidak menjawab. Ia memalingkan wajah.

Hening.

Namun Clay tidak benar-benar mundur.

“Apa dia mau ke rumahmu?” tanyanya kemudian. Kali ini bukan pada Nindi. Melainkan pada Maria.

Nada suaranya berubah. Tidak lagi menekan, tapi tetap menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Campuran antara ingin tahu dan memastikan.

Maria yang sejak tadi memperhatikan mereka, sedikit terkejut saat tiba-tiba dilibatkan.

“Ah… iya,” jawabnya ragu, menoleh bergantian antara Clay dan Nindi. “Tadinya begitu. Saya ingin memasakkan ramen untuk Nindi di rumah.”

Clay mengangguk pelan. Tatapannya kembali sekilas ke arah Nindi, tapi tidak lama.

Cukup.

Seolah ia sudah mendapat jawaban yang ia butuhkan meskipun bukan langsung dari orang yang ingin ia dengar.

“Kalau kamu masih mau ke sana… aku bisa menemanimu.”

Hening.

Nindi menyipitkan matanya. Tatapan itu jelas penuh curiga.

“Kamu punya maksud lain?” tanyanya datar.

Clay tidak langsung menjawab. Untuk sesaat, ia hanya menatap balik. Lalu menghela napas.

“Aku tidak berharap kamu langsung memaafkanku,” ucapnya jujur. “Dan ini bukan cara untuk memperbaiki kesalahanku tadi.”

Nindi tetap diam.

“Kalau aku menawarkan ini,” lanjut Clay pelan, “itu karena aku tidak suka melihat Maria pulang dengan wajah seperti itu.”

Nada suara Clay tidak tinggi. Tidak memaksa. Tapi cukup terdengar tulus.

Nindi menatap Clay lebih lama. Seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak terlihat. Dan untuk beberapa detik ia tidak menemukan kebohongan.

Pandangan Nindi perlahan bergeser ke Maria. Wanita itu berdiri tidak jauh dari mereka, berusaha tersenyum seperti biasa. Tapi jelas terlihat ada kekecewaan yang belum sepenuhnya hilang. Bahunya sedikit turun, matanya tidak secerah tadi saat membicarakan rencananya. Dan itu membuat hati Nindi terasa tidak enak.

Ia menghela napas pelan.

Di satu sisi, ia masih kesal pada Clay. Masih belum sepenuhnya bisa menerima apa yang terjadi tadi. Rasanya belum selesai. Tapi di sisi lain… Maria.

Nindi menunduk sebentar, menggigit bibirnya pelan. Seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak mudah. Pergi atau tidak? Pilihan itu terdengar sederhana. Tapi bagi Nindi, tidak. Ia kembali mengangkat wajahnya, menatap Clay sekali lagi.

“Kalau kamu menemaniku kerumah Maria, jangan pikir ini karena aku memaafkanmu.” katanya akhirnya, pelan namun tegas.

Clay tidak memotong. Ia hanya mendengarkan.

“Aku mau pergi itu karena Maria,” lanjut Nindi. “Bukan karena kamu.”

Kalimat itu jelas. Memberi batas. Clay mengangguk kecil.

“Oke.”

Satu kata. Tanpa bantahan. Namun kali ini, sudut bibir Clay bergerak tipis. Hampir tak terlihat.

Karena setidaknya, Nindi tidak lagi sepenuhnya menolaknya. Dan itu sudah cukup.

“Tapi sebelum itu, apa kamu bisa menjamin keselamatanku?” tanya Nindi akhirnya. “Dari Dion dan dari Sonya?”

Clay tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara, ia langsung mengeluarkan ponselnya. Menekan nomor Sonya.

Clay mengaktifkan Mode speaker aktif.

“Iya, ada apa Clay?” suara Sonya terdengar.

“Malam ini Nindi mau ke rumah Maria,” kata Clay langsung. “Aku yang menemani.”

Ada jeda sebentar.

“Denganmu?”

“Iya.”

“Baik. Pastikan Nindi pulang dengan aman.”

Sambungan terputus.

“Cuma begitu?” Nindi mengernyit.

“Kamu kira serumit apa?”

Nindi masih berdiri di tempatnya, alisnya semakin mengernyit. Ada sesuatu yang terasa janggal. Ia menoleh ke arah Clay, lalu ke ponsel yang baru saja dimatikan, seolah berharap jawabannya masih ada di sana.

“Serius?” gumamnya pelan. “Segitu saja?”

Nada suaranya bukan sekadar heran, tapi benar-benar tidak percaya. Biasanya, Sonya tidak akan semudah itu mengizinkan. Terlebih jika menyangkut dirinya. Selalu ada pertanyaan. Selalu ada pertimbangan panjang. Tapi barusan… tidak.

Nindi menggeleng kecil, masih mencoba mencerna. “Kenapa bisa semudah itu…?”

Di sampingnya, Clay hanya menyelipkan ponsel ke saku dengan santai, seolah hal itu bukan sesuatu yang aneh.

“Kamu terlalu banyak pikiran,” ujar Clay ringan.

Nindi menatapnya lagi, masih belum puas dengan jawaban sesederhana itu.

“Tidak usah terlalu dipikirkan,” Maria tersenyum hangat melihat ekspresi Nindi yang masih tampak heran. Wajahnya kini sudah kembali cerah jauh berbeda dari sebelumnya. Dan melihat itu, Nindi tanpa sadar ikut merasa lega.

“Kalau Clay yang bicara, memang biasanya jadi lebih mudah.”

Maria pun tidak terlihat terkejut. Tidak heran. Seakan-akan ia memang sudah menduga sejak awal bahwa jika Clay yang turun tangan, Sonya tidak akan banyak menolak.

Nindi terdiam sejenak.

Pandangannya tanpa sadar bergeser ke arah Clay. Pemuda itu berdiri tidak jauh dari mereka, terlihat santai seperti biasa. Tidak ada ekspresi bangga. Tidak juga terlihat sedang menunggu ucapan terima kasih. Seolah semua yang ia lakukan barusan memang bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Dan justru itu yang membuat Nindi semakin tidak mengerti.

“Memangnya dia selalu seperti itu?” tanya Nindi pelan, masih setengah ragu.

Maria mengangguk kecil. “Kalau soal tanggung jawab, kamu tidak perlu meragukannya.”

Jawaban itu terasa lebih dalam dari yang terdengar. Nindi kembali menatap Clay, kali ini sedikit lebih lama. Entah kenapa, untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari pemuda itu. Bukan hanya sosok dingin dan menyebalkan seperti yang selama ini ia kenal. Tapi seseorang yang diam-diam, bisa diandalkan. Dan tanpa sadar, garis tegang di wajahnya sedikit melunak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!