Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka dan Dekapan Hangat
Gema bentakan Arsen dan keheningan seolah ikut terbawa ke dalam kabin mobil sedan hitam yang melaju membelah jalanan pagi.
Di baris belakang, atmosfer terasa teramat kaku dan dingin. Axel duduk bersedekap dada sembari melempar pandangannya lurus-lurus ke luar jendela, rahangnya masih mengeras rapat menahan sisa amarah dari meja makan tadi.
Sementara di sebelahnya, Elio hanya diam membisu. Jemari kecilnya meremas tali tas ranselnya begitu erat. Bocah mungil itu menunduk, menatap ujung sepatunya dengan pandangan yang kehilangan binar cerianya.
"Sudah sampai di sekolah Den Elio," ucap Pak sopir dengan nada selembut mungkin, memecah keheningan saat mobil perlahan menepi di depan gerbang sebuah TK swasta elite.
Elio menoleh lesu, menatap sang kakak dengan ragu. "Kak Axel... Elio turun dulu, ya?"
Mendengar suara parau adiknya, pertahanan dingin di wajah Axel seketika runtuh. Ia berbalik, lalu mengusap puncak kepala Elio dengan gerakan perlahan. "Iya. Belajar yang benar di dalam. Jangan mikirin yang tadi."
Elio mengangguk kecil, lalu membuka pintu mobil dan melangkah turun. Axel terus mengawasi punggung kecil adiknya yang berjalan melewati gerbang sekolah sebelum akhirnya mobil kembali melaju, mengantarnya menuju sebuah sekolah menengah swasta yang terletak beberapa blok dari sana.
Begitu mobil berhenti di lobi drop-off sekolanya, Axel menyampirkan tas ranselnya di satu bahu dengan asal.
Langkah kakinya yang kentara sekali dipenuhi beban langsung dicegat oleh tepukan keras di pundaknya.
"Woi, Xel! Kusut amat tuh muka, habis sarapan silet lo?" kelakar seorang anak laki-laki dengan seragam yang sengaja dikeluarkan dan dasi yang melingkar longgar di leher. Itu adalah Dean sahabat karib Axel.
Axel hanya mendengus sinis, matanya melirik ke arah gedung sekolah dengan tatapan muak. "Gue malas masuk kelas hari ini. Muak gue."
Dean langsung menaikkan kedua alisnya, lalu menyeringai lebar. "Wah, sinyal bagus nih. Jadi kita cabut ke warung belakang pos biasa? Kebetulan jam pertama jamnya Bu Endang, malas banget gue."
"Ya. Cabut sekarang sebelum bel," tukas Axel mutlak. Pikirannya terlampau penuh untuk menerima materi pelajaran. Ia langsung berbalik arah, berjalan beriringan dengan Dean menuju pagar samping sekolah yang berlubang, memilih melarikan diri dari kenyataan yang mencekik dadanya.
Namun, pelarian yang Axel pilih justru meninggalkan Elio sendirian menghadapi kejamnya dunia luar.
Atap sekolah yang semula ia harapkan bisa menjadi tempat bermain yang menyenangkan, berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap.
Baru saja Elio meletakkan botol minumnya di loker luar kelas, tiga anak laki-laki sebayanya langsung berjalan mendekat dengan seringai mengejek.
"Eh, anak yang enggak punya Mama datang tuh!" seru anak bertubuh paling bongsor di antara mereka, menunjuk tepat di depan wajah Elio.
"Iya! Kemarin dia bohong bilang Mamanya lagi pergi jauh. Padahal kata Mamaku, kamu itu dibuang karena enggak punya Mama! Papamu juga enggak pernah jemput!" timpal anak yang lain, disusul tawa renyah yang bersahut-sahutan.
Kata dibuang dan kenyataan bahwa ayahnya memang tidak peduli seketika menghantam dada kecil Elio dengan telak.
Air mata yang sejak di meja makan tadi pagi ia tahan mati-matian, kini merebak jatuh, membasahi pipinya yang memerah.
"Enggak! Elio enggak dibuang! Papa... Papa cuma sibuk kerja! Jangan bicara begitu!" teriak Elio dengan suara bergetar, mencoba membela diri.
"Halah, nangis! Cengeng banget sih lo!"
Bug!
Anak bertubuh bongsor itu mendorong dada Elio dengan kasar. Tubuh mungil Elio yang limbung seketika terhuyung ke belakang.
Ia kehilangan keseimbangan sepenuhnya hingga terjatuh ke lantai selasar marmer yang keras.
Malangnya, bagian belakang kepala Elio menghantam sudut tajam loker kayu dengan suara benturan yang cukup keras.
Dug!
"Aduh!" Elio menjerit kesakitan, refleks memegangi belakang kepalanya yang mendadak terasa berdenyut nyeri dan pening luar biasa.
Namun, saat tangannya terangkat kembali, pandangan mata bocah itu seketika membelalak ketakutan. Cairan kental berwarna merah pekat telah membanjiri jemari kecilnya. Darah.
Melihat ada darah yang mengalir deras, ketiga anak yang membully-nya seketika pucat pasi. Ketakutan, mereka langsung lari berhamburan masuk ke dalam kelas, meninggalkan Elio sendirian.
Di tengah riuh rendahnya halaman depan sekolah karena anak-anak lain baru berdatangan, sosok Elio yang menangis tersedu-sedu di sudut selasar terabaikan sepenuhnya dari radar para guru.
Rasa takut yang mencengkeram dan kesadaran yang mulai berputar membuat Elio bangkit berdiri dengan tubuh gemetar.
Sembari terus menangis terisak dan memegangi kepalanya yang bersimbah darah, bocah kecil itu berjalan terhuyung-huyung keluar melewati gerbang sekolah yang sedang terbuka lebar, mencari jalan pulang, tanpa ada satu pun orang dewasa yang menyadarinya.
Sementara itu, beberapa ratus meter dari gerbang sekolah, Alana sedang berjalan tergesa-gesa menyusuri trotoar dibawah pohon peneduh.
Gadis berusia dua puluh tahun itu baru saja selesai mengantarkan pesanan nasi ayam geprek dari kedai kecilnya.
Sembari merapikan letak dompet lipat di kantung celananya, langkah Alana mendadak terhenti saat pendengarannya menangkap suara tangisan yang teramat memilukan.
Alana mengedarkan pandangan ke sekeliling, hingga matanya menangkap sosok anak kecil berpakaian seragam kotak-kotak merah sedang duduk meringkuk di atas tanah, tepat di bawah pohon besar, dengan bahu yang naik-turun terguncang hebat.
"Astaga, adek? Kamu kenapa nangis di sini sendirian?" tanya Alana panik, langsung berlari kecil dan berlutut di depan bocah itu.
Namun, begitu Elio mendongak dengan wajah yang sudah basah oleh air mata, Alana seketika menjerit tertahan. "Ya ampun, darah! Kepala kamu berdarah, Dek!"
Jantung Alana seolah melompat turun ke perut melihat aliran darah merah segar mengalir deras dari sela jemari Elio, menetes hingga membasahi kerah seragamnya.
Rasa panik seketika menyerang Alana. Dengan tangan gemetar, ia meraba saku celananya, mengambil beberapa lembar tisu bersih untuk ditekan perlahan pada sumber luka di kepala bocah itu.
"Aduh, sayang... sakit banget ya? Tahan sebentar ya, Dek," ucap Alana beralih menggunakan nada selembut ibu, suaranya gemetar menahan iba yang teramat dalam melihat tubuh kecil itu menggigil ketakutan. "Sekolah kamu di mana? Biar Kakak antar masuk ke dalam ya?"
"D-di situ... tapi Elio mau pulang..." jawab Elio terbata-bata di antara isak tangisnya yang kian kencang, menunjuk lemah ke arah gerbang TK di seberang jalan.
"Enggak bisa pulang sekarang, sayang. Lukanya harus diobatin dulu, ya? Ayo ikut Kakak," ujar Alana sigap.
Tanpa memedulikan baju oblongnya yang akan kotor terkena noda darah, Alana langsung merengkuh tubuh kecil Elio ke dalam gendongannya, mendekapnya erat, lalu setengah berlari membawa bocah itu masuk menembus gerbang sekolah.
Alana langsung membuat gempar ruang guru piket dan dengan cepat menuntun Elio masuk ke dalam ruang UKS.
Di atas ranjang putih yang dingin, Alana tetap mendampingi. Dengan telaten dan penuh kelembutan, tangannya bergerak membantu petugas UKS membersihkan sisa darah yang mengering di leher dan helai rambut Elio, lalu mengompresnya dengan cairan antiseptik sebelum ditutup dengan kain kasa.
Selama proses yang perih itu berlangsung, Elio sama sekali tidak mau melepaskan cengkeramannya dari kaus oblong Alana.
Bocah itu menyembunyikan wajahnya yang sembap di ceruk leher Alana, merintih pelan setiap kali lukanya disentuh.
"Nah... alhamdulillah, sudah selesai. Pintar banget anak hebat, lukanya sudah bersih dan sudah ganteng lagi," bisik Alana lembut, mengusap-usap punggung Elio dengan gerakan konstan yang menenangkan setelah luka itu selesai diperban rapi. "Sekarang Kakak turunin di kasur dulu ya? Adek istirahat telentang dulu sambil nunggu gurunya panggil Papa atau Mama buat jemput."
Namun, begitu Alana mencoba mengurai dekapannya dan menurunkan tubuh Elio ke atas kasur UKS, kedua lengan kecil Elio justru semakin erat mengalung di leher Alana.
Bocah itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, kembali terisak parau di pundak gadis itu dengan sisa-sisa tenaganya.
"Enggak mau... Elio enggak mau lepas..." bisik Elio dengan suara parau yang teramat menyedihkan, menyurukkan wajahnya kian dalam ke ceruk leher Alana, mencari perlindungan. "Mau sama Kakak aja... hiks... Papa enggak bakal jemput... Elio enggak punya Mama... jangan tinggalin Elio, Kak..."
Kata-kata keputusasaan yang keluar dari bibir bocah se-polos Elio seketika membuat dada Alana mencelos bebas.
Hatinya seperti diremas kuat-kuat oleh rasa iba yang tak terbendung. Air mata Alana bahkan hampir menetes merasakan seberapa putus asa dan eratnya bocah kecil yang baru ia kenal ini bergantung pada kehangatan tubuhnya.
Di ruang UKS yang sunyi dan beraroma obat itu, Alana akhirnya urung menurunkan Elio.
Ia menghela napas panjang, lalu perlahan membawa tubuh kecil itu kembali ke dalam pelukannya yang utuh.
Alana mendekap kepala Elio dengan satu tangannya, sembari sebelah tangannya lagi terus menepuk-nepuk punggung si kecil, mengayun badannya pelan ke kanan dan ke kiri seolah sedang menimang anaknya sendiri.
"Iya, sayang... iya. Kakak enggak pergi, Kakak di sini temenin Elio," bisik Alana lirih, mengecup puncak kepala Elio yang tertutup perban dengan penuh kasih sayang, memberikan kehangatan tulus yang selama ini amat dirindukan oleh jiwa kecil yang sedang terluka parah tersebut.