NovelToon NovelToon
SISTEM PANGERAN AUTO PILOT

SISTEM PANGERAN AUTO PILOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Sistem
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."

​​Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Mengoyak Tabir Utopia

​Kereta emas milik Putri Diana berderak pelan membelah lebatnya Hutan Kematian, sebuah zona netral yang terkenal dengan rawa beracun dan kabut abadi. Di sekeliling kereta tersebut, lima ratus prajurit Nightmare berlari menyamai kecepatan kuda tanpa mengeluarkan suara langkah kaki yang berarti.

​Tidak ada obrolan, tidak ada keluhan lelah. Mereka bergerak layaknya sekumpulan mayat hidup berzirah yang diprogram hanya untuk membunuh dan terus maju.

​Diana menyibakkan sedikit tirai jendelanya, menatap barisan prajurit itu dengan napas yang tertahan. Ia belum pernah melihat pasukan yang tidak beristirahat untuk minum setelah berlari selama belasan jam.

​Jacob memacu kuda hitamnya tepat di samping kereta Diana. Matanya yang memancarkan kilatan biru tipis terus menyapu pekatnya kabut hutan, membiarkan sistem membedah setiap partikel udara dan suara di sekitarnya.

​[Analisa Panca Indra: Perubahan kepadatan udara terdeteksi di arah jam sebelas dan dua. Terdapat getaran senar logam yang sangat tipis pada jarak empat puluh meter. Pola napas tersembunyi berjumlah dua puluh entitas.]

​{Dua puluh tikus pembunuh bersembunyi di dahan pohon dengan busur silang yang sudah ditarik. Bau minyak racun pada anak panah mereka bahkan bisa kucium dari sini.}

​"Kita sedang ditunggu oleh sekawanan pembunuh bayaran di depan, Baginda," bisik Natali yang memacu kudanya di sisi kiri Jacob. Tangan wanita itu sudah bersiap menarik belati peraknya.

​"Biar pasukan Nightmare yang membersihkan jalan ini, Natali. Aku ingin melihat apakah hasil latihan Veldora benar-benar sepadan dengan waktu yang kubuang," ucap Jacob dengan nada suara yang sangat santai, seolah ia sedang mendiskusikan cuaca.

​Jacob tidak meneriakkan perintah berhenti. Ia hanya mengangkat tangan kanannya dan memberikan isyarat dua jari ke depan.

​Tanpa memelankan laju lari mereka sedikit pun, lima puluh prajurit Nightmare di barisan terdepan mendadak melompat ke arah pepohonan raksasa di kanan dan kiri jalur kereta. Gerakan mereka begitu buas, melenting dari satu batang pohon ke batang lainnya layaknya sekawanan predator kelaparan.

​||||||||||||||

​Diana membelalakkan matanya saat melihat prajurit-prajurit berzirah berat itu memanjat pohon dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

​Seketika, hutan yang sunyi itu dipenuhi oleh suara dahan patah dan rintihan tertahan. Tidak ada teriakan perang dari pasukan Helios, hanya ada suara pedang yang membelah daging dan tulang.

​Mayat-mayat berpakaian hitam mulai berjatuhan dari atas pohon, menghantam tanah berlumpur seperti buah busuk. Beberapa dari mereka mencoba menembakkan anak panah beracun, namun prajurit Nightmare membiarkan panah itu menancap di lengan atau bahu mereka tanpa meringis sedikit pun, sebelum akhirnya merobek tenggorokan sang penembak dengan tangan kosong.

​Dalam waktu kurang dari tiga menit, hutan kembali sunyi. Lima puluh prajurit Nightmare itu mendarat kembali di tanah dan langsung kembali ke formasi lari mereka tanpa memedulikan darah segar yang menetes dari zirah dan senjata mereka.

​Diana gemetar di dalam keretanya. Ia akhirnya menyadari bahwa Jacob tidak membawa manusia untuk mengawalnya, melainkan sekumpulan monster haus darah yang tidak memiliki emosi.

​Dua prajurit Nightmare menyeret seorang pembunuh bayaran yang lengannya sudah patah ke hadapan kuda Jacob. Pembunuh itu masih hidup, menatap Jacob dengan teror yang meluap-luap.

​"P-pasukan macam apa ini?! Mereka tidak berhenti bahkan saat racun saraf menembus otot mereka!" teriak pembunuh itu dengan mulut berbusa karena ngeri.

​[Analisa Panca Indra: Jantung target berdetak seratus delapan puluh kali per menit. Pupil mata mengecil. Ada gerakan abnormal pada rahang bawah target. Kesimpulan: Target bersiap menggigit kapsul racun di giginya.]

​Sebelum rahang pembunuh itu sempat mengatup untuk bunuh diri, Jacob melesat turun dari kudanya. Tangan sang pangeran mencengkeram rahang bawah pria itu dan menariknya dengan paksa hingga terdengar suara tulang sendi yang bergeser keras.

​Rahang pembunuh itu copot, membuatnya hanya bisa mengerang kesakitan dengan mulut ternganga lebar. Sebuah kapsul hitam kecil jatuh dari sela giginya ke atas lumpur.

​"Kalian dari kerajaan Airis terlalu mudah ditebak," ucap Jacob sambil mengusap darah di tangannya menggunakan jubah sang pembunuh.

​"Tinggalkan dia di sini dengan kaki yang patah. Biarkan binatang buas di hutan ini yang menyelesaikan sisanya," perintah Jacob dengan tatapan mata yang membekukan jiwa.

​Prajurit Nightmare langsung mematahkan kedua kaki pria itu dengan satu injakan brutal tanpa ekspresi, lalu kembali ke barisan. Rombongan kembali bergerak maju, meninggalkan lolongan kesakitan yang menggema di belakang mereka.

​||||||||||||||

​Menjelang sore, rombongan akhirnya tiba di ujung ngarai berbatu yang sangat curam. Tidak ada jalan lain. Dinding batu setinggi ratusan meter menjulang kokoh, memblokir akses ke arah mana pun seolah menandakan ujung dari dunia.

​"Apakah ini batasnya, Tuan Putri? Keretamu tidak bisa merayap naik ke atas tebing batu padat ini," ucap Jacob menatap dinding ngarai dengan pandangan menilai.

​Diana melangkah turun dari keretanya. Wajahnya masih sedikit pucat setelah melihat pembantaian tadi, namun ia mencoba menjaga wibawanya.

​"Kerajaan kami tidak pernah membangun tembok bata, Raja Jacob. Kami menggunakan apa yang sudah disediakan oleh alam," jawab Diana sambil berjalan mendekati dinding tebing raksasa tersebut.

​Jacob menyipitkan matanya.

​[Analisa Panca Indra: Dinding batu di depan memiliki kepadatan yang tidak konsisten. Terdeteksi rongga udara besar di balik lapisan batu setebal dua meter. Suara aliran air bawah tanah dengan tekanan tinggi terdengar dari radius lima puluh meter di bawah permukaan tanah.]

​{Bukan keajaiban sihir. Ini adalah rekayasa struktur mekanis berskala raksasa yang disembunyikan di balik batu alam.}

​Diana mengeluarkan sebuah seruling kecil dari logam perak. Alih-alih meniupnya, ia menancapkan ujung seruling itu ke sebuah lubang kecil di dinding batu yang nyaris tidak terlihat karena tertutup lumut.

​Diana kemudian memutar seruling itu dengan pola yang sangat spesifik, menghasilkan bunyi klik mekanis yang sangat halus. Setelah itu, ia menuangkan sebuah cairan kimia berwarna biru dari botol kecilnya ke dalam lubang tersebut.

​Seketika, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.

​[Peringatan: Reaksi kimia terdeteksi. Cairan asam memicu pelelehan pasak penahan internal. Tekanan hidrolik air bawah tanah sedang dialihkan untuk menggerakkan roda gigi raksasa di balik tebing.]

​Suara gemuruh batu yang bergesekan memekakkan telinga. Dinding tebing yang terlihat sangat padat itu perlahan-lahan terbelah tepat di tengahnya, ditarik oleh rantai-rantai baja raksasa yang tersembunyi di dalam gunung.

​Celah raksasa terbuka, memperlihatkan sebuah lorong panjang yang diterangi oleh kristal-kristal fosfor. Hembusan angin yang membawa aroma bunga dan udara bersih langsung menyapu wajah rombongan yang penuh dengan bau darah dan keringat.

​"Silakan masuk, Raja Jacob. Selamat datang di Evlenian," ucap Diana sambil memberikan gestur ke arah lorong.

​Jacob memacu kudanya memasuki lorong gelap tersebut. Setelah beberapa menit berjalan menembus perut gunung, cahaya matahari yang sangat terang menyambut mereka di ujung terowongan.

​Pemandangan yang terhampar di balik tebing itu membuat Natali dan pasukan Nightmare sedikit tertegun, meski wajah mereka tetap datar.

​Sebuah lembah raksasa membentang sejauh mata memandang. Hamparan sawah gandum berwarna emas tumbuh dengan sangat subur, diairi oleh kanal-kanal air kristal yang dirancang dengan presisi matematis. Di tengah lembah, berdiri bangunan-bangunan istana putih dengan kubah perak yang memantulkan cahaya matahari, terlihat begitu megah dan damai.

​Tidak ada tembok benteng, tidak ada menara pengawas bersenjata, tidak ada bau mesiu. Tempat ini adalah surga utopia yang terisolasi dari neraka dunia luar.

​Warga Evlenian yang sedang bertani menghentikan pekerjaan mereka. Mereka menatap ngeri ke arah lima ratus pasukan Nightmare berzirah hitam yang berlumuran darah segar, berbaris masuk ke tanah suci mereka layaknya wabah penyakit yang mematikan.

​Jacob menarik tali kekangnya, menatap lembah subur dan kota tanpa pertahanan itu dari atas bukit. Senyum yang sangat kejam dan penuh perhitungan terbentuk di bibir sang raja muda.

​"Utopia yang sangat indah dan rapuh, Tuan Putri," gumam Jacob, suaranya dipenuhi oleh arogansi seorang penakluk.

​{Tanah ini tidak butuh perlindungan. Tanah ini butuh pemilik baru. Dan begitu aku mendapatkan rahasia benua luar itu, Evlenian akan menjadi lumbung panganku untuk menaklukkan dunia.}

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!