NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17: Siapa yang Mengirim Pesan?

Seminggu berlalu tanpa jawaban.

Setiap hari mereka mengawasi. Azril mengambil peran paling berisiko: berpura-pura ingin berkonsultasi dengan Bu Dina tentang pelajaran Bahasa Inggris. Ruang guru dan ruang kepala sekolah bersebelahan—hanya dipisahkan dinding tipis dan satu pintu yang hampir tidak pernah tertutup rapat. Setiap kali ia datang, Azril duduk di kursi depan meja Bu Dina, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya, sementara telinganya berusaha menangkap suara dari balik dinding.

Pak Kevin selalu sama. Suara beratnya yang tenang. Derit kursi yang sesekali bergeser. Suara kertas dibalik. Kadang ada guru lain yang masuk untuk rapat singkat. Kadang suara telepon berdering. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada percakapan yang aneh. Tidak ada nama "Marcel" yang disebut dalam konteks yang mencurigakan.

Sekali waktu, Azril melihat Pak Kevin keluar dari ruangannya tepat saat ia hendak meninggalkan ruang guru. Kepala sekolah itu tersenyum, menanyakan kabar, lalu berjalan ke arah kantin dengan langkah santai—tangan di belakang punggung, postur tegak, sama seperti biasanya.

Azril mulai meragukan firasatnya sendiri.

Sementara itu, Bima mengambil pendekatan yang sama sekali berbeda.

Ia tidak bisa duduk diam dan mengawasi seperti Azril. Ia harus bergerak. Jadi, dengan membawa sketsa yang dibuat Faris—gambar wajah siswa yang mengantarkan amplop putih hari itu—Bima menyusuri setiap kelas dua. Satu per satu. Dari XI IPS 1 sampai XI IPA 5.

Strateginya sederhana: masuk saat istirahat, tersenyum selebar mungkin, lalu bertanya pada siapa pun yang mau mendengarkan.

"Permisi, mau numpang tanya. Ada yang kenal orang ini?"

Awalnya ia pikir ini akan mudah. Anak kelas dua biasanya gampang diajak ngomong—terutama kalau yang ngomong kakak kelas yang cukup dikenal. Tapi kenyataannya jauh dari harapan.

"Eh, Kak Bima! Sketsa ini bagus banget! Siapa yang gambar?" seorang siswi berseru saat pertama kali Bima menunjukkan sketsa itu.

"Temen gue. Namanya Faris. Lo kenal orang ini?"

"Enggak, Kak. Tapi jujur ya, gambarnya keren. Ini detail banget. Bisa minta tolong minta Kak Faris gambarin aku?"

Bima menghela napas. "Bukan itu—"

"Kak, Kak, sini deh. Sketsanya boleh dipoto dulu? Buat referensi. Gue suka gambar juga tapi belum bisa sebagus ini."

Itu terjadi lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Di kelas berikutnya, seorang siswa langsung berdiri begitu melihat sketsa itu. "Wah, Kak Bima! Jago banget yang gambar! Ini pake pensil apa, Kak? Tebal tipisnya detail banget!"

"Pensil mekanik kayaknya. Lo tau orang ini?"

"Gak tau, Kak. Tapi Kakak bisa minta tolong gak? Gue ada tugas seni rupa. Ini boleh dipinjem sebentar? Gue mau liat teknik arsirnya."

Bima memijat pelipisnya. Ini hari ketiga ia melakukan ini, dan hasilnya selalu sama: sketsa Faris dipuji, tapi tidak ada yang mengenali wajah di atas kertas.

"Siapa nama yang gambar, Kak? Kak Faris? Yang di kelas XII IPS 2? Yang suka bawa notebook itu?"

"Iya. Lo kenal?"

"Gue sering liat dia. Dia lumayan pendiem ya? Tapi gambarnya keren banget. Ini sketsa cuma pake pensil biasa? Hebat banget."

Bima nyaris membenturkan kepalanya ke meja.

Di kelas berikutnya, ia memutuskan untuk mengubah strategi. "Gue kasih fotokopiannya aja deh. Jadi lo bisa cek sendiri. Kalo ada yang kenal, kabarin gue ya."

Tapi tetap saja tidak ada yang mengenali wajah itu. Beberapa mengatakan "kayaknya pernah liat", tapi begitu ditanya lebih lanjut, mereka ragu. Yang lain hanya menggeleng, mata mereka lebih tertarik pada detail sketsa daripada pertanyaan Bima.

Di kelas X IPS 3, seorang siswi berkata, "Kak, ini mirip sama orang yang suka duduk di belakang perpus. Tapi gue gak yakin."

Akhirnya, secercah petunjuk.

Tapi setelah diselidiki, orang itu bukan siapa-siapa. Hanya siswa biasa yang kebetulan punya bentuk wajah mirip.

Bima kembali dengan tangan kosong dan setumpuk pujian untuk Faris.

Elang mengawasi dari jauh seperti biasa. Ia tidak berbicara banyak, tapi matanya selalu bergerak. Setiap interaksi Marcel di kantin. Setiap gerakan anak buahnya. Setiap perubahan kecil dalam rutinitas mereka. Tapi tidak ada yang berbeda. Marcel masih membully orang lemah, masih berbuat onar, masih dikelilingi anak buah yang sama.

Faris terus mencatat. Tapi halaman-halaman notebook-nya tetap kosong dari petunjuk.

Sampai akhirnya, di hari Jumat, mereka berkumpul di kantin—di bangku pojok yang sama.

"Gue nyerah," Bima mengakui, menyandarkan punggungnya ke dinding. "Udah lima hari gue keliling kelas dua. Hasilnya? Nol. Malah sketsa Faris yang terkenal bahkan sampai ada yang minta tanda tangan, Ris."

Faris menunduk, telinganya merah. Ia menulis di notebook-nya:

[Maaf gue gak bisa bantu banyak.]

"Bukan salah lo, Ris. Gambar lo emang terlalu bagus. Itu masalahnya."

"Atau orang itu bukan dari sekolah kita," Elang berkata pelan.

Semua mata tertuju padanya.

"Maksud lo?" Azril bertanya.

"Lo semua mikir pengirimnya dari dalam sekolah. Tapi kalo dia dari luar?"

Hening.

Itu adalah kemungkinan yang belum pernah mereka pikirkan. Amplop itu diantar oleh seorang siswa—tapi siapa bilang pengirimnya juga siswa? Siapa pun bisa menyuruh anak kelas dua untuk mengantarkan amplop. Dengan imbalan uang, atau ancaman, atau apa pun.

"Jadi... kita gak tau dia siapa," Bima menyimpulkan, suaranya lebih pelan.

"Kita gak tau," Elang mengulang.

Azril menatap kosong ke arah lapangan. "Terus kita harus apa?"

Tidak ada yang menjawab.

Akhirnya, setelah hening yang panjang, Bima menghela napas. "Kita tunggu. Kita liat. Lagian udah seminggu. Mungkin... mungkin itu cuma gertakan."

Tapi tidak ada yang benar-benar percaya pada kata-katanya.

...~•~•~•~...

^^^Sabtu, 15 September^^^

Ponsel Azril bergetar di atas meja belajar.

Ia sedang membaca novel Catur Mithra—halaman terakhir yang belum sempat ia sentuh selama berminggu-minggu. Tapi begitu melihat nama yang muncul di layar, ia menutup bukunya.

Aini: Zril, jadi kan hari ini? Aku udah siap.

Azril menatap pesan itu. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ini bukan pertama kalinya ia pergi dengan Aini—tapi entah kenapa, kali ini terasa berbeda. Mungkin karena ini akhir pekan. Mungkin karena tidak ada urusan sekolah yang mendesak. Mungkin karena Aini yang mengajaknya duluan.

Azril: Oke. Nanti gue ke rumah lo.

Aini: Ditunggu ya. Hati-hati di jalan.

Azril meletakkan ponselnya. Ia berdiri, meraih kacamatanya yang masih retak di sudut kiri—ia masih belum sempat menggantinya. Ia berjalan ke dapur, tempat ibunya sedang menyetrika pakaian.

"Ma, aku pergi sebentar ya."

Ibunya menoleh. "Mau ke mana?"

"Ke rumah teman. Terus ke toko buku."

"Teman? Yang sering ke sini itu? Bima?"

Azril menggeleng. "Bukan. Aini."

Ibunya berhenti menyetrika. Matanya menatap Azril dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara terkejut dan... sesuatu yang lain. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Aini? Yang Ketua OSIS itu? Yang kamu ceritain waktu lomba?"

"Iya, Ma. Dia yang juara 1."

"Oh." Ibunya mengangguk pelan, senyumnya melebar sedikit. "Hati-hati ya. Jangan pulang terlalu malam."

Azril mengangguk, lalu berjalan keluar sebelum ibunya bisa bertanya lebih banyak.

...~•~•~•~...

Go-Tor berhenti di depan sebuah rumah di kompleks perumahan yang asing bagi Azril. Ia turun, membayar, lalu berdiri di depan pagar besi berwarna hitam. Matanya menatap rumah di hadapannya.

Rumah itu... berbeda dari apa yang ia bayangkan.

Dua lantai. Cat krem yang masih bersih. Taman kecil di depan dengan rumput yang terawat. Sebuah mobil terparkir di garasi—bukan mobil mewah, tapi cukup baru. Lampu-lampu kecil menghiasi teras, meskipun siang hari belum dinyalakan.

Azril menelan ludah. Tiba-tiba ia merasa agak kecil.

Ia tidak tahu kenapa. Selama ini ia tidak pernah memikirkan latar belakang Aini. Yang ia tahu, Aini adalah Ketua OSIS yang tegas, adik Elang yang perhatian, gadis yang menyukai buku yang sama dengannya. Tapi melihat rumah ini... Azril sadar bahwa ada banyak hal tentang Aini yang belum ia ketahui.

Ia menekan bel.

Ting. Nong

Langkah kaki terdengar dari dalam. Pintu terbuka.

Aini berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan kaus putih sederhana dan celana jeans—jauh berbeda dari penampilannya di sekolah dengan seragam rapi, dasi abu panjang, dan map OSIS di tangan. Rambutnya yang biasanya tersisir licin kini tergerai bebas di bahu. Untuk sesaat, Azril lupa harus berkata apa.

"Zril? Kok diem aja?" Aini melambaikan tangan di depan wajahnya.

"Oh. Eh." Azril mengusap tengkuknya. "Rumah lo... bagus."

Aini tersenyum kecil. "Biasa aja. Yuk, masuk dulu."

Azril melangkah masuk. Ruang tamunya luas, dengan sofa abu-abu dan meja kaca yang tertata rapi. Rak buku besar memenuhi satu sisi dinding—penuh dengan novel, ensiklopedia, dan beberapa piala. Foto keluarga terpajang di atas rak: Aini, Elang, dan dua orang dewasa yang Azril asumsikan sebagai orang tua mereka. Tapi foto itu terlihat sudah lama—Aini di dalamnya masih kecil, mungkin masih SD.

"Elang gak ada?" Azril bertanya.

"Dia gak tinggal di sini, ada masalah keluarga." Aini meraih kunci motor dari meja kecil di samping pintu. "Kamu bisa naik motor kan?"

"Bisa. Dulu ayah sempet ngajarin."

"Bagus. Aku males bawa. Kamu aja ya."

Azril menerima kunci itu. "Lo percaya sama gue?"

"Kalo aku gak percaya, aku gak mungkin ngajak kamu." Aini tersenyum manis, lalu berjalan keluar. "Ayo. Aku udah gak sabar."

...~•~•~•~...

Motor Aini melaju pelan di jalanan kota. Azril di depan, tangan memegang stang dengan sedikit kaku—ia tidak terbiasa membawa motor yang bukan miliknya, apalagi dengan Aini duduk di belakang. Tapi Aini tidak keberatan. Ia duduk dengan nyaman, satu tangan memegang pinggang Azril dengan ringan.

"Zril."

"Ya?"

"Kamu kaku banget sih. Santai aja."

"Gue... gue gak biasa bawa motor orang."

"Terus aku yang pertama?"

Azril tidak menjawab. Telinganya memanas.

Aini tertawa kecil di belakangnya. "Tenang aja. Aku percaya kok."

Azril menelan ludah. Angin sore menerpa wajahnya. Di belakang, Aini mulai menyenandungkan lagu yang tidak ia kenali. Dan untuk sesaat—hanya sesaat—Azril lupa tentang amplop putih, tentang ancaman, tentang seminggu penyelidikan yang gagal.

...~•~•~•~...

Toko buku itu sama seperti yang mereka kunjungi setelah lomba. Rak-rak tinggi, aroma kertas baru, lampu kuning hangat. Tapi kali ini suasananya lebih sepi—Sabtu sore biasanya memang lebih tenang.

Mereka langsung menuju rak buku fantasi. Aini mengambil beberapa buku, membolak-balik halamannya, membaca sinopsis di belakang. Azril berdiri di sampingnya, sesekali memberi pendapat.

"Ini bagus," kata Azril, menunjuk sebuah buku dengan sampul biru gelap. "Gue pernah baca yang pertama. Serinya lumayan."

"Oh ya? Aku belum pernah baca yang ini." Aini mengambil buku itu, menimbang-nimbang di tangannya. "Oke, ini masuk keranjang."

Mereka melanjutkan menjelajahi rak demi rak. Di sudut toko, mereka menemukan rak khusus buku diskon. Aini memekik kecil—kegirangan seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.

"Zril, liat! Edisi lama Tera Bite! Separo harga!"

"Serius? Mana?"

Mereka berdua berlutut di depan rak, memeriksa buku-buku dengan sampul yang sedikit menguning. Tidak peduli pada pengunjung lain yang melirik.

Setelah hampir setengah jam, mereka membawa tumpukan buku ke kasir. Aini membayar—"Aku traktir," katanya, menolak saat Azril mencoba mengeluarkan dompet.

"Ai, gak usah—"

"Anggap aja hadiah karena udah nemenin aku beli buku. Udah, jangan protes."

Mereka keluar dari toko buku dengan dua kantong kertas besar. Matahari mulai condong ke barat. Aini menatap langit.

"Zril, sebelum pulang... aku mau cerita sesuatu."

Nada suaranya berubah.

Azril menoleh. "Kenapa?"

Aini tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke bangku taman di depan toko buku, lalu duduk. Azril mengikutinya.

"Akhir-akhir ini... aku ngerasa aneh," Aini memulai. Suaranya pelan. "Kayak ada yang ngawasin."

Azril menegang. "Ngawasin? Dari mana?"

"Aku gak tau. Gak jelas. Cuma... kadang aku ngerasa ada yang ngikutin. Waktu di sekolah, waktu di jalan. Waktu di rumah."

"Lo udah bilang ini ke Elang?"

Aini menggeleng. "Belum. Kakak pasti langsung panik. Padahal mungkin ini cuma perasaanku aja."

Azril tidak menjawab. Pikirannya melayang ke amplop putih. Ke tulisan tinta merah. Ke kata-kata Pak Kevin.

"Zril," Aini melanjutkan, suaranya lebih pelan lagi. "Ada satu hal yang aku belum pernah cerita ke siapa-siapa."

"Apa?"

Aini mengeluarkan ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan, menggulir ke bawah, lalu menunjukkannya pada Azril.

Ai, lo tau kan gue suka sama lo dari lama. Tapi kok lo deket banget sama Azril? Apa lo suka sama dia? Jawab!.

Azril membaca pesan itu. Sekali. Dua kali. Tanggalnya: 13 Agustus. Lebih dari sebulan yang lalu.

"Kapan lo nerima ini?"

"Hari itu. Pas lo sama Bima berantem sama Marcel. Terus pas sorenya ada yang ngirim." Aini menatap layar ponselnya. "Aku kira cuma orang iseng. Aku langsung blokir nomornya. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Akhir-akhir ini, aku ngerasa... orang ini mungkin masih ada di sekitar. Lihatin aku. Lihatin... kita."

Azril menatap pesan itu lagi. Lo deket banget sama Azril. Seseorang cemburu padanya. Secara spesifik.

"Ai, lo gak pernah cerita ini ke siapa-siapa?"

"Enggak. Sama sekali."

"Bahkan ke Elang?"

Aini menggeleng.

Azril menarik napas panjang. Pikirannya bekerja cepat. Amplop putih bertuliskan "SEHARUSNYA KALIAN MATI!!!" yang diantar oleh murid tak dikenal. Pesan misterius yang menanyakan hubungan Aini dengan Azril. Dan perasaan diawasi yang dirasakan Aini.

Semuanya mulai terhubung.

Tapi Azril tidak bisa memberitahu Aini. Tidak tentang amplop itu. Tidak tentang ancaman kematian. Aini tidak tahu—dan untuk saat ini, lebih baik ia tetap tidak tahu.

"Ai." Azril menatapnya. "Lo gak sendirian. Apapun yang terjadi, ada gue. Ada kakak lo. Ada Bima. Ada Faris."

Aini menatap Azril. Matanya sedikit berkaca-kaca.

"Makasih, Zril."

"Ini bukan kata-kata doang. Gue serius."

Aini tersenyum kecil. Ia menyeka sudut matanya dengan punggung tangan. "Ayo pulang. Udah sore."

Mereka berjalan ke parkiran. Azril menyalakan motor, Aini duduk di belakang. Tangan Aini memegang pinggang Azril—kali ini sedikit lebih erat.

Langit sore berwarna jingga. Tapi ada awan gelap di kejauhan.

...~•~•~•~...

Malamnya, Azril duduk di kamarnya. Di luar, hujan mulai turun rintik-rintik. Ponselnya bergetar.

Grup "Empat". Pesan dari Azril:

Azril: Gue hari ini ketemu Aini. Dia cerita sesuatu.

Bima: Cerita apa?

Azril: Dia pernah dapet pesan aneh. Tanggal 13 Agustus. Isinya... seseorang cemburu karena dia deket sama gue.

Bima: 13 Agustus? Itu kan hari pertama kita berdua jadi temen deket.

Elang: Kenapa dia gak pernah cerita?

Azril: Dia gak mau bikin lo panik, Lang. Dia blokir nomornya dan dia pikir itu cuma orang iseng. Tapi sekarang dia ngerasa diawasin.

Faris: Jadi pengirimnya sama dengan yang ngirim surat ke Bima?

Azril: Gue gak tau. Tapi dua-duanya anonim. Dua-duanya sampai ke kita.

Jeda panjang.

Elang: Aini cerita apa lagi?

Azril: Dia bilang akhir-akhir ini ngerasa ada yang ngawasin. Tapi dia gak tau siapa.

Bima: Jadi orang ini ngincer Aini juga?

Azril: Kayaknya.

Elang: Mulai sekarang, Aini gak boleh sendirian. Gue yang anter jemput dia tiap hari.

Bima: Kita bantu. Giliran jagainnya.

Faris: Aku juga bantu. Semampuku.

Azril menatap layar ponselnya. Di luar, hujan semakin deras. Ia ingat wajah Aini di taman tadi—cahaya matanya yang berkaca-kaca, suaranya yang bergetar.

Seseorang di luar sana mengawasi Aini. Seseorang yang cemburu pada dirinya. Seseorang yang mungkin juga mengirim amplop itu pada Bima. Tapi siapa?

Azril teringat sesuatu. Ia membuka pesan Aini lagi. Membacanya sekali lagi.

Lo deket banget sama Azril. Apa lo suka sama dia?

Pesan ini dikirim pada 13 Agustus. Hari pertama dia dan Bima menjadi teman dekat. Sebelum semua ini dimulai. Sebelum Catur Mithra terbentuk. Sebelum ada yang tahu bahwa Azril akan menjadi dekat dengan Aini.

Siapa yang sudah tahu?

Siapa yang sudah cemburu... bahkan sebelum semuanya dimulai?

Hujan di luar semakin deras. Azril menatap bayangannya sendiri di kaca jendela yang retak. Ia tidak tahu jawabannya. Tapi satu hal yang ia tahu: selama ini mereka sibuk mencari musuh di luar.

Bagaimana kalau orangnya ada di dekat mereka?

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!