Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRANKAS TAK TERLIHAT
Lampu sorot biru dari kapal patroli itu semakin mendekat, menyapu permukaan laut yang bergejolak dan sesekali mengenai dek perahu nelayan mereka. Cahayanya yang dingin seolah menelanjangi persembunyian mereka di tengah samudera. Bastian mematikan mesin perahu agar suaranya tidak terdeteksi sonar, membiarkan mereka terombang-ambing pasrah dalam dekapan ombak.
Ghazali masih tak sadarkan diri di pangkuan Keyra, namun jemarinya sempat mencengkeram kain rajut pink yang melilit bahunya. Keyra tahu, jika kapal itu adalah milik faksi Aditama, mereka semua akan habis sebelum fajar menyingsing di pinggiran Kota.
---
"Key, berikan chip itu padaku! Aku akan mencoba menelannya atau membuangnya ke laut jika mereka naik ke atas!" bisik Bastian panik, tangannya terjulur meminta benda kecil yang menjadi kunci kehancuran Aditama itu.
Keyra menggeleng tegas. Matanya yang sembab karena air garam kini berkilat dengan kecerdikan seorang calon Master pendidikan yang terbiasa berpikir taktis. "Jangan, Bas. Jika mereka menangkap kita, mereka akan menggeledah setiap inci tubuh dan barang bawaan kita. Chip ini tidak boleh ada di tanganmu atau Yudha."
"Lalu di mana?" tanya Yudha sembari menyiapkan pisau komandonya di balik punggung, bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Keyra menatap cincin kabel tembaga di jari manisnya. Ia teringat bagaimana Ghazali memilin kabel itu dari alat komunikasi yang rusak kabel yang memiliki rongga kecil di bagian lilitannya. Dengan gerakan cepat dan tenang, Keyra melepaskan chip memori mikroskopis itu dari saku rahasia tas medisnya.
Ia menyelipkan chip itu ke dalam lilitan kabel tembaga cincin pertunangannya. Karena ukuran chip yang sangat tipis dan warna kabel yang kusam terkena lumpur, benda itu menyatu sempurna. Bagi siapa pun yang melihat, itu hanya sekadar perhiasan sampah dari medan perang.
"Cincin ini adalah simbol janji kita, Ghaz. Dan sekarang, dia juga pelindung kebenaranmu," bisik Keyra sembari mengecup punggung tangan Ghazali yang dingin.
VROOOOM!
Kapal patroli itu kini hanya berjarak sepuluh meter. Suara pengeras suara menggelegar membelah badai.
"PERAHU NELAYAN DI ARAH JAM DUA, MATIKAN MESIN DAN TUNJUKKAN TANGAN ANDA! KAMI ADALAH OTORITAS PENJAGA PANTAI SEKTOR Z!"
"Bastian, Yudha, angkat tangan! Jangan melawan kecuali aku beri aba-aba!" perintah Keyra. Ia tetap duduk di lantai perahu, memeluk kepala Ghazali agar luka kauterisasinya tidak terlihat langsung dari atas.
Tiga petugas berseragam hitam dengan senjata laras panjang melompat ke atas perahu mereka. Lampu senter mereka menyilaukan mata Keyra.
"Siapa kalian? Kenapa berada di jalur terlarang saat badai?" bentak salah satu petugas.
Keyra mendongak, matanya berkaca-kaca—kali ini bukan akting, tapi luapan emosi yang nyata. "Tolong... kami warga sipil dari kota z. Tunangan saya terluka parah karena kecelakaan kapal di perbatasan. Saya dokter, saya mencoba membawanya pulang tapi mesin kami mati."
Petugas itu mendekat, menendang tas medis Keyra yang kosong. Ia lalu mengarahkan senter ke wajah Ghazali. "Tunggu dulu... wajah ini..."
Jantung Keyra seolah berhenti berdetak. Ia meremas cincin di jarinya, merasakan sudut tajam chip memori itu menusuk kulitnya.
"Wajah ini mirip dengan DPO yang dilaporkan melakukan desersi di perbatasan," petugas itu mengokang senjatanya, mengarahkannya tepat ke dahi Ghazali yang masih terpejam. "Kalian semua ikut kami ke markas pusat. Dan kau, Nona Dokter... serahkan semua perhiasan dan barang bawaanmu untuk pemeriksaan."
Petugas itu merenggut tangan Keyra, matanya tertuju pada cincin kabel tembaga yang tampak aneh di jari manis gadis cantik itu.
"Cincin sampah apa ini?" petugas itu mencoba menariknya paksa.
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....