NovelToon NovelToon
Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Pendamping Sakti / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Fantasi Wanita
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
​Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
​Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
​Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
​Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: PERTUKARAN JIWA DI AMBANG BATAS

​Malam di Mansion Ryker kembali diselimuti aura mistis yang kental. Alurra terbaring lemas di atas ranjang besar Nael, tubuhnya masih memancarkan pendar emas yang redup, menandakan bahwa sisa energinya sedang berada di titik nadir. Nael tidak bergeming dari sisi tempat tidur. Ia dengan telaten mengusap kening Alurra dengan air hangat, membersihkan sisa-sisa air hujan dan debu dunia yang menempel di kulit bidadari itu.

​"Nael... jangan menatapku seperti itu," bisik Alurra, suaranya sangat halus, hampir tertutup oleh suara detak jam dinding. "Aku tidak akan hilang lagi. Aku sudah berjanji, kan?"

​Nael hanya menatapnya dengan mata yang dalam, penuh kerinduan dan rasa bersalah. Ia menggenggam tangan Alurra, lalu mencium jemarinya satu per satu.

​"Aku hampir gila, Alurra," suara Nael keluar, pelan namun bergetar hebat. "Melihatmu menghilang di balkon tadi... melihat kalung itu jatuh... aku merasa seolah seluruh oksigen di dunia ini dicabut paksa. Aku tidak peduli pada saham, perusahaan, atau apa pun. Aku hanya ingin kau."

​Alurra tersenyum lemah, ia menyentuh jakun Nael yang bergerak saat pria itu bicara. "Suaramu... aku sangat suka mendengarnya. Tapi Nael, kau harus tahu, turun ke Bumi dalam kondisi belum pulih adalah pelanggaran berat di Langit. Ayah pasti sedang sangat murka sekarang."

​Baru saja kata-kata itu terucap, suhu di dalam kamar mendadak turun drastis. Lampu-lampu kristal di langit-langit bergetar, dan aroma petir yang menyengat memenuhi ruangan.

​Sesosok bayangan agung muncul di sudut kamar, perlahan memadat menjadi wujud Dewa Langit. Wajahnya tidak lagi penuh amarah seperti di jalanan tadi, melainkan datar dan dingin, mencerminkan hukum alam semesta yang tak bisa ditawar.

​"Putriku," suara Dewa Langit menggema, membuat kaca jendela berderit. "Kau telah mempertaruhkan keabadianmu demi manusia ini. Kau telah melanggar hukum keseimbangan hanya untuk sebuah emosi fana yang disebut rindu."

​Nael langsung berdiri, memasang badan di depan Alurra. Ia menatap sang Dewa dengan tatapan menantang, tanpa rasa takut sedikit pun.

​"Jangan salahkan dia," tegas Nael. "Sayalah yang tidak bisa hidup tanpanya. Jika ada yang harus dihukum, hukum saya."

​Dewa Langit menatap Nael dengan mata yang berkilat perak. "Kau berani bernegosiasi dengan penguasa cakrawala, Manusia? Kau pikir suaramu yang baru saja kembali itu cukup kuat untuk menggetarkan takhtaku?"

​"Ayah, kumohon..." isak Alurra, ia mencoba bangkit namun Nael menahannya.

​"Diamlah, Alurra," ucap Dewa Langit. Ia kemudian berjalan mendekati Nael, hingga jarak mereka hanya terpaut satu langkah. "Nael Ryker, aku melihat ketulusanmu di tengah badai tadi. Kau merangkak di lumpur demi sebuah janji. Itu adalah sifat yang jarang dimiliki kaummu. Namun, hukum tetaplah hukum. Alurra tidak bisa tinggal di sini sebagai bidadari tanpa melukai keseimbangan alam."

​Dewa Langit memberikan jeda yang mencekam. "Ada satu cara agar Alurra bisa tinggal di Bumi secara permanen tanpa kehilangan cahayanya sepenuhnya. Namun, harga yang harus dibayar adalah Keseimbangan Suara."

​Nael mengerutkan kening. "Apa maksud Anda?"

​"Suaramu kembali karena resonansi cinta Alurra. Jika kau ingin dia tetap di sini, kau harus mengembalikan suara itu ke dalam keheningan," Dewa Langit mengulurkan tangannya yang bercahaya. "Kau harus memilih: Tetap bicara dan melihat Alurra perlahan memudar hingga lenyap dari ingatan dunia, atau kau kembali menjadi si bisu selamanya, dan Alurra akan tetap di sisimu sebagai manusia biasa dengan sisa keajaibannya."

​Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi liang lahat. Alurra membelalakkan matanya, air mata emas kembali mengalir.

​"TIDAK! Ayah, itu tidak adil!" teriak Alurra. "Nael baru saja menemukan suaranya! Dia berjuang mati-matian untuk bicara padaku! Jangan ambil itu darinya!"

​Nael terdiam. Ia menatap Alurra yang menangis histeris. Ia teringat betapa bahagianya ia bisa memanggil nama Alurra semalam. Ia teringat betapa kuatnya ia saat membungkam Jayden dan Stella dengan suaranya.

​Namun, ia juga melihat Alurra yang pucat. Ia melihat Alurra yang hampir mati di dalam sangkar perak. Ia melihat bidadari yang rela mematahkan sayapnya sendiri hanya untuk menemuinya di tengah hujan.

​Nael tersenyum. Sebuah senyum yang sangat damai, senyum yang menunjukkan bahwa pilihan ini sebenarnya sangat mudah baginya.

​Nael menatap Dewa Langit, lalu beralih ke Alurra. Ia memegang pipi Alurra, menghapus air matanya untuk terakhir kali.

​"Alurra... dengarkan aku baik-baik," bisik Nael, suaranya sangat lembut, seolah ingin merekam setiap getaran suaranya di ingatan Alurra. "Aku tidak butuh bicara pada dunia jika aku bisa melihatmu tersenyum setiap pagi. Aku tidak butuh suara untuk memberitahumu bahwa aku mencintaimu, karena jantungku akan mengatakannya lewat setiap detaknya."

​"Nael, jangan... kumohon..." Alurra menggeleng-gelengkan kepalanya.

​Nael kembali menatap Dewa Langit dengan mantap. "Ambil suara saya. Berikan dia kehidupan di sini. Di samping saya."

​Dewa Langit mengangguk pelan. "Kesepakatan tercapai."

​Dewa Langit menyentuh tenggorokan Nael dengan ujung jarinya yang dingin. Sebuah pendar cahaya perak tertarik keluar dari leher Nael, berpindah ke tangan sang Dewa. Nael merasakan sensasi hangat yang perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan yang familiar. Ia mencoba membuka mulutnya, mencoba mengucapkan "Alurra", namun yang keluar hanyalah hembusan napas tanpa bunyi.

​Gembok trauma itu tidak lagi ada, namun kini ada Gembok Takdir yang lebih mulia.

​Seketika, tubuh Alurra bersinar terang. Luka bakar hitam di kulitnya lenyap. Pendar emas di matanya meredup menjadi warna ungu manusia yang sangat indah. Ia tidak lagi transparan. Ia menjadi nyata. Ia menjadi manusia seutuhnya, meski tetap memiliki aura bidadari yang samar.

​Alurra menghambur ke pelukan Nael, menangis sesenggukan di dadanya. "Bodoh... kau benar-benar bodoh, Nael... kenapa kau melakukannya?"

​Nael tidak menjawab. Ia hanya mendekap Alurra sangat erat, mencium puncak kepalanya. Ia merogoh ponselnya di atas nakas, mengetik dengan satu tangan sambil tersenyum:

​"KARENA KATA-KATA HANYALAH BUNYI, TAPI KEHADIRANMU ADALAH KEHIDUPAN. SELAMAT DATANG DI RUMAH, ISTRIKU."

​Dewa Langit menghilang ditelan cahaya, meninggalkan dua jiwa yang kini bersatu dalam keheningan yang paling indah yang pernah ada di Bumi.

...****************...

1
Dwi Winarni Wina
ada aja gak suka sama alurra, dan cari masalah sama alurra...
Dwi Winarni Wina
Nael demi alurra rela menjadi biksu lagi...
Dwi Winarni Wina
Akhirnya nael bisa bicara lagi...
Dwi Winarni Wina
Akhirnya telah berusaha mencari berhasil menemukan perak itu...
Dwi Winarni Wina
bicaranya syurga lagi patah hati😀
Dwi Winarni Wina
Bidadarinya masih lemes tenaganya belum pulih🤣🤭
Dwi Winarni Wina
kasian nael kembali kesetelan awal gak bisa bicara🤭
Dwi Winarni Wina
kasian nael ditinggal sama bidadari surganya...
Dwi Winarni Wina
Akhirnya nael menemukan alurra...
Dwi Winarni Wina
Jayden gak ada kapok2nya cari masalah...
Dwi Winarni Wina
bagus nael lawan rasa traumamu
Dwi Winarni Wina
nael jadi ketakutan sama mantan sopir orgtuanya dulu...
Dwi Winarni Wina
akhirnya nael berbicara alurra sangat happpy sekali...
Dwi Winarni Wina
alurra pintar sekali mengalihkan perhatian mereka😀
Dwi Winarni Wina
Akhirnya setelah mandi kekuatan alurra kembali...
Dwi Winarni Wina
syukurlah bidadari bar-bar sudah sadar...
Dwi Winarni Wina
cari mati aja jayden berani mengusik bidadari syurga...
Dwi Winarni Wina
saya suka karya author ini sangat menarik dan luarbiasa...
Dwi Winarni Wina: Sama-sama kakak☺
total 2 replies
Dwi Winarni Wina
pede sekali jayden bisa mengalahkan peri dari surga...
Dwi Winarni Wina
bidadari dari syurga itu pelindung buat nael...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!