Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengadu
Karina melangkah maju dengan wajah penuh amarah, tangannya sudah terangkat tinggi.
“Kau benar-benar kurang ajar!” bentaknya, lalu mengayunkan tangan untuk menampar Natalia.
Namun dalam sekejap, Natalia menangkap pergelangan tangan Karina. Gerakannya cepat dan presisi, membuat Karina tak sempat bereaksi.
Dengan satu tarikan dan putaran halus, Natalia membalikkan arah tangan itu.
Plak!
Tamparan keras justru mendarat di pipi Karina sendiri. Tubuh Karina terhuyung ke samping, wajahnya langsung memerah.
“Karina!” suara Li Anna terkejur, gemetar melihat putrinya.
Lusi yang melihat itu langsung maju dengan emosi memuncak.
“Kau berani menyentuhnya!” serunya.
Tapi langkahnya terhenti saat Natalia menatapnya tajam. Tatapan itu dingin, menusuk, membuat Lusi tanpa sadar menahan napas.
“Kau juga menantu di keluarga ini,” ucap Natalia pelan. “Apa kau tidak takut mereka akan melakukan hal yang sama padamu?”
Lusi mengernyit, lalu tertawa sinis meski suaranya terdengar dipaksakan.
“Aku berbeda denganmu,” balasnya angkuh. “Aku putri bangsawan kelas tiga dari keluarga Yin. Sedangkan kau hanya anak yatim piatu dengan asal-usul tidak jelas.”
Natalia tidak marah. Ia justru tersenyum tipis. “Tapi kau belum hamil, bukan?” katanya santai. “Kalau begitu suamimu juga bisa mencari selir.”
Ucapan itu menghantam tepat sasaran.
Wajah Lusi langsung berubah, amarahnya meledak. “Kau—”
Ia maju dan mencoba menarik rambut panjang Natalia dengan kasar. Namun sebelum sempat berhasil, Natalia menangkap tangannya.
Brak!
Dengan gerakan cepat, Natalia membanting tubuh Lusi ke tanah. Suara benturan terdengar jelas, membuat semua orang terbelalak.
“Ah!” Lusi meringis kesakitan, tak menyangka akan diperlakukan seperti itu.
Karina masih memegangi pipinya, sementara Li Anna gemetar menahan marah. Di sisi lain, Lilith hanya berdiri diam.
Meski ia seorang jenderal, ia tidak berani bergerak. Tangannya refleks menyentuh perutnya, naluri melindungi anak di dalam kandungan membuatnya memilih diam.
Natalia menghela napas panjang, seolah lelah menghadapi semua ini. Wajahnya kembali tenang, namun aura dingin menyelimuti dirinya.
Ia menoleh pada para pelayan. “Bawa peti itu ke paviliunku,” perintahnya singkat.
Para pelayan saling pandang ragu, namun akhirnya menunduk patuh. “Baik, Nyonya.”
“Berhenti!” teriak Li Anna penuh amarah. “Aku akan mengadukan semua ini pada Andrian!”
Natalia tidak menoleh. Ia hanya melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan mereka dalam keadaan kacau.
*
*
“Sialan Natalia itu!” murka Nyonya Li Anna, wajahnya merah padam penuh amarah.
Suaranya menggema di dalam aula utama, membuat para pelayan semakin menunduk ketakutan. Tangannya mengepal erat, jelas tidak terima dengan perlakuan Natalia.
Karina dan Lusi terlihat terduduk di kursi kayu, wajah mereka menahan sakit dan malu. Karina memegangi pipinya yang masih terasa perih.
“Dari mana dia berani melakukan itu?” geram Karina. “Sejak kapan dia berani melawan kita?”
Lusi mengernyit, masih mencoba mencerna kejadian barusan. “Yang aku heran bagaimana dia bisa bela diri?” gumamnya sambil meringis kesakitan.
Lilith yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. Tatapannya tajam, penuh perhitungan.
“Itu bukan bela diri,” katanya pelan.n“Aku tidak melihat pola atau teknik. Itu lebih seperti gerakan spontan. Mungkin karena besar di jalanan, ia sedikit bisa,” ujarnya tak ingin kalah dengan Natalia.
Ketiganya terdiam sejenak.
Padahal, jika mereka tahu, Natalia memang tidak memahami bela diri di zaman ini. Namun ia mewarisi teknik dari ibunya, gerakan yang berbeda, cepat, dan efisien, meski Natalia belum sehebat sang ibu, kakaknya serta sang ayah.
Li Anna mendengus kesal. “Yang jelas, dia sudah menunjukkan wajah aslinya,” katanya dingin. “Berani melawan dan menghamburkan uang Andrian. Ini tidak bisa dibiarkan.”
Karina langsung menyela dengan penuh semangat. “Ibu benar! Lebih baik kita serahkan cap kediaman pada Kak Lilith saja.”
“Benar,” timpal Lusi. “Kalau terus dipegang Natalia, dia pasti akan menguras semua harta keluarga kita.”
Li Anna mengangguk mantap. “Ibu juga berpikir begitu. Lilith jauh lebih pantas mengurus rumah ini.”
Mereka pun menunggu dengan gelisah, waktu terasa berjalan lambat. Keluhan dan gerutuan terus terdengar, menunjukkan betapa kesalnya mereka.
“Kemana Andrian? Kenapa dia lama sekali?” keluh Nyonya Li Anna sambil mondar-mandir di aula utama.
Akhirnya, menjelang senja, Andrian tiba di kediaman bersama Andra. Keduanya baru kembali dari istana kekaisaran setelah urusan resmi.
Begitu melihat mereka, keempat wanita itu langsung berdiri dari kursi kayu. Wajah mereka dipenuhi ekspresi dramatis, seolah menahan keluhan sejak lama.
“Andrian!” seru Li Anna. “Kau harus menceraikan Natalia itu!”
Andrian terdiam sesaat, jelas terkejut dengan sambutan itu. Ia menghela napas panjang sebelum berbicara.
“Apa lagi yang dia lakukan, Ibu?” tanyanya lelah.
Li Anna langsung maju, suaranya penuh tuduhan. “Dia menghamburkan uangmu! Membeli perhiasan dan pakaian satu peti penuh untuk dirinya sendiri! Bahkan dia tidak mengingat kami berempat.”
Lilith menambahkan dengan nada halus dan menusuk. “Tidak hanya itu, Suamiku. Dia juga memukul Karina dan membanting Lusi.”
Andra yang berdiri di samping langsung menatap Lusi kaget.
“Benarkah itu?” tanyanya.
“Andrian,” lanjut Li Anna dengan nada tinggi, “kau harus melihat sendiri betapa keterlaluan wanita itu!”
Andrian menggeleng pelan, masih tidak percaya. “Tidak mungkin,” katanya. “Natalia itu lemah lembut. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu.”
Ucapan itu langsung membuat Li Anna murka.
“Apa kau tidak mempercayai ibumu sendiri?” bentaknya. “Dan istrimu, Lilith?”
Karina maju sambil menunjuk pipinya. “Lihat ini! Dia menamparku!” serunya.
Lusi juga ikut menimpali dengan kesal. “Aku bahkan dibanting ke tanah oleh wanita itu!”
Lilith mengangguk pelan, memperkuat cerita mereka. “Aku juga melihatnya sendiri.”
Andrian akhirnya terdiam.
Wajahnya berubah serius, pikirannya mulai goyah. Baru sehari ia membawa Lilith masuk ke rumah ini, namun Natalia sudah berubah drastis.
Li Anna mendengus puas melihat reaksi itu.
“Dari dulu Ibu sudah bilang, ibu tidak setuju kau menikahi gadis yatim piatu itu,” katanya sinis. “Dan lihat sekarang. Dia hanya ingin mengeruk harta keluarga kita.”
Andrian mengepalkan tangannya, namun tetap diam. Ia tidak mungkin mengatakan kebenaran bahwa semua yang mereka nikmati sebenarnya milik Natalia.
“Ibu tidak peduli,” lanjut Li Anna tegas. “Kau harus mengambil cap kediaman dari tangan Natalia.”
Ia menunjuk ke arah Lilith. “Biarkan Lilith yang mengurus semuanya. Dia jauh lebih pantas.”
Karina langsung menambahkan dengan penuh semangat. “Dan ambil juga perhiasan serta pakaian yang tadi dibelinya!”
“Itu semua milik keluarga kita,” sambung Lusi.
Andrian menunduk sejenak, lalu mengangguk perlahan.
“Baik,” katanya akhirnya. “Aku akan mengambilnya.” Tatapannya mengeras. “Natalia memang sudah di luar batas.”
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah