Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04- MCI 04
Sebuah sedan merah yang dari jauh saja bisa di lihat merek apa itu dan bagi yang paham, harganya benar-benar akan sangat membuang mereka tercengang berhenti di depan pagar sebuah rumah besar, dengan halaman yang sangat luas.
Kaca jendela mobil bagian penumpang terbuka. Diandra membuka kacamatanya, dan menatap rumah yang sudah dia tinggalkan selama 7 tahun itu.
"Di, kenapa tidak bawa masuk saja mobil ini ke dalam? mereka akan tercengang!"
Diandra tersenyum kecil.
"Kenapa aku harus membuang mereka tercengang dengan mobil ini. Bukankah akan bagus kalau aku membuat mereka tercengang dengan penampilanku?" tanya Diandra yang segera membuka pintu mobil dan keluar.
Celine sedikit mengernyitkan keningnya.
"Di, apa kamu tidak khawatir di cela mereka? pakaian mu kurang bahan!" kata Celine.
Karena Diandra bahkan hanya menggunakan mini dress hitam, dengan sepatu high heels jenis boots semata kaki. Tanpa embel-embel scarf atau hal lain, hingga bagian dadanya benar-benar terekspos.
"Celine sayang, justru aku mau membuat mereka dicela, dicela oleh calon besan mereka!" kata Diandra.
Celine menggaruk kepalanya. Kalau dia sih tidak berani berpakaian seperti itu. Tapi, karena Diandra memang cantik, dan tubuhnya memang sangat bagus, sebenarnya terlihat oke saja dengan pakaian seperti itu. Hanya saja kalau untuk bertemu dengan calon besan rasanya memang kurang pantas.
"Jemput aku satu jam lagi ya! tidak kurang, tidak lebih!"
Celine mengangguk patuh.
"Sukses ya bikin keluargamu ketar-ketir di depan calon besannya!" kata Celine menyemangati misi pertama Diandra.
Diandra tersenyum dan mengenakan kembali kacamata hitamnya. Padahal itu sudah malam, tapi dia malah pakai kacamata hitam. Mau bagaimana lagi, mereka di frame kacamata itu akan membuat Genelia kelojotan. Jadi, dia senang saja memang melakukan hal-hal yang membuat Genelia marah dan kesal.
Diandra berjalan ke arah pintu gerbang.
"Buka!" ucap Diandra singkat.
"Non, cari siapa?" tanya penjaga gerbang berseragam itu.
Diandra membuka kacamata hitamnya dan menatap tegas ke arah penjaga gerbang itu.
"Pak Latif cepat sekali lupa?" tanya Diandra menyindir.
Mata penjaga gawang itu melebar.
"Non Diandra..." katanya terkejut yang langsung membuka pintu gerbang di depannya.
Pintu gerbang sudah terbuka lebar, Diandra perlahan melangkah masuk. Menatap dengan perasaan yang campur baur. Rumah itu adalah tempat dia tinggal dari kecil sampai usianya 17 tahun. Setidaknya dia memiliki kehidupan yang sangat bahagia selama 5 tahun.
Diandra menghela nafas panjang. Bagaimana pun, dia akan ambil rumah kakek dan neneknya itu kembali.
Diandra membuka pintu utama rumah itu tanpa mengetuk pintu.
"Non, cari siapa?" tanya seorang pelayan yang terkejut karena ada seseorang yang masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu dan permisi ke dalam rumah.
"Non, tunggu dulu, nona ini siapa?"
"Apasih ribut-ribut?"
Diandra menghentikan langkahnya, suara seseorang yang begitu familiar terdengar di telinganya.
Diandra melepaskan kacamatanya dan menyematkannya seperti bando.
Begitu melihat Diandra, Kamila langsung tampak terkejut, tapi berusaha menyembunyikannya.
"Kamu..."
"Selamat malam Tante Kamila, anak angkat keluarga Wicaksana!"
Wajah Kamila yang tadinya kaget langsung berubah drastis menjadi kesal. Helaan nafasnya yang kasar bahkan terdengar sampai telinga Diandra. Dan Diandra sangat puas mendengar itu.
"Kenapa? tidak senang mendengar kenyataan?" tanya Diandra yang kembali menyulut api.
'Dasar wanita sialann! kalau bukan karena ada tamu penting malam ini, aku benar-benar akan buat perhitungan dengannya!' batin Kamila.
Tapi, ketika Kamila mendekati Diandra. Dia memperhatikan penampilan Diandra saat itu.
"Hoh, ku pikir kuliah di luar negeri kamu belajar menjadi orang yang lebih baik. Ternyata... kamu menjadi wanita murahann!" ejeknya.
Karena pakaian Diandra memang kurang bahan. Celine sudah memperingatkannya. Tapi Diandra memang sengaja. Dia tidak mau meninggalkan kesan baik bagi siapapun. Baik itu ayahnya, keluarga ayahnya itu, atau keluarga orang yang akan menikah dengan Genelia.
Sayangnya bukannya marah, sudah di ejek begitu. Diandra malah tersenyum senang.
"Ck.. ck... ck... orang miskin yang merangkak menjadi orang kaya memang tidak tahu, mana yang murahan dan yang mahal. Aku beritahu kamu ya, wanita perebut! benang yang dipakai untuk membuat dress ku ini. Bahkan lebih mahal dari harga dirimu!"
Mata Kamila membelalak lebar. Dia kesal sekali.
"Kurang ajar!" pekiknya yang langsung mengangkat tangannya hendak menampar Diandra.
Grepp
Namun Diandra menangkap tangan Kamila dengan cepat. Hidup di luar negeri. Dimana dia harus berhadapan dengan banyak pria hidung belang. Tentu saja dia harus sedikit mengerti tentang bela diri untuk melindungi dirinya.
Diandra menatap tajam Kamila. Bahkan mencengkeram kuat pergelangan tangan yang sudah berada di dekat wajahnya itu.
Kamila yang tadinya mau menampar, degan tatapan mata kesal, kini meringis menahan sakit. Bahkan dia saat ini sedang berusaha melepaskan tangannya.
Diandra menyeringai, ketika melihat Kamila bahkan tidak bisa menarik tangannya.
"Ada apa ini?" tanya suara yang lebih familiar lagi di telinga Diandra.
Diandra menoleh, begitu puka Kamila.
"Diandra"
"Hai ayah, istrimu mau menamparku! haruskah aku biarkan?"
Mata Kamila kembali melebar. Romi sudah memperingatkannya kalau tidak boleh ada keributan yang akan membuat malu keluarga Kusuma di depan keluarga Mahendra.
Kamila segera menggelengkan kepalanya, tapi dia kesulitan menarik tangannya.
"Tidak mas, dia yang menarik tanganku!" elak Kamila beralasan.
Diandra terkekeh pelan.
"Aku? menarik tanganmu? aku tahu ayahku bodohh. Tapi apa kamu tidak bisa memikirkan alasan lain?" tanya Diandra.
Wajah Romi jadi terlihat tidak senang. Sementara Kamila terus berusaha melepaskan tangannya.
"Lepaskan tangan ibumu!" perintah Romi.
"Ibuku sudah mati, bagaimana aku bisa memegang tangannya!" sela Diandra.
Romi menghela nafas berat.
"Diandra, sudah 7 tahun berlalu. Kenapa kamu masih tidak berubah? ayah berharap kita bisa tinggal bersama, damai..."
"Aku bahkan sudah berubah" sela Diandra lagi, "karena aku sudah berubah, makanya aku bisa setegas ini. Mudah saja, aku akan lepaskan dia, kalau dia minta maaf karena sudah mau menamparku!"
"Tidak mas, aku... tidak!" elak Kamila lagi.
"Tuan, nyonya. Mobil tuan muda Mahendra sudah sampai!" kata pelayan yang memang ditugaskan menunggu kedatangan calon suami Genelia.
"Bu, ayah. Aku lihat mobil kak Dave sudah.... Diandra!"
Genelia yang menuruni anak tangga dengan terburu-buru, segera menghentikan langkahnya ketika melihat Diandra memegang tangan ibunya.
Genelia yang berpikir, Diandra masih penakut seperti dulu segera menghampiri Diandra.
"Lepaskan tangan ibuku!" pekik Genelia.
"Heh, tamunya sudah datang. Diandra lepaskan tangan ibu Kamila!"
"Tidak, sebelum dia minta maaf!" kata Diandra semakin mencengkeram lebih kuat lagi pergelangan tangan Kamila.
"Lepaskan!"
"Kamila, minta maaf!" kata Romi khawatir calon menantunya melihat semua ini.
"Mas..."
"Calon menantu dan besan kita sudah datang, kamu mau mereka melihat kekacauan ini?" pekik Romi.
***
Bersambung...
Tak ada kah yg mendengar kata² Kamila itu..? 🤔
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣