“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelabuhan Terakhir di Kota Cahaya
Mobil limosin itu melaju membelah jalanan Paris yang mulai diselimuti kabut tipis. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa begitu berat oleh sisa adrenalin dan gairah yang belum tuntas. Kaelthas masih mendekap Ceisya dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melonggarkan sedikit saja pegangannya, istrinya itu akan hancur menjadi serpihan cahaya.
Kaelthas merasakan detak jantung Ceisya yang masih berpacu di balik telapak tangannya. Ia tidak peduli pada jasnya yang sobek atau luka di bahunya yang kembali terasa berdenyut. Fokusnya hanya satu: wanita di pangkuannya. Ia menunduk, mencium puncak kepala Ceisya dengan penuh pemujaan, lalu turun ke dahi, dan akhirnya menemukan bibir yang selalu menjadi candunya itu.
Ciuman itu tidak lagi kasar seperti saat di lantai dansa tadi. Kali ini, Kaelthas melakukannya dengan sangat lembut, seolah sedang meminta maaf atas segala ketakutan yang Ceisya alami. Ia menyesap bibir bawah Ceisya dengan perlahan, lidahnya menyapu dengan gerakan yang menggoda, memancing Ceisya untuk membalasnya.
"Kael... sudah..." bisik Ceisya di sela napasnya yang mulai pendek. "Kita hampir sampai di villa."
"Aku tidak bisa menunggu sampai kita di villa, Ceisyra," gumam Kaelthas dengan suara parau yang rendah. "Melihatmu bertarung tadi... melihatmu hampir tersesat dalam halusinasi itu... itu membuatku gila. Aku butuh kepastian bahwa kau benar-benar di sini, bersamaku."
Kaelthas kembali melumat bibir Ceisya, tangannya merambat ke belakang punggung istrinya. Saat itulah, jarinya menyentuh benda asing yang menempel di balik gaun Ceisya—alat penyadap kecil berbentuk kelopak mawar. Dengan gerakan cepat yang penuh amarah, Kaelthas merenggut benda itu dan menghancurkannya dalam satu remasan tangan.
"Bajingan," desis Kaelthas. Ia melemparkan hancuran alat itu ke lantai mobil. Ia tidak ingin suara Farida atau siapa pun merusak momen mereka. Ia ingin malam ini hanya milik mereka berdua.
Sesampainya di villa mewah mereka yang menghadap ke arah Sungai Seine, Kaelthas tidak membiarkan kaki Ceisya menyentuh lantai. Ia menggendongnya menyusuri lorong panjang menuju kamar utama yang sudah diterangi oleh cahaya lilin aroma terapi dan pemandangan lampu Paris dari balik jendela besar.
Guntur dan para pengawal sudah diperintahkan untuk menjauh sepuluh meter dari area kamar. Malam ini, Sang Penguasa tidak ingin diganggu oleh urusan duniawi apa pun.
Kaelthas menurunkan Ceisya di atas ranjang yang empuk, namun ia segera menyusul, mengurung tubuh istrinya dengan kedua tangannya yang kokoh. Ia menatap Ceisya dengan pandangan yang sangat dalam, mata gelapnya seolah sedang menelanjangi jiwa Ceisya.
"Lepaskan jilbabmu, Sayang," perintah Kaelthas lembut namun absolut.
Ceisya menurut perlahan. Saat kain satin itu terlepas, rambut panjangnya tergerai indah, menutupi sebagian bahunya. Kaelthas terpaku. Baginya, Ceisya adalah mahakarya tuhan yang paling indah yang pernah ia miliki. Ia mulai menciumi setiap jengkal wajah Ceisya, dari kelopak mata, hidung, hingga ke pipi yang tadi sempat memucat.
"Mas Sultan..." Ceisya berbisik, jemarinya menyisir rambut Kaelthas yang sedikit berantakan. "Kenapa menatapku seperti itu?"
"Karena aku sedang sadar betapa beruntungnya aku," jawab Kaelthas. Ia merebahkan kepalanya di dada Ceisya, mendengarkan detak jantung istrinya yang kini sudah tenang. "Di dunia yang penuh pengkhianatan ini, hanya detak jantungmu yang jujur bagiku. Kau adalah satu-satunya tempatku pulang, Ceisyra."
Ceisya terenyuh. Ia tahu di balik sifat posesif dan brutalnya, Kaelthas adalah pria yang sangat kesepian dan penuh luka masa lalu. Ia memeluk kepala Kaelthas, memberikan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan triliunan aset Virelion.
"Aku nggak akan ke mana-mana, Kael. Meskipun alur novel ini berubah, meskipun ibuku ternyata masih hidup dan jahat, aku akan tetap di sini. Di sampingmu," ucap Ceisya dengan penuh keyakinan.
Kaelthas mendongak, matanya berkilat penuh gairah yang hangat. Ia menarik Ceisya hingga duduk di pangkuannya. Ia mulai menciumi bibir Ceisya kembali, kali ini lebih menuntut. Ia menyesap bibir Ceisya dengan tempo yang kian memanas, tangannya mulai membuka kancing gaun Ceisya satu per satu dengan sangat hati-hati, seolah sedang membuka hadiah yang paling berharga.
"Kau tahu, Ceisyra?" bisik Kaelthas di depan bibir istrinya. "Aku benci saat kau bertarung tadi. Bukan karena aku tidak percaya pada kemampuan silatmu, tapi karena aku benci melihat orang lain menyentuhmu, meskipun itu hanya untuk menyerangmu. Tubuh ini... hanya aku yang boleh menyentuhnya."
Ceisya tertawa kecil, rasa tengilnya kembali muncul. "Posesifnya Mas Sultan kumat lagi ya? Padahal aku tadi keren banget loh, jurus Srimpetanku bikin mereka jatuh semua."
"Ya, kau sangat keren. Dan itu membuatmu seribu kali lebih menggoda," sahut Kaelthas dengan seringai nakal. Ia langsung membungkam tawa Ceisya dengan ciuman yang membara, membalikkan posisi hingga Ceisya berada di bawahnya.
Malam itu, di bawah langit Paris, tidak ada lagi pertempuran, tidak ada lagi gas halusinogen, dan tidak ada lagi mawar hitam. Hanya ada dua insan yang saling mengunci dalam dekapan gairah yang suci. Kaelthas mencumbui Ceisya dengan penuh pemujaan, menjamah setiap inci kulit istrinya dengan bibirnya, memberikan tanda-tanda kepemilikan yang hanya bisa dilihat oleh mereka berdua.
Beberapa jam kemudian, saat fajar mulai mengintip dari ufuk timur, Ceisya terbangun dalam pelukan Kaelthas. Pria itu masih terjaga, membelai rambut Ceisya dengan gerakan ritmis yang menenangkan. Ruangan itu terasa sangat damai, kontras dengan kekacauan yang mereka alami beberapa jam lalu.
Ceisya termenung sejenak. Pikirannya melayang pada kata-kata Arkan soal rahasia transmigrasinya. Kenapa dia bisa tahu? Apakah ada orang lain dari duniaku yang juga masuk ke sini? Atau apakah Farida sebenarnya tahu bahwa jiwaku bukan jiwa Ceisyra yang asli?
Kaelthas yang menyadari kegelisahan istrinya langsung mengecup kening Ceisya. "Apa yang kau pikirkan, bidadariku?"
"Kael... kalau seandainya aku bilang bahwa aku sebenarnya bukan Ceisyra yang dulu kamu kenal... apa kamu bakal tetap mencintaiku?" tanya Ceisya dengan nada serius.
Kaelthas terdiam sejenak. Ia menatap mata Ceisya, mencari kejujuran di sana. Kemudian, ia tersenyum tipis—sebuah senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
"Aku tidak peduli siapa kau di masa lalu, atau dari mana jiwamu berasal," ucap Kaelthas mantap. "Wanita yang aku cintai adalah wanita yang berani menatap mataku tanpa rasa takut. Wanita yang bisa meretas sistem tercanggih di dunia sambil tetap merapalkan doa. Wanita yang jago silat namun memiliki hati selembut sutra. Itulah kau, Ceisyra-ku. Tidak peduli apa pun versimu, kau adalah canduku."
Ceisya merasa beban di pundaknya terangkat. Ia memeluk Kaelthas erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. "Terima kasih, Mas Sultan."
"Sama-sama, Sayang. Sekarang, tidurlah. Hari ini kita tidak akan ke kantor. Aku ingin menghabiskan sepanjang hari ini hanya denganmu di tempat tidur ini," gumam Kaelthas dengan nada posesifnya yang khas.
Ia kembali mencium bibir Ceisya, sebuah ciuman yang panjang dan penuh dengan janji masa depan. Baginya, tidak ada lagi tugas perusahaan yang lebih penting daripada menjaga senyum di bibir istrinya.
Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Di meja rias Ceisya, tabletnya yang semula mati mendadak menyala dengan sendirinya. Sebuah barisan kode rahasia berjalan secara otomatis, menembus semua sistem keamanan yang pernah dibuat Ceisya.
Layar itu menampilkan sebuah koordinat yang berkedip di tengah Samudra Atlantik. Dan di bawahnya, terdapat sebuah pesan yang ditulis dalam bahasa Arab gundul yang hanya dimengerti oleh santriwati tingkat tinggi:
"Ukhti, jangan terlena dengan pelukan sang penguasa. Gerbang pulang sudah dibuka, namun harganya adalah nyawa pria yang kau cintai. Pilihan ada di tanganmu: Pulang ke duniamu yang asli, atau mati bersama Kaelthas di sini."
Ceisya yang belum melihat pesan itu masih tertidur lelap dalam dekapan Kaelthas, tidak menyadari bahwa takdir baru saja memberikan pilihan paling sulit dalam hidupnya.
BERSAMBUNG...
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca