Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 — Kilat Ungu di Atas Tanah Terkutuk
Angin malam mulai turun bersama bau tanah basah dan darah.
Hutan perbatasan yang tadi masih samar diterangi cahaya senja kini perlahan ditelan kegelapan. Batang-batang pohon tua menjulang seperti pilar-pilar hitam, akarnya menonjol dari tanah bagai jebakan alam yang siap mematahkan kaki siapa pun yang lengah. Daun-daun berdesir ditiup angin, namun di tengah suasana yang semestinya tenang itu, satu sosok terus berlari tanpa henti.
Ye Chen menarik napas dengan cepat, sementara keringat bercampur darah menetes dari dagunya.
Jubahnya robek di banyak bagian, bahu kirinya masih mengucurkan darah dari luka sayatan yang belum sempat diobati, namun kedua kakinya tak juga berhenti. Dalam pelukan kirinya, seorang bayi kecil terbungkus kain sutra emas meringkuk sambil sesekali merintih pelan, seolah tubuh mungil itu pun mulai kelelahan setelah dibawa melintasi neraka perang.
Ye Chen melompati akar pohon besar yang menonjol dari tanah, lalu berputar di antara semak berduri dan batu-batu hutan yang licin.
Ia tahu satu hal dengan pasti yaitu dia tidak boleh berhenti selama anak kecil di pelukannya masih bernapas.
Namun tiba-tiba, udara di belakangnya berubah , bukan karena suara atau langkah kaki, melainkan karena tekanan yang tiba-tiba muncul.
Tekanan spiritual yang begitu berat hingga kulit di tengkuk Ye Chen langsung meremang ( Merinding ).
Matanya seketika terbuka lebar.
Tanpa berpikir, ia langsung memiringkan tubuhnya ke kanan sambil melindungi bayi di pelukannya.
Detik berikutnya—
DUAAAAARRR!!!
Sebuah tinju raksasa yang dilapisi gumpalan tanah padat menghantam batang pohon tepat di samping kepalanya.
Pohon tua itu meledak seketika.
Kayu, serpihan kulit batang, dan debu tanah beterbangan ke segala arah seperti hujan pecahan maut. Gelombang benturannya begitu kuat hingga tubuh Ye Chen terseret beberapa langkah ke samping.
Ia mendarat dengan satu lutut, menjaga keseimbangan sambil memeluk bayi itu lebih erat.
Tangisan kecil langsung pecah dari pelukannya.
Ye Chen mengangkat kepala perlahan.
Dari balik kepulan debu dan serpihan kayu, sebuah sosok besar melangkah maju dengan aura menyesakkan yang membuat tanah di bawah kakinya retak tipis setiap kali ia bergerak.
Wajah itu...
sudah sangat ia kenali.
Han Li.
Panglima Tertinggi Dinasti Huangtu.
Pria itu keluar dari bayangan pepohonan dengan ekspresi dingin dan mata penuh niat membunuh. Di sekujur lengannya masih menempel sisa tanah keras yang berdenyut seperti hidup, seolah elemen bumi sendiri telah menyatu dengan tubuhnya.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda di wajahnya.
Bukan ketenangan seorang jenderal.
Melainkan kebuasan seorang pemburu yang berhasil menyusul mangsanya.
“Kau tidak bisa lari lagi, Ye Chen.”
Suaranya berat, dalam, dan penuh penghinaan.
Ia menatap bayi di pelukan Ye Chen seolah sedang melihat sumber bencana yang harus dimusnahkan.
“Pelindungmu...” bibir Han Li terangkat membentuk senyum tipis yang dingin, “Lu Feng, sudah musnah ditelan bumi.”
Langkah Ye Chen langsung terhenti.
Untuk pertama kalinya sejak ia melarikan diri, ekspresi di wajahnya retak.
“Apa katamu...?”
Suaranya terdengar rendah, dipenuhi rasa tidak percaya.
Namun justru karena tidak percaya itulah, nada itu terdengar jauh lebih berbahaya.
Han Li tersenyum tipis, matanya menyipit dengan tatapan penuh ejekan.
“Putra Mahkota Leiting sudah mati.”
Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Angin berembus di antara pepohonan, membuat daun-daun kering beterbangan pelan. Di tengah kesunyian itu, sesuatu di dalam diri Ye Chen terasa seperti mulai retak. Lu Feng… pemuda keras kepala itu.
Pemuda yang baru beberapa jam lalu masih berdiri di hadapannya dengan tubuh berlumuran darah, memohon agar adiknya diselamatkan.
Pemuda itu, bahkan di ambang kehancuran, tetap memilih bertahan demi membuka satu jalan hidup bagi bayi ini. Mati? Rahang Ye Chen mengeras, sementara tangannya yang bebas perlahan mengepal.
Tatapannya yang semula hanya waspada kini berubah menjadi lebih gelap, dingin, dan tajam.
Han Li melangkah satu langkah maju.
“Sekarang,” ujarnya pelan, “giliranmu... dan bayi sialan itu yg akan menyusul lu feng ke alam kematian.”
Begitu kalimat itu selesai, kedua tangan Han Li langsung membentuk segel.
Energi bumi di sekitar mereka mendadak bergetar.
Tanah di bawah kakinya bergerak seperti makhluk hidup, merambat naik dari pergelangan kaki, paha, dada, hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya. Dalam hitungan detik, tanah padat bercampur batu hitam menyelimuti tubuh Han Li, membentuk lapisan zirah tebal dengan guratan-guratan seperti retakan gunung purba.
Armor Tanah, teknik pertahanan tingkat tinggi milik Dinasti Huangtu. Lapisan itu bukan sekadar pelindung, melainkan sebuah benteng yang dapat bergerak.
Di hutan yang sempit seperti ini, sementara satu tangan Ye Chen harus terus melindungi bayi di pelukannya, pertarungan ini sudah tidak seimbang sejak awal.
Tangisan bayi kecil di lengan kirinya kembali terdengar.
Ye Chen menunduk sebentar.
Memandangi wajah mungil yang bahkan belum mengerti bahwa hidupnya sedang dipertaruhkan.
Perlahan, ia mengangkat kepala. Tatapannya berubah, menjadi dingin, seiring Ye Chen bersiap untuk menyerang.
Seperti bilah pedang yang baru dikeluarkan dari sarungnya.
“Kalau begitu...” bisiknya sangat pelan.
Han Li bersiap siaga untuk mengantisipasi serangan Ye Chen.
Dan detik berikutnya—
ZZZZTTT!!
Listrik ungu meledak di sepanjang bilah pedang Ye Chen.
Cahaya petir itu memantul di antara pepohonan gelap, menciptakan kilatan-kilatan liar yang membuat bayangan mereka bergerak seperti hantu. Aura petir ungu menyelimuti tubuh Ye Chen, mengalir dari lengan, bahu, hingga ujung pedangnya seperti urat-urat cahaya yang hidup.
Tanah di bawah kakinya mulai retak, sementara udara di sekitarnya berdesis, membuat Han Li menyipitkan mata.
“Petir ungu…” ucap Han Li dengan suara rendah.
Nama Ye Chen memang pernah mengguncang dunia.
Dan salah satu alasan terbesar di balik itu adalah elemen petir miliknya.
Itu bukan petir biasa, melainkan Petir Ungu Langit Malam, jenis elemen yang dikenal sangat ganas, liar, dan memiliki daya tembus yang luar biasa.
Ye Chen merendahkan posisi tubuhnya untuk menjaga keseimbangan, lalu mengarahkan pedangnya lurus ke depan dengan penuh kesiapan.
Dan dengan suara yang rendah namun tajam, ia mengucapkan nama teknik pertamanya—
“Volt Piercer.”
WUUUSSHH!
Tubuh Ye Chen langsung menghilang dari tempatnya berdiri.
Bukan karena teleportasi.
Melainkan karena kecepatannya melesat terlalu cepat untuk diikuti mata biasa.
Han Li hanya sempat terbelalak kaget ketika kilatan cahaya ungu itu langsung melesat dan muncul tepat di depan dirinya.
TIIIING!!
Ujung pedang Ye Chen menghantam dada Han Li.
Petir ungu meledak liar dari titik benturan, menyambar batang-batang pohon di sekitar hingga kulit kayunya menghitam. Namun meski serangan itu cukup kuat untuk menembus baja biasa, armor tanah Han Li hanya retak tipis di permukaannya.
Ye Chen sedikit terkejut saat menyadari bahwa serangannya tidak cukup kuat untuk menembus pertahanan Han Li.
Han Li hanya tersenyum .
“Aku menangkapmu.”
Tinju kanannya yang sebesar bongkahan batu langsung berayun brutal ke arah kepala Ye Chen.
Ye Chen segera merundukkan tubuhnya dengan cepat.
Tinju itu melesat tepat di atas kepalanya, menghantam udara dengan suara berat yang membuat telinga berdengung.
Tanpa menunggu serangan kedua, Ye Chen segera melompat mundur, menjaga jarak sambil tetap menstabilkan bayi di pelukannya.
Ia mendarat di atas akar pohon besar, napasnya sedikit terengah namun tatapannya tetap terfokus pada lawan di depannya bahwa Armor itu terlalu tebal dan keras.
Ye Chen sempat melirik tangannya sejenak sebelum menghela napas pelan.
“Dengan hanya satu tangan seperti ini, aku tak bisa mengeluarkan tekanan tebasan secara maksimal,” ujarnya dengan nada rendah.
Tatapannya menajam ke arah Han li di depannya.
“Serangan lurus saja tidak akan cukup.”
Han Li menepuk-nepuk bagian dadanya yang tadi terkena tusukan.
Retakan tipis di armor tanahnya perlahan menutup kembali.
Senyumnya semakin lebar.
“Bagaimana?” ejeknya. “Kau mulai merasakan putus asa?”
Ye Chen tidak menjawab.
Namun di balik tatapannya yang tenang, pikirannya bergerak cepat.
Ia tahu benar situasinya.
Jika ini pertarungan biasa, mungkin ia sudah mengakhiri Han Li sejak beberapa menit lalu.
Namun sekarang, satu tangannya harus menggendong bayi, membuat gerak kakinya terpaksa terbatas.
Ayunan pedangnya tak bisa lagi dilakukan dengan leluasa.
Dan setiap kesalahan sekecil apa pun bisa berarti kematian bagi nyawa kecil yang sedang ia lindungi.
Karena itu, ia tidak punya pilihan lain selain menggunakan teknik yang lebih berbahaya, lebih cepat, dan lebih mematikan..
Ye Chen menutup matanya sejenak, napasnya perlahan melambat hingga dunia di sekitarnya terasa hening.
Suara angin, dedaunan, bahkan suara Han Li di kejauhan mendadak memudar.
Yang tersisa hanyalah aliran petir ungu yang terus berputar di dalam jalur energi tubuhnya.
Lalu perlahan matanya terbuka.
Aura di sekelilingnya langsung meledak.
CRAAAAK!!!
Petir ungu menyambar liar ke segala arah.
Tanah di bawah kakinya hangus.
Rambut hitamnya sedikit terangkat oleh aliran energi.
Dan untuk sepersekian detik, sosok Ye Chen tampak seperti hantu perang yang keluar dari legenda lama.
Han Li langsung membeku .
“Aura ini...!”
Ye Chen mengangkat pedangnya perlahan.
Lalu dengan suara dingin yang menusuk seperti malam itu sendiri, ia berkata—
“Flash Strike of the Purple Phantom.”
Pada detik berikutnya, tubuhnya tampak terbelah menjadi tiga—bukan benar-benar terpisah, melainkan tiga bayangan petir ungu yang bergerak begitu cepat hingga terlihat nyata. Satu muncul di kiri, satu di kanan, dan satu lagi melesat dari atas. Mata Han Li pun langsung melebar.
Han Li berseru, “Ilusi?!”
Namun, itu bukan ilusi biasa. Setiap bayangan memancarkan tekanan spiritual dan niat serang yang hampir sama dengan tubuh aslinya.
Tiga sosok Ye Chen menyerbu sekaligus.
SRETT!
Tebasan pertama menyapu bahu kiri Han Li.
SLASH!
Tebasan kedua menghantam sisi pinggangnya.
BOOM!
Tebasan ketiga jatuh dari atas seperti sambaran petir yang memecah batu.
Han Li dalam keadaan terdesak.
Tubuh besarnya berputar, mencoba menangkis satu serangan, namun dua serangan lainnya tetap masuk dari sudut yang tak sempat ia jaga.
Percikan petir ungu meledak di sekujur armor tanahnya.
Retakan demi retakan mulai muncul.
Lalu—
KRAAAAK!
Dada armornya akhirnya pecah, membuat Han Li terpaksa mundur selangkah ke belakang.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar menunjukkan keterkejutan. Ye Chen melihat celah itu dan langsung bergerak tanpa ragu.
Tubuh aslinya langsung bergerak di antara ketiga bayangan, menyatukan semua momentum ke satu titik untuk menebas jantung Han Li—
Namun pada detik terakhir—
BRUUUK!
Tubuh Han Li tiba-tiba tenggelam ke dalam tanah, membuat pedang Ye Chen hanya membelah udara kosong. Mata Ye Chen pun langsung melebar.
“Bukankah ini…?!” seru Ye Chen dengan kaget.
Tanah di bawah ketiga bayangan Ye Chen mendadak bergetar.
Lalu—
KRAK! KRAK! KRAAAK!
Dalam sekejap, puluhan duri batu tajam menerobos keluar dari tanah bagaikan taring raksasa. Bayangan di sebelah kiri tertusuk tanpa ampun, bayangan di kanan tercabik hingga lenyap, sementara bayangan di atas meledak menjadi percikan listrik.
PFFFT!
Satu per satu, bayangan petir itu lenyap, menyisakan tubuh asli Ye Chen yang berhasil melompat mundur sambil tetap melindungi bayi di pelukannya.
End Chapter 3