Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 My elite lover
Setelah selesai menikmati sarapan hangat dan obrolan ringan yang penuh dengan kata-kata manis yang terselip di setiap kalimatnya, Saga langsung mengeluarkan kartu kreditnya tanpa membiarkan Rena sedikit pun mengganggunya saat membayar tagihan. Tanpa banyak basa-basi, tangannya yang besar dan kokoh dengan lembut menggenggam tangan kecil Rena, erat namun tidak menyakitkan, lalu menarik gadis itu perlahan untuk berjalan bersama keluar dari kafe.
"Eh ... Kak Saga mau ke mana sih?" tanya Rena dengan napas yang sedikit terengah-engah saat berusaha mengikuti langkah panjang pria itu. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan hanya karena terburu-buru mengikuti langkahnya, tapi lebih karena hangatnya genggaman yang tak terduga itu yang membuat seluruh tubuhnya merasa kepanasan.
"Hobi bangat nih orang buat senam jantung aku tanpa izin!" batin Rena sambil menghela napis pelan, namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan senyum kecil yang mengembang di sudut bibirnya.
Saga tidak menoleh, hanya melangkah dengan langkah yang mantap menuju tempat parkir motornya dengan wajah yang tetap datar dan tenang. Namun jika Rena melihatnya dari depan, ia akan melihat sudut bibirnya sedikit menyungging membentuk senyum tipis yang penuh makna.
"Ikut saja. Nanti kamu akan tahu sendiri," jawabnya dengan suara yang singkat, padat, dan penuh dengan misteri yang membuat rasa penasaran Rena semakin membara.
"Dasar misterius! Kalau gini aku bisa mati penasaran dibuatnya!" batin Rena menggerutu kecil dalam hati, tapi gerakannya tidak pernah ketinggalan dari langkah Saga, bahkan ia secara tak sadar semakin mendekatkan diri pada pria itu.
Sesampainya di depan motor besar yang tampak gagah dan mengkilap, Saga melepaskan genggamannya sejenak untuk mengambil helm dua buah yang tergantung di bagian belakang motor. Ia membantu Rena memakai helm dengan gerakan yang lembut namun penuh dengan dominasi yang halus, menyesuaikan tali helm dengan cermat di dagunya, jempolnya secara tidak sengaja menyentuh kulit Rena yang hangat, membuat gadis itu langsung merinding. Setelah itu, ia sendiri memasang helmnya dan segera mengendarai motornya dengan keahliannya.
Angin pagi yang sejuk menyapu wajah mereka saat motor melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai. Namun angin sejuk itu sama sekali tak mampu mendinginkan wajah Rena yang terus memanas, baik karena panasnya sinar matahari pagi, maupun karena rasa gembira dan kegembiraan yang membara di dalam hatinya.
Tak butuh waktu lama, motor besar itu melaju perlahan lalu berhenti tepat di depan sebuah bangunan megah berdiri gagah dengan desain arsitektur modern yang memukau. Dinding luar bangunan menggunakan kombinasi kaca dan batu alam yang berkilau, sementara papan nama berukiran emas besar bertuliskan dengan jelas. BUTIK DIRGANTARA, dengan huruf-huruf yang menyala lembut saat terkena sinar matahari.
Rena dengan tergesa-gesa membuka helmnya dan menatap bangunan itu dengan mata yang terbelalak takjub.
"Kok ... kok kita ke sini, Kak?!" tanya Rena dengan suara yang penuh keheranan dan sedikit tak percaya diri. Matanya menyapu ke sana kemari melihat dekorasi luar yang begitu mewah, bahkan taman kecil di depan bangunan saja sudah terawat dengan sangat rapi. "Ini kan butik terkenal banget yang selalu muncul di majalah fashion! Harganya pasti luar biasa!"
Saga hanya tersenyum tipis lalu memarkirkan motornya dengan hati-hati sebelum turun dari joknya dengan sikap yang gagah dan percaya diri. "Masuk saja," ucapnya singkat sambil menuju pintu masuk yang terbuka lebar dengan pelayan pintu yang sudah siap membantu.
Begitu keduanya melangkah masuk ke dalam, suasana yang hening, elegan, dan penuh kemewahan langsung menyambut mereka. Cahaya lembut dari lampu-lampu hias menyinari setiap sudut ruangan yang dihiasi dengan pajangan barang-barang mewah. Para karyawan yang sedang melayani atau merapikan rak-rak pakaian serentak menoleh saat melihat kedatangan mereka, dan seketika semua orang langsung membungkuk hormat dengan sikap yang sangat sopan dan teratur.
"Selamat pagi, Tuan Muda Saga! Selamat pagi, Nona!" seru mereka serempak dengan suara yang ramah namun tetap profesional.
Rena yang berjalan di belakang Saga langsung merasa sedikit canggung, ia tak terbiasa diperlakukan dengan hormat setinggi itu. Meskipun keluarga Rena juga tergolong cukup mampu dan berada, namun kekayaan mereka jauh tak bisa menyamai keluarga Dirgantara yang sudah terkenal sebagai salah satu keluarga terkaya dengan bisnis yang sudah menjamur di berbagai bidang. Ia hanya bisa tersenyum sambil mengangguk-angguk sebagai balasan kepada para karyawan yang menyapa mereka.
Saga hanya mengangguk singkat sebagai balasan, lalu tanpa berhenti, ia kembali menggenggam tangan Rena dan menariknya masuk lebih dalam menuju area private lounge yang terletak di bagian dalam butik. Ruangan itu jauh lebih nyaman dengan sofa lembut dan dekorasi yang lebih pribadi, dengan deretan gantungan baju yang terpasang rapi di dinding belakang, berisi gaun-gaun rancangan desainer ternama dengan bahan berkualitas tinggi dan detail bordir yang sangat indah hingga membuat mata terpana melihatnya.
Saga langsung memberikan kode pada salah satu staf yang bertugas untuk membantu Rena.
"Ayo pilih," ucap Saga dengan suara yang santai sambil menunjuk ke arah deretan gaun mewah nan indah yang berjejer rapi di hadapannya.
"Pilih apa, Kak?" Rena masih terlihat bingung, matanya terus berkeliling melihat koleksi busana yang tak diragukan lagi memiliki harga yang sangat mahal. Tangannya ingin sekali menyentuh salah satu kain yang terlihat sangat lembut, tapi ia merasa sungkan.
Saga perlahan berbalik untuk menatap Rena dengan penuh perhatian, matanya yang biasanya tampak dingin kini terlihat sangat hangat dan penuh pemahaman. Senyum yang muncul di wajahnya membuatnya terlihat semakin mempesona.
"Ya pilih gaun lah untuk acara nanti!" ucapnya dengan suara yang pelan namun jelas terdengar di setiap sudut ruangan. "Kamu pasti butuh penampilan yang sempurna, jika ingin membuat mereka menyadari bahwa mereka telah membuat kesalahan besar dengan mengkhianati kamu."
Rena terpaku mendengar kata-kata itu. Matanya mulai berkaca-kaca, namun bukan air mata sedih yang mengendap di sana, melainkan air mata karena tersentuh dalam-dalam. Pria di hadapannya ini benar-benar mengerti segalanya tentang perasaan yang sedang ia simpan dalam hati. Bahkan hal-hal yang belum sempat ia ucapkan pun sudah bisa ia baca dengan sangat akurat, seolah ia bisa melihat langsung ke dalam hati Rena.
"Ka ... Kak Saga ..." ucap Rena dengan suara yang sedikit bergetar, tangannya secara refleks menggenggam kembali tangan Saga. Saga dengan senang hati menggenggam balik tangan Rena dan memberikannya kenyamanan.
"Om Saga! Aunty Cantik ...," seru dua bocah kembar dari arah pintu ruangan sambil berlarian kearah mereka.
Saga dan Rena langsung menoleh dan buru-buru melepaskan tautan tangan mereka. Rena sedikit terkejut dengan kedatangan tak terduga itu. Namun sedetik kemudian, matanya berbinar cerah dan ia langsung merentangkan tangan lebar-lebar menyambut kedua bocah lucu itu.
Bersambung ....