Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Terjebak dalam Labirin
Menunggu kematian datang menyapamu di dalam kegelapan adalah bentuk penyiksaan psikologis yang jauh lebih kejam daripada bilah pisau yang menyayat kulit.
Saat pintu baja di belakangku dibanting dan dikunci dari luar beberapa menit yang lalu, aku resmi terkurung di dalam perut gudang tua ini. Udara berbau debu, karat, dan kopra yang membusuk langsung menyumbat rongga dadaku. Aku berjongkok di balik pilar beton yang dingin, menggenggam gagang pistol Glock-19 dengan kedua tangan yang basah oleh keringat dingin. Moncong senjataku terarah lurus bergetar ke arah pintu masuk utama yang terbuat dari besi geser.
Lalu, alunan musik itu mulai terdengar.
Bukan suara derap langkah kaki tentara. Bukan pula suara teriakan ancaman. Melainkan alunan alat musik gesek dan paduan suara klasik yang bergema dari luar dinding gudang, menembus rintik hujan. Lacrimosa. Nyanyian misa untuk orang mati. Suaranya pecah, diwarnai distorsi statis dari pengeras suara usang, namun cacat audio itu justru membuatnya terdengar seperti ratapan para iblis yang memanggil dari dasar neraka.
Aku menekan punggungku kuat-kuat ke pilar beton, mencoba menstabilkan ritme jantungku yang berdebar liar, nyaris menjebol tulang rusukku.
Di luar sana, sebuah pembantaian sedang terjadi. Aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas di sela-sela dentuman musik klasik tersebut. Suara tembakan senapan serbu berperedam yang teredam pelan. Jeritan kesakitan manusia yang dipatahkan tulangnya di atas lumpur. Dan puncaknya, sebuah kilatan cahaya putih disusul ledakan granat kejut yang membuat lantai semen di bawah sepatuku bergetar hebat, mengirimkan gelombang kejut yang membuat telingaku berdenging ngilu.
Sang Joker sedang menari di luar sana.
Pria yang semalaman ini mengisi isi kepalaku, pria yang menutupi bahuku dengan jasnya di bawah hujan, sedang merobek nyawa orang-orang yang dikirim ayahku untuk membakarku.
Alunan paduan suara itu akhirnya mencapai nada penutupnya yang muram, dan perlahan-lahan meredup. Kegelapan dan kesunyian kembali menguasai malam, hanya diselingi oleh suara hujan yang menghantam atap seng gudang yang berlubang.
Lalu, terdengar suara letusan tembakan tunggal yang sangat nyaring.
CLANG!
Gembok rantai baja di pintu masuk utama hancur berkeping-keping. Pintu besi geser berkarat itu ditendang terbuka dengan kekuatan yang luar biasa, membelah kegelapan pekat di dalam gudang.
Angin badai yang membawa bau mesiu, darah segar, dan bensin langsung menyeruak masuk, menampar wajahku. Di ambang pintu, diterangi oleh pendaran lampu jalanan yang muram dan kilatan gerimis, berdirilah siluet itu.
Tinggi. Berbalut mantel hitam panjang yang basah kuyup dan berkibar ditiup angin. Di wajahnya, bertengger topeng porselen putih dengan senyuman asimetris yang membekukan darah di nadiku. Di tangannya, ia masih memegang senapan serbu milik salah satu pembunuh bayaran yang baru saja ia habisi.
Aku tidak menurunkan senjataku. Tanganku gemetar hebat, tapi bidikanku terkunci tepat di tengah dadanya.
"Berhenti di sana!" teriakku. Suaraku menggema di seluruh penjuru gudang yang kosong. Terdengar serak, dipenuhi oleh keputusasaan dan ketakutan yang mengaduk lambung. "Satu langkah lagi, dan aku bersumpah akan melubangi dadamu!"
Siluet itu diam mematung selama dua detik. Ia menatap ke luar gudang, melihat tubuh-tubuh anak buah Darmawan Salim yang terkapar di atas lumpur, sebelum akhirnya menoleh kembali menatapku.
Perlahan, jari-jarinya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam melepaskan genggamannya pada senapan tersebut. Senjata api itu jatuh berdebam ke lantai semen dengan suara klontang yang nyaring. Ia mengangkat kedua tangannya yang kosong sebatas dada, menunjukkan bahwa ia tidak lagi membawa ancaman fisik.
Namun, ia tidak berhenti. Ia mulai melangkah masuk.
Langkahnya pelan, teratur, dan sangat tenang. Genangan air hujan di lantai semen terciprat pelan di bawah sol sepatu botnya.
"Aku bilang berhenti!" raungku, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, mengaburkan pandanganku. Jari telunjukku menegang di atas pelatuk. "Jangan memaksaku untuk menarik pelatuk ini!"
Pria itu terus berjalan mendekat, masuk ke dalam lingkaran satu-satunya lampu sorot industri yang menyala di tengah gudang. Cahaya putih kekuningan kini menerangi seluruh sosoknya. Noda darah segar memercik melukis kerah mantelnya.
Saat jarak kami tersisa kurang dari empat meter, ia akhirnya berhenti.
Ia menurunkan kedua tangannya. Tangan kanannya bergerak naik, meraih ujung pinggiran topeng porselen putih itu, dan perlahan menariknya lepas dari wajahnya. Ia membiarkan topeng itu meluncur dari tangannya. Topeng itu berguling di lantai dengan suara nyaring, berhenti di dekat ujung sepatu ketsku.
Wajah di balik topeng itu akhirnya terungkap seutuhnya di bawah sorotan lampu.
Arlan.
Wajahnya pucat pasi, terlihat sangat kelelahan. Ada luka sayatan baru yang memanjang di atas tulang pipi kirinya, darah segar masih merembes tipis dari sana bercampur dengan air hujan. Kantung matanya hitam legam.
Namun, matanya tidak sekosong yang digambarkan oleh Bima, sang tentara bayaran di ruang interogasi. Saat ia menatapku sekarang, matanya dipenuhi oleh rasa sakit yang begitu dalam, sebuah penderitaan abadi yang akhirnya tumpah keluar dari wadahnya.
"Tembaklah, Elara," suaranya mengalun parau, mengalahkan gema suara hujan dari atap. Tidak ada modulator distorsi suara. Ini adalah suara asli Arlan. Suara pria yang memelukku beberapa jam yang lalu di apartemennya. "Jika lencana di sakumu terasa lebih berat daripada kebenaran yang baru saja kau temukan dari brankas ayahmu... tarik pelatuknya sekarang."
Napas di tenggorokanku tersendat keras. Aku memegang pistol itu dengan kedua tangan yang mati rasa, namun larasnya mulai bergetar dan perlahan turun.
"Mengapa kau datang kemari?" bisikku. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh menuruni pipiku, membasahi bibirku yang gemetar. "Aku tidak memintamu menyelamatkanku! Aku polisi! Aku bisa menjaga diriku sendiri!"
"Kau dikunci dari luar, El. Enam orang pembunuh bayaran sedang menyiramkan bensin beroktan tinggi ke sekeliling dinding tempatmu berdiri," Arlan menunjuk ke arah luar gudang dengan dagunya. "Darmawan menyewa mereka untuk memanggangmu hidup-hidup malam ini, lalu meninggalkan jejak kartu Joker agar seluruh negeri ini menyalahkanku atas kematian putrinya sendiri."
Kata-kata itu menghantamku seperti godam baja langsung ke dada. Darmawan Salim. Pria itu benar-benar berniat membunuhku. Karena aku membobol brankasnya. Karena aku tahu terlalu banyak tentang konspirasi pembunuhan Adrianus Wiratama. Bagi predator sekelas ayah angkatku, tidak ada kasih sayang yang tersisa jika itu mengancam kekuasaannya.
"Dia bukan ayahku!" jeritku, rasa sakit yang tak tertahankan merobek ulu hatiku. "Dia monster! Dan kau..." Aku menatap wajah Arlan yang babak belur, menangis tergugu. "...kau juga monster yang sama."
Arlan tersenyum pahit, sebuah senyuman yang penuh dengan kepasrahan. "Aku tidak pernah menyangkalnya, El. Aku adalah produk dari monster yang membesarkanmu."
Perhatianku beralih dengan cepat pada foto-foto polaroid yang berserakan di lantai, tumpah dari kotak logam jebakan yang kulempar tadi. Aku berjongkok, tangan kananku tetap menodongkan pistol ke arah Arlan, sementara tangan kiriku memungut sebuah foto hitam putih yang sudah menguning.
Itu adalah foto mendiang ayah angkatku, Detektif Arya. Pria berseragam yang sedang merangkul istri dan bayi perempuannya. Di sudut foto itu, terdapat stempel tinta merah bergambar wajah badut yang tersenyum.
Aku berdiri, melemparkan foto itu keras-keras ke dada Arlan. Foto itu melayang dan jatuh ke genangan air di dekat sepatunya.
"Lalu jelaskan ini padaku, Arlan!" teriakku, suaraku pecah oleh amarah dan kebingungan yang menyiksa kewarasanku. "Kau bilang kau hanya membunuh orang-orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan orang tuamu! Kau bilang kau hanya memburu lima Pilar Vanguard! Tapi kenapa foto ayah kandungku... ayah yang mengadopsiku sebelum Darmawan... ada di dalam kotak laknat ini?! Kenapa kau menandainya?!"
Arlan menunduk, menatap foto yang tergeletak di air itu. Sorot matanya melembut secara drastis. Ia tidak terlihat marah atau tersinggung dengan tuduhanku. Ia hanya terlihat sangat bersedih untukku.
"Aku tidak pernah menargetkannya, Elara," jawab Arlan pelan, nada suaranya mengayomi lukaku. "Dan aku tidak memberikan stempel merah di foto itu. Vanguard yang melakukannya."
Aku mengerutkan dahi, air mata menetes dari daguku. "Apa maksudmu?"
"Pria di foto itu... Detektif Arya," Arlan menyebut nama ayahku dengan penuh rasa hormat, membuat lututku serasa lemas. "Beliau adalah satu-satunya polisi yang berani jujur di kota ini sepuluh tahun yang lalu. Malam ketika mobil orang tuaku dibakar di dasar jurang, beliau adalah petugas forensik pertama yang tiba di lokasi kejadian."
Arlan melangkah maju satu langkah. Aku tidak mundur. Aku membiarkannya mendekat, membiarkan diriku mendengarkan kepingan sejarah yang selama ini dikubur dalam-dalam oleh kebohongan Darmawan.
"Detektif Arya menemukan bukti bahwa sistem hidrolik rem mobil ayahku telah dipotong secara sengaja menggunakan pemotong baja," lanjut Arlan, matanya tak lepas dari mataku, memastikan aku mendengar setiap silabelnya. "Ia menemukan jejak residu bahan bakar thermite di lokasi. Ia tahu itu bukan kecelakaan lalu lintas. Ia mencoba membuka penyelidikan resmi, mengancam akan membongkar laporan palsu yang dikeluarkan oleh Hakim Setiawan dan Handoko Salim."
Bibirku mulai bergetar hebat. Memori masa kecilku kembali berkelebat seperti kilatan lampu blitz. Malam-malam di mana ayahku pulang dengan wajah lelah, mengunci diri di ruang kerjanya, berteriak marah di telepon dengan komandan resersenya.
"Lalu... lalu apa yang terjadi padanya?" tanyaku terbata-bata. Laras pistolku kini sudah sepenuhnya menunjuk ke tanah.
"Vanguard tidak menyukai polisi yang menolak uang suap," suara Arlan merendah, berat oleh duka masa lalu. "Darmawan Salim memberikan label 'Target Pembersihan' pada ayahmu. Stempel badut merah di foto itu bukanlah jejak sang Joker, El. Itu adalah stempel merah milik divisi pembersih Vanguard, sebuah kode internal yang menandakan bahwa nyawa orang di foto itu harus dihabisi."
Air mata mengalir semakin deras membasahi wajahku, menetes ke kerah kausku. Pistol di tanganku kini terasa sangat berat, seolah gravitasi bumi tiba-tiba berlipat ganda.
"Mereka membunuhnya," isakku, memori hari pemakaman ayahku yang ditutupi oleh peti berselimut bendera negara menyayat hatiku. "Komandan bilang dia tewas secara heroik dalam baku tembak dengan perampok bank..."
"Perampok bank itu adalah tim pembunuh bayaran yang disewa dan diatur oleh Jenderal Sudiro," Arlan mengonfirmasi mimpi buruk terdalamku. Ia terus melangkah mendekat, hingga ujung sepatunya menyentuh ujung sepatu ketsku. Ia tidak memedulikan pistol di tanganku. "Setelah ayahmu terbunuh, ibumu jatuh sakit karena depresi dan meninggal setahun kemudian. Kau menjadi anak yatim piatu."
"Dan Darmawan Salim datang mengadopsiku sebagai pahlawan..." bisikku, menyatukan seluruh kepingan teka-teki memuakkan yang membungkus hidupku ini.
"Darmawan mengadopsimu bukan karena ia berhati mulia atau kasihan pada putri rekannya, Elara. Ia mengadopsimu untuk menjaga anak dari musuhnya tetap berada di bawah pengawasannya," jelas Arlan tajam. "Ia memberimu kemewahan, menyekolahkanmu di akademi terbaik, mencuci otakmu agar kau merasa berutang budi dan tidak pernah mencari tahu mengapa ayah kandungmu mati."
Arlan mengangkat tangan kanannya perlahan. Aku tidak menepisnya saat ibu jarinya yang terbungkus kulit hitam mengusap air mata dari tulang pipiku. Sentuhannya terasa luar biasa hangat di tengah hawa dingin gudang ini.
"Kau dan aku," bisik Arlan, menatap lurus menembus korneaku. "Kita berdua hanyalah dua anak yang hidupnya dirampas dan dihancurkan oleh pria yang sama. Kita sama-sama terjebak di dalam labirin kebohongan yang ia bangun."
Lututku akhirnya menyerah total. Tubuhku merosot ke bawah, kehilangan daya topangnya.
Namun, Arlan bergerak lebih cepat. Ia menangkap lenganku, menahan tubuhku agar tidak jatuh ke lantai, dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku membenamkan wajahku ke dadanya yang basah oleh hujan, membiarkan pistol Glock-ku terlepas dari jari-jariku dan jatuh berdebam ke genangan air.
Aku menangis histeris. Seluruh pertahanan emosional yang kubangun selama sepuluh tahun sebagai detektif polisi yang tangguh hancur lebur menjadi debu malam ini. Ayah kandung yang kupuja dibunuh oleh pria yang memberiku makan. Lencana kebanggaan yang kubawa ini berlumuran darah keluargaku sendiri.
Di tengah isak tangisku yang menyayat hati, Arlan memelukku semakin erat, menyandarkan dagunya di puncak kepalaku. Ia tidak mengucapkan kata-kata penenang palsu bahwa 'semuanya akan baik-baik saja'. Ia tahu bahwa bagi kami, tidak ada kata yang bisa menyembuhkan luka sejarah ini.
Namun, momen kerapuhan kami tidak berlangsung lama.
Bau uap bensin beroktan tinggi yang sangat menyengat tiba-tiba memenuhi rongga udara di dalam gudang. Jauh lebih pekat dari sebelumnya.
Arlan tersentak. Kepalanya mendongak dengan cepat, menatap liar ke arah pintu geser yang terbuka di belakang kami. Otot-otot punggungnya yang sedang kupeluk kembali menegang seperti pegas baja yang siap melontar.
"Arlan? Ada apa?" tanyaku, mendongak menatap wajahnya yang tiba-tiba mengeras. Aku mengusap sisa air mata di wajahku.
"Tadi... di luar ada enam orang," gumam Arlan, matanya menyapu kegelapan di luar pintu gudang, mencari anomali. "Aku hanya melumpuhkan enam orang pembunuh bayaran."
"Lalu apa masalahnya?"
"Laporan penyadapan radio Vanguard," Arlan menelan ludah, menarikku perlahan untuk bersembunyi di belakang punggungnya. "Disebutkan Tim Eksekusi Delta. Tim pembersih milik Darmawan selalu beroperasi dalam formasi tujuh orang. Selalu ada satu orang spesialis bahan peledak yang menjaga jarak dari perimeter utama sebagai asuransi."
Sebuah suara tepuk tangan yang lambat dan ritmis menggema dari arah luar gudang.
Prok. Prok. Prok.
Dari balik tirai gerimis dan bayang-bayang mobil van yang ringsek, muncullah seorang pria. Ia mengenakan jas hujan panjang berwarna kuning kusam yang melambai ditiup angin laut. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah pelontar suar (flare gun) berwarna oranye terang.
Moncong senjata pelontar itu tidak diarahkan kepada kami di dalam gudang, melainkan diacungkan merunduk ke arah genangan bensin yang telah disiramkan teman-temannya membentuk garis panjang menyelimuti pintu masuk.
Pria itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang menguning.
"Ternyata rumor di pasar gelap itu benar," pria berjas hujan kuning itu berteriak menembus suara hujan, suaranya melengking dan dipenuhi oleh kepuasan seorang psikopat. "Sang Joker yang agung memiliki kelemahan yang sangat fatal. Seorang wanita. Dan kau cukup bodoh untuk masuk ke dalam kandang yang sudah dilumuri bensin demi dirinya."
Arlan memposisikan tubuhnya sepenuhnya di depanku, menjadi perisai fisik. Tangan kanannya merogoh saku, namun aku tahu itu percuma. Ia sudah kehabisan granat kejut, dan senapan di lantai tadi sudah dibuang karena kehabisan peluru. Jarak pria berjas kuning itu terlalu jauh untuk lemparan pisau dalam kondisi minim cahaya.
"Bapak Darmawan Salim mengirimkan salam hangat untuk putrinya dan untukmu," lanjut pria itu, menaikkan pelatuk flare gun dengan ibu jarinya hingga berbunyi klik. "Ia berharap kalian menikmati waktu reuni keluarga di neraka."
Pria itu menarik pelatuknya.
Suara letupan keras memekakkan telinga merobek udara. Peluru suar menyala merah melesat keluar, membentuk parabola terang di udara malam, sebelum akhirnya jatuh menghantam tepat di tengah genangan bensin.
WUSHHH!
Dinding api berwarna oranye dan biru menyambar dengan kecepatan ledakan. Dalam hitungan detik, api buas itu menjalar ke kiri dan kanan, menelan seluruh perimeter luar Gudang 14. Hawa panas yang luar biasa ekstrem langsung menampar wajah kami, memaksa oksigen di dalam gudang tersedot keluar untuk memberi makan kobaran api yang marah.
Pintu keluar utama kini sepenuhnya tertutup oleh tirai api setinggi tiga meter yang mustahil ditembus tanpa membakar daging hingga ke tulang. Pintu besi kecil di samping sudah dikunci mati sejak awal.
Kami terjebak di dalam oven beton raksasa.
Atap seng gudang mulai mengeluarkan suara derit yang mengerikan akibat pemuaian panas yang mendadak. Asap hitam pekat yang berbau bahan kimia beracun mulai memenuhi langit-langit ruangan, turun perlahan layaknya selimut tebal yang akan membuat paru-paru kami berhenti berfungsi sebelum api sempat menyentuh kulit kami.
Arlan berbalik menatapku. Wajahnya disinari oleh pantulan cahaya api yang berkobar ganas. Tidak ada ketakutan akan kematian di sepasang mata cokelatnya, yang ada hanyalah penyesalan yang luar biasa mendalam.
"Maafkan aku, El," bisiknya parau di tengah gemuruh suara api yang kini mulai melahap tumpukan kayu palet di dalam gudang, perlahan mengepung posisi kami. "Aku berniat menyelamatkanmu, tapi aku justru membawamu masuk ke dalam kematianku."