Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Detak yang Tertukar
Di dalam keranda itu, ruang bukan lagi dimensi yang masuk akal.
Secara logika, kotak jati itu tak mungkin lebih lebar dari bahu laki-laki dewasa, tapi di dalamnya, Kinasih merasa seperti tenggelam dalam lautan beludru hitam yang tak bertepi.
Dinginnya tidak masuk akal. Dingin yang tidak hanya menusuk kulit, tapi seolah menghisap semua kenangan hangat yang pernah Kinasih miliki.
"Napasmu berisik sekali, Kinasih..."
Suara itu bukan berasal dari telinga.
Suara itu bergema langsung di dalam tengkoraknya. Kinasih mencoba bergerak, tapi ia sadar ia benar-benar terkunci dalam pelukan sosok itu.
Kain kafan yang kasar dan lembap bergesekan dengan pipinya.
"Lepasin... tolong, lepasin," rintih Kinasih. Air matanya membeku di sudut mata.
"Kalau aku lepas, kau akan jatuh ke bawah. Dan di bawah sana, hanya ada mereka yang lapar."
Kinasih memberanikan diri membuka mata sedikit. Di kegelapan total itu, ia melihat dua titik cahaya redup berwarna merah pucat.
Itu bukan mata.
Itu seperti bara api yang hampir padam di dasar sumur.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa orang desa bilang kamu penjaga?"
Sosok itu tertawa.
Suaranya seperti gesekan tulang kering.
"Penjaga? Lucu sekali.
Manusia selalu butuh istilah bagus untuk menyebutkan 'penculik'.
Aku bukan penjaga mereka, Kinasih.
Aku adalah hutang mereka."
"Maksudmu?"
"Kakek buyutmu menjanjikan sesuatu seratus tahun lalu agar sawah ini tidak pernah kering.
Dia janji akan memberiku 'jantung yang hidup' setiap satu abad.
Dan lihatlah dirimu... jantungmu berdetak sangat kencang.
Deg-dug.
Deg-dug.
Indah sekali."
Tiba-tiba, Kinasih merasakan tangan dingin itu merayap ke arah dadanya.
Bukan dengan nafsu, tapi dengan rasa ingin tahu yang mengerikan.
Jari-jari panjang itu menekan tepat di atas jantung Kinasih.
"Jangan! Ambil apa saja, asal jangan jantungku!"
"Aku tidak mengambilnya, Kinasih.
Aku hanya meminjamnya sebentar.
Biarkan aku merasakan bagaimana rasanya menjadi hidup kembali."
ZLAP.
Kinasih tersentak hebat.
Punggungnya melengkung.
Ia merasa seolah-olah ada kabel panas yang ditarik paksa dari dalam dadanya.
Rasa sakitnya begitu hebat hingga ia bahkan tidak bisa berteriak.
Detik itu juga, kesunyian di dalam keranda pecah oleh suara baru.
Deg...
Dug...
Suara detak jantung yang berat dan lambat.
Tapi suara itu tidak berasal dari dada Kinasih.
Suara itu berasal dari dada sosok kafan itu.
"Ah... begini rasanya. Hangat," bisik sosok itu.
Kinasih lemas.
Ia merasa hampa. Ia masih bernapas, tapi di dalam dadanya terasa kosong, seperti ada lubang hitam yang menghisap tenaganya.
"Balikin..." suara Kinasih nyaris hilang.
"Sabar, Pengantinku. Malam masih panjang. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan sebelum fajar mencuri keberadaanku lagi."
Sementara itu, di luar kamar yang terkunci, Bima sedang mengamuk.
Kedua pria yang menyeretnya tadi sudah pergi, mungkin bergabung dengan warga lain untuk berpesta pora merayakan "keberhasilan" ritual.
Bima berdiri di depan pintu kayu, bahunya berdarah karena terus-menerus mencoba mendobrak.
"Nasih! Kamu dengar aku?!" teriak Bima.
"Percuma, Bim. Pintu itu sudah dirajah pakai darah ayam cemani. Kamu mau hantam pakai truk pun nggak akan terbuka."
Bima menoleh.
Di bawah bayangan pohon kamboja, berdiri seorang gadis kecil berpakaian kumal.
Namanya Sari, cucu Mak Saroh yang sering dianggap gila oleh orang desa karena suka bicara sendiri.
"Sari! Kamu punya kuncinya, kan? Nenekmu pasti simpan kuncinya!" Bima menghampiri Sari, mencengkeram bahu kecil itu.
Sari menggeleng, matanya yang besar menatap pintu kamar Kinasih dengan ngeri.
"Bukan kunci besi yang bisa buka itu, Kak Bima. Tapi kunci nyawa."
"Jangan bicara teka-teki sekarang! Kinasih bisa mati di dalam sana!"
"Dia nggak akan mati," Sari berbisik, suaranya gemetar.
"Tapi dia bakal jadi 'Liyan'.
Setengah manusia, setengah bayangan. Kayak Kakak yang di dalam keranda itu."
"Kakak? Kamu kenal sosok di dalam itu?"
Sari mengangguk pelan. "Itu kakek buyut kita, Kak Bima.
Dia yang pertama kali dijual sama desa ini buat jadi tumbal.
Dia nggak jahat... dia cuma kesepian.
Dia cuma pengen ditemani tidur."
Bima tertegun.
"Jadi... penjaga desa itu sebenarnya korban juga?"
"Semua orang di desa ini pelaku, Kak. Termasuk kita yang diam saja."
Sari tiba-tiba menyodorkan sebuah bungkusan kain kecil.
"Kalau Kak Bima beneran mau tolong Kak Nasih, lempar ini lewat lubang udara di atas pintu.
Tapi hati-hati, kalau 'Dia' marah, Kak Bima nggak akan punya bayangan lagi besok pagi."
Bima membuka bungkusan itu.
Isinya hanya sepotong kunyit yang sudah diukir menyerupai jantung manusia dan sebungkus garam kasar.
"Buat apa ini?"
"Buat nipu 'Dia'.
Biar dia pikir jantung Kak Nasih sudah busuk dan nggak enak buat dipinjam."
Kembali ke dalam keranda.
Kinasih merasa kesadarannya mulai memudar.
Kepalanya bersandar di dada sosok itu.
Ironisnya, ia mulai merasa hangat.
Tapi itu bukan hangat yang sehat.
Itu hangatnya demam tinggi yang mematikan.
"Kenapa namamu tidak pernah disebut, Wahai Penjaga?" Kinasih bertanya, mencoba tetap sadar.
"Karena menyebut namaku berarti memanggil kutukan.
Mereka takut padaku, tapi mereka butuh aku.
Bukankah manusia memang begitu? Memuja apa yang mereka takuti?"
"Nama kamu siapa?"
Sosok itu terdiam lama.
Detak jantung pinjaman di dadanya berdegup makin cepat, seolah merespons pertanyaan itu.
"Namaku... dulu... adalah Baskoro. Aku dulu seorang penari.
Aku suka cahaya matahari. Tapi sekarang, aku hanya sepotong kayu yang bernapas."
Kinasih merasakan kesedihan yang amat sangat terpancar dari sosok Baskoro.
Ia tidak merasakan aura iblis yang haus darah. Ia hanya merasakan kesepian yang sudah berkarat selama seabad.
"Baskoro... maafkan mereka," bisik Kinasih tanpa sadar tangannya bergerak mengelus punggung tangan hitam yang kasar itu.
Sosok itu tersentak. "Kau... kau mengelusku? Kau tidak jijik?"
"Aku juga nggak punya siapa-siapa di dunia ini.
Kita sama-sama sendirian."
Detik itu, suasana di dalam keranda berubah.
Hawa dingin yang menusuk perlahan melunak.
Namun, suasana damai itu hancur saat sebuah benda keras jatuh dari atas dan menghantam tutup keranda.
PLUK.
Suara garam yang tumpah dan aroma kunyit yang menyengat masuk lewat celah-celah kayu.
"Nasih! Pakai garamnya! Lempar ke mukanya!" teriak suara Bima dari luar.
Baskoro menggeram. Suaranya berubah menjadi sangat menyeramkan.
"Temanmu... dia mencoba mengganggu pernikahan kita..."
"Bima, jangan!" teriak Kinasih.
Tapi terlambat. Baskoro bangkit.
Kekuatan yang luar biasa membuat tutup keranda itu terlempar hingga hancur berkeping-keping.
Kinasih ikut terlempar ke lantai kamar yang dingin.
Asap hitam pekat keluar dari reruntuhan kayu jati.
Baskoro berdiri di tengah kamar, kafannya melambai-lambai ditiup angin gaib.
Wajahnya yang tertutup kain kini menatap ke arah pintu, ke arah Bima yang mengintip dari lubang udara.
"Kau... berani... merusak... malamku..."
Baskoro melayang menuju pintu.
Kuku-kukunya yang tajam mulai memanjang, siap untuk merobek apa pun yang menghalanginya.
"Baskoro, berhenti!" Kinasih berlari dan memeluk kaki sosok itu.
"Dia cuma mau nolong aku! Jangan sakiti Bima!"
"Dia menghinaku dengan garam busuk ini, Kinasih! Dia pikir aku setan rendahan?!"
Baskoro mengangkat tangannya, siap menghantam pintu kayu itu hingga hancur.
Di balik pintu, Bima terdengar gemetar namun tetap bertahan.
"Nasih, lari! Lewat jendela!"
"Nggak bisa, Bima! Pintunya nggak bisa dibuka!"
Tiba-tiba, suara Mak Saroh terdengar dari kejauhan, berteriak panik.
"Jangan dibuka! Kalau dia keluar sebelum subuh, desa ini bakal kiamat!"
Warga desa mulai berdatangan dengan obor.
Mereka mengepung kamar itu. Suasana kacau. Di dalam kamar, Baskoro makin menggila.
Bayangannya menutupi seluruh dinding, berubah-ubah menjadi bentuk monster yang mengerikan.
"Baskoro, lihat aku!" Kinasih berdiri di depan Baskoro, menantang maut.
"Kamu bilang kamu suka cahaya matahari, kan? Kalau kamu bunuh Bima dan keluar sekarang, kamu nggak akan pernah lihat matahari lagi. Kamu cuma bakal jadi hantu yang dibenci selamanya!"
Baskoro berhenti.
Tangannya yang besar menggantung di udara, hanya beberapa senti dari wajah Kinasih.
"Kau membela laki-laki itu?"
"Aku membela kamu agar kamu nggak makin kehilangan kemanusiaanmu!"
Kinasih mengambil bungkusan kunyit dari lantai.
Ia tidak melemparnya ke Baskoro.
Ia justru menggenggamnya erat. "Bima cuma nggak tahu apa-apa.
Tolong, masuk lagi ke dalam keranda. Aku bakal temani kamu sampai pagi. Aku janji."
Baskoro menatap Kinasih lama.
Detak jantung di dada Baskoro—jantung milik Kinasih—berdenyut lambat, mulai selaras dengan napas Kinasih.
"Kau... akan tetap tinggal? Meskipun kau tahu apa yang akan terjadi padamu saat subuh nanti?"
"Apa yang akan terjadi?"
"Kau tidak akan bisa kembali ke duniamu sepenuhnya, Kinasih.
Kau akan selalu mencium bau melati dan bangkai. Kau akan selalu melihat apa yang orang lain tidak lihat."
Kinasih menoleh ke arah pintu yang terkunci, tempat Bima terus memanggil namanya.
Lalu ia menoleh ke arah Baskoro, sosok kesepian yang terlupakan.
"Aku sudah terbiasa dengan kegelapan, Baskoro.
Sepertinya, menjadi Pengantin Keranda tidak seburuk menjadi manusia yang saling mengkhianati di luar sana."
Baskoro perlahan mengecil.
Sosok monsternya hilang, kembali menjadi sosok kafan yang ringkih.
Ia mengulurkan tangannya yang hitam.
"Kalau begitu, kemarilah. Mari kita habiskan sisa malam ini dalam damai."
Kinasih menyambut tangan itu. Di luar, suara warga desa makin bising, tapi di dalam kamar itu, semuanya mendadak senyap.
Kinasih dan Baskoro duduk di atas sisa-sisa reruntuhan keranda, menunggu fajar yang mungkin akan mengubah hidup Kinasih selamanya.
"Bim..." bisik Kinasih pelan, cukup untuk dirinya sendiri. "Pulanglah. Aku sudah menemukan tempatku."
Malam itu, rahasia Karang Jati bukan lagi soal tumbal, tapi soal dua jiwa yang saling menemukan di tengah pekatnya kutukan.
Dan saat fajar menyingsing, Mak Saroh menemukan pintu kamar sudah terbuka dari dalam, tapi Kinasih tidak ada di sana.
Yang ada hanyalah sebuah keranda jati yang sudah utuh kembali, seolah tidak pernah hancur, dengan aroma melati yang kini lebih harum dari biasanya.
Di dalam keranda itu, Kinasih pulas, memeluk sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang, dengan detak jantung yang kini berdetak dua kali lebih kuat dari manusia biasa.