"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.
Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.
" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."
_________________________________________________
Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.
Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
"Dasar wanita Sundal! Sudah dikasih hidup enak masih saja bertingkah!" Suara teriakan Handoko menggema di kamar mereka.
Ruangan itu tak lagi nampak seperti kamar. Semua benda berserakan bak kapal pecah setelah keduanya bertengkar. Wajah Sherly saat ini bahkan sudah lebam karena pukulan dan tamparan suaminya.
"Lo hapus vidio itu sekarang, terus lo bikin vidio klarifikasi kalau apa yang lo lakukan itu kekhilafan. Bikin malu aja!"
Sherly tersenyum miring. "Ngapain gue musti nurut kata-kata lo?"
"Berani ngelawan, lo, ya?" Handoko sekali lagi menampar mulut Sherly. Ia menjambak rambut wanita itu dan menyeretnya ke luar kamar.
"Sakit, Mas ... sakit," teriak Sherly.
"Lo ikuti kata gur atau lo liat apa yang bisa gue lakuin sama lo dan keluarga miskin lo itu!" Sorot mata Handoko tak main-main.
"Iya, Mas ... ampun, Mas. Aku bakal hapus vidionya dan bakal bikin klarifikasi." Sherly tak tahan lagi. Ia harus kembali menyerah kali ini. Ia tak mau nyawanya dan nyawa keluarganya berakhir mengenaskan di tangan suaminya.
Handoko dengan kasar melepas rambut Sherly, membuat wanita itu langsung tersungkur ke lantai. "Gue tunggu, kalau lo macem-macem. Jangan salahkan gue kalau gue bikin habis keluarga lo!"
Sherly mengangguk takut. Ia menangis sejadi-jadinya usai suaminya keluar rumah.
Di dalam mobil Handoko menelepon seseorang. "Sudah saya lakukan, Pak. Saya tunggu janji Bapak."
*****
"Ini laporan pembukuan rumah tangga, Rea. Sekarang kamu yang pegang. Kamu yang urus semua keperluan rumah ini sekarang." Yunita menyerahkan buku yang selama ini Yunita kelola.
Sebenarnya, Dewa tak butuh laporan apa pun dari maminya. Toh, ia mencari uang memang bertujuan untuk membahagiakan maminya. Tapi, Yunita sendiri yang bersikeras agar setiap pengeluaran dalam rumah tangga ini ada catatannya. Agar tahu dengan jelas ke mana setiap uang Dewa keluar. Mungkin karena dulu ia seorang sekretaris, jadi kebiasaan tentang kerapihan keuangan terbawa sampai di rumah.
"Tapi, Mi ... Rea belum pantas menerima tanggung jawab ini," tolak Rea dengan halus. Ia kembali menyerahkan buku itu pada Yunita.
"Enggak, Rea. Ini tugas kamu sekarang. Mami sudah tua, sekarang kamu yang harus urus Dewa dan rumah ini." Yunita mendorong buku itu pada Rea.
"Mi, Rea ...." Rea menatap Dewa. Ia takut menerima tanggung jawab ini.
Dewa yang sejak tadi berdiri di ujung tangga memegang ponsel, menyadari istrinya sedang bingung.
"Terima aja, Sayang. Kalau Mami minta kamu urus rumah ini, berarti memang kamu pantas dan mampu untuk melakukannya." Dewa mendekat menghampiri Rea. Memeluknya dari belakang, lalu mencium pipi Rea di depan maminya tanpa sungkan.
"Mas ...." Sorot mata Rea jelas sekali menampakkan keraguan. Ia tak bisa menerima tanggung jawab ini. Ia bahkan tidak bisa jujur dengan pernikahannya, bagaimana ia akan mengelola keuangan rumah tangga, sementara itu menyangkut hidup banyak orang.
Ini bukan hanya sekadar belanja bulanan. Ada gaji karyawan juga yang harus dibayar.
"Udah, terima aja. Aku yakin kamu bisa." Dewa meyakinkan. Lagi-lagi ia mencium pipi Rea.
"Benar kata Dewa, Rea. Kamu pasti bisa Mami yakin itu." Yunita turut meyakinkan.
Dengan ragu Rea menerima tanggung jawab yang diberikan ibu mertuanya.
"Oh, ya ... Kayaknya bahan keperluan dapur udah habis. Tugas pertama kamu belanja kebutuhan dapur sekarang," ujar Yunita.
"Aku temani," cetus Dewa.
"Nah, bagus itu kalau Dewa mau menemani. Sekalian kalian jalan-jalan. Rea belum pernah ke mana-mana, kan sejak menikah. Bahkan kalian belum sempat bulan madu."
"Iya, Mi, biar Dewa temani Rea belanja. Kalau soal bulan madu, nanti aja nunggu jadwal Dewa, dulu. Iya, kan, Sayang?" Dewa menatap Rea penuh arti.
"I-iya, Mas," jawab Rea ragu.
Bulan madu apaan? Pernikahan aja hanya status.
"Kamu siap-siap gih, aku siapin mobil."
Rea mengangguk. Ia pun pergi ke kamar untuk berganti baju.
Ia keluar dengan gamis berwarna peach dipadupadankan dengan hijab dan cadar berwarna abu-abu muda. Kesan bersih dan natural terpancar dari sana.
Rea pamit pada Yunita sebelum keluar, sekaligus meminta daftar belanja apa saja yang nanti harus dia beli.
"Beli apa pun sesukamu, yang pasti kebutuhan pokok kita yang sudah ada di daftar ini." Yunita menyerahkan catatan belanja pada Rea.
Rea mengangguk paham sebelum mencium tangan Yunita dan pamit. Di luar, Dewa sudah mengeluarkan mobil dari garasi.
Dewa sampai terpana melihat Rea yang baru saja masuk dan duduk di sampingnya.
"Ayo jalan, Mas," ajak Rea.
Dewa justru terdiam.
"Mas ...." Rea menatap dirinya sendiri. Melihat lagi apa ada yang salah dari penampilannya, sampai Dewa menatapnya aneh.
"Ada yang salah ya, Mas?" tanya Rea memastikan. Sebab ia merasa ia sudah rapi dan sopan dalam berpakaian.
Dewa menggeleng. "Enggak. Hanya saja ...."
"Hanya saja kenapa?" Rea penasaran. Mumpung masih di rumah ia bisa berganti baju kalau ada yang salah.
Dewa membawa tubuhnya mendekat pada Rea. "Hanya saja, kamu terlalu cantik."
"Ish!" Rea kesal dengan rayuan Dewa. Ia pun menghadiahi dengan cubitan yang tak main-main.
"Argh! ampun, Sayang!"
"Mas Dewa tuh bikin aku bingung tau. Kupikir aku salah kostum." Rea mencebik kesal.
"Enggak ada yang salah. Hanya aku tuh takut makin nggak bisa lepas dari kamu."
"Mas! Cubit lagi ni!" Rea mengangkat tangannya.
"Jangan dong, sakit kalau dicubit. Mending dicium." Dewa menunjuk pipinya.
"Udah, tar nggak berangkat-berangkat lagi dengerin Mas Dewa ngegombal."
Dewa tertawa melihat Rea bersungut-sungut.
Meski awalnya berniat menggoda Rea, tapi apa yang Dewa katakan jujur dari hati. Semakin hari semakin dekat dengan Rea, semakin ia takut tidak bisa lepas dari gadis itu.
Ternyata aksi Dewa menggoda Rea tak berhenti begitu saja. Sepanjang jalan bahkan saat menemani belanja, Dewa terus saja menggunakan kesempatan untuk menggoda Rea. Rasanya seperti keasikan tersendiri menggoda istri.
Meski awalnya kesal dan canggung, lama-lama Rea bisa juga mengikuti permainan Dewa. Ia membalas setiap rayuan Dewa dengan sama konyolnya.
"Udah semua kan, Mas?" Rea kembali melihat daftar belanja yang diberikan Yunita.
"Kayaknya sih, udah."
"Oh, ada yang terlupa, Mas." Rea ingat sesuatu.
"Apa?"
"Nanti Mas Dewa juga tahu." Rea berjalan mendahului Dewa. Pria itu mendorong troli mengikuti sang istri.
Rea berhenti dibarisan pembalut. Ia melihat-lihat berbagai merk pembalut, dan mencari merk yang ingin ia beli. Rupanya di rak paling atas. Rea berusaha menjangkau tapi tangannya tak sampai.
Tiba-tiba Rea merasakan tubuhnya melayang, dan ia bisa mengambil pembalut yang ia inginkan. Ternyata Dewa mengangkat tubuhnya dengan memegang pinggangnya.
"Terima kasih, suamiku," ujar Rea.
Dewa tertawa. "Sama-sama istriku."
Keduanya akhirnya tertawa bersama. Kejadian ini dilihat beberapa pengunjung yang ada di sana. Namun, Dewa dan Rea mengabaikannya.
Mereka terus melanjutkan aktifitas belanja mereka sampai selesai. Dari supermarket, Dewa dan Rea berencana untuk makan siang di pusat perbelanjaan ini. Mumpung bisa jalan bersama, mereka tak menyiakan kesempatan.
"Kita ke sana ya, Mas?" Rea menunjuk restoran jepang yang ada di sana.
"Ok." Dewa setuju saja, karena dari awal ia memang ingin memenuhi apa yang Rea inginkan.
Mereka berjalan dengan bergandengan tangan menuju restoran Jepang.
"Selamat siang, Mas Dewa." Seseorang menghentikan langkah keduanya.
Dewa menatap tidak suka dengan orang yang tiba-tiba muncul di depannya ini. Sedangkan Rea jelas sekali bingung karena tak kenal siapa pria yang menghentikan mereka.
"Tuan ingin bertemu dengan Mas Dewa," ujar pria itu.
"Gue nggak ada waktu!" jawab Dewa ketus.
"Tapi, Tuan ingin berkenalan dengan Mbak Rea."
Mata Dewa membelalak. Rupanya pria tua itu sudah tahu ia menikah.