Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Rumah yang Bukan Karena Aku
“Ulangi.”
Suara Andreas rendah, tetapi cukup membuat seluruh ruangan menegang.
Belvina membuka mulut.
“Yah, aku—”
Namun Alden berdiri lebih dulu.
“Tidak perlu dibesar-besarkan.” Nadanya datar, terlalu cepat untuk disebut tenang. “Hanya sedikit salah paham.”
Semua kepala beralih kepadanya.
Andreas perlahan menurunkan tangan dari dadanya. Pandangannya kini tertuju pada putranya sendiri.
“Seburuk apa kau,” ucapnya dingin, “sampai wanita ini memilih pergi tepat saat akhirnya diterima di rumahku?”
Rahang Alden mengunci.
Belvina hendak bicara lagi.
“Yah, ini bukan—”
“Cukup.”
Kali ini Alden memotong lebih tegas. Ia meraih pergelangan tangan Belvina. Tidak kasar, tetapi juga tidak memberi ruang untuk menolak.
“Kami akan bicara berdua.”
“Al—”
Belvina belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika Alden sudah menariknya berdiri. Langkah pria itu mantap menuju koridor, memaksanya ikut.
Pintu kamar lantai atas tertutup tak lama kemudian.
Fransisca masih berdiri di dekat meja, satu tangan menekan dada sendiri.
“Ya Tuhan…”
Ia menatap ke arah tangga dengan wajah cemas.
“Kenapa caranya selalu begitu? Kalau bicara baik-baik apa sulitnya?”
Nada itu jelas ditujukan pada Alden.
Alena masih memegang sendok, belum sadar benda itu menggantung di udara.
“Kak Alden barusan panik?”
Ia menoleh pada Arsen.
“Dia panik, ‘kan?”
Suaranya campur aduk antara terkejut dan tak percaya. Selama ini, kakaknya selalu terlihat paling terkendali.
Arsen menyandarkan tubuh ke kursi.
“Gila…”
Ia terkekeh kecil, masih mencerna kejadian tadi.
“Berarti Kak Belvina benar-benar bikin dia kena.”
Ini kali pertama nada meremehkan itu hilang. Digantikan rasa hormat tipis.
Andreas menarik napas perlahan. Tatapannya tetap ke arah tangga.
“Ayah tak pernah ingin melihatnya seperti itu.”
Dahi Fransisca berkerut.
“Maksud Ayah?”
Andreas menjawab tanpa mengubah nada.
“Sama-sama terlambat sadar… lalu memilih memaksa.”
Kalimat itu terasa lebih berat daripada kemarahan.
Sementara itu di lantai atas—
Pintu kamar tertutup rapat. Bunyi klik kunci terdengar kecil, namun cukup mengubah udara.
Belvina langsung menarik tangannya dari genggaman Alden.
“Sekarang,” katanya rendah, “kau mau menjelaskan salah paham yang mana?”
Alden berdiri beberapa langkah darinya. Napasnya teratur, tetapi ketegangan masih jelas di wajahnya.
“Kau sengaja bicara di depan semua orang. Berharap mereka mendukungmu. Kau salah.”
“Benarkah?” Belvina melipat tangan. “Kupikir aku hanya jujur.”
“Itu bukan tempatnya.”
“Lalu kapan?” balas Belvina cepat. “Saat kita berdua dan kau mengabaikanku? Saat aku bicara lalu kau menganggapnya angin lewat?”
Bahunya menegang.
“Jangan memelintir keadaan.”
Belvina tertawa pendek. Tidak hangat.
“Keadaan?” Ia mengangkat tangan, menunjuk dada Alden dengan ujung jari. “Kau yang mengabaikanku sejak kita menikah. Sekarang saat aku ingin berpisah, kau bilang aku memelintir keadaan?”
Alden menunjuk pintu.
“Ayahku sampai menahan dada karena syok.”
Ekspresi Belvina berubah sesaat. Ia tahu itu benar.
“Jadi aku harus bertahan selamanya denganmu?” Ia maju selangkah. “Dalam pernikahan tanpa cinta?” Suaranya turun. “Sampai kapan aku harus pura-pura cukup hanya karena status?”
Alden menjawab tanpa ragu.
“Kau istriku.”
Belvina menggeleng pelan.
“Itu jawaban kepemilikan. Bukan jawaban perasaan.”
Kalimat itu menghantam tepat ke pusat egonya.
Alden meraih sisi pinggang Belvina. Tidak kasar, namun cukup menahan geraknya.
“Aku tidak bilang aku akan melepaskanmu.”
“Dan itu masalahnya.”
Jempol dan telunjuk Alden naik menahan dagunya, memaksa wajah itu terangkat.
Belvina menahan kesal, tetapi tidak mundur.
“Meski kau tak menyukaiku lagi,” katanya rendah, “setidaknya jangan egois sampai mengorbankan orang-orang yang menyayangimu.”
Alis Belvina berkerut.
“Maksudmu?”
“Bunda menyayangimu. Ayahku juga.”
Ia berhenti sejenak.
“Bahkan mereka… lebih menyayangimu daripada aku.”
Kali ini Belvina tidak langsung membalas.
Pandangannya bergeser tipis. Bahunya yang semula tegang sedikit turun, seolah kalimat itu menyentuh sesuatu yang tak ingin ia buka.
Dan Alden menangkapnya.
Perubahan kecil. Nyaris tak terlihat. Namun cukup untuk melahirkan kemungkinan yang langsung mengusiknya.
Jangan-jangan selama ini Belvina bertahan bukan untuk dirinya.
Ia tinggal di sisi pria yang dingin… karena di rumah ini ada kehangatan lain.
Garis rahang Alden menegang.
Entah kenapa, pikiran itu terasa lebih menusuk daripada jika Belvina membencinya.
“Kau masih ingin pergi dariku?”
Belvina mengalihkan wajah. Ia ingin meninggalkan pria ini, tetapi tidak ingin melukai dua orang yang justru menerimanya.
Alden menatapnya lama.
Dulu wanita ini mengejarnya tanpa henti. Sekarang satu-satunya alasan ia masih bertahan… bukan dirinya.
Ia menarik tubuh Belvina sedikit lebih dekat.
“Jangan harap bisa pergi dariku.”
Belvina tertawa kecil. Hambar.
“Itu solusi termalas yang pernah kudengar.”
“Aku serius.”
“Tidak.”
Kini ia menatap lurus padanya.
“Kau hanya takut kehilangan sesuatu yang baru kau lihat nilainya.”
Alden terdiam. Saat bicara lagi, suaranya jauh lebih rendah.
“Kalau begitu… biarkan aku membuktikan aku salah.”
Belvina sempat terpaku. Namun kewaspadaan cepat kembali.
“Masalahnya,” ucapnya tenang, “aku tidak tahu kau bicara sebagai suami… atau sebagai pria yang tak suka kalah.”
Jari Alden di sisinya mengencang.
“Apapun itu,” katanya pelan, “kau tidak bisa pergi dariku tanpa izinku.”
Belvina menatap tak percaya.
“Kau sudah gila.”
“Ya.”
Ia mencondongkan kepala mendekat.
“Dan sebaiknya kau tidak membuatku lebih gila.”
Belvina mengangkat dagu.
“Atau?”
Tak ada peringatan.
Alden menarik pinggangnya dan menutup jarak. Bibirnya menekan bibir Belvina singkat, tegas, tanpa kelembutan.
Bukan ciuman penuh hasrat. Lebih seperti pernyataan.
Belvina membeku.
Sepersekian detik, otaknya terlambat mencerna bahwa pria ini benar-benar menciumnya.
...✨"Dulu ia mengira dicintai....
...Malam itu, ia mulai curiga hanya sedang dilewati."...
..."Yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi sadar kau bukan alasan seseorang bertahan."✨...
.
To be continued
Putramu kalah telak🤭