Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
##lanjuttt
Pagi itu terasa berbeda bagi Alya,langit masih sama. Kampus masih sama. Orang-orang masih berjalan seperti biasa.
Tapi tidak dengan dirinya.
Semalaman ia hampir tidak tidur,pikirannya terus berputar pada satu hal
"perjodohan"
Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, suara ayahnya kembali terngiang
"Pernikahan ini akan tetap terjadi."
Kalimat itu seperti terus menghantam pikirannya.
Alya berdiri di depan cermin.
Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya,matanya sedikit sembab. Ia menghela napas pelan mencoba menenangkan diri.
“Harus kuat…” bisiknya.
Ia tidak boleh terlihat lemah.
Tidak di kampus.
Tidak di depan siapa pun.
Perjalanan menuju kampus terasa lebih lama. Padahal jaraknya sama seperti biasa.
Setiap langkah terasa berat...
Setiap detik terasa menekan...
Begitu sampai di gerbang kampus, suara riuh mahasiswa langsung menyambut. Namun bagi Alya
semuanya terasa jauh. Seolah ia berada di tempat yang sama…
tapi tidak benar-benar hadir.
“Alya!”
Suara itu memanggilnya lagi.
Suara Raka.
Seperti biasa, datang dengan energi yang tidak pernah habis.
Ia berjalan cepat mendekati Alya, lalu langsung memperhatikan wajahnya.
“Lo sakit?” tanyanya spontan.
Alya menggeleng.
“Enggak.”
“Bohong.”
Nada Raka langsung berubah serius.
“Lo keliatan beda banget hari ini.”
Alya berusaha tersenyum.
“Cuma kurang tidur.”
Raka menatapnya lama.
Seolah mencoba membaca sesuatu.
“Cuma itu?”
Alya mengangguk.
Raka menghela napas pelan.
Ia tahu Alya bukan tipe yang mudah terbuka.
“Kalau ada apa-apa, bilang ya,” katanya akhirnya.
Alya hanya menjawab pelan
“Iya.”
Mereka berjalan bersama menuju kelas. Namun sepanjang jalan, Alya lebih banyak diam Dan Raka mulai merasa tidak tenang.
Kelas dimulai seperti biasa.
Mahasiswa mulai memenuhi ruangan. Suasana ramai perlahan berubah menjadi tenang ketika pintu terbuka.
Langkah kaki itu terdengar lagi.
Tegas.
Teratur.
"Arka Wijaya"
Alya langsung menunduk begitu pria itu masuk. Entah kenapa ia tidak ingin melihatnya.
Belum...
Belum siap.
“Selamat pagi.”
“Pagi, Pak,” jawab semua mahasiswa.
Arka berdiri di depan kelas. Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Lalu berhenti Pada satu orang.
"Alya"
Beberapa detik.
Hening, Sangat singkat.
Tapi cukup untuk membuat sesuatu terasa berbeda.
Alya merasakannya.
"Tatapan itu"
Dan justru itu yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menunduk lebih dalam. Berusaha menghindar.
“Kita lanjut materi kemarin.”
Suara Arka kembali normal.
Tenang..
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun bagi Alya setiap detik di kelas itu terasa seperti tekanan,Ia tidak fokus,tulisan di bukunya tidak beraturan.
Penjelasan Arka hanya masuk setengah.
Di tengah kelas
“Alya Maheswari.”
Namanya dipanggil.
Jantungnya langsung berdegup keras.
“Iya, Pak?”
“Sebutkan pengertian hukum pidana menurut ahli yang kita bahas kemarin.”
Alya terdiam.
Biasanya ia bisa menjawab.
Tapi hari ini pikirannya kosong.
“…maaf, Pak.”
Suara itu lirih.
Kelas langsung sedikit berisik.
Ini tidak biasa.
Alya jarang tidak bisa menjawab.
Arka menatapnya.
Lebih lama dari biasanya.
“Tidak belajar?”
Nada suaranya tetap datar.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Alya menunduk.
“Belajar, Pak.”
“Lalu?”
Alya tidak menjawab.
Sunyi.
Beberapa detik.
Lalu Arka berkata
“Fokus.”
Satu kata.
Tapi cukup membuat suasana semakin tegang. Raka melirik Alya,ia benar-benar mulai khawatir sekarang.
Kelas berlanjut.
Namun tidak ada yang benar-benar sama.
Beberapa menit sebelum kelas berakhir.
Arka menutup bukunya.
“Cukup untuk hari ini.”
Mahasiswa mulai bersiap.
Namun....
“Alya Maheswari.”
Sekali lagi namanya dipanggil.
Alya menatap ke depan.
“Iya, Pak?”
“Setelah kelas selesai, temui saya di ruang dosen.”
Deg...
Seisi kelas langsung bereaksi kecil, beberapa berbisik.
Raka langsung menoleh cepat ke Alya.
“Kenapa lagi?” bisiknya.
Alya tidak menjawab.
Karena ia sendiri tahu ini bukan kebetulan.
###
Di lorong menuju ruang dosen terasa lebih panjang dari biasanya.
Langkah Alya pelan.
Ragu.
Tapi tidak bisa berhenti.
Setiap langkah terasa seperti mendekatkan dirinya pada sesuatu yang tidak bisa ia hindari. Ia berhenti di depan pintu,menarik napas dalam lalu mengetuk.
“Masuk.”
Suara itu.
Tenang.
Dingin.
Alya membuka pintu perlahan. Ruangan itu rapi.
Sunyi.
Dan di sana arka sudah duduk menunggunya.
“Duduk.”
Alya menurut.
Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Ia berusaha terlihat tenang walaupun sebenarnya tidak.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Hanya ada tatapan langsung, tatapan dalam.
“Kamu sudah tahu,” kata Arka akhirnya.
Bukan pertanyaan tapi pernyataan.
Alya menganggukkan kepala pelan.
“Tahu apa, Pak?”
Ia mencoba tenang walaupun sebenarnya sangat takut dan gugup...
“Perjodohan itu.”
Kata itu jatuh begitu saja. Tdak ada cara halus,tidak ada penjelasan panjang,langsung ke inti.
Alya membeku,tangannya langsung mencengkeram lebih erat.
“…Bapak tahu?”
Arka menatapnya tanpa ekspresi.
“Saya orangnya.”
Dunia seolah berhenti. Semua suara menghilang. Alya menatapnya tidak percaya dan tidak ingin percaya.
“Ini gak mungkin…” bisiknya.
Ia berdiri tiba-tiba langkahnya mundur satu langkah.
“Ini pasti salah…”
“Tidak.”
Jawaban Arka cepat.
Alya menggeleng.
“Ini gak masuk akal… Bapak dosen saya.”
“Dan kamu mahasiswi saya.”
Jawaban itu dingin.
sebuah fakta yang tidak ak bisa dibantah.
“Itu gak normal!” suara Alya mulai naik.
“Ini salah!”
Arka tetap tenang.
Seolah semua emosi Alya tidak menggoyahkannya sedikit pun.
“Ini keputusan keluarga.”
“Itu bukan keputusan saya!”
Alya hampir berteriak sekarang. Dadanya naik turun.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Ini hidup saya!”
Sunyi.
Arka menatapnya lama.
Lalu berkata
“Saya tidak memaksa kamu untuk menyukai ini.”
Kalimat itu membuat Alya terdiam sejenak. Namun sebelum ia sempat berpikir
“Tapi pernikahan ini tetap akan terjadi.”
Hancur.
Kalimat itu menghancurkan semuanya.
Alya tertawa kecil...
“Jadi… saya gak punya pilihan?”
Arka tidak langsung menjawab Dan justru itu…
adalah jawabannya.
“Bapak setuju?” tanya Alya pelan.
Untuk pertama kalinya pertanyaan itu terasa pribadi.
Arka terdiam beberapa detik.
Lalu
“Saya tidak menolak.”
Jawaban itu seperti pisau.
Pelan.
Tapi dalam.
Alya menunduk.
Air matanya jatuh, ia tidak bisa menahannya lagi.
“Kenapa…?” bisiknya.
Pertanyaan itu tidak jelas untuk siapa.
Arka tidak menjawab.
Karena mungkin…
ia juga tidak punya jawaban sederhana.
Alya menghapus air matanya cepat.
Ia tidak ingin terlihat lemah.
“Tahu gak, Pak…”
Suaranya bergetar.
“Tolong… jangan anggap ini hal biasa.”
Arka diam.
“Saya dipaksa menikah sama orang yang bahkan saya gak kenal.”
Ia mengangkat wajahnya.
Menatap Arka langsung.
“Dan orang itu… Bapak.”
Sunyi...
Tegang...
“Saya benci ini,” lanjut Alya.
Tidak ada jawaban.
“Saya benci dipaksa.”
Masih diam,dan akhirnya..
“Saya juga… benci Bapak.”
Kalimat itu menggantung di udara..
Berat..
Tajam..
Untuk pertama kalinya ekspresi Arka berubah,Sangat tipis,tapi ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Namun hanya sebentar.
Ia kembali seperti semula.
Dingin.
Terkontrol.
“Kalau sudah selesai,” ucapnya pelan, “kamu boleh pergi.”
Alya tidak menjawab.
Ia langsung berbalik, langkahnya cepat, hampir berlari.
Begitu keluar
Raka sudah menunggu.
“Alya”
Ia langsung mendekat, namun berhenti. Melihat wajah Alya.
Air mata dan wajah pucat..
“Apa yang terjadi?” suaranya berubah serius.
Alya menatapnya,beberapa detik.
Lalu berkata pelan
“Aku dijodohkan…”
Raka membeku.
“Dan… orangnya…”
Alya menutup matanya.
“…Arka.”
Sunyi.
Dunia Raka ikut berhenti.
maaf lancang🙏🙏🙏