papanya elvaro dan zavira pernah sahabatan di waktu SD ,Namun nasib membedakan mereka , papanya elvaro sudah sukses sekarang. sedangkan papanya zavira hanya mempunyai toko bengkel.
keduanya bertemu setelah beberapa tahun menghilang,tapi masih dengan persahabatan yang hangat, terukir janji mereka yang dulu akan menjodohkan anak mereka. mamanya elvaro sangat keberatan menerima nya ,Karna menurutnya tidak setara. begitu juga dengan zavira menolak keras perjodohan ini Karna elvaro adalah musuh bebuyutan nya di sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahealza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kabar menegangkan
Malam itu, Zavira masuk ke dalam kamar dengan langkah pelan. Hati dan pikirannya masih dipenuhi perasaan campur aduk setelah menghabiskan waktu berjam-jam bersama Youjin. ia merasa bahagia bisa menenangkan sahabatnya, tapi ada rasa bersalah yang samar mengganggu.
Namun, saat dia melangkah masuk, dia tertegun sejenak.
Elvaro sudah ada di sana.
Pria itu berbaring telentang di atas kasur empuk mereka. Matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar, kosong tanpa ekspresi. Tangannya terlipat di perut, dan tubuhnya tidak bergerak sama sekali, seolah-olah dia adalah patung hidup.
Suasana kamar terasa sangat hening dan mencekam.
Zavira menghela napas pelan, mencoba bersikap biasa saja. "Hah... capek banget hari ini," gumamnya sekeras-kerasnya, berharap Elvaro menyahut seperti biasa—entah itu mengejek atau marah-marah.
Tapi... tidak ada suara. Tidak ada respon sama sekali. Elvaro tetap diam, matanya tetap menatap lurus ke atas.
Zavira mengangkat bahu, mengabaikan keanehan itu. Dia berjalan menuju lemari, mengambil handuk dan baju ganti, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, mencuci lelah seharian.
''Mungkin dia cuma capek doang,'' batin Zavira meyakinkan diri.
Namun, saat ia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan mengenakan piyaman nyaman, pemandangan yang dia lihat persis sama seperti sebelumnya.
Elvaro masih berbaring di posisi yang sama. Tatapannya masih kosong. Wajahnya datar, dingin, dan jauh lebih pendiam dari biasanya. Bahkan napasnya pun terdengar sangat pelan.
Rasa penasaran Zavira mulai memuncak. Biasanya kalau Elvaro melihat ia keluar mandi dengan rambut basah, pasti ada saja kata-kata nyelekit atau tatapan tajam. Tapi kali ini? Nol besar.
"Eh... Elvaro?" panggil Zavira sambil mengelap rambutnya. "Lo kenapa sih? Kayak mayat hidup gitu."
Diam.
Zavira mulai iseng. ia berjalan mendekati tepi kasur, lalu dengan sengaja melompat kecil ke atas kasur, membuat kasur itu berguncang cukup keras.
BYUR!
"WOY! BANGUN DONG! JANGAN MELAMUN TERUS DONG!" teriaknya sambil tertawa, mencoba menjahili suaminya itu.
Tapi sungguh aneh. Elvaro sama sekali tidak bereaksi. Tidak ada marah, tidak ada dorongan tangan, bahkan tidak ada helaan napas yang terdengar kesal. Dia hanya menatap kosong, seolah Zavira adalah udara yang tidak terlihat.
"Anjay... seriusan nih?" Zavira mengerutkan kening, mulai bingung dan sedikit takut. ''Ada apa sama dia? Kenapa jadi serem banget gini? Apa karena masalah sama Youjin? Atau karena dimarahin Papinya tadi?''
Hati Zavira mulai tidak enak. Ada perasaan bersalah yang entah dari mana datangnya, melihat orang yang biasanya keras dan berapi-api sekarang jadi selemah ini.
Belum sempat Zavira bertanya lebih jauh, suara ketukan pintu yang keras dan tegas terdengar dari luar.
Tok.. Tok.. Tok..
"Elvaro... Zavira... ." Itu suara Papinya. Suara yang selalu membawa ketegangan.
Elvaro akhirnya bergerak. Dengan sangat malas, ia turun dari kasur. Langkahnya berat, wajahnya masih datar tanpa emosi. Zavira pun segera mengikuti di belakangnya, penasaran apa yang terjadi.
Mereka berdua keluar kamar dan mendapati Papanya berdiri di ruang tengah dengan wajah serius namun terlihat sedikit lebih tenang dari tadi malam.
"Ada apa, Pi?" tanya Elvaro dengan suara parau dan sangat pelan.
wijaya duduk di sofa utama, lalu menatap keduanya bergantian.
"papi punya kabar penting buat kalian berdua," kata nya memulai. "papi tahu suasana di rumah ini akhir-akhir ini tidak baik-baik saja. Terlalu banyak pertengkaran, terlalu banyak energi negatif. Dan papi rasa... kalian berdua butuh tempat sendiri untuk belajar dewasa."
Elvaro dan Zavira saling berpandangan, bingung.
"Jadi..." wijaya melanjutkan, "papi sudah belikan sebuah rumah mewah baru, lengkap dengan fasilitas apa saja. Lokasinya bagus, lingkungannya tenang. Mulai minggu depan, kalian berdua pindah ke sana. Tinggal sendiri, mengurus rumah sendiri, tanpa ada papi atau mami."
DEG!
Wajah Elvaro dan Zavira langsung berubah kaget setengah mati. Mata mereka membelalak tak percaya.
"APA?!" seru mereka serempak.
"Pindah rumah? Tinggal sendiri?" Elvaro akhirnya menunjukkan reaksi, suaranya meninggi karena kaget. "pi.. kita kan masih sekolah! Masih anak-anak! Kenapa tiba-tiba disuruh tinggal sendiri?!"
Elvaro langsung menolak keras. Baginya, tinggal serumah saja dengan Zavira sudah cukup membuat kepalanya pusing, apalagi harus tinggal berdua saja di tempat baru, jauh dari pengawasan orang tua? Itu ide paling gila!
"Enggak mau, pi! El enggak mau pindah!" tolak Elvaro tegas.
Namun Papinya tetap pada pendiriannya. Wajahnya kembali mengeras, tak terima ditolak.
"Alasan papi cuma satu: Itu yang terbaik buat kalian berdua!" tegas wijaya. "Kalian butuh privasi, kalian butuh belajar mengatur rumah tangga sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Lagian, kalian kan sudah menikah sah? Sudah jadi suami istri. Memangnya apa salahnya tinggal berdua?"
"Tapi Pi..."
"Sudah cukup! Keputusan papi mutlak!" potong Papinya tak membiarkan bantahan. "Minggu depan kalian harus sudah pindah. papi sudah siapkan segalanya. Anggap ini sebagai cara papi menjaga nama baik keluarga, dan juga... memberi kalian kesempatan untuk memperbaiki hubungan kalian yang rusak ini."
Wijaya berdiri, lalu menatap mereka tajam.
"Rumah itu sudah ada. Kalian tinggal masuk. Jangan membantah lagi."
Setelah berkata demikian, Papinya pun pergi meninggalkan mereka berdua yang masih terpaku di tempat dengan perasaan kacau.
Zavira menatap pintu yang tertutup, lalu menoleh ke arah Elvaro. Di wajahnya terlihat jelas rasa syok.
''Tinggal berdua dengan Elvaro... di rumah baru... sendirian?''
Dan di sisi lain, Elvaro hanya menunduk, mengepal tangannya kuat-kuat. Di kepalanya, bayangan saat melihat Zavira dan Youjin bersama tadi sore kembali muncul.
''Tinggal berdua...'' batinnya pahit. ''Apakah ini akan membuat segalanya lebih baik, atau justru makin hancur?''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
lanjut ke bab selanjutnya 🤗