Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Kebahagiaan yang baru saja tumbuh subur di hati mereka seolah belum sempat mengakar kuat, ketika badai tiba-tiba datang menerpa.
Hari itu, suasana di dalam rumah kecil itu masih terasa hangat dan manis. Baru semalam mereka resmi mengikat janji sebagai sepasang kekasih. Genesis yang dulu dingin dan tertutup, kini tak bisa lepas dari Alexa. Tangannya terus menggenggam tangan gadis itu, seolah takut jika dilepaskan sedikit saja, sosok di hadapannya akan menghilang seperti asap.
“Lex, makan yang banyak ya. Hari ini kamu kelihatan pucat banget,” kata Genesis sambil menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk ke mulut Alexa. Wajahnya penuh perhatian dan kasih sayang yang tulus.
Alexa tersenyum manis, membuka mulutnya menerima suapan itu. “Iya dong, soalnya masakan kamu enak. Lagian… kalau makan sama kamu rasanya jadi berkali-kali lipat enaknya.”
“Dasar bucin!” Genesis tertawa lebar, menampakkan lesung pipinya. “Tapi gue suka. Gue suka denger lo ngomong gitu.”
Mereka tertawa, menikmati momen indah yang seolah milik berdua. Rasanya damai sekali. Rasanya seolah dunia luar tidak ada.
Namun… kedamaian itu tidak bertahan lama.
BEEEP! BEEEP! TUUUT!!!
Suara klakson mobil yang sangat keras dan memekakkan telinga meledak di luar rumah. Suaranya berat, besar, dan sangat asing di telinga warga sekitar yang biasa hanya mendengar suara motor.
Tawa di bibir Genesis langsung lenyap. Alisnya bertaut tajam, wajahnya berubah masam.
“Sialan! Siapa sih yang berisik banget pagi-pagi buta?!” umpat Genesis kesal, ia meletakkan sendoknya dan bangkit dari duduknya.
“Masa jalan sempit gini dibawa mobil mewah segala! Nggak punya otak apa ya!”
Alexa di meja makan langsung tersentak kaget. Tubuhnya menegang kaku seketika. Jantungnya berdegup kencang bukan main, rasanya seperti mau copot.
Suara itu… batinnya berteriak panik. Jangan-jangan… mereka akhirnya nemuin aku?
Genesis berjalan cepat menuju pintu depan dan membukanya dengan kasar. Tatapannya siap melayangkan omelan pada siapa pun yang berani mengganggu ketenangan mereka.
Namun, apa yang terlihat di depan matanya membuat pemuda itu terdiam sejenak.
Sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca film gelap terparkir sembarangan, memblokir hampir seluruh jalan setapak. Di sekelilingnya sudah berkumpul tetangga yang berbisik-bisik, penasaran melihat kedatangan orang penting di daerah kumuh itu.
Pintu mobil terbuka. Turunlah tiga orang pria berpakaian rapi, berjas hitam, dan berpenampilan sangat gagah serta serius. Mereka terlihat seperti bodyguard profesional. Di belakang mereka, ada seorang pria paruh baya yang memakai kacamata hitam dan wajahnya tampak dingin serta tegas. Itu adalah Kepala Pengurus Rumah Tangga dari keluarga pemilik tubuh Alexa.
“Kalian ini siapa? Kenapa parkir mobilnya nutupin jalan orang?!” tanya Genesis dengan nada tinggi, ia mencoba terlihat tangguh meski tahu lawannya terlihat berkuasa.
Pria paruh baya itu tidak menggubris pertanyaan Genesis. Matanya menyapu pandang ke dalam rumah yang sempit dan sederhana itu dengan tatapan menyelidik yang tajam.
“Kami mencari Nona Alexa,” suara pria itu terdengar datar namun penuh wibawa. “Dia hilang beberapa hari ini. Dan kami mendapat laporan bahwa dia ada di sini.”
Darah di tubuh Alexa yang ada di dalam ruangan seketika turun semua ke kaki. Ia gemetar hebat. Tangannya mencengkeram ujung meja makan hingga buku-buku jarinya memutuh.
Mereka datang. Keluarga dari tubuh yang ia tempati ini akhirnya datang menjemputnya.
Genesis menoleh cepat ke belakang. Ia melihat wajah Alexa yang sudah pucat pasi, mata gadis itu terbelalak ketakutan, dan bibirnya bergetar hebat.
Dalam sekejap, otak Genesis bekerja cepat. Ini pasti orang-orangnya. Ini pasti keluarga atau orang suruhan yang selama ini dicari-cari. Dan melihat reaksi Alexa yang ketakutan setengah mati, sesuatu yang buruk seakan memberitahu Genesis bahwa mereka datang bukan untuk hal baik.
“Nggak ada! Di sini nggak ada cewek nama Alexa! Kalian salah alamat!” jawab Genesis tegas, ia segera menyebarkan tubuhnya lebar-lebar menutupi pintu masuk, berusaha menghalangi pandangan mereka agar tidak bisa melihat ke dalam.
“Pergi sana sebelum aku panggil warga!”
“Jangan mencoba menutupi kebenaran, Tuan,” salah satu bodyguard maju selangkah, suaranya keras dan mengintimidasi. “Kami tahu pasti Nona ada di dalam. Beri jalan atau kami paksa masuk!”
“Berani lu! Ini rumah gue! Gue yang ngatur di sini!” Genesis tidak mau mundur, ia mengepal kedua tangannya siap bertarung jika perlu.
“Tuan… tolong jangan mempersulit keadaan,” kata pria paruh baya itu dengan nada merendah tapi sebenarnya penuh ancaman.
“Nona Alexa adalah orang penting. Dia ditunggu oleh keluarganya dan juga oleh Tuan Genta. Segera kami harus membawanya kembali karena persiapan pernikahan mereka sudah di depan mata.”
GENTA?!
Nama itu meluncur begitu saja dari mulut pria itu, namun efeknya bagi Alexa bagai guntur yang menggelegar di tengah kepala.
Alexa terpaku. Matanya membelalak lebar, tak berkedip. Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah menjadi putih seperti kertas. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena takut, tapi karena KEBINGUNGAN dan KETERKEJUTAN yang luar biasa.
Genta?
Mereka bilang... Genta?
Pikiran Naura berputar kacau. Ingatan masa lalu berkelebat cepat.
Tidak mungkin... Tidak mungkin ini sama. batinnya berteriak dalam hati. Genta... Genta yang aku kenal kan sudah meninggal! Dia sudah mati 18 tahun yang lalu! Bahkan sebelum Genesis lahir ke dunia!
Ia ingat betul berita duka itu. Ia ingat betul rasa sakitnya saat tahu kekasihnya tewas kecelakaan sebelum mereka sempat menikah. Selama puluhan tahun ia hidup dengan kenangan itu, membesarkan anak sendirian karena merasa ditinggal mati oleh cinta pertamanya.
Tapi sekarang... ada orang bernama Genta lagi? Dan dia calon suami dari tubuh ini?
"Genta..." bisik Alexa pelan, suaranya bergetar parau, hampir tak terdengar. "Itu... Genta?"
Ia menatap kosong ke depan, matanya berkaca-kaca tapi ia tidak menangis. Ia terlalu bingung. Terlalu syok untuk menangis.
Apa ini hanya kebetulan nama yang sama? Atau... atau selama ini aku dibohongi? Mana mungkin dia hidup? Mana mungkin dia ada di sini sekarang?
“Lex... Lo kenapa?” Genesis menyadari perubahan drastis pada kekasihnya. Ia melihat wajah Alexa yang pucat pasi, kakinya seolah lemas tak bertenaga.
“Lo kenapa kaget banget denger nama itu? Lo kenal dia?”
Alexa menelan ludah yang terasa seperti duri di tenggorokan. Ia menatap Genesis dengan mata yang penuh tanda tanya besar dan ketakutan.
“Gen... nama itu...” suaranya pecah, “Nama itu... itu nama orang yang sudah lama meninggal. Orang yang sudah mati jauh sebelum kamu lahir, Gen. Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin dia ada di sini dan jadi calon suamiku?”
Suasana menjadi hening sejenak. Bingung. Misterius.
Alexa benar-benar kehilangan arah. Dunianya yang selama ini ia yakini, tiba-tiba terasa goyah dan tidak masuk akal.
“Sudah Nona, jangan berlama-lama!” kata pria paruh baya itu mulai tidak sabar.
“Tuan Genta adalah pengusaha besar yang sangat berpengaruh. Dia hidup dan menunggu Anda. Silakan masuk ke mobil sekarang!”
HIDUP?!
Kata itu membuat lutut Alexa lemas hampir roboh.
Dia hidup? Genta hidup?
Berarti... berarti selama 18 tahun ini aku hidup dalam kebohongan?
“JANGAN SENTUH DIA!” Genesis yang melihat kekasihnya hampir jatuh langsung emosi meledak.
Ia mendorong bodyguard yang hendak mendekat. “Gue nggak peduli Tuan Genta atau siapa pun! Lo semua liat kan?! Lo semua bikin dia takut dan syok gitu!”
“Tuan, jangan menghalangi! Nona Alexa itu milik Tuan Genta! Mereka akan menikah!”
“NGGAK BOLEH! DIA MILIK GUE!” Genesis berdiri kokoh di depan Alexa. “Lex, ayo kita masuk ke dalam! Kunci pintunya! Jangan dengerin mereka!”
Tapi Alexa masih terpaku. Pikirannya kacau balau. Ada dua kemungkinan besar yang menghantamnya. Ini orang lain yang namanya kebetulan sama. Atau... dia memang Genta yang sama, dan dia tidak pernah mati.
Jika poin nomor dua yang benar... itu artinya Nyonya Drake telah membohonginya selama setengah hidupnya. Itu artinya pengorbanannya selama ini sia-sia?
“Gen...” Alexa menarik ujung baju Genesis dengan tangan gemetar. “Aku... aku takut. Aku bingung banget. Kenapa bisa ada nama itu lagi di hidup aku?”
“Gue ada di sini. Gue lindungi lo,” bisik Genesis tegas, meski hatinya juga cemas dan cemburu menggunung mendengar kata 'pernikahan'.
“Bawa dia!” perintah pria paruh baya itu dengan nada dingin.
Dua bodyguard besar itu langsung maju dan menangkap lengan Alexa dengan kuat.
“AKU NGGAK MAU! LEPASIN!” Alexa meronta, air matanya akhirnya jatuh karena panik dan bingung.
“GENESIS TOLONG AKU! AKU NGGAK PAHAM APA-APA!”
“LEXAAAA!!”
Genesis mencoba menarik balik tapi ia terlalu lemah melawan kekuatan mereka. Ia didorong keras hingga terjatuh ke tanah.
Di dalam mobil, Alexa terbaring lemas dengan air mata yang terus mengalir. Kepalanya pening luar biasa.
Genta... kamu siapa sebenarnya? Kamu benar-benar dia? Atau kamu hantu dari masa laluku?