Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
***
Konvoi mobil hitam itu membelah jalanan Jakarta yang mulai remang oleh cahaya senja. Di dalam kabin mewah Rolls-Royce Cullinan yang kedap suara, suasana terasa begitu kontras. Karina duduk di samping Darma, masih dengan sisa-sisa semangat dari acara amal tadi. Wajahnya yang sedikit kusam karena debu lapangan justru memancarkan rona kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan perhiasan mahal mana pun.
Tangannya lincah menari di atas layar ponsel, sesekali tertawa kecil atau memekik gemas saat membaca komentar netizen yang kembali menjadikannya buah bibir nasional.
"Mas, lihat deh! Postingan aku yang lagi bagi-bagi susu itu sudah tembus dua juta likes dalam tiga jam! Netizen bilang aku lebih cocok jadi Duta Sosial daripada jadi idol," cerocos Karina tanpa menoleh, matanya masih terpaku pada layar.
Darma hanya merespons dengan deheman singkat. "Hm."
"Terus ya, Mas... tadi ada nenek-nenek yang bilang wajahku mirip banget sama almarhumah Ibu. Aku sampai terharu banget. Anak-anak di sana juga lucu-lucu, ada yang panggil aku 'Malaikat Cantik'. Padahal aku cuma pakai baju batik biasa, bukan gaun panggung," lanjut Karina dengan mata berbinar-binar.
"Hm."
Karina mendongak, sedikit mengerucutkan bibirnya melihat Darma yang masih fokus pada tablet pekerjaannya. Pria itu tampak sangat sibuk meninjau angka-angka bursa, seolah celotehan istrinya hanyalah gangguan latar belakang.
"Mas Darma dengar nggak sih? Aku lagi cerita panjang lebar, responnya cuma 'hm-hm' aja. Mas nggak bangga apa punya istri yang dicintai rakyat begini?" protes Karina gemas.
Darma mengalihkan pandangannya dari tablet sejenak, melirik Karina dengan tatapan tajam namun menyimpan binar posesif yang tersembunyi. "Saya dengar, Karina. Kamu mahir dalam pencitraan, itu bagus untuk stabilitas saham Hutomo bulan ini. Tapi jangan harap saya akan memujimu berlebihan hanya karena kamu bisa duduk di atas tikar."
Karina mendengus, kembali melihat ponselnya. "Dasar beruang es tak berperasaan. Padahal netizen di sini heboh banget."
Komentar Netizen Terbaru:
@rakyat_jelata_sentosa: "Nyonya Darma nggak cuma cantik, tapi aura 'Ibu Bangsa'-nya kuat banget. Beruntung banget Pak Darma dapet berlian begini."
@anti_pelakor_club: "Liat tuh Angel, yang asli emang nggak perlu banyak gaya. Cukup senyum, rakyat langsung jatuh cinta. Pak Darma, tolong dijaga ya istrinya, jangan dilepas!"
@pengamat_cendana: "Kemesraan mereka di lapangan tadi asli nggak sih? Pak Darma narik pinggangnya posesif banget, kayak takut istrinya diambil orang."
Karina tersenyum membaca komentar terakhir. Ia melirik Darma yang sudah kembali sibuk. Namun, perlahan-lahan energi Karina mulai terkuras. Suara bising AC mobil yang halus dan guncangan ringan kendaraan mulai membuatnya mengantuk. Celotehannya yang tadinya bersemangat perlahan memelan, hingga akhirnya berhenti sama sekali.
Darma menyadari keheningan itu. Ia menoleh dan mendapati kepala Karina sudah terkulai lemas, bersandar pada bahunya. Ponsel istrinya itu masih menyala di pangkuan, namun sang pemilik sudah berkelana di alam mimpi karena kelelahan seharian.
Darma meletakkan tabletnya. Dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak membangunkan Karina, ia menarik kepala istrinya agar bersandar lebih nyaman di dadanya.
Jemarinya yang panjang mengusap helai rambut hitam Karina yang sedikit berantakan.
Sebuah senyuman tipis sangat tipis hingga hampir tak terlihat muncul di bibir Darma.
"Dasar merepotkan," bisiknya pelan sebelum mengecup puncak kepala Karina dan kembali fokus pada pekerjaannya dengan tangan kiri yang tetap memeluk bahu istrinya erat.
**
Satu jam sebelumnya, sebelum mereka meninggalkan lokasi, sebuah momen menegangkan terjadi di balik tirai hijau tebal tenda komando utama. Di sana, hanya ada dua pria: Jenderal Agus Subiyanto dan Darma Mangkuluhur.
Suasana di dalam tenda itu begitu menekan. Bau kopi hitam dan aroma maskulin yang tajam memenuhi udara. Jenderal Agus berdiri tegak, membelakangi Darma sambil menatap peta operasi di dinding, namun pikirannya jelas tertuju pada pria yang berdiri di tengah ruangan.
"Darma," suara Sang Panglima memecah keheningan, berat dan penuh otoritas. "Saya sudah menyerahkan putri tunggal saya ke sarang serigala sepertimu karena saya percaya pada kata 'aliansi'. Tapi ingat, serigala yang menyakiti kawanannya sendiri tidak akan punya tempat untuk lari."
Darma berdiri dengan tangan di belakang punggung, posisinya tegak namun santai, menunjukkan bahwa ia tidak sedikit pun terintimidasi oleh pangkat bintang empat di depan matanya.
"Saya tahu Anda khawatir, Jenderal. Gosip kemarin hanya sampah yang sedang saya bersihkan. Jika itu yang Anda maksud dengan 'menyakiti', maka Anda meremehkan cara saya menjaga aset saya," sahut Darma tenang.
Jenderal Agus berbalik, menatap menantunya dengan mata yang siap membunuh. "Ayin bukan aset, Darma! Dia darah daging saya. Saya tahu dunia Old Money kalian penuh dengan 'simpanan' dan permainan kotor. Jika kamu berani memperlakukan putri saya seperti itu, saya tidak peduli berapa triliun aset yang kamu punya. Saya bisa membuat kerajaanmu runtuh dalam semalam."
Darma terkekeh rendah, sebuah tawa dingin yang membuat suasana makin mencekam. Ia melangkah maju satu tindak, menatap langsung ke mata sang mertua.
"Anda tidak perlu khawatir, Jenderal. Pastikan saja urusan politik Anda menuju kursi RI-1 berjalan lancar tanpa hambatan logistik. Soal Karina... dia adalah milik saya sekarang. Segala sesuatu tentangnya, dari ujung rambut hingga rahasia terdalamnya, berada di bawah kendali saya. Saya tidak akan membiarkan orang lain menyentuhnya, termasuk masa lalunya."
Darma mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan yang sarat akan dominasi. "Dan soal 'menyakiti'... semalam dia memang menangis, tapi bukan karena sedih. Jadi, berhentilah bersikap seolah saya adalah penjahatnya. Saya adalah pelindung terbaik yang bisa ia miliki di dunia yang kotor ini."
Jenderal Agus terdiam. Ia bisa merasakan bahwa Darma tidak sedang menggertak. Ada rasa posesif yang sangat gelap di mata menantunya itu—sesuatu yang bahkan bagi seorang Jenderal, terasa mengerikan.
"Pastikan saja kamu benar, Darma. Karena jika tidak, saya sendiri yang akan menjemputnya kembali," ancam sang Jenderal terakhir kalinya.
"Anda tidak akan punya kesempatan untuk itu, Jenderal. Karena dia tidak akan mau pergi dari sisi saya," jawab Darma dingin sebelum memberikan hormat formal dan keluar dari tenda untuk menjemput istrinya.
Mobil berhenti di depan lobi mansion Menteng yang megah. Lampu-lampu taman yang hangat menyambut kedatangan mereka. Darma menatap Karina yang masih terlelap. Alih-alih membangunkannya, Darma justru keluar dan memutar mobil, lalu mengangkat tubuh Karina dalam gendongan bridal style.
Puluhan pelayan yang sudah berbaris rapi segera membungkuk serentak. "Selamat datang, Bapak. Selamat datang, Ibu," ucap mereka dengan suara lirih agar tidak mengganggu.
"Apakah perlu kami siapkan makan malam, Pak?" tanya Sari, sang kepala pelayan, dengan sangat hati-hati.
"Tidak perlu. Biarkan dia beristirahat. Pastikan suhu kamarnya tetap hangat," sahut Darma singkat tanpa menghentikan langkahnya menuju lantai dua.
Darma menaiki tangga dengan langkah stabil, seolah beban tubuh Karina tidak berarti apa-apa baginya. Sesampainya di kamar, ia merebahkan Karina di atas ranjang king size dengan sangat perlahan.
Ia melepas sepatu Karina, menyelimutinya dengan kain sutra, dan mematikan lampu nakas. Darma berdiri sejenak di tepi ranjang, menatap wajah Karina yang tampak sangat damai dalam tidurnya.
"Seharian ini kamu sudah bekerja keras untuk saya, Karina," bisiknya dalam kegelapan.
"Sekarang, tidurlah. Karena besok, dunia akan kembali melihat betapa kuatnya posisi kita... dan betapa tidak tersentuhnya kamu sebagai milik saya."
Darma berbalik menuju kamar mandi, meninggalkan istrinya dalam mimpi yang tenang, sementara di luar sana, badai politik dan bisnis masih terus menderu menunggu perannya di hari esok.
***
Bersambung....