Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diambang Batas Kesabaran
Bau stroberi yang tadi manis kini terasa mencekik di tenggorokan Feng Yan. Ia berlutut di samping Lin Diya, menatap wajah wanita itu yang pucat pasi dengan urat-urat kebiruan yang mulai tampak di sekitar lehernya. Kemarahannya sudah berada di titik didih. Selama ini ia mengira Ouroboros adalah puncak dari segala kekejaman, namun ternyata Liu Ruyan membawa permainan ini ke tingkat yang jauh lebih personal dan menjijikkan.
"Setelah hipnotis yang hampir merusak kesadarannya di Pulau Nol, sekarang kalian menyuntikkan sampah ini ke tubuhnya?" suara Feng Yan bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan ledakan amarah yang bisa meratakan gedung ini.
Dr. Kanaya sedang sibuk memasang portable ventilator kecil ke hidung Diya. "Ini bukan sekadar virus biasa, Feng Yan. Ini adalah serum 'Legacy'. Sesuatu yang dikembangkan Ouroboros untuk menciptakan subjek yang patuh secara genetik. Hipnotis kemarin hanyalah pembuka jalan agar sistem saraf Diya menerima serum ini tanpa penolakan. Mereka sudah merencanakan ini sejak lama... mungkin sejak sebelum kau bertemu dengannya."
Di markasnya, Rendy memukul meja hingga monitornya bergetar. Air mata frustrasi mengalir di pipinya. "Aku si jenius IT... tapi aku tidak bisa melihat kode yang disuntikkan ke dalam darahnya sendiri! Aku meretas satelit, aku meretas bank, tapi aku gagal meretas rencana busuk mereka pada Diya!"
"Rendy, tenanglah!" Reyhan berseru lewat intercom, suaranya terdengar sedang menyeret salah satu musuh yang masih hidup untuk diinterogasi. "Kemarahan tidak akan mencuci darah Diya. Fokuslah mencari di mana Liu Ruyan menyembunyikan penawarnya!"
Feng Yan mengangkat tubuh Diya dengan lembut namun protektif. Ia menatap Kanaya dengan tatapan yang menuntut jawaban pasti. "Berapa lama waktu yang kita punya?"
"Secara klinis? Kurang dari dua puluh empat jam sebelum serum itu menyatu sepenuhnya dengan sumsum tulang belakangnya," jawab Kanaya dingin sembari membereskan peralatan medisnya. "Setelah itu, Diya bukan lagi wanita yang kau kenal. Dia akan menjadi 'boneka' yang hanya merespons perintah dari frekuensi tertentu. Frekuensi yang hanya dimiliki oleh Liu Ruyan."
Mendengar itu, Feng Yan tersenyum tipis. Tapi itu bukan senyum bahagia, melainkan senyum predator yang telah kehilangan kesabarannya. Ia menoleh ke arah kamera CCTV, tahu bahwa Liu Ruyan mungkin masih menonton lewat jalur ilegal.
"Kau ingin melihat kegilaanku, Liu Ruyan? Kau akan mendapatkannya," ucap Feng Yan pelan, namun setiap katanya terdengar seperti vonis mati. "Kau sudah menyiksa 'Mutiara'-ku dengan hipnotis, kau meracuni tubuhnya dengan virus... maka aku akan meracuni hidupmu dengan kehancuran yang tidak pernah kau bayangkan."
Ia berjalan keluar dari ruangan yang hancur itu, menggendong Diya melewati mayat-mayat musuh yang masih bergelimpangan. Di belakangnya, Reyhan, Chen Lian, dan Kanaya mengikuti seperti pasukan maut.
"Rendy," panggil Feng Yan saat ia memasuki lift pribadi.
"I-Iya, Bos?" jawab Rendy dengan suara serak.
"Siapkan semua aset cair kita. Tidak ada lelang saham besok pagi. Besok pagi, kita akan melakukan perburuan terbuka. Aku ingin kau membeli seluruh gedung yang ditempati Liu Ruyan, matikan listriknya, kunci oksigennya, dan biarkan dia tahu bagaimana rasanya terjebak di dunianya sendiri."
Feng Yan mencium kening Diya yang dingin. "Maafkan aku, Sayang. Seharusnya aku melindungimu lebih baik. Tapi sekarang, biarkan aku menjadi 'penjahat' yang sebenarnya untuk menghancurkan mereka semua."
Di luar, petir menyambar langit Kota Metropol, menandakan bahwa sang CEO Muda tidak lagi bermain dengan aturan bisnis. Ia telah kembali ke mode 'Kultivator' modernnya—dingin, kejam, dan tanpa ampun.