"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Pagi itu, kediaman megah keluarga Satrya yang biasanya tenang di bawah kendali Denis, mendadak terasa mencekam. Aura ketegangan sudah terasa sejak di meja makan, namun puncaknya terjadi di ruang tengah saat Denis baru saja berangkat menuju kantornya. Di sana, Susi dan putrinya, Puput, sedang duduk bersantai, menyesap teh dengan gaya yang seolah-olah merekalah pemilik tunggal istana tersebut.
Calista baru saja hendak melangkah menuju ruang kerja kecil untuk mengecek laporan perkembangan kesehatan ibunya saat langkahnya dihentikan oleh suara Puput yang melengking, sengaja dikeraskan agar seluruh pelayan yang sedang sibuk membersihkan ruangan bisa mendengarnya.
"Duh, pagi-pagi sudah sibuk saja si 'Nyonya Besar' kita ini. Mungkin sedang menghitung-hitung berapa banyak lagi harta keluarga Satrya yang bisa ia keruk untuk keluarganya yang entah ada di mana itu," sindir Puput sembari melirik Mamanya, Susi, yang hanya tersenyum sinis.
Calista menghentikan langkahnya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengingat tekad yang ia buat: menjadi wanita yang tangguh dan tidak mudah goyah. Ia membalikkan badan dengan tenang, menatap Puput dengan sorot mata yang datar.
"Puput, jika kau tidak punya pekerjaan yang lebih berguna daripada mengomentari hidupku, mungkin kau bisa membantu para pelayan membersihkan debu di sudut ruangan itu. Kurasa otakmu sudah mulai tertutup debu juga," balas Calista dengan suara yang halus namun tajam.
Wajah Puput memerah seketika. Ia tidak menyangka Calista kini semakin berani membalas dengan kata-kata yang menohok. Rasa dengki yang sudah menumpuk di dadanya seolah meledak. Puput, yang sebagai adik Denis merasa kedudukannya jauh lebih tinggi dan lebih berhak atas segalanya dibandingkan wanita "asing" ini, meletakkan cangkir tehnya dengan kasar di atas meja marmer.
"Kau pikir kau siapa, hah? Hanya karena Mas Denis menikahimu, kau merasa punya hak untuk bicara begitu padaku?" bentak Puput. Ia berdiri dan melangkah mendekat, mencoba mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang dibuat-buat angkuh.
Susi ikut memanasi suasana, mendukung putrinya dengan tatapan meremehkan. "Sudahlah, Puput. Jangan terlalu keras padanya. Kita semua tahu dia memang datang dari antah berantah. Paling-paling dia hanya wanita dari keluarga kelas bawah yang kebetulan beruntung mendapatkan Mas-mu itu."
Susi dan Puput memang tidak tahu latar belakang Calista yang sebenarnya. Mereka tidak tahu tentang sakitnya sang ibu atau pengorbanan yang dilakukan Calista. Bagi mereka, Calista hanyalah "parasit" cantik yang tiba-tiba muncul tanpa silsilah yang jelas.
Puput tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Benar juga, Ma. Tapi yang paling lucu adalah mentalitasnya. Aku penasaran, didikan seperti apa yang ia terima sampai bisa menjadi wanita penjilat seperti ini? Kurasa orang tuanya memang tipe orang yang tak tahu malu, ya? Sengaja membesarkan anak mereka agar bisa menempel pada pria kaya seperti Mas Denis demi mengangkat derajat mereka yang rendah. Benar-benar menjijikkan."
Udara di ruangan itu seolah membeku. Para pelayan yang tadinya berpura-pura sibuk kini terdiam mematung. Kalimat Puput bukan sekadar hinaan biasa; itu adalah serangan langsung terhadap harga diri dan kehormatan orang tua Calista satu-satunya hal yang paling suci bagi Calista di dunia ini.
Calista merasakan darahnya berdesir hebat. Rasa panas merayap dari dadanya menuju ujung jari-jemarinya. Ia bisa menoleransi hinaan pada dirinya sendiri, namun menyebut orang tuanya sebagai sosok yang tak tahu malu adalah garis merah yang tak boleh dilanggar oleh siapa pun.
"Tarik ucapanmu, Puput," desis Calista. Suaranya rendah, bergetar karena amarah yang ditahan sekuat tenaga. Matanya menatap tajam ke dalam manik mata Puput, memancarkan kilat yang menakutkan.
Puput, yang merasa berada di atas angin karena statusnya sebagai adik Denis dan merasa terlindungi oleh kehadiran Mamanya, justru semakin menjadi-jadi. Ia melangkah satu tindak lebih dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Kenapa? Tersinggung? Memang itu kenyataannya, kan? Orang tuamu pasti tidak punya harga diri sampai membiarkan anaknya merangkak di kaki pria berkuasa seperti Mas Denis. Mungkin ibumu memang mengajarkanmu cara merayu pria sejak kecil agar bisa keluar dari lumpur. Dasar keluarga tak tahu malu..."
PLAK!
Suara tamparan yang begitu keras bergema di seluruh ruangan. Kepala Puput terlempar ke samping dengan tenaga yang luar biasa. Bekas jari berwarna merah langsung tercetak jelas di pipi mulusnya. Kesunyian yang mencekam menyusul kemudian, hanya menyisakan deru napas Calista yang memburu.
Puput memegangi pipinya, matanya membelalak kaget. Ia terpaku selama beberapa detik, tidak percaya bahwa wanita yang ia anggap remeh baru saja memberikan serangan fisik secara telak di depan banyak orang.
"KAU... KAU BERANI MENAMPARKU?!" jerit Puput histeris. Ia hendak maju untuk membalas, namun Calista justru maju selangkah lebih dekat dengan sorot mata yang membuat Puput ciut seketika.
"Sekali lagi kau menghina orang tuaku dengan mulut kotor itu, aku pastikan bukan hanya pipimu yang memerah, tapi aku akan memastikan kau tidak akan berani menunjukkan wajahmu di rumah ini lagi!" ancam Calista dengan nada dingin yang sangat mirip dengan cara Denis bicara saat sedang murka.
Susi langsung berdiri, wajahnya penuh amarah melihat putrinya dipermalukan. "Calista! Apa-apaan kau ini?! Kau sudah gila ya, memukul putriku di rumah ini?!"
Calista menoleh pada Susi dengan tatapan yang sama tajamnya. "Dan Nyonya Susi. Sebagai orang tua, bukannya mengajari putrimu cara bicara yang sopan, Anda justru menjadi kompor bagi kebodohannya. Kalian berdua harus sadar, aku adalah nyonya di rumah ini. Siapa pun yang menghina keluargaku, tidak akan pernah aku lepaskan begitu saja!"
Puput mulai menangis sesenggukan, memeluk Mamanya. Ia menatap para pelayan yang melihatnya dengan tatapan kaget, dan hal itu membuatnya merasa semakin terhina. Perubahan sikap Calista yang drastis ini benar-benar menghancurkan rasa percaya diri Puput yang selama ini merasa tak tersentuh sebagai adik sang pemilik rumah.
"Aku akan laporkan ini pada Mas Denis! Aku akan pastikan dia tahu betapa kasarnya kau!" ancam Puput di sela tangisnya.
Calista hanya tersenyum dingin, sebuah senyuman yang penuh dengan kepercayaan diri. "Silakan. Laporkan saja. Katakan padanya bahwa kau menghina mertuanya sebagai orang tak tahu malu. Kita lihat saja, siapa yang akan dibela oleh Denis Satrya. Apakah aku, istrinya yang menjaga kehormatan keluarganya, atau kau, adik yang tidak punya tata krama?"
Mendengar tantangan itu, nyali Puput langsung menciut. Ia tahu betul betapa Denis sangat menjunjung tinggi formalitas dan rasa hormat dalam keluarga. Denis tidak akan pernah membiarkan nama baik keluarga besarnya dicoreng oleh mulut sembrono yang menyerang mertuanya sendiri, meskipun secara tertutup.
Calista tidak menunggu jawaban lagi. Ia merapikan pakaiannya, menegakkan punggungnya, dan berjalan melewati mereka dengan langkah yang mantap. Tamparan itu bukan hanya untuk Puput, melainkan deklarasi bahwa ia tidak lagi pernah membiarkan orang lain menginjak-injak kehormatan keluarganya.
Di dalam kamar, Calista menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Tangannya masih sedikit gemetar karena adrenalin. Ia tahu ini akan memicu badai baru, namun ia tidak menyesal. Hari ini, ia telah mengambil satu langkah besar untuk menjadi wanita tangguh yang ia impikan. Ia telah menunjukkan taringnya, memastikan bahwa di istana Satrya, mawar yang indah pun memiliki duri yang mampu melukai siapa saja yang berani merusaknya.