Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan Berwajah Dua
Di balik rimbunnya pohon-pohon bambu yang melengkung rendah di sisi hulu sungai. Sepasang mata mengintip dengan napas yang tertahan. Itu bukan mata Permadi, bukan pula mata pemuda penyelamat misterius tadi, itu adalah mata Bagas.
Bagas sebenarnya sudah ada di sana sejak Laras dan teman-temannya pertama kali menginjakkan kaki di sungai. Niatnya rendah, ia ingin memuaskan hasrat pribadinya dengan mengintip para gadis desa itu mandi dari kejauhan.
Namun, fantasi kotornya buyar seketika. Saat ia melihat rombongan pria bertubuh besar dengan pakaian kota yang sangat ia kenali muncul di tepi sungai.
Jantung Bagas seolah berhenti berdetak. Saat melihat sosok gempal Permadi. Ketakutan yang amat sangat melumpuhkan saraf-sarafnya. Ia tahu benar siapa pria itu, sang naga yang sedang mengejarnya karena utang judi yang tak kunjung lunas.
Bagas meringkuk di balik semak berduri. Membiarkan tubuhnya tergores ranting. Lebih memilih luka fisik daripada harus berhadapan dengan murka Permadi.
Bahkan saat ia melihat Larasati. Gadis yang katanya ia cintai dikepung dan diperlakukan kasar oleh anak buah Permadi. Bagas tetap bergeming, Ia mendengar jeritan Laras yang memilukan. Ia melihat kain kembeng Laras yang tersingkap.
Namun keberaniannya nol besar. Bagas hanya bisa meremas tanah dengan tangan gemetar. Berdoa dalam hati agar Permadi tidak melihat keberadaannya di balik semak. Ia adalah pecundang yang membiarkan calon istrinya di ambang kehancuran demi menyelamatkan kulitnya sendiri.
Baru setelah pemuda misterius dengan katapel itu muncul dan berhasil mengusir rombongan Permadi. Bagas bisa bernapas lega. Ia menunggu dalam diam sampai pemuda penyelamat itu pergi.
Ego Bagas kini terluka, ia merasa kerdil, karena telah membiarkan orang lain melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Namun, otak liciknya segera berputar mencari celah.
Larasati berjalan dengan langkah yang masih goyah. Isak tangisnya sudah mereda, digantikan oleh trauma yang membuat pandangannya berkunang-kunang.
Jalur setapak menuju desa terasa begitu panjang dan berliku. Bayangan-bayangan hitam di tepi jalan seolah-olah berubah. Menjadi sosok Permadi yang siap menerjangnya kembali.
"Cepat, aku harus cepat sampai rumah," gumam Laras dengan suara serak.
Napasnya memburu, keringat dingin membasahi punggungnya. Karena fokusnya yang terbelah antara rasa takut dan lemas. Laras tidak memperhatikan akar pohon jati yang menonjol di tengah jalan. Kakinya yang letih tersangkut kuat.
BRAK!
Laras jatuh terjerembap ke depan. Malangnya, sebuah batang pohon tumbang yang sudah mengering melintang tepat di jalur jatuhnya.
Kepala Laras menghantam kayu keras itu dengan suara benturan yang cukup keras. Seketika, pandangan Laras menjadi gelap total.
Dunianya padam dalam sekejap. Ia tergeletak tak berdaya di jalan setapak yang sunyi dengan kain jarit ibunya yang masih erat dalam genggaman.
Dari balik pohon besar, Bagas muncul. Ia tidak langsung menolong. Ia berdiri diam sejenak, menatap tubuh Laras yang pingsan dengan pandangan yang sulit diartikan.
Ia melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada orang lain yang melihat. Sebuah rencana jahat nan cerdik tersusun di kepalanya. Inilah kesempatannya untuk menjadi pahlawan. Tanpa harus mengeluarkan keringat atau menghadapi bahaya.
Bagas mendekat, berlutut di samping Laras. Ia merapikan sedikit pakaian Laras yang berantakan, sengaja memberikan kesan bahwa ia baru saja menyelamatkan gadis itu dari pergulatan. Ia bahkan mengambil sedikit tanah dan mengoleskannya ke bajunya sendiri agar ia terlihat seperti habis berkelahi.
Dengan tenaga yang dipaksakan, Bagas membopong tubuh Laras. Ia mengatur napasnya agar terdengar terengah-engah saat nanti sampai di rumah Pak Tarno.
Suasana di depan rumah kayu Pak Tarno mendadak gempar. Suara teriakan Bagas memecah keheningan sore desa Sukamulya.
"Bapak! Ibu! Tolong! Laras, Pak!" teriak Bagas, sembari berjalan cepat menggendong Laras yang masih tak sadarkan diri.
Pak Tarno dan Bu Rahayu lari keluar dari rumah dengan wajah pucat pasi. Melihat putri satu-satunya terkulai lemas di lengan Bagas dengan memar di dahi. Bu Rahayu hampir saja pingsan jika tidak berpegangan pada tiang teras.
"Astaga, Laras! Apa yang terjadi, Bagas?!" seru Pak Tarno, suaranya bergetar hebat sembari membantu Bagas membaringkan Laras di bale-bale bambu teras rumah.
Bagas mengatur napasnya, memasang wajah yang penuh keprihatinan sekaligus amarah yang dibuat-buat, "Tadi di dekat sungai, Pak... Ada beberapa orang asing, sepertinya preman dari kota. Mereka mengganggu Laras!"
"Apa?!" Pak Tarno mengepalkan tangannya, teringat pada rombongan Permadi yang ia temui tadi.
"Saya kebetulan lewat setelah dari rumah Kepala Desa," bohong Bagas dengan lancar, tanpa berkedip sedikit pun.
"Saya melihat Laras dikepung. Saya langsung menerjang mereka, Pak! Saya berkelahi dengan mereka sampai mereka lari ketakutan. Laras ketakutan dan lari, tapi dia tersandung dan pingsan. Saya langsung membawanya ke sini secepat mungkin."
Bu Rahayu menangis sembari mengusap wajah Laras dengan air hangat, "Ya Tuhan... terima kasih, Nak Bagas. Terima kasih kamu sudah menolong putri kami. Kalau tidak ada kamu, entah apa yang akan terjadi.”
Bagas menundukkan kepala, berpura-pura rendah hati. "Sudah kewajiban saya, Bu. Saya mencintai Laras. Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh seujung rambutnya."
Di dalam hatinya, Bagas tertawa sinis. Ia merasa sangat menang dengan satu kebohongan besar. Ia kini telah mengantongi restu mutlak dari orang tua Laras. Pak Tarno menepuk bahu Bagas dengan kuat. Matanya berkaca-kaca penuh rasa terima kasih yang mendalam.
"Bagas, kau sudah menyelamatkan kehormatan keluarga kami. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu," ucap Pak Tarno dengan suara serak.
Larasati mulai mengerang kecil, matanya perlahan terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Bagas yang tersenyum lembut di hadapannya.
"Mas Bagas..." bisik Laras lemah.
"Tenang, Dek Laras. Mas di sini. Kamu sudah aman. Mas sudah mengusir orang-orang jahat itu," ucap Bagas lembut, sembari menggenggam tangan Laras dengan erat.
Laras yang masih linglung dan trauma. Tidak sanggup mencerna apa yang terjadi. Memorinya tentang pemuda dengan katapel dan serangan Permadi masih tumpang tindih dengan rasa sakit di kepalanya.
Melihat Bagas ada di sana, dan mendengar pengakuan Bagas di depan orang tuanya. Laras hanya bisa mengangguk lemah. Ia percaya sepenuhnya, Ia mengira Bagas adalah penyelamat yang nyata.
Tanpa tahu bahwa pria yang sedang menggenggam tangannya ini adalah pengecut yang akan menjual hidupnya di kemudian hari demi tumpukan kartu judi. Tanpa harus kembali mengingat lagi sebenarnya siapa sesungguhnya pahlawan yang menolongnya di tepi sungai tadi.
Petaka itu kini telah resmi masuk ke dalam rumah. Petaka itu seolah menjelma sebagai Bagas dengan topeng asli Rahwana yang tersembunyi di balik wajah Arjuna. Berwujud seorang pahlawan palsu yang baru saja mendapatkan kunci menuju masa depan Larasati. Dan baru saja menggembok mati restu dari orang tua Laras Ati yang polos percaya begitu saja pada Bagas.