Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Perangkap di Balik Tirai Malam
Andra Bayu berdiri membeku selama beberapa detik ketika jemari halus Nadia masih merapikan kerah kemejanya. Permintaan untuk kembali ke apartemen Kebayoran Baru malam ini terdengar seperti sebuah undangan ke dalam surga yang menenangkan, sekaligus sebuah jebakan tak kasat mata yang siap mengunci mati kebebasannya sebagai seorang pria.
Di dalam saku celananya, telepon genggam jadul miliknya seolah mendadak terasa panas, mengingatkan Andra pada pesan ancaman Gunawan yang dikirimkan siang tadi. Kata-kata Diana di menara kaca SCBD tentang aliansi saham dan mata-mata yang tersebar di seluruh penjuru kota juga mendadak berkelebat di benaknya, membuat Andra harus memutar otak demi keselamatan mereka berdua.
(Nggih, Mbak Nadia. Saya akan menemani Mbak malam ini,) jawab Andra dengan nada suara baritonnya yang rendah dan menenangkan, berusaha menyembunyikan badai pikiran yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya. (Tapi, jika saya boleh memberikan saran, ada baiknya kita tidak keluar dari gedung ini secara bersamaan. Staf kreatif dan Mas Joko mungkin sudah bersiap pulang di lobi bawah. Akan jauh lebih aman jika Mbak Nadia pulang lebih dulu bersama sopir pribadi, dan saya akan menyusul menggunakan motor bebek setelah memastikan seluruh dokumen di ruangan ini terkunci rapat.)
Nadia menatap Andra dengan tatapan mata yang sedikit terkejut, namun sedetik kemudian gurat kekaguman kembali muncul di wajah cantiknya. Wanita sukses itu tersenyum tipis, merasa sangat bangga karena pemuda desa yang dipilihnya ini tidak hanya memiliki fisik yang tegap dan maskulin, tetapi juga memiliki ketelitian serta kedewasaan berpikir untuk melindungi rahasia mereka.
(Kamu benar, Andra. Saya terlalu larut dalam rasa lega hingga melupakan hal sekecil itu,) ucap Nadia lembut, perlahan melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah kemeja Andra lalu mundur satu langkah untuk mengembalikan jarak profesional mereka. (Kalau begitu, saya akan turun ke lobi lima belas menit dari sekarang. Jangan membuat saya menunggu terlalu lama di apartemen, Andra Bayu.)
(Nggih, Mbak,) jawab Andra patuh sembari membungkuk hormat.
Nadia segera merapikan tas kerja kulitnya yang mahal, memakai kembali blazer putih gadingnya dengan anggun, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan kepala tegak, kembali mengenakan topeng ketegasan sebagai Managing Director Apex Media di hadapan beberapa staf yang tersisa di koridor luar.
Setelah memastikan Nadia telah meninggalkan lantai 17, Andra tidak langsung merapikan mejanya. Ia berjalan kembali ke dalam ruang kerja pribadinya yang baru, menduduki kursi putarnya, lalu mengeluarkan telepon genggam jadul dari saku celana. Ia membuka kembali pesan ancaman dari Gunawan, membacanya baris demi baris di bawah temaram lampu kubikel yang mulai dimatikan secara otomatis oleh sistem gedung.
Ancaman itu nyata. Gunawan bukan sekadar pria arogan yang gemar menggertak, dia adalah hiu korporat yang terluka harga dirinya. Andra tahu, jika ia melangkah tanpa strategi yang matang, ia hanya akan menjadi umpan murah yang dihancurkan di tengah persaingan kelas atas ini. Di titik inilah, untuk pertama kalinya sejak merantau ke Jakarta, benih ambisi yang dingin mulai tumbuh di dalam dada seorang Andra Bayu. Ia menyadari bahwa keluhuran budi dan kejujuran yang dibawa dari desa tidak akan cukup untuk melindunginya di kota ini. Ia butuh kekuatan, ia butuh koneksi, dan ia butuh posisi yang tidak bisa diruntuhkan oleh siapa pun.
Tepat pukul tujuh malam, setelah memastikan seluruh lantai 17 sunyi senyap dan hanya menyisakan Mas Joko yang sedang berjaga di pos sekuriti lobi bawah, Andra mengunci pintu ruangannya. Ia menyusuri koridor dalam dengan langkah kaki yang mantap, memeluk ransel hitam sederhananya.
Di lobi utama, Mas Joko tampak sedang meminum kopi hitam dari cangkir kalengnya ketika melihat Andra berjalan menuju pintu keluar.
(Baru pulang, Ndra? Wah, setelah jadi Account Executive, jam kerjamu langsung menyamai para bos ya,) tegur Mas Joko dengan kekehan ramah namun sepasang mata seniornya tetap jeli memperhatikan pembawaan Andra.
(Nggih, Mas Joko. Banyak berkas proyek SCBD yang harus saya pelajari malam ini agar tidak mempermalukan divisi kita besok pagi,) jawab Andra santai, memberikan alasan yang sangat logis.
(Bagus, Ndra. Tapi ingat pesan saya tadi siang, ya. Tetap waspada. Di gedung tinggi seperti ini, anginnya bertiup jauh lebih kencang daripada di bawah,) ucap Mas Joko dengan nada serius, sebuah peringatan tulus dari seorang sesama perantau yang sudah lama memakan asam garam kehidupan ibu kota.
(Nggih, Mas. Maturnuwun pengingatnya. Saya permisi pulang dulu,) pamit Andra, menjabat tangan Mas Joko erat sebelum melangkah keluar menembus udara malam Jakarta yang mulai terasa dingin setelah diguyur gerimis.
Motor bebek tua milik Andra membelah kepadatan jalanan kawasan Blok M menuju ke arah kompleks apartemen eksklusif di Kebayoran Baru. Pukul delapan malam lewat lima belas menit, motor tua itu berhenti di area parkir basemen yang luas dan remang-remang. Andra mematikan mesinnya, merapikan kembali pakaiannya, lalu berjalan menuju lift privat yang akan membawanya langsung menuju unit apartemen lantai teratas tempat Nadia berada.
Ketika pintu lift berdenting terbuka di dalam unit apartemen, suasana di dalam ruangan terasa sangat berbeda dari kunjungan pertamanya. Lampu-lampu gantung kristal yang mewah sengaja dimatikan, hanya menyisakan pendar cahaya dari lampu dinding berwarna kuning temaram (warm white) yang menciptakan atmosfer sangat hangat dan romantis. Aroma masakan steik daging sapi premium dan wangi lilin aromaterapi melati langsung menyambut indra penciuman Andra.
Nadia sedang berdiri di balik meja makan marmer, menata sepasang piring porselen. Malam ini, ia telah melepas seluruh pakaian dinas kantornya. Wanita sukses itu hanya mengenakan sebuah gaun tidur (slip dress) berbahan sutra tipis berwarna merah marun yang jatuh dengan pas, mengekspos keindahan kulit bahu dan lehernya yang putih bersih di bawah temaram cahaya lampu. Rambut indahnya dibiarkan tergerai bebas, membingkai wajah cantiknya yang kini tampak sangat rileks tanpa beban korporat.
(Kamu datang tepat waktu, Andra,) ucap Nadia dengan suara yang sangat lembut, seulas senyum bahagia yang penuh gairah terkembang di bibirnya saat melihat sosok tegap Andra melangkah masuk ke dalam ruangannya.
Andra meletakkan ranselnya di atas sofa, lalu berjalan mendekati meja makan. Pembawaan maskulinnya yang kokoh tampak sangat mendominasi di dalam ruangan mewah tersebut. (Saya harus memastikan situasi kantor benar-benar aman sebelum kemari, Mbak Nadia.)
Nadia berjalan memutari meja makan, menghampiri Andra hingga jarak di antara mereka kembali terkikis habis. Ia mendongak, menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata hitam Andra yang bergejolak. Kedua tangan halus Nadia naik, menyentuh dada bidang Andra yang terbungkus kemeja abu-abu gelap, merasakan detak jantung pemuda desa itu yang kian memburu.
(Lupakan sejenak tentang kantor, Andra. Malam ini, di tempat ini, tidak ada Managing Director atau Account Executive. Hanya ada saya... dan kamu,) bisik Nadia dengan nada suara yang sangat manja, sebelum ia berjinjit dan mendaratkan bibirnya di atas bibir tegas Andra dengan penuh kerinduan yang teramat pekat.
Sentuhan itu kembali membakar habis sisa-sisa nalar sehat Andra Bayu. Di bawah pendar cahaya temaram apartemen lantai atas, gerbang hubungan intim yang penuh risiko itu kembali terbuka lebar, mengikat takdir mereka berdua ke dalam pusaran asmara terlarang yang kian hari kian mendalam, sementara di luar sana, waktu terus berjalan menuju badai konflik besar yang digerakkan oleh Gunawan dan Diana pada bab-bab yang akan datang.