NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suami Istri

Kecupan di pipi riyani membuatnya cukup gugup. Sedangkan suaminya hanya menahan senyuman melihat pipi ranum wanita itu.

"Sayang!?"

Riyani masih terdiam. Cukup banyak kejutan baginya dari Hanif hari ini—bahkan hanya saat beberapa menit di dalam kamar.

"Sayang!?"

Hanif memanggilnya kembali.

Riyani sontak mendongak, sedikit menoleh pada suaminya yang kini menatapnya melalui cermin.

"Boleh gak sih?" tanya Hanif.

Riyani mengernyitkan keningnya. Ia telan ludahnya dengan kuat.

Gugup? Tentu.

"Apa?"

Hanif lagi-lagi menahan senyumannya.

"Panggil kamu sayang. Boleh kan?" tanyanya.

Riyani mengangguk pelan. "Boleh," jawabnya.

Hanif tersenyum. Dengan santai, ia kembali mencium istrinya lalu kembali pada pekerjaannya.

"Ih modus!!" pelan Riyani membuat Hanif kini terkekeh.

Riyani membersihkan tubuhnya lebih dulu. Lalu bergantian dengan Hanif.

...----------------...

Acara sudah selesai, tersisa beberapa orang di rumah. Seyila dan orang tua hanif juga sudah berpamitan setelah ashar tadi. Begitupun dengan tamu undangan yang sudah bergantian datang.

Suasana masih ramai, orang-orang yang bertugas membereskan pelaminan saja masih bekerja keras sampai hampir waktu tengah malam.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Hanif masih mengobrol dengan kakek dan bapak di ruang tengah. Begitupun dengan mamah dan nenek yang masih sibuk di dapur, entah membereskan apa.

Riyani hanya memainkan ponsel sembari selonjoran pada ranjangnya. Dengan piyama berwarna putih dengan lengan panjang—senada dengan yang Hanif pakai sekarang.

Pesan masuk dari suaminya membuat wanita itu bergegas keluar dari kamar.

Ada bapak yang kini menatapnya—menatap anak gadis yang baru saja ia hantarkan pada laki-laki di sampingnya.

"Sini Neng!" pinta Hanif menepuk bagian sofa yang masih kosong.

Riyani tersenyum tipis. Ia duduk di samping suaminya, dengan rangkulan tangan seperti romantis—padahal wanita itu menjaga tangannya agar tidak gugup di depan bapaknya.

Hanif menggenggam tangannya. Lelaki itu memberikan isyarat pada istrinya agar lebih tenang dan percaya bahwa ia akan menemaninya bagaimanapun nanti.

"Neng!?" panggil Pak Adam.

Riyani hanya menoleh tanpa menjawabnya.

"Maaf ya atas segala kesalahan bapak!" ucap Pak Adam dengan senyuman tipisnya, "bapak emang gak bisa kasih kebahagiaan yang kamu mau. Bapak cuman bisa minta maaf sama kamu sekarang, semoga kamu bahagia dengan suami kamu kelak," sambungnya.

Suasana sempat hening. Riyani mendongak—melihat bapaknya. "Neng udah maafin bapak kok. Gak apa-apa, mungkin emang kesalahpahaman yang terjadi akhir-akhir ini buat kita renggang. Neng juga minta maaf belum bisa bahagiakan orang tua sebagai anak perempuan terakhir."

Riyani pada akhirnya merasa lega, begitupun dengan orang-orang yang mendengarnya.

Pak Adam pamit pulang dengan istrinya. Tidak lupa ia menitipkan Riyani kembali pada Hanif dan Kakek Dayat.

...----------------...

Riyani masuk ke kamarnya, dengan rasa gugupnya saat melihat Hanif turut masuk ke kamar yang biasanya tidak pernah ia tutup pintunya jika lelaki itu masuk.

Riyani menoleh pada suaminya.

"Aa mau bobo sebelah mana?"

"Sebelah mana aja. Asal di samping kamu," jawab Hanif.

Riyani berdehem. (Gak enak banget jawabannya)

Wanita itu berbaring di samping kiri, dekat dengan pintu kamar. Disusul suaminya yang berbaring di sisi kanan—dekat dengan kamar mandi.

Hanif menyampingkan tubuhnya.

"Sayang!?"

"Hm?" sahut Riyani, menyamping pada Hanif kali ini.

"Kamu udah ngantuk?"

(Ya masa aku ngantuk dalam keadaan begini. Ya kali!!)

Hanif terkekeh pelan. Ia merangkul, lalu menarik pinggang istrinya agar lebih dekat dengannya.

Sontak Riyani menyilangkan tangannya di depan, menahan agar sesuatu yang ia punya tidak mengenai Hanif.

"Kenapa? Kaget begitu. Kan normal aja suami istri tidurnya peluk begini," ucap Hanif.

"Kata siapa?" tanya balik Riyani, "pengap tau, A."

Hanif malah terkekeh.

"Pengap atau kamu takut tergoda sama Aa?"

Riyani memukul dada bidang suaminya.

Hanif mendekatkan wajahnya pada Riyani. Ia berbisik, "tenang aja. Aa gak bakal minta lebih malam ini. Kita bobo kayak gini aja dulu."

"Ih Aa!!" protes Riyani kembali.

Hanif malah mengencangkan pelukannya. Rangkulan hangat dari tangannya itu membuat Riyani mulai terlelap dalam dekapannya.

...----------------...

Keesokan paginya, Riyani baru saja terbangun. Pasalnya ia mendengar suara adzan subuh berkumandang.

(Loh Aa kemana?)

Pintu kamar mandi di buka, Hanif keluar dengan lilitan handuknya pada pinggang.

(Ya ampun.... Suami aku cakep banget kalau habis mandi begini, mana dada sama perutnya menggoda banget)

"Sayang kalau kegoda begitu kamu harus mandi tau," ucap Hanif membuat wanita itu langsung tersadar.

"Apaan sih. Siapa yang tergoda," ucap Riyani memilih masuk ke kamar mandi.

Hanif memilih sholat berjamaah di masjid bersama dengan kakek dayat. Sedangkan Riyani sholat subuh di kamar lalu memulai aktivitasnya seperti biasa. Apalagi setelah pesta pernikahan kemarin, halaman nenek masih terlihat berantakan dengan sampah dan juga pot-pot tanamannya yang disingkirkan lebih dulu.

Hari sudah mulai siang, Riyani memanggil suaminya untuk sarapan lebih dulu. Kali ini kursi di meja makan kakek lebih ramai. Ditambah Azka yang pagi-pagi sekali sudah berkunjung kemari.

"Bang, tumben ke sini pagi-pagi. Mau ngapain?" tanya Riyani.

"Biasanya kalau disuruh nginep aja gak mau kamu," ledek Kakek Dayat.

Azka terkekeh.

"Ada janji mau main game sama Hanif."

Riyani menoleh pada suaminya.

"Kemarin sore sebelum pulang dia ngajak Aa main game. Cuman waktu itu udah sore banget, makanya janjian besoknya. Eh malah pagi-pagi banget sampe ngikut sarapan ke sini," jawab Hanif.

Selesainya, Hanif bermain game dengan Azka di ruang tamu. Sedangkan Riyani memilih untuk pergi ke toko kue bersama dengan nenek.

"Kamu gak capek bantuin nenek di sini?"

"Enggak, Nek. Lagian kan cuman penuhin pesanan aja. Bukan yang buka toko," jawab Riyani sembari mencetak beberapa kue kering pesanan pelanggan.

Sebenarnya, nenek menutup beberapa hari toko kuenya. Tetapi berhubung pelanggan setia yang memesan dan sering memesan dalam porsi yang banyak, nenek merasa tidak nyaman untuk menolaknya. Itupun nenek memundurkan beberapa hari untuk pemesanannya agar bisa sedikit santai.

Riyani asik membuat kue dengan neneknya, hingga lupa bahwa ia kini sudah memiliki suami.

"Sayang!?" panggil Hanif masuk ke dapur kue.

"Kenapa A?"

"Kamu masih lama ya bikin kuenya?" tanya Hanif.

"Sedikit lagi. Kenapa emangnya? Udahan main game sama Bang Azka-nya?"

Hanif mengangguk.

"Dia tiba-tiba ada panggilan kerjaan di rumah sakit. Makanya buru-buru pergi."

"Terus kenapa susul aku?" Laper ya?"

Hanif cengengesan. Ia mengangguk mengiyakan.

"Ya udah yuk kita makan siang dulu. Nanti Neng lanjut lagi bikin kuenya," ajak Riyani sembari menggandeng tangan suaminya keluar dari toko bersama neneknya.

Pesanan itu belum terpenuhi, hanya tinggal beberapa loyang untuk dipanggang.

...----------------...

Riyani menyajikan masakan yang ia masak dengan simpel. Hanya ada sambal goreng buatannya, ayam goreng ketumbar, ditambah lalapan yang ada di kulkas nenek.

Sudah tidak asing lagi bagi kakek dan nenek, bahwa masakan cucunya memang bisa diandalkan. Begitupun dengan Hanif yang setuju akan hal itu.

Lelaki itu bahkan berulang kali menambah porsi nasinya.

"Sayang, Aa masih kuat. Pengen nambah lagi ya! Sekali lagi aja..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!