NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31 : Menikah?

Ruangan kerja kembali sunyi setelah jawaban Bara tadi. Gadis itu perlahan menunduk lagi sambil menggenggam sweaternya erat.

“Meskipun begitu…” suaranya lirih. “Tuan tetap tidak punya kewajiban melindungiku sejauh ini.”

Tatapan Bara masih tertuju padanya.

Rosline menarik napas kecil sebelum akhirnya berkata jujur, “Aku hanya perawat si mansion ini.”

Dan kalimat itu justru membuat rahang Bara sedikit mengeras. Pria itu berjalan pelan menuju meja kerjanya lalu menuangkan whiskey ke dalam gelas tanpa meminumnya. Punggung lebarnya membelakangi Rosline beberapa detik.

“Apa kau lupa, kalau kau sudah di jadikan target oleh Black Viper.” gumamnya rendah.

Rosline terdiam.

“Victor sudah melihatmu.” lanjut Bara dingin. “Dan itu berarti hidupmu tidak baik-baik saja.”

Kalimat itu membuat dada Rosline terasa sesak.

Ia perlahan menatap lantai sambil berbisik kecil, “Kalau begitu… aku benar-benar membawa masalah.”

Brakk.

Gelas whiskey di tangan Bara mendadak berhenti bergerak. Suara benturan kecil itu membuat Rosline tersentak.

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri.” suara Bara terdengar rendah namun penuh tekanan.

Rosline perlahan mengangkat wajah.

Kini Bara kembali menatapnya. Sorot matanya jauh lebih tajam dibanding sebelumnya. “Masalah ini dimulai jauh sebelum kau datang ke mansion.” lanjutnya dingin. “Victor tidak pernah menyukaiku dan dia selalu mengincarku.”

Ruangan kembali hening.

Lalu perlahan… Bara berjalan mendekat lagi sampai berdiri tepat di depan Rosline. “Kau tahu apa yang paling Victor sukai?” tanyanya rendah.

Rosline menggeleng pelan.

“Ketakutan.” jawab Bara dingin. “Dia suka melihat orang kehilangan kendali karena rasa takut.”

Tatapan pria itu mengeras sedikit. “Jadi jangan tunjukkan ketakutanmu di depan siapa pun.” lanjutnya. “Terutama di depan Victor.”

Rosline menelan ludah pelan.

Namun beberapa detik kemudian, gadis itu memberanikan diri bertanya lirih, “Apa… Tuan tidak takut?”

Pertanyaan itu membuat Bara diam sesaat. Tatapannya perlahan berubah gelap sebelum akhirnya ia menjawab rendah,

“Aku sudah terlalu lama hidup di dunia seperti ini.”

Nada suaranya terdengar begitu dingin dan tenang. Namun justru itu membuat Rosline merasa aneh.

Kali ini ia menyadari kalau pria di depannya mungkin sudah terlalu terbiasa hidup bersama ancaman, darah, dan musuh. Dan entah kenapa, hal itu membuat dadanya terasa sedikit sakit.

Tiba-tiba…

Tok tok.

Ketukan pintu kembali terdengar.

“Bara.” suara Edwin terdengar dari luar. “Opa memanggilmu.”

Bara langsung mengalihkan tatapannya dari Rosline. “Masuk.”

Pintu terbuka perlahan dan Edwin masuk dengan ekspresi santai seperti biasa. Namun matanya langsung bergerak cepat memperhatikan suasana di dalam ruangan.

Rosline berdiri dekat meja dengan wajah masih merah samar. Sedangkan Bara berdiri tidak jauh di depannya dengan aura dingin yang mulai sedikit mereda.

Edwin langsung mengangkat sebelah alis tipis. “Aku harap kau tidak membuat Rosline semakin tertekan.”

Rosline langsung panik. “Ti-tidak!”

Sedangkan Bara hanya menatap Edwin datar. “Apa yang kau katakan?”

Edwin berjalan masuk sambil memasukkan tangan ke saku celana. “Sudah lah, sebaiknya kalian ikut denganku ke ruang tengah," ucapnya. “Sepertinya ada yang ingin Opa bahas.”

Beberapa menit kemudian…

Suasana ruang tengah mansion kembali dipenuhi ketegangan. Hujan di luar semakin deras terdengar membentur kaca-kaca besar mansion.

Kakek Alberto duduk di sofa utama sambil memegang tongkatnya erat. Wajah pria tua itu terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya.

Sedangkan Bara berdiri dekat jendela dengan tangan di saku celana. Aura dinginnya memenuhi ruangan. Rosline duduk canggung di sofa tunggal sambil menunduk gugup. Dan Edwin berdiri bersandar di meja sambil memperhatikan semuanya diam-diam.

Ruangan sempat hening cukup lama sebelum akhirnya. “Aku sudah memutuskan sesuatu.” ucap Kakek Alberto tiba-tiba.

Semua tatapan langsung tertuju padanya.

Tatapan pria tua itu perlahan berpindah dari Bara ke Rosline. “Kalian harus menikah.”

Suasana ruang tengah langsung membeku.

“Hah!” Rosline spontan membulatkan matanya kaget.

Sedangkan Edwin langsung berdiri tegak. “Opa serius?”

Bahkan Bara yang sejak tadi terlihat tenang perlahan menoleh dengan tatapan tajam. “Apa maksud Opa?”

Namun Kakek Alberto tetap terlihat santai meski semua orang bereaksi keras. “Victor sekarang mengincar Rosline karena dia dekat denganmu.” ucapnya tenang. “Kalau gadis itu tetap berada di mansion tanpa status yang jelas, dia akan terus menjadi sasaran empuk.”

Rosline langsung menggeleng cepat panik. “Ti-tidak! Saya tidak setuju!”

“Aku juga.” Edwin bicara bersamaan.

Ruangan kembali hening beberapa detik karena keduanya bicara bersamaan.

Kakek Alberto langsung mendecak kecil. “Aku belum selesai bicara.”

Rosline langsung menunduk gugup lagi.

Sedangkan Bara masih diam tanpa ekspresi. Namun sorot matanya mulai terlihat semakin gelap.

“Keluarga Alexander punya banyak musuh.” lanjut Kakek Alberto serius. “Dan Victor adalah salah satu yang paling berbahaya.” Tatapannya kini lurus pada Bara. “Kalau kau benar-benar ingin melindungi gadis itu, maka jadikan dia bagian dari keluarga ini.”

Rahang Bara perlahan mengeras.

Namun Rosline buru-buru berdiri dari sofa. “Ta-tapi itu tidak masuk akal!” wajahnya merah panik. “Saya hanya perawat di mansion ini!”

“Kau pikir Victor peduli soal itu?” potong Kakek Alberto tajam.

Rosline langsung diam.

“Bagi pria seperti Victor…” lanjut pria tua itu dingin. “Yang penting hanyalah siapa yang berhasil membuat Bara Alexander kehilangan kendali.”

Kalimat itu membuat suasana kembali berat.

Edwin menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya. “Opa… menikah bukan solusi sederhana.”

“Lalu apa?” balas Kakek Alberto cepat. “Membiarkan Victor terus mengincarnya?”

Edwin langsung terdiam.

Sedangkan Rosline terlihat semakin panik sekarang. Tatapannya perlahan beralih ke arah Bara yang masih berdiri diam sejak tadi.

“Tuan Bara…” suaranya kecil dan gugup. “Tolong katakan sesuatu…”

Semua mata langsung tertuju pada Bara.

Namun pria itu justru berjalan perlahan mendekati meja tengah sambil mengambil rokoknya dengan tenang. Gerakannya terlihat santai, tapi aura dingin di sekitarnya justru semakin menekan.

“Aku tidak akan menikah hanya karena ancaman Victor.” ucapnya akhirnya rendah.

Rosline langsung menghela napas lega kecil.

Namun detik berikutnya Bara melanjutkan kalimatnya.

“Tapi…” Tatapannya perlahan tertuju pada Rosline. “Opa tidak sepenuhnya salah.”

Rosline langsung membeku lagi.

Edwin spontan menatap kakaknya tidak percaya. “Bara.”

Pria itu menghembuskan asap rokok perlahan sebelum berkata dingin, “Victor sekarang menganggap Rosline sebagai celah untuk menyerangku.”

Tatapannya mengeras sedikit. “Dan selama dia berada di mansion ini… Victor tidak akan berhenti.”

Rosline menggenggam ujung sweaternya makin erat sekarang. Jantungnya kembali berdetak tidak karuan.

“Tapi itu bukan berarti kalian harus menikah!” protes Edwin cepat.

Kakek Alberto langsung mendecak. “Kalian terlalu banyak bicara.”

Lalu pria tua itu berdiri perlahan sambil menatap lurus pada Bara. “Kau tahu sifat Victor.” ucapnya rendah. “Semakin kau melindungi sesuatu, semakin besar keinginannya untuk merebutnya.”

Ruangan kembali hening.

Sedangkan Bara hanya diam sambil menatap Rosline beberapa detik terlalu lama. Dan entah kenapa… tatapan pria itu sekarang membuat Rosline semakin gugup.

1
Arditya
wiihh, jadi ini yang namanya victor. tangkap bara jangan kasih ampun😄
It's me Sky: terimakasih ka🙏
total 1 replies
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!