Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Berdarah
Lampu malam memantul di permukaan jendela kantor Alessandro Valerio, atau lebih tepatnya Alessandro Armand, nama baru yang selama ini menutupi identitas aslinya.
Di usia dua puluh tujuh tahun, Alessandro dikenal sebagai pengusaha muda yang paling berpengaruh di bidang keamanan digital.
Dingin, tenang, dan sulit ditebak. Tidak ada yang tahu darah siapa yang mengalir di tubuhnya, dan Alessandro ingin semuanya tetap seperti itu.
Ia berdiam diri sambil menatap kota dari lantai tertinggi gedung Armand Corporation, jas hitamnya masih rapi meski malam sudah larut. Di tangannya, segelas whiskey berputar pelan.
Ponselnya bergetar, satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Mereka mulai bergerak."
Alessandro mengernyit tipis, belum sempat ia membalas, layar laptopnya tiba-tiba mati sendiri.
Ruangan menjadi gelap, lalu layar kembali menyala. Namun bukan tampilan biasa yang muncul, melainkan sebuah simbol merah berbentuk mahkota.
Simbol lama, yang seharusnya sudah terkubur bersama kematian ayahnya.
Tatapan Alessandro langsung berubah dingin, di bawah simbol itu muncul satu kalimat.
"Darah tidak pernah benar-benar hilang."
BRAK!
Gelas whiskey di tangannya pecah karena genggamannya mengeras, napas Alessandro berubah berat.
Sudah beberapa tahun tidak ada seorang pun, yang berani menyentuh nama itu di hadapannya. Berarti seseorang memang sengaja mencarinya, dan seseorang itu tahu kisah di masa lalu.
Tiba-tiba printer di sudut ruangan menyala sendiri, kertas keluar perlahan.
Alessandro berjalan mendekat dengan rahang mengeras, dan saat melihat isi kertas itu, matanya langsung membeku.
Foto-foto lama, foto Leonardo Valerio yang tak lain ayahnya sendiri.
Tubuh pria itu berlumuran darah di dalam ruangan yang gelap, mata dinginnya menatap kamera seolah masih hidup.
Di bawah foto terakhir, tertulis dengan tinta merah.
"Kamu tidak bisa lari selamanya, Tuan Muda."
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, Alessandro merasakan sesuatu yang hampir menyerupai ketakutan.
Bukan ancaman, tapi karena masa lalu itu akhirnya menemukan jalannya kembali. Ia langsung mengambil ponsel.
...📞...
"Luca."
Ucapnya dingin saat telepon tersambung.
^^^"Ya, Tuan."^^^
"Lacak semua akses yang masuk ke sistem gedung malam ini."
^^^"Hacker lagi?"^^^
"Ya, tapi ini bukan hacker biasa."
Alessandro menatap simbol merah di layar laptopnya.
"Ini adalah seseorang yang sudah tahu siapa aku."
Luca adalah satu-satunya orang yang mengetahui identitas asli Alessandro selain Nadira.
Dan nada suara Alessandro cukup untuk membuat pria itu sadar, bahwa masalah kali ini berbeda.
^^^"Aku akan datang sekarang."^^^
Setelah itu panggilan terputus.
Alessandro kembali menatap surat-surat itu, tangannya mengambil salah satu foto. Tatapan Leonardo di gambar itu terasa mengerikan.
Dingin, kejam, dan anehnya semakin Alessandro dewasa, semakin banyak orang mengatakan bahwa mata mereka mirip.
Ia sangat membenci hal itu, karena ia tidak ingin menjadi monster seperti ayahnya.
Suara petir menggema di dalam ruangan, lalu...
TING.
Satu email baru masuk, pengirim anonim, tanpa subjek. Alessandro membuka email itu, isinya hanya satu video.
Durasi: 00.13 detik.
Alessandro menekan play, dan layar menampilkan ruangan gelap dengan seseorang bernapas berat.
Kemudian kamera bergerak perlahan, memperlihatkan seorang pria yang duduk terikat di sebuah kursi. Wajahnya penuh darah, dan sebelum video berakhir, pria itu berbisik lirih.
"Valerio... sudah kembali..."
Video terhenti, Alessandro langsung menutup laptopnya keras. Rahangnya menegang, instingnya mengatakan satu hal.
Ini bukan permainan biasa, seseorang sedang menghidupkan kembali nama Valerio dengan sengaja.
Dan itu berarti dunia bawah tanah, mulai bergerak lagi.
Di sisi lain kota, Nadira terbangun dari tidurnya dengan napas terengah. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Mimpi buruk itu datang lagi, Leonardo berdiri di lorong gelap penuh darah, sambil menatapnya dengan mata dingin.
"Dia akan jadi sepertiku."
Nadira langsung terduduk, tangannya gemetar. Sudah bertahun-tahun Leonardo mati, namun ketakutannya itu tidak pernah hilang.
Ponselnya berbunyi, nama Alessandro muncul di layar. Perasaan buruk langsung menghantam dirinya.
...📞...
"Alessandro?"
^^^"Ma."^^^
Suara putranya terdengar rendah, terlalu tenang. Dan Nadira tahu, itu pertanda buruk.
"Ada apa? Apa yang sudah terjadi?"
^^^"Mereka mulai menyebut nama Valerio lagi."^^^
Dunia Nadira seperti runtuh, ia sudah kehilangan terlalu banyak karena dunia ini. Dan dia tidak akan membiarkan putranya terseret masuk ke dalamnya.
"Dengarkan, Mama," suara Nadira mulai gemetar. "Kamu harus pergi dari kota ini."
^^^"Aku nggak bisa terus bersembunyi seperti ini, Ma."^^^
"Kamu nggak ngerti mereka siapa! Mereka terlalu berbahaya buatmu."
^^^"Mama salah, justru sekarang aku mulai mengerti semuanya."^^^
Nada suara Alessandro berubah lebih dingin.
"Mereka nggak akan berhenti sebelum menemukan aku."
Nadira memejamkan mata, trauma lama kembali menghancurkan pikirannya. Teriakan, darah, mayat, dan Leonardo. Pria yang ia cintai, sekaligus pria yang ia takutkan.
^^^"Alessandro, jangan jadi seperti ayahmu."^^^
Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.
Di kantor gelapnya, Alessandro berdiri diam tanpa ekspresi. Namun matanya perlahan berubah tajam.
"Ayahku mati karena dunia itu."
^^^"Dan dunia itu sekarang datang padamu, Nak."^^^
Sambungan terputus, Nadira perlahan menurunkan ponselnya dengan tangan gemetar.
Air matanya jatuh tanpa, dan ia tahu, cepat atau lambat darah Valerio akan memanggil pewarisnya kembali.
Pukul dua dini hari, Luca akhirnya tiba di kantor Alessandro. Pria itu langsung berhenti saat melihat pecahan gelas, dan sebuah foto yang berserakan di lantai.
"Sial."
Alessandro duduk di kursinya sambil menatap layar kota. Wajahnya terlihat tenang.
"Semua akses keamanan ditembus tanpa jejak," lapor Luca pelan. "Orang ini sungguh profesional."
"Bukan cuma profesional."
Alessandro mengambil salah satu surat berdarah itu, lalu melemparkannya ke meja.
"Dia kenal dengan keluargaku," lanjut Alessandro.
Luca membaca tulisan merah di kertas itu, wajahnya langsung pucat. Karena hanya sedikit orang yang tahu simbol Valerio, dan sebagain besar dari mereka sudah mati.
"Atau setidaknya, seharusnya mati," gumam Luca.
Alessandro menyandarkan tubuhnya, tatapannya kosong. Namun pikirannya mulai dipenuhi sesuatu yang sudah lama ia kubur.
Kemampuan membaca situasi, insting berbahaya, dan dorongan dingin untuk menyerang lebih dulu sebelum diserang. Semua itu tak lain adalah warisan Leonardo.
"Aku mau semua data lama tentang RED ASHES," ucap Alessandro tiba-tiba.
Luca terdiam sesaat, "Itu nama organisasi ayahmu."
"Aku tahu."
"Tapi kamu sudah janji, bahwa kamu tidak akan menyentuh hal itu lagi."
Alessandro tersenyum tipis, senyuman dingin yang membuat Luca merinding. "Aku juga sudah janji, bahwa aku akan hidup dengan normal."
Alessandro perlahan berdiri, lalu menatap simbol merah di layar laptopnya sekali lagi.
"Tapi sepertinya dunia ini nggak memberi aku sebuah pilihan," lanjut Alessandro.
Di saat bersamaan, di sebuah ruangan gelap, entah di mana. Seorang pria berambut abu-abu duduk sambil memperhatikan monitor penuh data Alessandro.
Matanya tajam seperti predator, di tangannya terdapat foto lama Leonardo Valerio.
Pria itu tersenyum tipis, "Setelah sekian lama, akhirnya kamu muncul juga."
Monitor memperlihatkan wajah Alessandro yang berdiri di depan jendela kota. Senyuman pria itu semakin lebar.
"Selamat datang kembali, pewaris Valerio."