NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Hujan dan Obat Pusing

Langit malam itu benar-benar sedang murka. Awan hitam menggumpal tebal, menurunkan hujan deras yang tak henti-henti. Suara guntur terdengar bergemuruh bersahutan, diselingi kilatan petir yang sesekali menerangi langit seolah berada pada siang hari.

Pintu mobil terbuka, dan sosok tubuh tinggi besar melangkah keluar dengan gerakan cepat. Farzhan Ibrahim turun sama sekali tidak membawa payung atau apa pun yang bisa melindunginya dari guyuran air langit. Ia memilih berlari kecil dengan langkah panjang menuju atap teras, membiarkan tubuhnya tersiram derasnya hujan yang dingin. Baginya, berlari sebentar itu jauh lebih baik daripada harus menunggu di dalam mobil lebih lama lagi. Hatinya sudah terlalu gelisah, terlalu ingin segera sampai di tempat di mana ia merasa paling aman dan damai di rumahnya, di dekat istrinya.

Saat pintu utama terbuka, Vira yang sedang duduk menunggu di ruang tamu langsung terkejut.

"Ya Ampun Zhan! Kamu basah kuyup gitu!" Vira langsung berdiri mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran. "Hujan deras sekali kan di luar? Kenapa tidak tunggu sedikit reda atau pake payung sih?"

Farzhan berdiri diam di sana, membiarkan istrinya sibuk mengelap sisa air di jas dan bajunya. Ia mengibaskan rambutnya yang basah hingga tetesan air jatuh berderai di lantai, sementara butiran air masih terus menetes dari ujung hidung, ujung dagu, dan ujung rambutnya yang sedikit panjang. Bajunya yang mahal kini lembap menempel erat di tubuhnya, membuatnya terlihat tidak rapi seperti biasanya. Wajahnya yang biasanya selalu dingin, tenang, dan terkontrol, malam itu tampak sedikit lelah, namun ada kilatan kelegaan yang jelas terpancar dari balik manik matanya yang tajam.

"Tidak apa-apa..." suaranya terdengar agak serak. "ingin segera sampai di rumah. Aku kangen..."

Belum sempat kalimat itu selesai...

HACIIII!!!

Farzhan bersin dengan sangat keras dan panjang, suaranya menggema di ruang tamu yang hangat itu. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu mengusap hidungnya yang kini mulai terasa gatal dan dingin. Wajahnya sedikit mengernyitkan dahi.

"Ahhh-chooo!" Bersin kedua menyusul, kali ini lebih pelan namun cukup jelas terdengar.

"Eh..." Farzhan mengusap hidungnya.

"Dingin..." gumamnya pelan, matanya sedikit menyipit menatap Vira. "Udara di luar sangat dingin, terasa menusuk sampai ke tulang."

Vira langsung mencubit lengan kekar suaminya itu pelan namun tegas, sebagai bentuk protes dan kekhawatirannya. Matanya menatap tajam namun penuh kasih sayang.

"Sudah kubilang berulang kali, bukan? Kalau hujan-hujanan begini, pasti kamu akan masuk angin atau sakit! Kamu itu tubuhnya besar, tapi kenapa kelakuanmu tetap saja ceroboh begini?" omelnya halus, lalu menarik lengan Farzhan agar masuk sepenuhnya ke dalam rumah dan menjauh dari pintu.

"Cepatlah naik ke kamar, mandi dengan air hangat. Pakai pakaian yang tebal, nanti demammu datang lagi. Ayo, cepat."

"Iya-iya..." Farzhan menurut saja seperti anak kecil. Ia berjalan tertatih sedikit menuju kamar, kepalanya sudah mulai terasa berat dan berdenyut-denyut.

 

Sepuluh menit berlalu. Suasana di luar masih sama hebatnya, hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, justru semakin deras seiring berjalannya waktu, seolah menantang siapa saja yang berani menembusnya. Angin berhembus kencang sekali, membuat dahan pohon di halaman bergoyang liar, dan suara guntur kembali terdengar bergemuruh panjang, membuat suasana malam itu terasa makin hening dan tertutup dari dunia luar.

Pintu kamar terbuka, dan Farzhan keluar berjalan menuruni tangga. Ia sudah berganti pakaian tidur berwarna abu-abu yang tebal dan nyaman, rambutnya sudah dikeringkan dan sedikit berantakan — pemandangan yang jarang terlihat oleh orang lain selain Vira. Namun, meski sudah bersih dan hangat, wajahnya kini terlihat jauh lebih pucat dibandingkan saat baru sampai tadi. Kulit wajahnya yang biasanya bersih dan cerah kini tampak kusam, matanya terlihat sayu dan sedikit cekung, dan tangannya terus bergerak mengucek pelan kedua sisi pelipisnya dengan gerakan tertekan.

Ia duduk di sofa ruang tamu, bersandar lemas, napasnya terdengar sedikit berat.

"Pusing..." keluhnya pelan saat duduk di sofa.

"Kepala rasanya seolah baru saja dihantam palu besar dari dalam. Berat dan berdenyut terus. Sangat tidak nyaman."

Belum lama ia duduk, Vira sudah datang berjalan mendekat dengan langkah ringan. Di tangannya terdapat nampan berisi segelas air hangat yang mengepulkan uap tipis, dan sebungkus obat penurun sakit kepala. Ia berjalan mendekati sofa tempat suaminya duduk, lalu meletakkan bantal tambahan di sandaran sofa agar posisi punggung dan leher Farzhan menjadi lebih nyaman dan tegak namun tetap rileks. Wajah Vira dipenuhi perhatian yang mendalam, matanya menatap suaminya dengan pandangan lembut yang tak terlukiskan.

"Sini minum obat dulu," kata Vira lembut, membuka kemasan obat penurun sakit dan memberikan satu butir ke tangan Farzhan.

Farzhan meminumnya dengan patuh, meneguk air hangat yang disodorkan istrinya.

"Nah... sekarang istirahat. Tutup mata," perintah Vira, lalu ia duduk di samping Farzhan. Dengan hati-hati, kedua tangannya yang mungil mulai bergerak memijat pelan kedua pelipis suaminya.

Jari-jarinya bergerak perlahan, memijat kedua sisi pelipis itu dengan gerakan memutar yang lembut namun pas tekanannya. Ia tahu persis di mana titik-titik rasa sakit itu berada, ia tahu bagaimana cara menyentuhnya agar rasa nyeri itu berkurang. Gerakan itu teratur, lambat, dan sangat menenangkan, seolah setiap sentuhan jari Vira mampu menarik keluar rasa sakit yang menyumbat kepala Farzhan.

"Sakit sekali ya?" tanya Vira lembut.

"Hmm... ya," jawab Farzhan dengan mata masih tertutup rapat, suaranya terdengar berat namun perlahan mulai terdengar lebih tenang.

"Hujan deras tadi, ditambah angin yang kencang sekali, sepertinya sinusku kumat lagi. Terus aku memaksakan diri berlari di tengah air dingin itu... rasanya seperti ada tekanan berat di seluruh kepala." Ia mengerang pelan saat jari Vira menekan titik yang tepat, namun bukan karena sakit, melainkan karena rasa nyaman.

"Kau tahu, Vi... rasanya sangat melelahkan. Seharian bekerja, berurusan dengan banyak orang, banyak keputusan yang harus diambil, banyak hal yang harus dikendalikan."

"Dasar suami nakal..." omel Vira pelan, tapi tangannya terus bekerja dengan sabar.

"Sudah tahu cuaca buruk, sudah tahu tubuhmu sedang tidak terlalu fit, masih saja nekat berlarian kena air hujan. Nanti kalau kamu jatuh sakit parah lagi, bukan kamu saja yang susah, tapi aku juga yang akan sibuk mengurusi, 'bayi besar' yang satu ini."

Farzhan tersenyum tipis meski mata tertutup. "Tapi kan... aku hanya ingin cepat ketemu kamu. Rasanya ingin cepat pulang saja."

Jantung Vira berdegup kencang mendengarnya. Wajahnya memerah lagi, tapi untung Farzhan lagi tutup mata.

"Alasan.." bisik Vira, tapi ia semakin memperhatikan pijatannya. Ia pindah ke bagian belakang leher, memijat perlahan agar aliran darah lancar.

Di luar, hujan makin deras, angin menderu kencang, dan petir makin sering menyambar. Suasana di dalam rumah justru terasa sangat hangat dan aman.

Farzhan semakin rileks. Rasa pusing yang tadinya menyiksa perlahan berkurang digantikan oleh rasa nyaman karena perhatian Vira. Ia bahkan tanpa sadar memiringkan kepalanya, menyandarkan pipinya ke bahu Vira yang duduk di sebelahnya.

"Vira."

"Ya?"

"Pijatanmu enak sekali. Jangan berhenti ya..." gumamnya manja, suaranya terdengar berat karena mengantuk. "Obat pusing paling ampuh itu ternyata bukan obatnya... tapi tangan kamu."

Vira tersenyum lebar, matanya menatap wajah tampan suaminya yang kini terlihat tenang dan damai.

"Iya-iya..." bisik Vira lembut, terus menepuk-nepuk pelan kepala suaminya.

"Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan tetap ada di sini menemanimu. Tidurlah, ya... biarkan rasa sakit itu hilang bersama tidurmu. Nanti saat kau bangun, semuanya pasti sudah sembuh."

Malam itu, badai mungkin mengamuk di luar sana, tapi di dalam hati mereka berdua, semuanya terasa tenang dan hangat. Obat pusing memang ampuh, tapi perhatian dan kasih sayang Vira jauh lebih mujarab menyembuhkan segala rasa lelah Farzhan Ibrahim.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!