NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Matahari sudah mulai turun ke ufuk barat, menciptakan semburat oranye yang

kontras dengan langit Jakarta yang mulai kelabu karena polusi. Di depan pintu

kamar 502, Kiyo berdiri dengan napas yang sedikit tersengal. Ia sudah

menanggalkan seragam OSIS-nya yang kaku dan menggantinya dengan kaos oversized

hitam serta celana kargo senada. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit

berantakan, basah oleh keringat tipis.

Di kedua tangannya, terjinjing lima kantong plastik besar dengan berbagai logo

restoran ternama. Setelah perdebatan panjang di rapat OSIS yang rasanya ingin ia

ledakkan saja, Kiyo langsung tancap gas menuju rumah sakit, tak peduli pada

bunyi notifikasi ponselnya yang terus bergetar karena pesan dari Gwen atau

pengurus lainnya.

Kiyo menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya sebelum memutar

knop pintu. Ceklek.

Bianca sedang duduk bersandar, menatap kosong ke arah layar televisi yang

menyala tanpa suara. Begitu melihat Kiyo masuk, ia sedikit tersentak.

"Yo? Lo... balik lagi?" tanya Bianca, suaranya masih terdengar agak serak.

Kiyo tidak langsung menjawab. Ia sibuk menaruh semua kantong plastik itu ke atas

meja sofa yang ada di sudut ruangan, lalu menyeret satu kursi kayu ke samping

ranjang Bianca.

"Gila, Jakarta sore ini beneran nggak ngotak macetnya. Gue berasa kayak mau ikut

simulasi kiamat di jalan tadi," keluh Kiyo sambil mengusap keringat di dahinya.

Bianca mengerjapkan mata, menatap tumpukan kantong plastik itu dengan bingung.

"Itu... apaan banyak banget, Yo?"

"Makanan lah. Masa bom," sahut Kiyo asal, namun nadanya tidak sinis. Ia mulai

membongkar isi plastik itu satu per satu. "Gue nggak tahu lo sukanya apaan. Gue

mau nanya Sunny, tapi tuh anak pasti bakal ngeledek gue tujuh turunan. Jadi ya

udah, gue beli aja semua yang menurut gue enak."

Bianca melongo saat Kiyo mengeluarkan kotak demi kotak. "Ada sushi, ada steak,

ada dimsum, terus ini ada nasi babi guling, eh, bentar, lo makan babi nggak sih?

Terus ini ada dessert box juga. Oh, sama salad buah, kali aja lo mau diet

padahal udah kerempeng gini."

"Kiyo, ini kebanyakan! Gue sendirian, bukan mau bikin pesta mukbang di bangsal

VVIP," sela Bianca dengan tawa kecil yang dipaksakan.

"Bodo amat. Lo liat tuh makanan rumah sakit di atas nakas," Kiyo menunjuk nampan

berisi bubur putih, sayur bening yang pucat, dan sepotong pepaya. "Itu makanan

atau pakan kelinci? Warnanya aja nggak ada estetik-estetiknya. Rasanya pasti

kayak kertas basah. Lo butuh asupan yang bener biar muka lo nggak kayak zombi

gini, Bi."

Kiyo menghentikan gerakannya. Ia tertegun sejenak saat matanya tanpa sengaja

menatap wajah Bianca dari jarak dekat. Di bawah lampu neon kamar yang terang,

Bianca terlihat sangat rapuh. Kulitnya pucat hampir transparan, dan matanya yang

dulu selalu bersinar kini terlihat redup.

Dan rambut itu... Kiyo merasakan dadanya sesak. Potongan rambut Bianca yang

sekarang benar-benar jauh dari kata rapi. Terlihat seperti hasil amukan emosi

yang meledak-ledak.

'Gila, gue beneran nggak tahan liat dia kayak gini,' batin Kiyo. 'Gwen beneran

bajingan kalau sampe bikin mental dia seancur ini.'

Bianca yang sadar sedang diperhatikan, refleks menyentuh ujung rambut pendeknya

dengan canggung. "Jelek ya? Berantakan banget. Gue emang agak gila kemarin pas

motong ini."

"Nggak... nggak jelek," bantah Kiyo cepat, suaranya mendadak melembut. "Cuma...

beda aja. Lo tetep cantik, Bi. Tapi ya... gue cuma sedih aja kenapa lo harus

ngerasain ini sendirian."

Bianca tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Kiyo merasa ingin melindungi

gadis itu dari dunia. "Makasih ya, Yo. Makasih banget udah dateng lagi, apalagi

bawa makanan sebanyak ini. Tapi jujur, lo nggak perlu repot-repot begini. Gue

jadi ngerasa nggak enak, lo kan sibuk di OSIS."

"Sibuk mah bisa diatur, Bi. Lagian rapat OSIS isinya cuma orang-orang caper yang

hobi debat kusir. Mending gue di sini," sahut Kiyo sambil membuka kotak sushi.

"Nih, mau yang mana dulu? Salmon mentai atau tuna rolls? Gue suapin kalau tangan

lo masih lemes."

"Nggak usah, gue bisa sendiri, Yo," tolak Bianca halus.

"Udah deh, diem aja. Gue lagi mau jadi warga negara yang baik dengan ngebantu

orang sakit," paksa Kiyo. Ia menyumpit sepotong sushi dan menyodorkannya ke

depan mulut Bianca.

Bianca terpaksa membuka mulutnya. Rasa gurih dan segar dari sushi itu meledak di

lidahnya, jauh lebih baik daripada bubur rumah sakit yang hambar. Sambil

mengunyah, Bianca menatap Kiyo yang kini sibuk mengoceh tentang betapa

menyebalkannya guru sejarah mereka tadi siang.

'Kiyo... kenapa lo harus sebaik ini?' Bianca bertanya dalam hati. 'Kenapa lo

nggak jadi brengsek aja kayak Gwen? Biar lebih gampang buat gue benci lo. Kalau

lo kayak gini, rencana gue... rencana gue bisa berantakan.'

Suasana menjadi sedikit lebih santai. Kiyo terus bercerita, mulai dari drama di

kantin sampai gosip tentang Gwen yang hampir baku hantam sama kapten basket

sekolah lawan. Bianca hanya mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil, meskipun

hatinya tetap waspada.

"Bi..." panggil Kiyo tiba-tiba, memutus tawa Bianca.

"Ya?"

Kiyo meletakkan sumpitnya. Sorot matanya berubah serius, dalam, dan penuh rasa

bersalah. "Soal video yang Kiyo terima kemarin... soal lo sama Gwen di

apartemen... gue... gue beneran minta maaf. Gue nggak tahu kalau kakak gue

sebajingan itu sama lo. Gue ngerasa gagal jadi temen lo, Bi."

Bianca terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Itu dia. Pancingan yang ia dan

Rebecca tebar mulai membuahkan hasil. Kiyo benar-benar termakan rasa bersalah.

"Nggak apa-apa, Yo. Itu bukan salah lo. Gue yang... gue yang terlalu bodoh

karena percaya sama dia," ucap Bianca dengan nada yang dibuat segetas mungkin,

seolah ia sedang menahan tangis.

"Enggak, Bi. Nggak ada yang boleh nyalahin lo. Gwen itu emang manipulatif. Dia

selalu dapet apa yang dia mau, dan dia nggak peduli siapa yang dia injak," Kiyo

mengepalkan tangannya di atas paha. "Gue benci fakta kalau gue punya darah yang

sama sama dia."

Bianca menatap Kiyo, pura-pura terenyuh. "Yo, jangan gitu. Dia tetep kakak lo."

"Kakak yang ngerusak cewek yang gue..." Kiyo menggantung kalimatnya. Ia

memalingkan wajah, telinganya memerah.

'Cewek yang apa, Yo? Cewek yang lo suka?' batin Bianca sinis. 'Kasihan banget

lo, jatuh cinta sama orang yang justru mau ngancurin keluarga lo.'

Tiba-tiba, tanpa ada aba-aba, Kiyo berdiri dan mendekat ke arah ranjang. Sebelum

Bianca sempat bereaksi, Kiyo sudah melingkarkan lengannya di bahu Bianca. Ia

menarik kepala Bianca untuk bersandar di dadanya.

Kiyo memeluknya. Sangat erat, namun penuh kelembutan.

Bianca mematung. Napasnya tertahan. Tubuhnya menegang secara otomatis,

instingnya meneriakkan agar ia segera mendorong cowok ini menjauh. Ia benci

keluarga Anderson. Ia benci setiap inci dari mereka.

"Bentar aja, Bi. Biar lo tahu kalau lo nggak sendirian," bisik Kiyo tepat di

telinganya. "Gue ada di sini. Gue bakal jagain lo. Gue janji, nggak bakal ada

yang bisa nyakitin lo lagi, termasuk Gwen atau bokap gue sekalipun."

Aroma parfum Kiyo—campuran antara citrus dan sandalwood—merasuk ke indra

penciuman Bianca. Hangat tubuh Kiyo merayap ke kulitnya. Dan di situlah,

pertahanan mental Bianca sedikit retak.

Ingatannya melompat mundur ke masa sepuluh tahun lalu. Saat ia masih menjadi

Bianca yang ceria, yang belum mengenal dendam. Ia ingat bagaimana ayahnya dulu

sering memeluknya persis seperti ini setiap kali ia terjatuh atau menangis

karena mainannya rusak. Pelukan yang memberikan rasa aman, seolah dunia luar

tidak akan pernah bisa melukainya selama ia ada di dalam dekapan itu.

'Ayah...' batin Bianca lirih.

Tanpa ia sadari, air matanya jatuh kembali. Ia merindukan ayahnya. Ia merindukan

kehidupan lamanya yang hancur karena keserakahan Maxwell Anderson. Rasa rindu

yang menyesakkan itu bergabung dengan rasa lelahnya selama berpura-pura,

menciptakan sebuah ledakan emosi yang tak tertahankan.

Bianca memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam sejenak dalam kenyamanan

pelukan Kiyo. Untuk beberapa detik yang singkat, ia membiarkan dirinya lupa

bahwa Kiyo adalah anak dari musuh besarnya. Ia membiarkan dirinya menjadi

"Bianca" yang butuh perlindungan, bukan "Bianca" sang pembalas dendam.

Kiyo yang merasakan bahu Bianca bergetar, semakin mengeratkan pelukannya. Ia

mengusap punggung Bianca pelan, memberikan ketenangan yang tulus. "Nangis aja,

Bi. Keluarin semuanya. Jangan dipendem sendiri."

'Gila, nyaman banget. Kenapa pelukannya harus sehangat ini?' Bianca terus

berperang dengan pikirannya sendiri. 'Gue kangen Ayah... gue kangen rasa aman

ini.'

Namun, di tengah isak tangisnya yang mulai mereda, sebuah kilatan ingatan

muncul. Ia ingat wajah ayahnya di balik jeruji besi saat kunjungan terakhir.

Wajah yang menua, penuh penderitaan, dan sorot mata yang sudah kehilangan

harapan. Ia ingat bagaimana Rebecca harus bekerja keras dan melakukan hal-hal

kotor hanya demi bertahan hidup dan membiayainya.

Detak jantung Kiyo yang terdengar stabil di telinganya tiba-tiba terdengar

seperti detak jam bom waktu bagi Bianca.

'Enggak. Ini salah.'

'Lo nggak boleh lemah, Bianca! Cowok yang meluk lo sekarang ini punya darah

Anderson yang ngalir di badannya. Dia anak dari orang yang udah ngebuang Ayah ke

penjara! Dia adek dari orang yang udah ngelecehin harga diri lo!'

Bianca perlahan membuka matanya. Sorot matanya yang tadinya sayu dan penuh

kesedihan, kini perlahan-lahan kembali menjadi dingin dan tajam. Ia menarik

napas panjang, menghirup aroma Kiyo untuk terakhir kalinya sebelum ia

benar-benar mengeraskan hatinya kembali.

'Maaf ya, Yo. Pelukan lo emang enak. Tapi ini semua cuma bakal jadi senjata buat

gue buat ngancurin lo lebih parah nanti.'

Bianca perlahan melepaskan diri dari dekapan Kiyo. Ia menyeka air matanya dengan

punggung tangan, lalu menatap Kiyo dengan tatapan yang kembali "akting" menjadi

gadis rapuh yang berterima kasih.

"Makasih ya, Yo. Gue... gue ngerasa jauh lebih baik," ucap Bianca dengan suara

bergetar yang dibuat-buat.

Kiyo tersenyum tulus, tampak sangat lega melihat Bianca sudah sedikit tenang.

"Syukurlah kalau gitu. Pokoknya lo jangan sungkan buat hubungin gue kalau ada

apa-apa, ya? Gue bakal langsung cabut ke sini, mau itu lagi ujian kek, lagi

rapat kek, bodo amat."

"Iya, Yo. Makasih banyak," Bianca menundukkan kepalanya, menyembunyikan seringai

tipis yang hampir muncul.

'Bodoh. Lo beneran bodoh, Kiyo Anderson,' batin Bianca. 'Lo baru aja ngebuka

gerbang paling lebar buat gue masuk dan ngacak-ngacak hidup lo.'

Kiyo kembali duduk dan mulai membereskan sisa makanan. "Oh iya, tadi gue sempet

denger kabar di grup angkatan, katanya si Gwen beneran disidang sama Bokap gue

gara-gara absen tanding demi nyariin lo. Kayaknya dia bakal dihukum berat."

Bianca menaikkan alisnya. "Oh ya? Terus perasaan lo gimana?"

Kiyo mendengus. "Gue? Jujur? Gue seneng. Biar dia tahu rasa. Dia udah terlalu

lama bertingkah kayak raja di rumah dan di sekolah. Udah saatnya dia jatuh dari

singgasananya."

Bianca tersenyum dalam hati. Perpecahan antara dua bersaudara ini benar-benar

berjalan sesuai rencana. Rebecca benar, Kiyo adalah kunci paling efektif untuk

meruntuhkan benteng pertahanan Gwen.

"Udah, jangan bahas dia lagi. Bikin nafsu makan ilang aja," lanjut Kiyo sambil

menyodorkan sepotong martabak manis ke arah Bianca. "Nih, penutup. Martabak

cokelat keju. Ini yang paling enak di Jakarta Selatan, gue sampe ngantre tiga

puluh menit tadi."

Bianca menerimanya dan menggigit martabak itu. Rasanya manis, sangat manis

hingga terasa hampir memuakkan di lidahnya. Tapi ia tetap menelannya dengan

senyum yang manis.

'Manisnya martabak ini nggak ada apa-apanya dibanding manisnya pembalasan dendam

gue nanti, Yo,' pikir Bianca sambil terus menatap Kiyo yang kini sibuk merapikan

sampah-sampah makanan dengan telaten.

"Bi, lo kok liatin gue gitu banget? Gue ganteng ya kalau lagi rajin gini?" goda

Kiyo sambil nyengir.

"Pede banget lo," sahut Bianca sambil memutar bola matanya, kembali ke persona

gadis sekolah yang biasa.

"Hahaha, ya udah. Gue balik dulu ya? Udah mau jam kunjung abis. Nanti malem lo

istirahat yang bener. Jangan begadang cuma buat mikirin gue," ucap Kiyo sambil

berdiri dan menyampirkan tasnya di bahu.

"Hih, najis banget gue mikirin lo," Bianca pura-pura bergidik.

Kiyo tertawa, lalu ia mengacak rambut pendek Bianca sebentar. "Gue balik ya, Bi.

See you tomorrow."

"Iya, hati-hati, Yo."

Setelah pintu tertutup rapat dan langkah kaki Kiyo menghilang di lorong

hospital, suasana kamar kembali hening. Bianca meletakkan sisa martabaknya ke

atas meja dengan kasar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang ada di

atas nakas.

Wajahnya yang pucat, rambutnya yang pendek dan hancur. Ia menyentuh dadanya,

tepat di tempat Kiyo memeluknya tadi. Masih ada sisa-sisa kehangatan di sana.

Tapi Bianca segera menepisnya.

Ia mengambil ponselnya, lalu mengetikkan pesan singkat untuk Rebecca.

To: Bec Kiyo baru aja balik. Dia bener-bener udah di tangan gue. Dia benci Gwen

lebih dari sebelumnya. Peluru kita udah siap, Bec. Tinggal nunggu waktu buat

ditarik pelatuknya.

Bianca menyandarkan kepalanya ke bantal. Matanya menatap langit-langit kamar

dengan tatapan yang sangat dingin. Air mata yang tadi jatuh benar-benar menjadi

air mata terakhirnya untuk perasaan lemah. Mulai detik ini, setiap emosi yang ia

keluarkan hanyalah bagian dari sandiwara.

'Nikmati aja dulu kasih sayang lo ke gue, Kiyo. Karena pas semuanya hancur

nanti, gue bakal mastiin lo adalah orang yang paling nyesel karena udah pernah

meluk gue hari ini.'

1
Reva Reva nia wirlyana putri
udh gk tau mau komen apa intinya bagussss
Reva Reva nia wirlyana putri
ihhh sukak bgt sama alurnya
Reva Reva nia wirlyana putri
akhirnya lanjut
Nian Sari
suka banget sama persahabatan mereka😍
Nian Sari
sangat mengganaskan sekali
Nian Sari
suka banget🎊
Nian Sari
lah dah lanjut ternyata😱
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!