Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN PENUH INTRIK
Santi terbangun. dilihatnya ruang besar yang lega dengan dipenuhi perabotan yang mahal-mahal menghiasi ruang besar itu.
“Apakah aku bermimpi.”
Sebuah tangan menyentuh dahinya. Tangan besar kasar yang sering buat kerja keras menghadapi tantangan hidup yang berat.
“Istirahatlah. Kamu sakit.”
Kata-kata lembut yang diberikan seorang petualang laut yang tangguh benar-benar memberi sedikit kepercayaan kepada Santi.
“Mister….apa aku akan pergi jauh.”
Mister Chow menghela nafas, dibantunya Santi duduk.
“Aku tidak jamin. Tetapi aku bantu sebisa aku.”
Mata Santi terpejam. Ingatannya menerawang jauh pada dua nama.Nonik…Dody…..apakah pak Dody mencari dirinya karena mengkhawatirkan dirinya atau mengabaikan seperti almarhum suaminya Sony yang begitu kejam pada dirinya, istri yang dinikahi karena perjodohan keluarga.
Santi menggigit bibirnya seperti kebiasaannya kalau mengalami kesedihan,galau dan bingung. Entah sejak kapan dia suka gigit bibir dia tidak tahu mungkin sejak kecil sewaktu ditinggal sendirian di ruangan gelap, takut,ngeri,sedih menjadi satu.
Mister Chow menyandar di kursi mahal buatan negara IT yang kesohor dalam pembuatan perabotan-perabotan mahal untuk dieksport ke berbagai negara. Mister Chow banyak melalang buana sehingga tahu perabotan-perabotan mahal yang berkualitas tinggi.
Mister Chow menunduk mengamati lantai kapal. Seperti menghitung satu-satu untung rugi dalam pekerjaan rutin yang selalu dikerjakannya dengan baik. Demi istrinya yang butuh perawatan medis serius dia terpaksa melakukan pekerjaan rutinnya.
Dia suami yang baik. Tidak seburuk penilaian orang. Kerja….kerja….kerja…..rutin mendatangkan banyak uang demi supaya istrinya mendapat perawatan medis yang baik. Memang dunia kelam adalah dunia yang membuat nafasnya sesak. Dia sudah terlanjur tidak mungkin membalik apa yang sudah terjadi.
Santai merosot dari kursinya. Mister Chow segera bantu kembali membuat Santi dapat duduk dengan baik.
Ting….bunyi HP dari saku mister Chow. Dia segera beranjak menjauh dan membalas chat di-HP. Santi yang ditinggal sendirian memandang pemandangan di tempat dia duduk.
“Lapor…boss ada darurat di bagian S kapal.”
Mister Chow segera beranjak pergi. Kelihatannya ada hal serius yang segera membutuhkan penanganan yang memerlukan campur tangan dirinya.
RUANG S
Ruang mesin kapal berada di.bawah sekali berisi mesin besar kapal yang memberi daya kapal untuk dapat melaju. Orang gempal itu tampak sibuk mengotak atik klep pada mesin. Keringat mengalir deras membanjiri tubuhnya. Dia tidak mempedulikannya.
Cesss….
Bunyi mesin itu membuang gas sisa pembakaran. Kapal melambat. Mesin M sedang bermasalah. Jika tidak segera di tangani menjadi gangguan yang serius bisa membuat mati mesin sehingga kapal tidak bergerak tidak dapat melaju.
Mister Chow masuk ruang. Melihat pada si Gempal yang sedang menangani mesin M. penanganan perlu kehati-hatian, salah sedikit perjalanan batal.
Mister Chow mendampingi si Gempal, melihat penanganannya yang cekatan karena dia pintar dalam permesinan. Dia lulusan tehnik mesin STM di kota J. Dia kenal si Gempal tidak sengaja sewaktu kapal menyandar di pelabuhan S. Mendadak mesin kapal mati sehingga tidak bisa segera meninggalkan pelabuhan.
Si Gempal datang karena informal yang mendatangkannya. Entah si Gempal yang dari Negara I bisa terdampar di Pelabuhan S. Tidak beberapa waktu lama mesin kapal hidup kembali lalu Mister Chow menawari si Gempal ikut dengan imbalan uang banyak. Tanpa pikir lama si Gempal ikut mister Chow sampai sekarang. Dia satu-satunya yang tahu penanganan mesin kapal, tidak ada anak buahnya yang lain sanggup menangani mesin kapal.
“Dandy, bagaimana.”
Si Gempal yang ternyata bernama Dandy menoleh ke mister Chow. Dia menggeleng lesu berarti masalahnya serius.
“Fuel injection failure.”
Mister Chow terdiam.
“Apa itu, Dan.”
“Injektor mampat, mesin pincang, boss.”
“Apa itu serius.”
“Serius boss. Mesin bisa mati mendadak.”
“Oke Dan kamu benahi dulu mesinnya. Jangan sampai pengiriman target batal gara-gara mesin kapal mati.”
“Baik boss.”
Dandy segera melakukan pengetesan untuk meneliti lebih lanjut mesin kapal. Kalau bukan orang yang mahir mesin seperti dirinya pasti menyerah ditengah jalan karena membenahi mesin seperti mesin M lumayan rumit. Mesin ini punya 6 silinder stroke 70 cm. sebuah mesin yang sebenarnya kuat tetapi harus sering dicek. Mesin besar dengan berat 600 ton ini perlu makan tempat yang lumayan luas di dasar kapal.
RUANG VIP-KAPAL LITONA
Santi ingin melihat suasana kamar karena di dalam panas. Kakinya segera melangkah ke kamar untuk bisa tahu suasana kamar kapal. Panjang kapal Litona sekitar 230 meter. Punya daya angkut 75.000 ton. Kecepatan kapal sekitar 14 knot. Konsumsi kapal ini 40 ton perhari. Banyak makan solar sehingga perlu dana banyak untuk mengoperasikan kapal ini.
Santi ke haluan kapal untuk dapat melihat pemandangan laut yang indah. Laut tenang bagaikan cermin biru tua. Santi melihat garis horizon langit yang membentang luas didepan. Mata Santi tidak berkedip melihat keindahan alam yang mempesona hatinya.
Dia belum pernah melihat pemandangan laut seperti ini karena dia lama tinggal di lereng gunung M. Dia hanya tahu pohon, hutan, batu, salak dan hasil pertanian. Tiba-tiba muncul dua ekor burung camar datang hinggap di railing haluan kapal. Camar laut biasa disebut Seagull punya bulu berwarna putih dengan sayap ujung hitam dan paruhnya berwarna kuning. Kwaak….kwaaak……kwaak …. Berisik sekali. Tetapi Santi tidak merasa terganggu justru dia menikmati suara burung camar tersebut bagaikan senandung dihatinya yang carut marut oleh derita hidup.
Santi membawa roti pemberian mister Chow lalu dilempar ke laut 2 burung camar itu segera menukik memburu roti yang dilemparkan Santi. Suara kwaak….kwaaak….. berisik tetapi Santi tersenyum. Dia malah senang mendengar suara 2 burung camar itu yang saling berebut roti yang dilemparkannya.
Tiba-tiba muncul sekitar 50-an burung camar yang mengikuti kapal Litona. Santi terkejut. Dia tidak pernah melihat rombongan burung sebanyak itu. Biasanya di hutan tempat dia biasa mencari jamur hutan untuk di makan sebagai lauk hanya 1 atau 2 burung saja tidak pernah berombongan besar seperti sekawanan burung camar itu.
Santi berpikir apakah ada sesuatu yang salah. Apakah ini pertanda alam untuk membuat dia waspada.
DUGG
Tiba-tiba muncul 10 orang bermuka sangar yang datang dari buritan kapal. Santi segera menempel ke dinding haluan, kelihatannya mereka bukan abk kapal atau anak buah mister Chow. Kebanyakan mukanya hitam-hitam menakutkan.
PROVISION ROOM 006-KAPAL LITONA
Mister Chow mengecek persediaan bekal kapal untuk memastikan kecukupan untuk kebutuhan semua orang di kapal. Dalam Provision Room ada beras, sarden, air galon, makanan kering yang tahan setahun. Kalim mendampingi mister Chow untuk menyampaikan data-data yang diperkamukan apabila mister Chow bertanya.
Kalim, orangnya kuat, tegap cocok untuk menjaga Provision Room kapal Litona. Setiap pertanyaan yang diajukan oleh mister Chow selalu dijawab dengan sigap oleh Kalim.
Mister Chow menemukan Kalim dalam kondisi payah di ruang Duma dekat Pelabuhan S pada waktu dia baru datang dari mengurus transit target di ujung pelabuhan. Mister Chow segera menolong Kalim, merawatnya sampai sembuh karena sakit di tubuhnya membuatnya tidak berdaya. Sejak saat itu, Kalim selalu mengikutinya kemanapun dia pergi.
“Kurasa bekal melimpah ini mencukupi untuk mengurus semua orang di kapal ini.”
Kalim menganggukkan kepalanya. Dia tidak dapat bicara karena lidahnya terbelah entah karena memang ada yang sengaja membuatnya begitu. Tetapi mister Chow tidak mempersalahkan Kalim. Dia menganggapnya bagian keluarganya sendiri.
DUUUG….DUUUG……DUUUG……
Muncul serombongan orang membuat lantai kapal berderak. Ada orang berwajah lebar dan berbadan gemuk pendek memimpin didepan. Mister Chow terkejut dengan kedatangan rombongan orang tidak diundang tersebut.
“E…mister Chow ya….”
Mister Chow mengamati sejenak orang gemuk pendek tersebut.
“Em….mister Smith.”
Orang gemuk pendek itu tertawa.
“Masih ingat mister.”
“Mister Smith masuk menerobos ke kapalku. Ini tidak boleh….mister.”
Mister Smith tergelak.
“Lalu bagaimana dengan transit barangku….mana.”
Mister Chow ingat jelas tentang transit barang yang disebut mister Smith. Itu diangkut paksa oleh keamanan pelabuhan S karena tidak diterima oleh keamanan itu.
“Sudah diangkut paksa keamanan pelabuhan S. Tidak diterima.”
Mister Smith tergelak lagi.
“Kamu jual aku beli…”
Mister Chow menahan Kalim yang mau maju tidak terima.
“Aku berkata yang sebenarnya…Apa mau kamu.”
Rombongan itu pada tegang sikap oleh ucapan mister Chow. Muka mister Smith menegang. Rahangnya gemerutuk menahan amarah menggelora yang sudah lama ditahannya. Bukan apa-apa. Dia sudah bayar cek penuh kepada mister Chow untuk angkut transit barangnya selamat sampai ditangan penerima. Tetapi mister Chow membuat kepercayaannya runtuh. Dia sudah tidak percaya lagi pada mister Chow. Dimatanya mister Chow orang payah tak berarti.
Mereka mengeluarkan alat kerjanya masing-masing. Muka rata-rata orang pada menegang. Mister Chow dan Kalim dikerumuni mister Smith dan anak buahnya.
“Angkat kaki kalian….tinggalkan kapal ini.”
Terdengar teriakan keras di anjungan kapal. Semua orang mendongak keatas. Ada banyak orang punya alat kerja ditangannya masing-masing. Jumlahnya lebih banyak dari yang dibawa mister Smith. Josas memimpin kelompoknya memberi arahan yang baik kepada mister Smith dan anak buahnya.
Mister Chow tersenyum.
“Bagaimana mister Smith.”
Muka mister Smith menegang. Rahangnya gemeretuk. Tangannya terkepal kesal. Dia tidak terima dengan kondisi payah yang dialaminya. Tidak terima. Dia selalu diatas orang lain harus dibawahnya. Dengan keputusan berat, dia mendesah.
“Baik mister Chow. Kali ini aku mengalah.
Mister Smith melambaikan tangan kepada anak buahnya untuk pergi. Mereka segera pergi ke buritan kapal untuk pergi dari tempat itu. Segera menuruni kapal dengan cepat, dibawah kapal ada speedboat, 2 speedboat yang segera melaju cepat meninggalkan kapal.
Josas dan teman-temannya menemui mister Chow dan Kalim. Mereka gembira bahwa mister Chow tidak mengalami apa-apa.
“Gimana kamu tahu kami dikepung.”
Josas memberi tanda pada seorang, orang itu turun dari anjungan kapal.
“Kamu…..”
“Ya mister.”
Mister Chow menepuk pundak Santi.
Santi agak terkejut dengan tepukan itu. Tetapi karena yang menepuk mister Chow dia diam saja. Dia tahu mister Chow orang yang baik, tidak akan berbuat yang buruk kepadanya.
“Bagus, kamu kerjanya baik.”
Mister Chow memperlakukan Santi seperti dia memperlakukan anak buahnya seperti Josas, Dandy, Kalim dan lainnya. Kelihatan akrab.
Santi hanya tersenyum kecil. Dia senang karena mister Chow tidak menganggapnya sebagai hal yang kecil. Dia menunjukkan sikap akrab kepadanya sebagai mitra terpercaya.
Dandy datang kepada mister Chow bahwa kondisi mesin membaik mereka dapat tenang.
Kapal melaju dengan cepat. Setelah melewati laut F, kapal menuju laut CT untuk masuk ke wilayah negara K. Di sana terkenal dengan makanan asinan sayur fermentasi kesukaan mister Chow. Bagi mister Chow rasanya enak. Mister Chow teringat istrinya yang sakit serius sangat butuh biaya perawatan yang mahal. Asma akut yang butuh perawatan mahal. Apalagi kalau di bawa ke rumah sakit Korea Selatan yang mahal perlu biaya ratusan juta sedangkan uangnya sendiri belum mencukupi untuk membawa istrinya kesana.
Mister Chow menyandarkan punggungnya di kursi mahal. Meskipun kursi dan perabotan ini mahal tetapi ini bukan punya dia. Dia mendapat kepercayaan tuan Mican, membawa kapalnya untuk mengangkut transit beban yang bernilai ratusan juta. Tetapi uangnya tidak langsung masuk kekantongnya karena masuknya ke tuan Mican dulu baru bagi-bagi hasil.
Santi heran melihat mister Chow yang kusut. Tampak ada yang berat di pikirnya.
Santi dianggap mitra kepercayaan mister Chow jadi mendapat perlakuan khusus tidak boleh orang melanggarnya. Itu yang menjadi peraturan tidak tertulis mister Chow. Anak buahnya tidak berani melanggarnya. Mereka menghormati sosok mister Chow yang sudah dianggap bapak yang dianut oleh mereka. Mereka semua berhutang budi pada kebaikan mister Chow yang banyak menolong kesulitan hidup mereka.“Siapa nama kamu.”
Santi menaikkan alisnya. Dia sudah memberitahukan namanya. Tetapi dia tetap menjawab.
Santi, mister.”
“Oke, kamu …aku lihat kamu selalu kondisi payah, apa kamu sakit.”
“Aku memikirkan anakku mister.”
“Anak….jadi kamu punya anak.”
“Ya mister.”
Santi terisak. Dia tidak dapat menyembunyikan rasa sedih pada mister Chow.
“Kenapa kamu menangis…”
“Anak aku sakit mister.”
“anak kamu sakit?”
Mister Chow matanya serius memandang Santi. Mukanya menjadi serius.
“sakitnya karena apa.”
“Jantung bawaan dan asma akut mister.”
Mister Chow menggeser kakinya pelan. Dia merasa senasib dengan Santi karena istrinya juga sakit asma akut yang perlu penangan medis.
“Istri aku juga kena sakit asma akut. Exacerbasi Asma Akut. Sangat menakutkan.”
“Kenapa mister kelihatan begitu sedih bukankah negara K terkenal dalam penanganan pernafasan kelas dunia.”
“Butuh uang ratusan juta. Aku tidak punya. Perabotan mahal yang kamu lihat disini bukan property aku.”
Santi turut merasakan kesedihan pada mister Chow. Sekarang mereka mitra tidak perlu Santi rendah dihadapan mister Chow yang sudah menganggapnya mitra kepercayaan.
“Oke Santi. Apakah anakmu sudah ditangani dengan baik.”
“Saat ini ditangani di rumah sakit mister. Tetapi untuk perawatan terbaik ada di kota P yang butuh biaya mahal.”
“Oh….”
Mister Chow menganggukkan kepalanya pelan. Baginya Santi senasib dengan dirinya yang sama-sama butuh biaya untuk orang terkasihnya supaya penyakitnya cepat ditangani dengan baik.
Mister Chow teringat istrinya Imna, seorang perempuan dengan senyum termanis yang pernah ada. Imna sekarang dirawat dirumahnya di kota kecil B dekat pelabuhan. Setiap kali sehabis dari perjalanan laut dia segera menemui istrinya yang terbaring lemah ditemani oleh putrinya Parli yang setia menemani ibunya yang sakit. Putrinya berusia 25 tahun belum bersuami karena fokus merawat ibunya yang sakit asma. Orang yang sakit asma akut tidak bisa ditinggalkan barang sebentar sehingga dia meminta dengan sangat kepada putrinya untuk tidak sedetikpun meninggalkan ibunya yang sakit keras.
Santi memandang jauh. Pikirannya selalu pada Nonik…..Apa yang dilakukan Nonik. Apa dia sudah bangun dari tidurnya……
Bersambung