" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Berbisa dari Balik Jeruji
Sisa aroma cabai rawit yang menyengat di ruko mulai memudar, digantikan oleh aroma kopi krimer yang dibawa Maya. Kinan sedang asyik bermain "benteng-bentengan" dengan Leo menggunakan kardus bekas keramik.
"Ibu! Tadi Tante Galak itu lucu banget pas lari-lari!" seru Kinan sambil tertawa kecil.
Arumi tersenyum, tapi hatinya tidak tenang. Ia melihat Ibu Maryam masih berdiri mematung di seberang jalan, menatap ruko megah itu dengan tatapan kosong.
"May, aku temui Ibu Maryam sebentar ya," bisik Arumi pada Maya.
"Hati-hati, Rum. Orang kalau sudah terdesak bisa nekat," pesan Maya cemas.
Arumi melangkah keluar. Begitu mendekat, Ibu Maryam langsung menyodorkan secarik kertas kusam yang robek di bagian pinggirnya. Tangan wanita tua itu gemetar hebat.
"Ini... dari Baskara, Rum. Dia titip ini waktu Ibu jenguk tadi pagi. Dia bilang, kalau kamu tidak baca ini, dia akan... dia akan mengakhiri hidupnya di sel," tangis Ibu Maryam pecah lagi.
Arumi menghela napas panjang. Ia mengambil kertas itu. Isinya bukan permohonan maaf, melainkan kalimat manipulatif yang khas:
"Arum, aku tahu kamu sudah bahagia dengan pria kaya itu. Tapi ingat, Kinan lahir dari darahku. Jika kamu tidak mencabut laporan ini dalam tiga hari, aku akan pastikan semua orang tahu rahasia tentang 'uang modal pertama' yang kamu ambil dari lemari Ibu dulu. Aku punya buktinya. Pilih: Aku bebas, atau nama baikmu hancur saat peresmian ruko barumu."
Darah Arumi mendidih. "Uang modal? Mas Baskara menuduhku mencuri uang Ibu?"
Ibu Maryam menunduk. "Ibu tidak tahu, Rum... Baskara bilang kamu ambil simpanan Ibu di bawah kasur dulu buat beli bahan bumbu pertama kali."
"Ibu percaya?!" suara Arumi meninggi. "Uang itu hasil aku jual cincin kawinku sendiri, Bu! Baskara yang mengambil uang Ibu untuk main judi online! Dia yang mencuri, sekarang dia menuduhku?!"
Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh merebut surat itu dari tangan Arumi. Adnan.
Adnan membaca surat itu dengan kilat mata yang sangat berbahaya. "Pemerasan. Fitnah terencana. Sepertinya mantan suamimu ini ingin masa tahanannya ditambah, Arumi."
Dania ikut mengintip dari belakang Adnan. "Wah, ini sih fix psikopat kelas teri! Nek, kasih tahu anak Nenek, kalau dia macam-macam lagi, aku bakal suruh orang di sel buat pastiin dia nggak bisa nulis surat pakai tangan lagi!"
"Dania! Jaga bicaramu!" tegur Arumi, meski hatinya sangat panas.
Rendra muncul sambil mengelap kacamata hitamnya dengan kain microfiber. "Aduh, secara alur cerita, ini namanya plot twist kacangan. Arum, kalau kamu takut nama baikmu hancur, jangan khawatir. Aku bisa bikin press release yang bakal bikin dia kelihatan makin kayak sampah masyarakat. Tapi secara visual... Ibu Maryam ini beneran jadi korban manipulasi anak sendiri ya? Sedih banget lihatnya, kayak drama Korea rating rendah."
Adnan menatap Ibu Maryam dengan tegas. "Ibu, pulanglah. Katakan pada Baskara, gertakannya tidak mempan. Kami punya saksi ahli dan bukti transaksi penjualan cincin Arumi dulu. Jika dia terus memfitnah, saya sendiri yang akan memastikan dia membusuk di penjara paling gelap."
Ibu Maryam jatuh terduduk, meraung sejadi-jadinya. Arumi merasa dadanya sesak. Ia ingin marah, tapi melihat wanita tua yang rapuh itu, hatinya hancur.
"Ibu... pulang ya. Mas Baskara cuma memanfaatkan Ibu," bisik Arumi sambil membantu Ibu Maryam berdiri.
Saat Ibu Maryam dipandu oleh pengawal Adnan untuk pulang, Arumi kembali masuk ke ruko dengan langkah gontai. Namun, di dalam, Kinan sudah berdiri menunggunya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ibu... Ayah jahat ya?" tanya Kinan polos.
Arumi memeluk Kinan erat. "Ayah hanya sedang sakit pikirannya, Sayang. Kita doakan saja dia sembuh."
"Kinan nggak mau Ayah datang lagi. Kinan mau Om Adnan aja yang jagain Ibu," celetuk Kinan, membuat suasana yang tadinya tegang mendadak jadi canggung dan hangat.
Adnan yang mendengar itu langsung tersenyum tipis, telinganya memerah. Rendra tertawa geli. "Wah, endorsement langsung dari Kinan! Skor Adnan naik jadi 10/10!"
Dania menyenggol bahu Adnan. "Cieee... dapet restu nih yeee! Buruan dong, keburu disalip Kak Erick!"
Arumi hanya bisa menunduk malu, mencoba menyembunyikan senyumnya di balik pundak Kinan. Namun, di balik keceriaan itu, Arumi tahu bahwa ancaman Baskara bukan hal sepele. Ia harus bersiap untuk peresmian ruko tiga hari lagi.