Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Ingatan di Distrik Kelabu
Distrik Kelabu adalah bagian dari Kota Metropol yang tidak pernah tersentuh oleh gemerlap lampu Feng Sky Tower. Tempat ini penuh dengan bangunan tua yang terbengkalai dan kabut elektromagnetik yang pekat. Di bawah sebuah pabrik tekstil tua, terdapat "Laboratorium Memori" milik Klan Ouroboros yang sangat rahasia.
Feng Yan melangkah masuk dengan jubah hitamnya yang berkibar, diikuti oleh Reyhan dan Chen Lian. Di belakang mereka, Anitha terpaksa harus "menjaga" Lin Diya yang sepanjang jalan terus-menerus memprotes secara hukum.
"Secara Undang-Undang Hak Sipil, Tuan Feng," Diya berteriak sambil mencoba melepaskan pegangan tangan Anitha, "Membawa warga sipil ke daerah konflik tanpa persetujuan tertulis adalah pelanggaran berat! Saya akan memastikan izin usaha Feng Group dicabut setelah ini!"
Anitha menghela napas panjang, ia menatap Chen Lian yang berjalan di depannya. "Tuan Hantu, tolong dong... kasih dia sedikit sihir bisu atau apa gitu. Kupingku sudah panas dengerin pasal-pasal pengadilan dari tadi!"
Chen Lian tidak menoleh, tapi suaranya yang dingin terdengar pelan. "Biarkan saja. Secara logika psikologis, jika dia masih bisa marah-marah begitu, artinya kesadarannya masih kuat. Itu bagus untuk proses recovery nanti."
"Wah, hantu kita mulai belajar psikologi ya?" Anitha menyeringai nakal.
Tiba-tiba, lampu di lorong bawah tanah itu berkedip merah. Suara tawa statis The Architect bergema dari speaker dinding yang berkarat.
"Selamat datang di tempat di mana kenyataan hanyalah susunan data yang bisa dihapus, Feng Yan. Kau membawa 'Mutiara'-mu yang sudah kosong? Bagus. Mari kita lihat, apakah kau bisa mengisi kembali hatinya sebelum virusku menghapus 'folder cinta'-nya secara permanen."
Pintu besi besar di depan mereka terbuka, menampakkan sebuah ruangan yang dipenuhi dengan tabung-tabung berisi cahaya biru—memori manusia yang sudah dikristalkan. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kursi kursi singgasana elektronik yang terhubung ke ribuan kabel saraf.
"Diya, duduk di sana," perintah Feng Yan. Matanya berkilat emas, aura kepemimpinannya menekan seluruh ruangan.
"Tidak mau! Itu terlihat seperti kursi listrik!" Diya mundur selangkah, menatap Feng Yan dengan penuh kecurigaan. "Siapa Anda sebenarnya? Kenapa Anda begitu terobsesi dengan ingatan saya?"
Feng Yan mendekat, ia mencengkeram bahu Diya dengan lembut namun tegas. Ia menatap mata Diya yang penuh ketakutan itu. "Secara logika takdir, Diya... aku bukan pengacaramu. Aku adalah pria yang kau selamatkan dari ledakan vila, pria yang kau temani di Pulau Nol, dan pria yang kau setujui untuk mendampingi hidupku. Duduk. Sekarang."
Entah karena aura emas itu atau karena getaran di suara Feng Yan, Diya terdiam. Ia perlahan duduk di kursi itu. Rendy langsung bergerak cepat menyambungkan perangkat IT-nya ke sistem kursi tersebut.
"Tuan Feng! Pasukan Ouroboros datang dari jalur ventilasi!" teriak Reyhan sambil mengeluarkan senapan mesinnya.
"Anitha, Chen Lian! Tahan mereka di pintu masuk!" perintah Feng Yan. "Jangan biarkan satu pun dari mereka menyentuh kursi ini!"
"Siap, Bos!" Anitha melepaskan kacamata hitamnya, ia mengeluarkan dua bilah pisau pendek dari balik sepatunya. "Tuan Hantu, ayo kita buat pesta barbekyu ular!"
Chen Lian menghunus pedang hitamnya. Ia berdiri di depan Anitha, menciptakan dinding pelindung energi. "Jangan jauh-jauh dariku, Polwan."
"Cieee, mulai protektif!" Anitha tertawa sambil mulai menari di antara hujan peluru musuh.
Di tengah kekacauan baku tembak, Rendy berkeringat dingin di depan laptopnya. "Gawat! Enkripsi memorinya punya sistem pertahanan 'bom logika'! Kalau aku salah tebak kodenya, ingatan Diya tentang Feng Yan akan meledak dan hilang selamanya!"
"Kodenya... pasti sesuatu yang hanya diketahui oleh kami berdua," gumam Feng Yan. Ia memegang tangan Diya yang mulai gemetar. "Rendy, coba masukkan tanggal kecelakaan vila itu!"
"Gagal!" teriak Rendy.
"Coba nomor plat mobil sport perakku!"
"Gagal juga! Tuan Feng, kodenya bukan soal data fisik! Ini soal emosi!"
Feng Yan menatap Diya yang kini memejamkan mata, wajahnya tampak kesakitan karena proses sinkronisasi saraf. Feng Yan berbisik di telinga Diya, mengabaikan suara ledakan di sekeliling mereka.
"Diya... ingat tidak, saat kita di jet pribadi setelah dari Pulau Nol? Kau bilang, kau butuh asisten baru untuk pernikahan kita. Dan kau bilang, kau ingin aku tetap hidup karena biaya lemburmu belum dibayar..."
Mata Diya tiba-tiba terbuka lebar. Cahaya biru memancar dari pupil matanya.
"Kodenya..." bisik Diya pelan, suaranya terdengar seperti dua orang yang bicara bersamaan. "...'Biaya Lembur Seumur Hidup'."
Rendy langsung mengetikkan kalimat itu.
ENTER!
Layar monitor berubah dari merah menjadi emas terang. Gelombang data mengalir masuk kembali ke otak Diya. Seluruh ruangan bergetar hebat. The Architect berteriak marah melalui pengeras suara karena protokolnya berhasil ditembus.
"TIDAK! BAGAIMANA MUNGKIN KODE SESEPELE ITU BISA MENGALAHKAN ALGORITMAKU?!"
Seketika, seluruh pasukan Ouroboros yang menyerang mendadak kaku dan jatuh tersungkur—sistem kendali mereka terputus karena server pusatnya meledak.
Keheningan kembali menyelimuti laboratorium. Diya terengah-engah di atas kursi, keringat membasahi lehernya. Ia menatap Feng Yan yang masih memegang tangannya dengan cemas.
"Tuan... Feng?" ucap Diya, kali ini dengan nada yang berbeda. Nada yang penuh dengan kekesalan namun bercampur sayang. "Anda benar-benar gila. Menggunakan 'Biaya Lembur' sebagai kode keamanan?"
Feng Yan tersenyum lebar, senyum yang paling tulus yang pernah ia tunjukkan. Ia langsung menarik Diya ke dalam pelukannya. "Selamat datang kembali, Mutiara. Secara logika... aku hampir saja gila kalau kau tidak kembali."
Anitha yang bersandar di pintu sambil memegang pundak Chen Lian yang terluka sedikit, tertawa geli. "Wah, akhirnya dramanya selesai. Tuan Hantu, lihat tuh... Bosmu beneran bucin tingkat dewa."
Chen Lian hanya mendengus, tapi ia menyelipkan pedangnya kembali ke sarungnya. "Tugas selesai. Mari kita pulang."
Namun, di sela-sela kegembiraan mereka, ponsel Diya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor anonim yang berbeda.
Ingatan memang sudah kembali, Nona Pengacara. Tapi apakah Anda sudah siap melihat 'File Rahasia' kakek Feng Yan yang saya selipkan di memori bawah sadar Anda? Kebenaran tentang kematian orang tua Anda... ada di sana."
Diya mematung di pelukan Feng Yan. Wajahnya kembali pucat.