Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pengantin yang Tertukar
Arumi menatap pantulan dirinya di cermin besar bridal suite Hotel Grandhika. Gaun pengantin berwarna putih gading itu sangat indah, bertabur payet kristal yang berkilau lembut. Riasan wajahnya sempurna, membuatnya terlihat pangling. Namun, ada satu masalah besar: gaun ini bukan miliknya, dan pernikahan ini… seharusnya bukan pernikahannya.
“Ibu mohon, Rum… hanya ini satu-satunya jalan,” isak Ratna, ibunya, yang duduk bersimpuh di sofa dengan wajah sembap.
Arumi menghela napas panjang, meremas pinggiran gaunnya. Di sudut lain, ayahnya, Baskoro, duduk dengan kepala tertunduk, tampak sangat putus asa.
“Tapi Bu, Siska yang seharusnya menikah dengan Adrian. Bukan aku,” ujar Arumi dengan suara pelan namun tegas.
Siska, kakak perempuannya yang selalu menjadi pusat perhatian, telah melarikan diri beberapa jam yang lalu. Dia meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan bahwa dia tidak siap menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO yang reputasinya kaku dan membosankan, dan memilih pergi bersama kekasih lamanya.
Keputusan egois Siska meninggalkan kekacauan besar. Keluarga Pramoedya adalah rekan bisnis penting ayah Arumi. Pembatalan pernikahan di menit-menit terakhir tidak hanya akan menghancurkan nama baik keluarga Baskoro, tetapi juga bisa berdampak buruk pada bisnis mereka.
“Keluarga Pramoedya setuju, Arumi. Mereka butuh pernikahan ini terjadi hari ini untuk menstabilkan citra perusahaan. Adrian juga tidak keberatan jika itu kamu,” Baskoro akhirnya angkat bicara, suaranya parau.
Arumi tertegun. Adrian tidak keberatan?
Arumi hanya pernah bertemu Adrian beberapa kali dalam acara makan malam keluarga. Pria itu memang tampan, sangat tampan bahkan, namun selalu bersikap dingin, formal, dan irit bicara.
Siska selalu mengeluh betapa membosankannya Adrian, sementara Arumi… diam-diam mengagumi ketenangan dan kecerdasan pria itu dari jauh.
“Kamu anak yang penurut, Rum. Tolong bantu Ayah dan Ibu kali ini saja,” mohon Ratna lagi.
Arumi menatap kedua orang tuanya. Dia bukanlah Siska yang berapi-api dan selalu menuntut kebebasan. Arumi adalah tipe gadis yang tenang, cenderung mengalah, dan selalu mengutamakan kepentingan keluarga. Melihat kerapuhan kedua orang tuanya, hati Arumi goyah.
Mungkin ini takdirnya, pikir Arumi getir. Menjadi bayangan Siska, bahkan di hari pernikahan Siska.
Sebelum Arumi sempat memberikan jawaban pasti, pintu suite diketuk. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi masuk. Dia adalah pengurus acara pernikahan.
“Pengantin pria sudah siap di ruang akad. Prosesi akan dimulai dalam sepuluh menit. Mari, Mbak Siska—eh, maksud saya, Mbak Arumi,” ujarnya dengan nada canggung namun profesional.
Rupa-rupanya, pihak panitia juga sudah diberitahu tentang pergantian pengantin ini.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Arumi melangkah. Setiap langkah terasa berat, namun dia sudah membuat keputusan. Dia akan menghadapi ini demi keluarganya.
Lorong hotel mewah itu terasa sunyi bagi Arumi, meski dia tahu ribuan tamu undangan sedang menunggu di ballroom utama. Dia menggandeng lengan ayahnya, merasakan getaran gugup dari pria itu.
Saat pintu aula akad nikah terbuka, aroma melati dan mawar langsung menyeruak. Ratusan pasang mata tertuju padanya. Arumi bersyukur kerudung tipis yang menutupi wajahnya sedikit menyamarkan rasa takutnya.
Di ujung karpet merah, di depan meja akad, duduk Adrian Pramoedya. Punggungnya tegap, mengenakan beskap hitam dengan sulaman emas yang elegan. Pria itu tampak tenang, sangat tenang, seolah pergantian pengantin ini bukanlah masalah besar baginya.
Arumi didudukkan di samping Adrian. Dia bisa mencium aroma parfum maskulin Adrian yang segar dan mahal, bercampur dengan wangi bunga-bunga dekorasi. Pria itu tidak menoleh, namun Arumi bisa merasakan kehadirannya yang dominan.
Penghulu memulai prosesi. Suara penghulu terdengar mantap di aula yang sunyi.
“Saudara Adrian Pramoedya bin Aryo Pramoedya,” ujar penghulu. “Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Arumi Ningtyas binti Baskoro, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Adrian menjabat tangan Baskoro. Suaranya terdengar berat dan tegas saat dia mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas, tanpa keraguan sedikit pun.
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Arumi Ningtyas binti Baskoro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Sah.
Kata itu bergaung di kepala Arumi. Hanya dalam hitungan detik, hidupnya telah berubah total. Dia bukan lagi Arumi si anak rumahan, melainkan istri dari seorang Adrian Pramoedya.
Suara 'Alhamdulillah' terdengar kompak di seluruh aula, diikuti tepuk tangan meriah. Arumi merasa mual karena gugup. Dia dipandu untuk mencium tangan Adrian. Dengan gemetar, dia meraih tangan pria itu. Tangannya besar dan hangat, namun terasa kaku. Arumi menundukkan kepalanya, menempelkan keningnya pada punggung tangan Adrian.
Tepat saat itu, dia merasakan Adrian mendekat. Arumi mengira pria itu akan mencium keningnya sebagai bagian dari prosesi. Namun, Adrian justru berbisik pelan, hanya untuk didengar oleh Arumi sendiri. Nada suaranya datar, namun ada nada dingin yang membuat bulu kuduk Arumi berdiri.
“Jangan berpikir ini karena aku menginginkanmu, Arumi. Ini hanya karena kamu yang ada di sini.”
Arumi tersentak, punggungnya menegang. Dia perlahan mendongakkan kepalanya, meskipun kerudung masih menutupi wajahnya, dia bisa melihat mata elang Adrian yang menatapnya dengan tatapan lurus, tanpa ekspresi. Tidak ada sedikit pun binar kebahagiaan di mata itu.
Adrian kemudian melepaskan tangan Arumi dan berdiri, meninggalkan Arumi yang masih duduk terpaku. Prosesi berlanjut, namun Arumi menjalaninya seperti robot. Dia merasa seperti seorang penipu yang mengenakan gaun indah.
Setelah prosesi akad, mereka langsung digiring untuk resepsi. Arumi harus berdiri berjam-jam di samping Adrian, tersenyum palsu pada ribuan tamu undangan. Adrian bersikap formal dan sopan di depan tamu, namun tidak ada interaksi sedikit pun dengan Arumi. Dia benar-benar mengabaikannya.
Malam semakin larut. Saat resepsi akhirnya usai, Arumi merasa sangat lelah, baik secara fisik maupun emosional. Dia dibawa menuju kamar pengantin di hotel yang sama.
Di dalam kamar, hanya ada Arumi. Rupa-rupanya Adrian memiliki urusan lain atau sengaja menghindarinya. Arumi berjalan ke cermin lagi, melepas kerudungnya dengan tangan yang gemetar. Dia menatap wajahnya sendiri, riasannya sudah sedikit luntur.
Hiasan melati di rambutnya terasa berat. Dia perlahan melepas satu per satu peniti dan sisir hiasan, membiarkan rambutnya terurai. Aroma melati yang tadi harum kini terasa menyesakkan, mengingatkannya pada pernikahan paksa ini.
Dia duduk di tepi tempat tidur raja yang besar, dihiasi dengan kelopak mawar merah. Tempat tidur ini seharusnya menjadi saksi kebahagiaan, tapi bagi Arumi, ini terasa seperti penjara.
Pintu kamar terbuka. Adrian masuk. Dia tampak lelah, jasnya sudah dilepas dan disampirkan di lengan. Dia berjalan menuju mini bar, menuangkan air mineral ke dalam gelas dan meminumnya dengan cepat.
Arumi berdiri canggung. “M-Mas Adrian…''
Adrian berbalik, menatapnya. Tatapannya masih dingin, namun ada sedikit kelelahan yang tersirat.
“Kamu bisa istirahat. Aku akan tidur di sofa.”
Arumi tertegun. “Sofa? Tapi…”
“Aku tahu ini sulit untukmu, Arumi. Begitu juga denganku,” sela Adrian, suaranya terdengar datar namun ada sedikit nada kejujuran. “Pernikahan ini… ini bukan sesuatu yang aku rencanakan. Tapi ini sudah terjadi. Kita harus menghadapinya.”
“Tapi aku bukan Siska,” ujar Arumi pelan.
“Aku tahu,” jawab Adrian, menatapnya lurus. “Dan aku bersyukur untuk itu.”
Arumi melebarkan matanya. Bersyukur? Apa maksudnya?
“Siska telah membuat kekacauan besar. Kamu di sini untuk memperbaikinya, atau setidaknya meminimalisir dampaknya,” lanjut Adrian, nada suaranya kembali formal. “Kita akan hidup bersama selama satu tahun. Setelah itu, jika situasinya sudah stabil, kita bisa membicarakan perceraian.”
Arumi tertegun. Satu tahun? Perceraian? Dia tidak pernah membayangkan hidupnya akan sekacau ini. Namun, di sudut hatinya, ada sedikit rasa lega. Setidaknya, Adrian tidak membencinya, dan dia tidak dipaksa untuk menjadi Siska.
“Sementara itu,” ujar Adrian, berjalan menuju sofa, “kamu bisa menempati tempat tidur ini. Dan Arumi…” Dia menoleh sedikit ke belakang.
“Ya, Mas Adrian?”
“Panggil aku Adrian saja. Kita adalah suami istri sekarang, meskipun hanya di atas kertas.”
Dengan itu, Adrian mematikan lampu kamar, hanya menyisakan lampu tidur yang redup, dan merebahkan tubuhnya di sofa.
Arumi perlahan duduk kembali di tepi tempat tidur. Dia menatap punggung Adrian yang membelakanginya di sofa. Hati Arumi terasa campur aduk. Ada rasa sedih karena pernikahannya dimulai dengan cara seperti ini, namun ada juga sedikit rasa penasaran.
Mungkin, satu tahun ini tidak akan seburuk yang dia bayangkan. Mungkin, dia bisa menemukan jati dirinya di luar bayang-bayang Siska. Dan mungkin… hanya mungkin… dia bisa meluluhkan hati dingin pria yang sekarang menjadi suaminya.
Arumi merebahkan tubuhnya di tempat tidur raja yang besar itu, menarik selimut lembut sampai ke dagu. Aroma melati dan mawar masih tercium samar, mengiringinya menuju alam mimpi.
Malam ini hanyalah permulaan. Perjalanannya sebagai "istri pengganti" baru saja dimulai.