NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 - Di Titik Hati Yang Retak 2

Siang itu, cahaya matahari menembus terang melalui jendela kamar villa, menerangi seluruh ruangan dengan jelas. Aga berjalan menyusuri koridor, dua gelas es kopi susu di tangan, berniat mengajak Gwen makan siang dan bicara dengan kepala dingin setelah kekacauan pagi tadi.

Begitu mendorong pintu kamar, tubuhnya langsung membeku.

Koper besar Gwen terbuka lebar di atas tempat tidur. Gwen berdiri membelakangi pintu, tangannya bergerak cepat dan tegas memasukkan pakaian satu per satu ke dalam koper. Gaun, sweater, celana jeans, dan barang pribadinya sudah tertata rapi. Wajahnya bengkak, mata merah dan sembab. Air mata masih jelas menggenang.

Jantung Aga terasa terjun ke perut.

“Kamu… mau ke mana?” suaranya tercekat, panik.

“Pulang,” jawab Gwen dingin, tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya tetap bergerak, memasukkan kaos putih ke dalam koper dengan gerakan mekanis.

Aga melangkah masuk cepat, menutup pintu di belakangnya dengan keras, lalu memutar kunci sampai terdengar bunyi klik nyaring. “Baby, please—”

“Don’t baby me!” Gwen memotong tajam, suaranya datar tapi penuh amarah yang tertahan. Ia mengambil gaun krem dari lemari, melipatnya sekilas, lalu mendorongnya ke dalam koper. “Kamu bilang mau ngasih aku waktu, kan?”

“Iya, tapi bukan dengan pergi dari sini!” balas Aga, suaranya mulai gemetar. “Gwen, kita belum selesai—”

“Sorry, Ga. Setiap kali lihat kamu, yang muncul cuma pelukan Nadine di teras tadi pagi.” Ucap Gwen terus memasukkan barang-barangnya, tangannya bergerak cepat.

Aga membeku. Tanpa peringatan, ia melangkah cepat ke arah koper. Dengan gerakan kasar, tangannya meraih semua pakaian yang baru saja Gwen masukkan — kaos, celana, gaun, jaket — lalu melemparkannya ke udara.

Pakaian beterbangan di seluruh kamar yang terang oleh cahaya siang. Gwen terkejut, mundur selangkah.

“Gila kamu!”

“Ya, aku tergila-gila padamu, Baby,” ucap Aga dengan suara rendah yang sedikit serak. Tanpa melepaskan pandangan dari mata Gwen, ia meraih ujung kaosnya, menariknya ke atas dengan satu gerakan cepat, lalu melempar kaos itu asal ke lantai.

Tubuh atasnya kini terpapar sempurna di bawah cahaya siang yang lembut menyusup lewat tirai. Otot dada dan perutnya yang tegas terlihat jelas, tapi yang langsung membuat Gwen tercekat adalah tato hitam-putih yang sangat detail di dada kirinya—tepat di atas jantung.

Wajah Gwen sendiri yang masih berambut pendek tersenyum lembut di sana. Garis-garis tintanya begitu halus dan hidup, sampai-sampai Gwen bisa melihat kilau mata versi mudanya dan lekukan kecil di bibir yang sedang tersenyum. Di bawahnya, tertera tanggal lahir Gwen dengan angka-angka yang rapi dan elegan.

Napas Gwen tertahan. Jantungnya berdegup keras, seolah ingin meloncat keluar dari dada.

“Aga…” suaranya keluar hampir tanpa suara.

Aga hanya tersenyum tipis, mengambil tangan Gwen dengan lembut, lalu menempelkan telapak tangannya persis di atas tato itu. Kulitnya hangat. Denyut jantung Aga terasa kuat dan cepat di bawah sentuhan Gwen.

“Ini udah lama aku buat,” gumamnya pelan. “Sejak kamu pergi. Aku nggak bisa lupain kamu, Gwen. Jadi aku bikin kamu selalu ada di sini… tiap detik.”

Jari Gwen tanpa sadar mengusap garis tato itu dengan lembut, seolah takut tinta itu akan luntur. Matanya berkaca-kaca, campuran antara terharu, terkejut, dan sesuatu yang jauh lebih panas mulai membara di dalam dada.

“Kamu tahu aku takut jarum…” suara Aga rendah, jarinya gemetar menunjuk dada kirinya. “Tapi aku lakukan ini. Saat dengar kamu akan menikah, aku gak bisa kehilanganmu.”

Ia menatap Gwen dalam-dalam.

“Terserah kamu bilang ini obsesi atau gila, tapi yang pasti… aku mencintaimu, Gwen. Benar-benar mencintaimu.”

Gwen diam cukup lama, air matanya jatuh pelan. Lalu ia mengangkat wajahnya, menatap Aga dengan tatapan tegas meski rapuh

“Baiklah… kalau kamu memang serius,” ucapnya pelan, “kita pacaran dulu.”

Aga menggeleng “Enggak mau,” katanya sambil meraih tangan Gwen dengan lembut. “Aku gak mau cuma pacaran. Aku maunya langsung jadi calon suami kamu.”

Gwen menahan senyum kecil, meski matanya masih berkaca-kaca. Ia menghela napas pelan sebelum

melanjutkan dengan suara lebih mantap.

“Intinya, aku akan menerimamu. Tapi dengan satu syarat.”

“Apa, baby?” tanya Aga cepat, nada suaranya penuh harap dan

“Selesaikan semuanya dengan Nadine. Benar-benar selesai,” ucap Gwen, suaranya pelan tapi penuh penekanan. “Bukan cuma bilang ‘perjodohan batal’ di depan aku atau Pandji. Temui dia secara langsung. Temui papamu juga. Tutup semua pintu yang masih tersisa. Jangan biarkan ada celah sedikit pun yang bisa dia gunakan untuk kembali ke hidupmu. Baru setelah itu… baru kamu boleh cari aku lagi.”

Aga membeku. Wajahnya memucat. “Gwen…”

“Aku serius,” potong Gwen cepat. Suaranya bergetar, tapi tatapannya tetap tegas. “Aku gak mau jadi alasan kamu cuma setengah-setengah menyelesaikan masalah. Aku gak mau selalu takut suatu hari nanti Nadine muncul lagi dan kamu masih punya urusan yang belum clear sama dia. Kalau kamu benar-benar memilih aku, buktikan dengan tindakan, bukan cuma kata-kata… dan tattoo.”

Ia melirik sekilas ke arah tattoo di dada Aga, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.

“Aku sayang kamu, Ga. Sungguh. Tapi aku juga sayang diri aku sendiri. Aku butuh yakin bahwa kali ini kamu bener-bener memilih aku. Aku nggak mau kecewa lagi.”

Aga menatap Gwen lama sekali. Tatapannya penuh keyakinan, bukan keraguan. Ia mengangguk pelan, tegas dan mantap.

“Baik,” katanya dengan suara serak, namun penuh percaya diri. “Aku akan selesaikan semuanya. Aku akan ke Jakarta, temui Nadine, temui papaku, dan putuskan semuanya secara resmi. Aku janji.”

Dengan nada lebih tegas dan mata menyipit sedikit, ia berkata.

“Tapi aku juga punya syarat. Selama aku urus semuanya di Jakarta, kamu jangan dekat-dekat pria lain. Kalau ada yang mendekati, jaraknya harus minimal sepuluh meter. Gak boleh kurang.”

Gwen memutar bola matanya, antara gemas dan kesal.Ia membungkuk sebentar, mengambil kaos Aga yang tergeletak di lantai, lalu melemparkannya tepat ke wajah Aga.

“Pakai dulu sana,” katanya singkat.

Setelah itu ia mendorong dada Aga pelan tapi tegas, terus mendorongnya mundur ke arah pintu. Begitu punggung Aga menyentuh daun pintu, Gwen langsung menutup pintu di depan wajahnya dan menguncinya dengan suara klik yang tegas.

Dari luar kamar, Aga langsung berteriak sambil mengetuk pintu.

“Eh! Sepuluh meter, bukan lima! Jangan nakal, kalau nggak… langsung aku hamili kamu, baby!”

             __Kejar Tenggat__

Sementara itu, mobil melaju pelan di jalan raya, kabut pagi masih menyelimuti sekeliling. Nadine menunduk, tangan memegang tas di pangkuan, bibirnya terkatup rapat. Sesekali matanya menatap keluar jendela, tapi pandangannya kosong, seperti menatap sesuatu yang tak ada.

Pandji duduk di sampingnya, menahan rasa khawatir. Ia tak tega membiarkan wanita yang ia cintai menyetir sendirian, apalagi di pagi yang berkabut seperti ini. Dengan hati-hati, ia mengarahkan mobil menuju hotel tempat Nadine menginap, memastikan setiap tikungan dan jalanan sempit dilalui dengan perlahan, hanya untuk melihat Nadine sampai dengan aman.

"Satu tahun… satu tahun aku berusaha menjadi yang terbaik untuknya. belajar memasak makanan kesukaannya, mengikuti semua aturan keluarganya… dan dia… dia membuangku begitu saja. Hanya dengan satu telepon," bisiknya, suaranya pecah.

Air mata mengalir deras, membasahi pipi yang sudah basah. Tubuhnya terguncang oleh isakan yang tak bisa ditahan lagi. Nadine menunduk, mencoba menahan tangisnya, tapi tak berhasil.

Pandji menoleh sebentar, menatap Nadine dari samping, wajahnya tegang. Ia ingin berkata sesuatu yang bisa menghapus semua sakit itu, tapi kata-kata terasa tak cukup. Akhirnya ia menepuk bahu Nadine pelan. "Nad… aku tau… aku tau ini sakit banget. Tapi aku di sini, ya. Aku ada di sini buat kamu."

Nadine menutup wajahnya dengan tangan, menekan isakannya. "Aku… aku nggak ngerti kenapa… kenapa harus begini. Aku cinta sama dia… tapi dia malah pilih Gwen. Apa bagusnya wanita itu."

Pandji menarik napas panjang, menahan rasa sakitnya sendiri. "Aga udah mencintai Gwen sejak kecil, sejak SD. Dia selalu berusaha mendekati Gwen, meski sering ditolak."

Nadine menunduk, suaranya serak hampir tak terdengar. "Lalu kenapa dia menerima perjodohan ini?"

Pandji menghela napas, menatap jalan di depan. "Waktu itu, Aga lagi patah hati, Del. Dia dengar kabar Kakakku akan menikah… dan perjodohan itu datang di saat hatinya hancur. Dia cuma berusaha… membuka jalan lain. Tapi hatinya… hatinya tetap sama."

Nadine terdiam, napasnya berat, hatinya bergejolak. Air mata masih menetes pelan, tapi ada getaran lain—rasa sakit bercampur bingung. "Jadi… semua ini… bukan karena aku kurang?"

Pandji menggeleng pelan. "Bukan, Nad. Kamu nggak salah apa-apa. Si Aga itu... udah jatuh cinta setengah mati sama kakakku."

Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan "Aku juga nggak ngerti, Nad. Kakak aku emang cantik, tapi... ya Tuhan, dia cerewetnya minta ampun. Emosian. Masak? Gak bisa sama sekali. Telur aja sering gosong. Kalau nggak gosong, dia goreng satu telur pakai minyak dua liter. Kamu tahu, Dulu pernah nyiram selingkuhan mantan tunangannya pake air got di depan umum. Gila banget, kan? Aku aja kadang takut sama dia. Tapi Aga? Malah jatuh cinta gila-gilaan sama yang kayak gitu. Aku bener-bener nggak paham apa yang dilihatnya dari kakakku."

Belum selesai kalimatnya, Nadine sudah tidak bisa menahan diri. Ia meledak tertawa terbahak-bahak. Tawanya lepas, keras, sampai bahunya berguncang dan matanya menyipit. Air mata yang tadinya sedih kini bercampur dengan tawa yang tak terkendali.

Pandji terkejut. Ia langsung menepikan mobil ke pinggir jalan dan menghentikannya. Mesin dimatikan, tapi ia tidak langsung bicara. Matanya terpaku pada Nadine yang sedang tertawa lepas di sampingnya.

Wajah Nadine yang basah oleh air mata, pipinya yang merah, matanya yang berkaca-kaca, dan senyum lebar yang tak sengaja muncul... semuanya terlihat begitu cantik di mata Pandji. Tanpa sadar, ia menatapnya terkesima, napasnya hampir tertahan.

“Cantik,” gumam Pandji pelan,

Deg

Nadine langsung berhenti tertawa. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Wajahnya yang tadi merah karena tawa semakin panas. Ia menoleh cepat ke arah Pandji, mata mereka bertemu.

“Ha?” suara Nadine keluar serak, antara kaget dan gugup.

Pandji baru sadar apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Ia buru-buru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya ikut memerah.

“Maksudku... kakakku memang cantik. Tapi...” Pandji menelan ludah, lalu menatap Nadine lebih dalam, “kamu juga cantik banget, Nad. Apalagi pas lagi ketawa kayak tadi.”

Udara di dalam mobil mendadak terasa tipis. Jantung Nadine semakin kacau, deg-degan tak beraturan.

1
mitha
Lanjut kak
lilyrose
syuukkurin 🤣
Honey Brezee: hihi 🤭
total 1 replies
lilyrose
to the point aman sih si hilman 😂😂😂
Honey Brezee: iy, hahaha 🤣
total 1 replies
Patrish
nyambung amat Bang
Honey Brezee: nyambung di next kak 🤣
total 2 replies
mitha
Ceritanya gak ngebosenin 😍
Anita
Ibu tiri 😭
Anita
Seruuuuuu 😍
Patrish
hati hayi anak muda jangan sampai kebablasan
Honey Brezee: tenang ada penjaga nya si pandji 🤣🤣
total 1 replies
Patrish
ini ibu kandung apa ibu tiri sih...
Patrish: 🤣🤣🤣🤣pokoknya dibuat sakit tapi jangan sampai menyusahkan anaknya🤣🤣🤣
total 4 replies
Patrish
setiap keputusan membawa resiko..(baik maupun buruk)..setiap pilihan menuntut keberanian
inilah inti perjalanan ke depan
Honey Brezee: makasih kak ❤
total 1 replies
Patrish
ini ceritanya mereka hidup di Bali...sedang ayah Gwen di jakarta....nadine tinggal di mana?
Honey Brezee: gwen di Bali kak, ayah gwen bolak balik ke jakarta karna ada kerjaan
total 1 replies
Patrish
aku gagal focus di sini..Pikirku Panji nganter Nadine ke luar kota...
Honey Brezee: nanti aku revisi 🙏
total 1 replies
Patrish
Panji....pinter ya
Patrish
mulai....ada bara menyala...
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "Pacar Melamar Mantan Menggoda" ✨️✨️
Silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata. Kudu baca kalau kalian suka drama yang deep dan dewasa 🤌
total 1 replies
lilyrose
keren banget..ga muter muter ceritanya
good job thor
lanjuttt
Honey Brezee: huhuhu..Thankyou 😭🙏❤
total 1 replies
lilyrose
baru nemu novel sebagus ini..keren banget
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
Honey Brezee: makasih kak 🥺😭🙏❤
total 1 replies
Patrish
novel bagus gini...belum ada yang nemu....🤭🤭🤭🤭aku juga baru kemarin😀😀😀
Patrish: semoga segera banyak yang baca
total 2 replies
Patrish
sampai di sini...kalimatnya enak dinikmati....lanjuut aku...👍🏻👍🏻
Honey Brezee: terimakasih kak 🥺🙏❤
total 1 replies
Patrish
tapi kamu keren Gwen....seharusnya sejak kemarin kamu begitu...
Patrish
yoookkkk...lanjuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!