Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Jika kalian berani menampakkan batang hidung kalian di depan kami lagi, atau bahkan berani mengganggu warga desa sini... jarum berikutnya tidak akan hanya membuat kalian lumpuh sementara. Tapi akan membuat kalian cacat selamanya atau bahkan mati mengerikan. Mengerti?!" ancam Ghaizka.
Pria itu mengangguk-angguk cepat sekuat tenaga, air mata ketakutan mulai mengalir.
"M... mengerti! Maafkan kami! Ampun!" rintihnya ketakutan.
"Bagus."
Ghaizka melepaskan injakannya dengan kasar.
Ia lalu mengambil kembali jarum-jarumnya dari tubuh kedua anak buahnya, membersihkannya sedikit, dan memasukkannya kembali ke dalam kotak kayu dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ayo Gelsya, kita pulang," ajak Ghaizka kembali berubah suara lembut saat menoleh ke putrinya.
"I... Iya Ma..." jawab Gelsya membuka matanya, menatap ibunya dengan penuh kekaguman.
Mereka pun berjalan melewati ketiga preman yang masih tergeletak kesakitan dan ketakutan itu, melanjutkan perjalanan pulang.
Mereka berjalan menyusuri jalan itu dengan tenang.
Gelsya melirik ke belakang, karena ia masih takut jika para preman tadi mengejar mereka.
Namun, baru saja mereka berjalan beberapa meter melewati sebuah jalan raya yang cukup ramai, tiba-tiba suasana di sana menjadi gaduh.
"Wah! Ada orang pingsan!"
"Tuan! Hei Tuan, bangun Tuan!"
"Cepat panggil ambulans! Cepat!"
Ghaizka dan Gelsya spontan menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap yang baru saja berhenti di pinggir jalan.
Seorang sopir dan beberapa asisten tampak panik di samping tubuh seorang pria tua yang baru saja turun dari mobil, namun mendadak ambruk dan tergeletak tak sadarkan diri di aspal.
Pria tua itu berpakaian rapi dan bermerek, terlihat seperti orang berada atau pejabat tinggi.
Tapi saat ini wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal sangat lemah, dan matanya terpejam.
"Jangan digerakkan! Dia serangan jantung kayaknya!" teriak salah satu orang di sana.
Melihat situasi yang darurat itu, Ghaizka langsung bergerak. Ia tidak bisa membiarkan nyawa melayang di depan matanya.
"Tunggu, aku bisa menolongnya!" seru Ghaizka tegas.
Ia segera melangkah cepat mendekati kerumunan orang itu, sambil tetap memegang tangan Gelsya.
"Heh! Minggir! Jangan menghalangi! Ini Tuan besar, jangan sembarangan orang sentuh!" bentak si sopir dengan kasar melihat Ghaizka yang berpakaian sederhana.
"Jika kalian ingin dia hidup, diam dan minggir!" potong Ghaizka dengan suara dingin.
Tatapannya begitu tajam hingga membuat si sopir dan asistennya membeku seketika karena aura Ghaizka yang berbeda
Ghaizka langsung berjongkok di samping tubuh pria tua itu. Dengan cepat ia meraba nadi di pergelangan tangan dan leher pria itu.
"Denyut jantungnya sangat lemah dan tidak beraturan. Aliran darah tersumbat menuju jantung. Jika terlambat sedikit saja, dia akan mati," batin Ghaizka menganalisis dengan cepat.
Tanpa pikir panjang, Ghaizka langsung membuka kotak kayu jarum akupunktur barunya.
Slep!
Tangannya bergerak secepat kilat!
Jleb! Jleb! Jleb!
Dalam sekejap, tiga jarum halus sudah menancap di titik-titik vital di area dada, leher, dan telapak tangan pria tua itu.
"Apa yang dia lakukan? Pakai jarum-jarum itu? Bahaya!" teriak asistennya panik.
"Diam dan lihat!" perintah Ghaizka tanpa mengalihkan pandangan.
Setelah jarum terpasang, Ghaizka mulai mengirimkan sedikit energi dalamnya melalui ujung jarum, sekaligus memijat lembut area sekitarnya untuk melancarkan aliran energi yang macet.
Beberapa detik berlalu...
Hahhh...
Pria tua itu tiba-tiba menghela napas panjang dengan sangat keras!
Tubuhnya sedikit terhentak, dan wajahnya yang tadinya biru pucat perlahan mulai kembali berwarna.
"Napasnya teratur! Lihat!" seru seseorang di kerumunan dengan takjub.
Ghaizka tidak berhenti di situ. Ia memutar sedikit jarum-jarum itu untuk menstabilkan kondisi jantung dan tekanan darahnya.
Lima menit kemudian...
Pria tua itu perlahan membuka matanya. Pandangannya masih agak kabur, tapi napasnya sudah jauh lebih stabil. Ia bisa bernapas lega kembali.
Ghaizka pun perlahan mencabut jarum-jarum itu satu per satu, membersihkannya, dan menyimpannya kembali ke dalam kotak dengan rapi.
Ia berdiri tegak, menatap orang-orang yang masih memandangnya dengan mulut ternganga.
"Dia sudah sadar dan stabil. Segera bawa dia ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Jangan biarkan dia stres atau marah-marah lagi," kata Ghaizka datar.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...