Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Supranatural Lintang Tingkat ke-33
...Chapter 33...
Bulan-bulan berlalu di Fengdu seperti air keruh yang mengalir pelan tapi tak pernah berhenti—darah manusia dan cairan dewa bercampur menjadi lumpur merah yang membasahi setiap jengkal tanah di puluhan kota kecil yang masih terus bertahan, dan di sela-sela pertempuran yang tak kunjung usai, Ling Xu terus menyembuhkan, terus membunuh, terus mengumpulkan keping demi keping hingga suatu malam, ketika ia sedang duduk bersila di atas tumpukan batu puing reruntuhan bekas markas musuh, tubuhnya bergetar.
Bukan karena dingin, bukan karena takut, melainkan karena di dalam dadanya, 9.999.999.999.999.999 keping Lintang Kemanusiaan berdenyut serempak seperti satu jantung raksasa yang baru saja menemukan iramanya, dan cahaya keemasan keluar dari setiap pori-pori kulitnya, menerangi kegelapan malam seperti matahari kecil yang lahir di tengah padang mayat.
“Akhirnya," bisik Ling Xu, suaranya parau karena berbulan-bulan hanya digunakan untuk memberi perintah medis dan berteriak di medan perang, matanya menatap telapak tangannya sendiri yang kini bercahaya redup dengan sisa-sisa ledakan transformasi,
"Supranatural Lintang Tingkat ke-33. 9 kuadriliun keping."
Ia berdiri, merasakan aliran Qi baru yang mengalir di nadinya dengan kekuatan yang belum pernah ia bayangkan.
Bukan lagi air terjun, melainkan lautan yang tidak bertepi, lautan yang membuatnya mengerti mengapa tingkat ini disebut sebagai puncak Pondasi Lintang, gerbang terakhir sebelum seseorang melangkah ke ranah yang bahkan namanya saja masih menjadi misteri baginya.
Dengan langkah yang tidak lagi tergesa-gesa—karena ia tahu bahwa di tingkat ini, ia tidak perlu lagi terburu-buru untuk apa pun—Ling Xu berjalan menuju tempat favorit Huan Zheng di tengah medan perang yang sepi malam itu.
Sebuah pohon kering yang sudah tidak berdaun sejak perang dimulai, di mana pria pemalas itu terbaring telentang di atas akar-akarnya yang menjulur ke permukaan tanah, kedua tangan dijadikan bantal, mata terpejam, dan napas yang teratur seperti orang yang sedang tidur nyenyak meskipun di kejauhan, suara ledakan masih terdengar sayup-sayup.
"Zhao Wei," panggil Ling Xu, suaranya pelan tapi tegas, tangannya meraih bahu Huan Zheng dan menggoyangkannya sedikit—cukup untuk membangunkan, tidak cukup untuk membuat pria itu marah.
“Aku sudah mencapai Tingkat ke-33. 9.999.999.999.999.999 keping. Tepat seperti yang kau katakan dulu sebagai batas akhir Supranatural Lintang."
Huan Zheng tidak membuka matanya.
Ia hanya menghela napas panjang, lalu berguling sedikit ke samping, menghindari sentuhan Ling Xu dengan gerakan malas yang khas, seperti kucing yang sedang tidak ingin diganggu saat tidur siang.
"Bagus," ucapnya, suaranya terdengar seperti orang yang sedang membaca berita kematian tetangga yang tidak dikenal, datar, tanpa emosi, dan diselingi oleh satu hembusan napas yang terdengar seperti setengah menguap.
“Aku senang mendengarnya."
Ling Xu menatap Huan Zheng dengan ekspresi antara kesal dan gemas—karena pria ini baru saja diberi tahu bahwa rekannya telah mencapai puncak Pondasi Lintang, sebuah pencapaian yang butuh waktu puluhan tahun bagi kebanyakan kultivator, dan ia meresponnya dengan "bagus" yang diucapkan sambil setengah tidur.
Namun Ling Xu sudah terbiasa.
Ia sudah terlalu lama bersama pria pemalas ini untuk tersinggung oleh sikap dinginnya, sudah terlalu sering melihat bagaimana di balik kemalasan yang membuat orang ingin menjambak rambutnya sendiri, Huan Zheng menyimpan kesadaran yang tidak pernah tidur, kewaspadaan yang tidak pernah padam, dan kasih sayang yang tidak pernah ia ungkapkan dengan kata-kata tetapi selalu ia tunjukkan dengan tindakan di saat-saat paling kritis.
"Dan kau?" tanya Ling Xu sambil duduk di samping Huan Zheng, di atas akar pohon kering yang sudah usang, matanya menatap langit malam Fengdu yang masih merah kecoklatan seperti luka yang tidak pernah sembuh.
“Sudah berapa kepingmu sekarang? Aku yakin kau sudah jauh di depanku."
Huan Zheng tidak menjawab segera.
Ia hanya meregangkan badannya, tetapi anehnya, posisi badannya masih tetap rebahan santai di tanah, hanya tangannya yang terangkat sedikit ke atas, seperti sedang meraih bintang yang tidak ada, lalu menghela napas panjang yang membuat seluruh tubuhnya bergetar pelan.
"Sebenarnya," ucapnya, suaranya masih malas, masih datar, masih diucapkan dengan mata terpejam sehingga Ling Xu tidak bisa melihat ekspresinya, "beberapa saat sebelum kita direkrut menjadi pasukan dari tiap-tiap komandan yang berbeda-beda itu... aku sudah mencapai 9.999.999.999.999.999 keping."
Ia berhenti, lalu menambahkan dengan nada yang terdengar seperti orang yang sedang mengeluh tentang cuaca yang terlalu panas meskipun sebenarnya ia tidak keberatan.
"Jadi ya, kita sama-sama di Tingkat ke-33 sekarang. Tidak ada yang unggul. Tidak ada yang tertinggal. Seimbang, seperti yang kau inginkan."
Ling Xu terdiam—mulutnya terbuka, lalu tertutup, lalu terbuka lagi, seperti ikan yang kehabisan air di daratan, karena ia tidak tahu harus marah atau tertawa atau menangis mendengar bahwa Huan Zheng telah mencapai puncak Pondasi Lintang sejak berbulan-bulan lalu, tetapi memilih untuk tidak mengatakannya, tidak membanggakannya, tidak menggunakannya untuk meninggalkannya, hanya karena... karena apa?
Karena ia setengah malas?
Karena ia tidak ingin meninggalkannya sendirian?
Fhuuuh!!
Di tengah keheningan malam Fengdu yang masih menyisakan bau anyir di setiap helaian angin, Huan Zheng akhirnya membuka matanya.
Bukan dengan gerakan tiba-tiba seperti orang yang baru sadar dari mimpi buruk, melainkan perlahan, seperti kelopak bunga yang enggan mekar di musim dingin, dan di matanya yang malas itu, Ling Xu melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Keseriusan yang tidak dibuat-buat, kesungguhan yang tidak tersembunyi di balik topeng acuh tak acuh, seperti seorang guru tua yang setelah sekian lama menunggu, akhirnya menemukan murid yang layak menerima ilmu yang tidak pernah ia bagikan pada siapa pun.
"Kau ingat janjiku, Liu Xin?" ucap Huan Zheng, suaranya masih terdengar malas tetapi ada nada di baliknya yang lebih berat, lebih dalam, seperti lonceng yang dipukul di ruang bawah tanah yang gelap, "bahwa aku akan menjelaskan apa yang ada di atas Supranatural Lintang—tapi hanya jika kau sudah menembus batas Tingkat ke-33?"
Ling Xu mengangguk, dadanya berdebar lebih cepat dari biasanya, karena ia tahu bahwa malam ini, setelah berbulan-bulan bertahan di medan perang yang tak pernah benar-benar sunyi, setelah bermandikan darah dan air mata dan debu, ia akhirnya akan mendengar rahasia yang selama ini tersimpan rapi di balik bibir tipis pria pemalas di sampingnya.
Huan Zheng menghela napas panjang—napas yang terdengar seperti orang yang membuang beban yang telah ia pikul sendirian selama bertahun-tahun, napas yang anehnya terasa lega, seperti seorang penjaga gerbang yang setelah sekian lama menunggu, akhirnya melihat seorang musafir datang dengan kunci yang tepat.
“Baik," ucapnya, lalu duduk—untuk pertama kalinya malam itu, ia duduk, tidak lagi rebahan, tidak lagi berbaring, melainkan duduk bersila dengan punggung tegak, menghadap Ling Xu, matanya yang malas kini terbuka lebar, menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, "dengarkan baik-baik, karena ini tidak akan kuulangi dua kali."
Hoooh!!
"Untuk naik ke ranah kultivasi selanjutnya—Bujur Surgawi, dengan tingkatan paling dasarnya adalah Langit Terang Tingkat Kesatu—setiap kultivator yang sudah berada di Supranatural Lintang Tingkat ke-33 harus bersemedi selama satu hari satu malam penuh," ucap Huan Zheng, suaranya kini tidak lagi malas, tidak lagi datar, melainkan terukur, jelas, seperti seorang dosen yang mengajar di aula yang sunyi, "bukan semedi biasa, Liu Xin. Bukan sekadar duduk diam dan memejamkan mata. Ini adalah semedi di mana kau akan menenangkan pikiranmu, menyucikan jiwa dan semua yang terasa kotor, menenggelamkan alam bawah sadarmu untuk mencari sesuatu yang selama ini tersembunyi di antara Lintang-lintang yang telah kau kumpulkan."
Bersambung….