NovelToon NovelToon
ASI Untuk CEO

ASI Untuk CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Menjadi pengasuh CEO yang berpura pura menjadi anak berumur 7 tahun?
CEO bernama Halton Felix berumur 25 tahun, tubuh tinggi kekar dan juga berisi.

Menceritakan kehidupan yang sungguh pahit yang di jalani seorang perempuan polos yang bernama Qiandra Januar Putri. Dia berstatus pelajar kelas 2 di sekolah SMA Negeri yang ada di kota nya.
Dia seorang gadis yang cantik, baik dan juga ramah. Dia adalah anak yatim piatu, yang di tinggal orang tua nya sejak dia duduk di bangku kelas 6 SD.
Setiap hari dia berjualan donat di sekolah untuk menghidupi kehidupan dirinya dan juga adik kandungnya.
Di sekolah Qiandra adalah korban perundungan. Karena semua orang membenci dirinya akibat kemiskinan yang dia jalani.
Qiandra juga disukai Rio Dewandaru tuan muda yang terkenal akan kekayaan dan juga ketampanannya di sekolah.
Alih alih melindungi orang yang dia cintai, tuan muda yang terkenal akan kecerdasannya malah menjadi orang pertama yang ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26.

Di kelas XI IPS 1, suasana tampak begitu hening. Karena guru Psikologi yang terkenal akan kedisiplinan anaknya nya tampak tampak duduk di kursi guru yang ada di dalam kelas itu.

"Selamat pagi semua nya." Guru itu bangkit dari tempat duduk nya, lalu berjalan ke arah depan kelas, untuk mengucap kan salam ke pada semua murid nya.

"Pagi Bu." Murid yang ada di kelas XI IPS 1, tampak serempak mengucap kan salam ke pada guru mata pelajaran Psikologi itu.

Mata tajam Deva tampak menelisik ekspresi seluruh murid nya, karena dia adalah seorang guru psikologi. Jadi hanya dengan melihat ekpsresi wajah dan juga sorot mata murid nya, Deva sudah bisa menebak apa yang sedang murid murid nya itu pikir kan.

"RIO!" Deva memanggil murid nya dengan nada meninggi.

Kini semua mata murid tertuju pada bangku yang nama nya di sebut kan oleh Bu Deva. Sedang kan Rio yang nama nya di panggil, terlihat masih diam mematung. 'Kemana sebenar nya Qiandra, kenapa dari tadi dia belum masuk ke dalam kelas,' Batin Rio dalam hati nya.

"Rio, stt Rio!" Panggil Kelvin teman sebangku Rio.

Wajah Deva yang awal nya tenang, kini rona di wajah nya berubah menjadi merah padam. Dia berjalan ke arah murid nya, yang kini sedang duduk mematung.

Wajah Kelvin terlihat panik. Kala melihat guru nya yang terkenal killer itu, ber jalan ke arah bangku milik nya,

"Rio, sttt Rio" Panggil Kelvin, sembari kaki nya terus menendang nendang kaki Rio.

Apa kah Rio itu mempunyai kulit badak, sampai tidak merasakan sentuhan yang kini dia berikan.

"Mungkin kalau dengan cara halus, tidak bisa menyadarkan si kulit badak ini. Aku harus menggunakan cara kasar ke pada nya." Gumam Kelvin, sebelum akhir nya dia menginjak sepatu Rio dengan kekuatan yang besar. Sebuah kekuatan yang tercipta dari rasa takut, yang kini benar benar dia rasakan.

Brakkkk

Deva hanya bisa mengelus kan dada, karena diri nya begitu kaget. Kala Rio memasang wajah marah sembari memukul meja dengan dengan keras.

"Apa apaan sih Vin? Kaki gue sakit tau, bahkan elo telah merusak sepatu yang baru saja gue beli dengan harga puluhan juta." Ucap Rio dengan nada marah, bahkan dia dengan sengaja menunjuk kan kesombongan nya.

Kini wajah marah Rio berubah menjadi bingung, kala diri nya sadar. Jika sekarang dia sedang menjadi pusat perhatian di kelas nya. Saat diri nya menoleh ke arah teman teman di kelas nya, memandang diri nya dengan pandangan yang sangat sulit untuk di arti kan. Dan yang membuat nya aneh, 'Padahal biasa nya kelas gue itu selalu ramai para murid yang brisik, sejak kapan kelas gue jadi sepi kek kuburan begini.' Batin Rio dari dalam hati nya.

"RIO!" Bentak Deva, sehingga membuat tubuh Rio pun terperanjat kaget. Bahkan ekspresi wajah nya yang tadi terlihat bingung, sekarang berubah kaget seperti orang yang habis bertemu dengan hantu.

"Bu - bu Deva," Ucap Rio dengan nada terbata bata, sembari menggaruk kepala belakang nya. Walau pun kepala belakang nya itu tidak gatal. Mata Rio menatap tajam ke arah teman teman nya di kelas, yang kini sedang melihat nya. Sebagai bentuk ancaman agar teman teman sekelas nya tidak menjadi kan diri nya sebagai pusat perhatian.

"Kenapa? Kamu kaget melihat saya sudah berada di sini."

"Ti - tidak, buat apa saya kaget. Saya tadi melihat kok, waktu Bu Deva masuk ke dalam kelas." Kilah Rio, dia terlihat menormalkan wajah nya.

"Jika kamu tahu, kalau saya sudah berada di dalam kelas, Kenapa kamu tidak menjawab salam yang saya ucap kan? Apa yang sebenar nya mengganggu pikiran mu, sehingga kamu mengabaikan keberadaan saya." Ucap Bu Deva sembari menelisik ekspresi wajah yang Rio tunjukan.

Rio kini sudah tidak bisa berkata apa apa lagi, dia hanya diam dengan wajah yang menunduk. Karena yang di kata kan guru didepan nya itu benar, dia ingat kalau dia tidak mengucap kan salam yang Deva berikan.

Melihat Rio menunduk kan wajah nya. Deva sadar, jika murid nya itu sudah menyadari kesalahan yang dia lakukan. Tapi bukan Deva nama nya, jika tidak menghukum murid nya yang melakukan kesalahan.

"Sekarang kamu keluar dari kelas saya!" Bentak Deva sembari menunjuk ke arah pintu yang ada di kelas nya.

"Ibu berani menyuruh saya untuk keluar dari kelas?"

"Why not. Semua murid yang melakukan kesalahan saat jam pelajaran saya, pasti akan saya hukum."

"Apakah Bu Deva lupa, dengan power dan juga kekayaan yang dimiliki oleh ayah saya," Ucap Rio tanpa rasa hormat, sembari menatap guru nya itu dengan tatapan mata tajam.

"Tenang, saya ingat nama mu adalah Rio Dewandaru kan. Saya tidak lupa dengan kekayaan ayah mu Tuan Dewandaru. Tapi kan kekayaan nya itu milik ayah mu, bukan punya mu. Dan satu lagi tanpa bantuan sepupu mu Felix, kekayaan yang keluarga Dewandaru miliki pasti sudah hilang alias bangkrut. Dan tidak ada hal lagi yang bisa kamu sombongkan!" Ucapan Deva seketika membuat mata Rio membulat sempurna, bahkan dia terlihat mengepalkan tangan nya.

Bahkan ucapan Deva sukses membuat seisi kelas, berbisik membicarakan Rio. Bahkan beberapa teman yang dekat dengan nya, terlihat menatap Rio dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Baik, saya akan segera keluar dari sini. Tolong jangan pernah sebut nama sepupu laknat itu, di depan saya" Ucap Rio dengan nada angkuh, bahkan dia terlihat meninggalkan kelas begitu saja. Tanpa mengucap kan pamit ke pada guru di kelas nya.

Deva hanya menatap punggung murid nya itu, dengan pandangan yang sangat sulit untuk di arti kan.

Lalu Deva menatap ke arah bangku murid yang selalu mendapat kan catatan hitam dari nya. karena murid itu terlalu bodoh untuk memahami pelajaran yang dia sampai kan.

1
Nurul Mentari
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!