Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Bayangan makan siang yang sudah ada di kepala Andara berantakan semua bahkan kalau boleh jujur, Andara agak kecewa karena Dita mengajak Dani tanpa membicarakannya terlebih dahulu.
Tapi suka atau tidak, Andara hanya bisa menerima, pura-pura tidak masalah padahal dalam hatinya lumayan kesal.
“Maaf ya Ra aku nggak bilang dulu kalau mau ajak mas Dani. Sebetulnya aku sendiri iseng aja ajak kakakku ini, eh tidak disangka dia langsung mau.”
“Nggak apa-apa Mbak,” sahut Andara dengan senyum terpaksa.
“Kayaknya karena aku bilang perginya sama kamu deh, Ra,” canda Dita dengan tawa kecil dan melirik kakaknya yang langsung melotot.
“Jangan suka asal ngomong, Dit, biarkan Andara menghabiskan makan siangnya dulu.”
Bukan hanya teguran tapi Dani juga memberi isyarat supaya adiknya tidak melanjutkan candaanya karena bukannya tersipu malu, Dani melihat Andara menyembunyikan perasaannya.
“Jangan dimasukkan ke hati, Ra ! Dita memang paling hobi menjodohkan aku dengan teman-temannya.”
“Tidak apa-apa, Pak.” sahut Andara dengan senyuman tipis.
Dita sudah siap-siap ingin protes mendengar panggilan Andara pada kakaknya tapi Dani keburu melotot dan kembali memberi isyarat sambil menggelengkan kepala.
Bukannya Andara tidak tahu tapi ia sengaja pura-pura tidak melihat. Situasi semacam ini membuatnya agak kesal apalagi Dita pernah menyinggung soal niatnya ingin menjodohkn Andara dengan Dani.
“Kamu nggak buru-buru pulang kan, Ra ? Habis ini kita lanjut cari dessert dulu ya ?”
“Mbak Dita nggak ada jadwal visit hari ini ?”
“Ada tapi cuma sebentar nanti sore. Kamu sendiri ada acara ?”
Andara memeriksa handphonenya berharap ada pesan masuk yang membuatnya tidak perlu berbohong untuk menolak ajakan Dita tapi sayangnya tidak ada satu pun pesan masuk.
Tanpa sadar Andara menghela nafas membuat Dita sempat bertatapan sekilas dengan Dani.
“Kalau kamu nggak bisa jangan dipaksa, Ra,” ujar Dani.
“Bisa Pak, aaya tidak ada acara apa-apa. Saya ikut mbak Dita dan pak Dani saja.”
Dita mengangguk-angguk dengan senyum dipaksakan. Ia agak menyesal dengan keputusannya mengajak Dani padahal tujuannya ingin membuat Andara tidak terlalu canggung pada kakaknya sekalipun status mereka adalah boss dan karyawan.
Soal niat menjodohkan adalah tambahan. Dita kesal melihat Dani terlalu lama tenggelam dalam bayangan Fanny bahkan sampai perempuan itu sudah meninggal pun, Dani seperti susah move on.
Namun beberapa minggu terakhir, Dita menangkap Dani mulai berubah. Kakaknya seperti tertarik pada Andara. Itu sebabnya Dita semakin bersemangat apalagi Dani seperti menerima baik niatnya.
**
Kurang lebih 30 menit kemudian ketiganya sudah pindah ke salah satu cafe yang letaknya sengaja dipilih dekat dengan rumah sakit.
Setelah diajak beberapa kali oleh Dita, Andara mulai terbiasa dengan suasana cafe dan sudah tahu minuman apa yang akan dipesannya.
Baru selesai memesan dan belum juga memulai percakapan, tiba-tiba bahu Andara ditepuk dari belakang.
“Sayang, maaf aku terlambat.”
Bukan hanya Andara, Dani dan Dita pun mendongak dan spontan terkejut melihat Baskara apalagi mendengar pria itu memanggil Andara dengan sebutan sayang.
“Nggg….”
“Kenalkan ini Andara, calon istriku. Aku tidak bohong kan ?” ujar Baskara dengan senyum penuh kemenangan pada wanita yang berdiri di sampingnya.
Andara menautkan kedua alisnya, semakin bingung dengan sandiwara yang dimainkan Baskara.
“Aku tidak percaya !” desis perempuan itu dengan nada sinis dan tatapannya seperti merendahkan Andara.
“Dia cuma anak kecil dan….” Wanita itu kembali menelisik seperti mesin scanner. “Dia bukan tipemu.”
“Dia siapa ?” Pertanyaan balik Andara membuat Baskara sempat kaget tapi detik berikutnya berubah sumringah.
“Elsye, teman SMA-ku.”
Tidak tahu mendapat keberanian darimana Andara berdiri, mengulurkan tangannya tapi diabaikan bahkan Elsye berdecih dengan sinis dan tatapannya kelihatan jijik.
“Kamu nggak terlambat kok, aku baru saja pesan minuman.”
Melihat Andara langsung paham dengan situasinya, Baskara dnegan santai merangkul bahu Andara.
Dita langsung melotot kesal dan memberi isyarat pada kakaknya untuk menjauhkan tangan Baskara tapi Dani malah menggeleng. Entah sandiwara atau bukan, Andara kelihatan tidak keberatan sama sekali.
“Bagainana kalau minumannya dibawa pulang ? Aku ingin cepat-cepat mandi, nggak enak bekas keringatan.”
“Boleh.”
Baskara sempat mengangkat alisnya sebelah, menebak-nebak ekspresi Andara yang kelihatannya bukan sedang bersandiwara.
“Mbak Dita, pak Dani, maaf saya duluan.”
Dita sampai melongo, tidak bisa berkata-kata saat Andara berpamitan sedangkan Dani langsung menganggukkan kepala.
“Terima kasih atas traktiran makan siangnya,” lanjut Andara.
Wanita bernama Elsye itu masih berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada, memperhatikan Baskara dan Andara yang pergi sambil bergandengan tangan.
Keduanya sempat berhenti di meja kasir, membayar tagihan lalu keluar cafe.
Tanpa diberi aba-aba Dita, Dani dan Elsye sama-sama menghela nafas dengan pikiran mereka masing-masing.
“Terima kasih,” ujar Baskara sambil melajukan mobilnya meninggalkan parkiran.
“Bapak membuntuti saya ?” tanya Andara sambil memicingkan mata.
Baskara menggeleng sambil tertawa. “Tidak ! Tapi aku benar-benar bersyukur bertemu denganmu di situ.”
“Yakin ?” Tatapan Andara masih curiga. “Aneh banget bisa kebetulan begitu.”
“Kamu sendiri kenapa malah senang pura-pura jadi calon istriku ?” Gantian Baskara menyipitkan mata, menoleh sekilas karena harus fokus ke jalan di depannya.
“Siapa yang senang ? Saya hanya sigap membantu bapak.”
“Oh ya ? Lalu kenapa kamu langsung mau diajak pulang ? Jangan-jangan kamu habis dipaksa jadi kekasihnya dan tidak enak menolak,” ledek Baskara sambil tertawa
Andara melirik tajam lalu menghela nafas dan membuang muka ke samping.
“Hhhhmmmm jadi tebakanku benar.”
“Jangan terlalu percaya diri !” cebik Andara. “Pak Dani tidak bilang apa-apa tapi dokter Dita ingin menjodohkan saya dengan kakaknya.”
“Lalu kenapa kamu malah kelihatan kesal ? Aku kihat dia tertarik padamu. Harusnya kamu bersyukur karena derajatmu langsung terangkat dan suamimu….”
Plak !
“Aaaawww !”
Andara tersenyum sinis melihat Baskara meringis sambil mengusap lengannya yang baru saja kena pukulan.
“Cowok cengeng !” cibir Andara.
“Berani-beraninya kamu memukulku !” Baskara melotot selebar-lebarnya.
“Siapa suruh berani menghinaku ?” pekik Andara.
“Kamu pikir aku pergi ke Jakarta karena ingin cari suami kaya ? Kamu kira aku mau bekerja di rumahmu karena berharap bisa memikatmu ?”
Melihat mata Andara berkaca-kaca, Baskara menepikan mobilnya.
“Maaf aku tidak bermaksud merendahkanmu.” Baskara menyodorkan 2 lembar tisu yang diterima Andara tanpa menoleh.
“Sebetulnya aku memang menyuruh Rio mencari tahu tentangmu dan mengamati aktivitasmu tapi bukan karena niat buruk. Aku hanya khawatir karena kamu bersamanya.”
“Jadi benar kan tebakan saya ? Khwatir ? Untuk apa bapak peduli ?”
“Aku juga tidak tahu,” gumam Baskara.
Keduanya sempat terdiam, tenggelam dengan pikiran masing-masing.
“Ngggg…. Aku ingin menawarkan sesuatu padamu.”
“Tawaran apa ? Kembali jadi ibu susunya Lily ?”
Melihat kepala Baskara menggeleng, Andara menautkan kedua alisnya.
“Bagaimana kalau kita menikah ?”
Andara sampai terbatuk-batuk karena tersedak air liurnya sendiri.