Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24--Memperbaiki HP Rongsok
"Halah, gayamu! Oke, balik ke bisnis," Pak San mengubah raut wajahnya menjadi serius. Ia berjalan ke arah gudang belakang ruko dan membawa sebuah kardus besar berisi tumpukan mesin-mesin ponsel yang terlihat masih baru namun hancur di beberapa sisi.
“Lagian saya bukan paman rahmat dari blok M yang kata istrinya dulu, dia punya lebih dari 6 cewe harem … orang gila.”
Sementara mendengar nama Rahmat dan cara dia memanggil begitu akrab buat pak San tersedak ludahnya, dia tentu tahu nama itu. Rahmat prtama pemilik galeria seni barang antik di blok M, galeria spesial Rahmat yang sukses di sepuluh tahun akhir ini.
Katanya dia itu termasuk jajaran orang kaya, koneksinya bukan main. Namun orang sebesar itu sekarang memutuskan kerja kantoran hidup sebagai warga biasa, galeria spesial rahmat itu cuma dijadikan sebagai kerja sampingan.
Orang kaya emang beda dan naufal sebut dia paman
“Nak, k-kamu kenalan tuan Rahmat dari blok M … kamu sekeluarga atau gimana?”
“Mana ada,” potong Naufal. Lalu sebuah kilas balik masa lalu muncul dari kepala dia, ia tersenyum simpul. “dia pahlawanku, pak. Aku berhutang nyawa dengan dia.”
“Ya, cukup sama cerita kisah masa lalu … pak San jangan lupa janji tadi.”
Pak San mengubah raut wajahnya menjadi serius. Ia berjalan ke arah gudang belakang ruko dan membawa sebuah kardus besar berisi tumpukan mesin-mesin ponsel yang terlihat masih baru namun hancur di beberapa sisi.
"Ini ada barang returan dari gudang distributor pusat yang nggak lolos QC (Quality Control). Ada layar yang green line, ada yang mesinnya overheat. Tadinya mau saya kanibal buat ambil baut atau konektornya aja. Tapi karena kamu punya 'tangan ajaib', kamu bawa aja semuanya. Saya kasih harga rongsok, Rp 50.000 per mesin."
Naufal melihat isi kardus itu. [Analisis Nilai Aktif!].
[Item: 20 Unit HP rongsok dan beberapa Mainboard Mix Brand (Samsara, OMNI, Veva)]
[Potensi Nilai Setelah Perbaikan: Rp 30.000.000]
[Harga Beli: Rp 1.000.000]
Mata Naufal berbinar. Ini adalah tambang emas pertamanya. "Saya ambil semua, Pak. Ini sejuta buat Bapak."
"Sip! Oh ya, Fal. Tadi kamu bilang mau 'memproduksi' sesuatu. Kamu beneran mau bikin HP sendiri?" tanya Pak San sambil menerima uang itu.
Naufal mengangguk pelan sambil memasukkan kardus itu ke bagasi darurat di samping Ducati-nya. "Iya, Pak. Suatu hari nanti. Tapi langkah awal, mau mempelajari dulu, mungkin dari memperbaiki hp rongsok menjual ulang, membuat hp limbah dari rangkai banyak komponen, sekalian riset pasar, saya juga ada niat buat toko HP paling besar di kota ini sebagai lintas hubungan antar brand … perjalanan masih panjang.”
Pak San terdiam, menatap Naufal dengan pandangan penuh rasa hormat yang baru. Harus diakui naufal punya ambisi besar untuk anak seusianya.
"Kalau kamu beneran bisa bikin itu, kamu bukan cuma jadi pengusaha, Fal. Aku tunggu kabar sukesmu.”
Naufal menjabat tangan Pak San sekali lagi. Hari ini ia pulang bukan hanya membawa rongsokan, tapi membawa fondasi awal untuk brand masa depannya.
****
Di rumah malam hari.
Naufal duduk di meja kayu kecilnya, dikelilingi oleh komponen-komponen ponsel yang baru ia beli. Ibunya sudah tidur, dan Rara sedang asyik belajar di kamar sebelah dengan lampu yang remang-remang.
Naufal meraih ponselnya dan melihat kontak Luna Wijaya. Ia teringat analisis sistem tadi. Arka Group punya jaringan distribusi yang luas. Jika ia bisa bekerja sama dengan mereka, ia tak perlu pusing soal logistik saat brand HP-nya lahir nanti.
Untuk awalan, dia hanya perlu menyapa Luna dari balik nomor tersebut.
[Halo, kak Luna. Ini naufal.]
Udah gitu doang, Naufal menaruh ponsel dia. Gak begitu tertarik kalau pesan itu dibalas kagak atau cuma dibaca doang.
Sementara itu Luna sudah pulang dari kantor, hari itu dia selamat dari gebukin masa berkat bantuan dari Naufal.
Ia mengenakan baju tidur, Luna baru saja selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk ketika ponsel di atas meja riasnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal.
[Halo, kak Luna. Ini Nuafal]
Hanya beberapa kata. Singkat, padat, dan tanpa basa-basi berlebihan. Namun, jantung Luna memberikan reaksi yang tidak wajar. Ia segera menyambar ponselnya, duduk di tepi tempat tidur dengan mata berbinar.
"Mas Naufal?" gumamnya pelan.
Ia teringat kembali kejadian di ruko Pak San. Bagaimana pemuda itu dengan sangat tenang membedah ponsel mahalnya seolah itu hanya mainan anak-anak. Ketenangan itu, dikombinasikan dengan tatapan matanya yang tajam, terus terngiang di kepala Luna.
Luna segera mengetik balasan dengan jemari yang sedikit gemetar. Sebagai Manajer Operasional Arka Group, biasanya dialah yang dikejar-kejar orang, tapi kali ini dia merasa seperti remaja yang menunggu pesan dari gebetan.
[Luna: Hai, Mas Naufal! Makasih ya buat tadi. Presentasi saya lancar banget, bos besar puas. Mas Naufal sudah sampai rumah?]
Luna menatap layar ponselnya selama dua menit. Read. Hanya dibaca.
"Sial, dia cuma baca?" Luna menggigit bibir bawahnya, merasa sedikit kesal sekaligus makin penasaran. "Baru kali ini ada cowok yang cuek begini setelah saya kasih lampu hijau."
Sementara itu, di kamar seberang, Naufal memang hanya membaca pesan itu sekilas. Fokusnya sedang terbagi. Di hadapannya, sepuluh mesin ponsel rongsokan dari Pak San sudah terbongkar rapi.
Sementara itu, di kamar seberang, Naufal memang hanya membaca pesan itu sekilas. Ia gak begitu tertarik untuk drama menye-menye normalnya anak remaja.
Fokusnya sedang terbagi. Di hadapannya, sepuluh mesin ponsel rongsokan dari Pak San sudah terbongkar rapi.
“Ini lebih bikin nafsu.”
[Ding!]
[Kemampuan Memahami Part Aktif!]
[Mendeteksi 5 unit Mainboard Samsara S22 - Kerusakan: Overheat & Power IC]
[Mendeteksi 5 unit OMNI R-11f - Kerusakan: Backlight & Port Charging]
"Kalau gue perbaiki semua malam ini, besok gue bisa jual dengan harga barang second rasa baru," gumam Naufal. “Lumayan cuan tambahan.”
Tangannya mulai menari di atas meja. Dengan bantuan sistem, Naufal tidak butuh skema rumit. Ia hanya perlu menyentuh komponen tersebut, dan sistem akan menunjukkan jalur mana yang harus disambung.
Namun tiba-tiba layar notifikasi sistem bertambah.
[Selamat karena aktivitas menyelesaikan banyak misi dan terus mengasah kemampuan.]
[Anda naik level.]
[Nama : Naufal Mari’e]
Level : 3
Kepintaran : 12
Ketampanan : 13
Kharisma : 15
Kekuatan : 7
Ketahan : 4
Kelincahan : 7
Skill :
* Keberuntungan tingkat tinggi
Saldo
RP 125.000.000.
Aset
Motor ducati panglima v2]
-Seni beladiri tingkat tinggi
-Kemampuan Memahami Part ponsel]
[Karena tuan Rumah naik level tuan memiliki poin status +10]
[Statis apa yang ingin anda naikan?]
Naufal tersenyum, datang di waktu yang tepat. Dia butuh amunisi kepintaran tambahan. Tanpa ragu dia all in 8 poin kepintaran dan 2 poin kekuatan untuk bertahan fisik. Hasilnya gak main-main,otak dia serasa tambah encer.
Tengah malam itu tangan dia terus meracik beberapa rongsokan.
...****************...
***************
A/N : Author bawa novel baru lagi nih, jangan lupa dibaca juga gays
Judul : Sistem Petani : Mengubah Sampah Menjadi cairan Dewa
Sinopsis:
Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi emas]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa,
dengan cairan ini dia aka menjadi petani sultan!
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN