Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pintu rahasia itu menutup dengan bunyi klik logam yang berat, mengunciku dalam keheningan absolut yang kontras dengan kekacauan di luar. Lift hidrolik itu tidak memiliki tombol, ia bergerak otomatis, meluncur turun dengan kecepatan yang membuat telinga berdenging.
Di dalam kotak besi sempit itu, aku memeriksa senjataku. Aku memasukkan magasin terakhir ke dalam Glock-17. Di saku kiriku, flash drive dari Dimitri terasa panas, seolah membawa beban dosa yang harus segera kucuci di Tora-Tora.
Aku sadar, lift ini tidak membawaku pada keselamatan. Ia membawaku ke garis depan yang baru. Di atas sana, Dimitri sedang membakar sejarahnya. Di bawah sini, aku sedang menulis naskah untuk kematian Marko. Setiap lantai yang kulewati menjauhkanku dari agen yang patuh, dan mendekatkanku pada hantu yang haus pembalasan.
Pintu lift terbuka di level utilitas, empat lantai di bawah permukaan jalan. Udara di sini berbau karat, uap panas, dan oli tua. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip memberikan nuansa kuning yang sakit pada dinding beton.
Aku berlari. Langkah kakiku bergema di lorong yang sempit. Ia mengikuti jalur pipa uap raksasa yang mendesis. Sesuai instruksi Dimitri, aku akhirmya sampai di sebuah celah ventilasi yang menuju ke stasiun Metro Vystavochnaya yang terbengkalai.
Di sana, di balik bayangan pilar beton besar, seorang pria bertubuh gempal dengan seragam oranye petugas kebersihan sedang menungguku. Pria itu tidak bicara. Ia hanya melemparkan sebuah tas kanvas lusuh ke arahku dan menunjuk ke arah terowongan kereta yang gelap.
Kubuka tas itu sejenak, di dalamnya terdapat sebuah paspor diplomatik Rusia atas nama Nikolai Sokolov, sebuah jaket wol panjang, dan kacamata berbingkai perak. Di dalamnya juga ada sebuah tiket penerbangan kelas satu menuju Dubai yang akan berangkat dalam dua jam.
Aku segera berganti pakaian di balik pilar. Kutinggalkan rompi taktis dan pakaian hitam di dalam tas kanvas, lalu aku menenggelamkannya ke dalam genangan air limbah yang dalam di sudut terowongan.
Kini, aku bukanlah sang predator dari Jakarta, aku adalah Nikolai, seorang birokrat yang tampak lelah dan tidak mencolok. Aku berjalan keluar dari stasiun melalui pintu darurat yang menuju ke gang sempit di samping kompleks Moscow City.
Begitu aku menghirup udara luar, hawa dingin yang menusuk tulang menyambutku. Namun, yang lebih menarik perhatianku adalah bola api raksasa yang baru saja meledak di puncak lantai 22. Kaca-kaca berjatuhan seperti hujan berlian yang mematikan di bawah lampu sorot helikopter FSB.
Aku menatap api itu sebentar. Di sana, Dimitri sedang menepati janjinya. Dunia akan mengira aku mati bersamanya. Itu adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan seorang musuh, sebuah kematian palsu agar aku bisa hidup untuk menyerang dari arah yang tidak terduga.
Sebuah taksi Mercedes hitam dengan plat nomor diplomatik berhenti tepat di depanku. Sopirnya hanya mengangguk kecil. Aku masuk ke kursi belakang, menyandarkan kepalaku, dan membiarkan mobil itu meluncur menjauh dari zona perang.
Di sepanjang jalan menuju Bandara Sheremetyevo, aku melewati iring-iringan truk taktis FSB yang melaju kencang ke arah berlawanan. Aku tetap tenang. Aku mengeluarkan laptop tipisku, menghubungkannya ke jaringan satelit pribadi yang sudah disiapkan Dimitri, dan mengirimkan satu pesan singkat yang terenkripsi ke Tora-Tora, bukan ke ponsel Ghea, tapi ke sebuah alat komunikasi kuno yang aku tahu hanya Nenekku yang bisa mengoperasikannya.
Pesan itu hanya berisi satu kata: "HUJAN."
Itu adalah kode peringatan tertinggi. Bahwa badai akan datang, dan kamipun harus bersiap.
Di Bandara, aku berjalan melalui jalur VIP. Petugas imigrasi melihat paspor diplomatik yang kubawa, melihat wajahku yang kaku dan angkuh, lalu menstempel paspor itu tanpa banyak bertanya. Kekuatan dokumen yang disiapkan Dimitri benar-benar tak terbantahkan.
Saat aku duduk di kursi pesawat dan merasakan mesin jet menderu untuk lepas landas, aku memejamkan mata. Aku menyentuh gelang batu hitam di dalam saku.
Roda pesawat meninggalkan landasan Moskow. Di belakangku, rahasia Dimitri terkubur dalam abu sedangkan di depanku, Tora Tora menunggu dengan segala keheningan dan bahayanya.
'Marko, kau pikir kau sudah menyingkirkan masalahmu di Rusia. Kau tidak tahu bahwa kau baru saja mengirimkan masalah terbesar dalam hidupmu langsung ke depan pintumu.' batinku.
Langkah kakiku keluar dari pintu pesawat Emirates di bandara internasional utama adalah momen di mana "Nikolai Sokolov" perlahan mulai luntur, digantikan oleh naluri ku sebagai pemangsa yang pulang ke sarangnya. Udara ber-AC yang steril di dalam kabin berubah seketika menjadi kelembapan tropis yang berat saat kutapakkan kakiku di garbarata.
Di terminal internasional, aku bergerak dengan efisiensi, tidak menuju klaim bagasi karena semua yang kubutuhkan ada di dalam ransel taktis yang tidak pernah lepas dari bahuku. Di sebuah toilet pria yang sepi, aku melepas setelan wol mahalku berganti dengan kemeja flanel gelap dan celana kargo teknis yang fleksibel. Di balik cermin, aku menatap wajahku sendiri, wajah yang selama di Moskow tersembunyi di balik topeng diplomatik.
Aku menyelipkan paspor Rusiaku ke tempat tersembunyi di dalam tas dan mengeluarkan sebuah identitas lokal yang tampak kusam namun sah, seorang Ghani Ardiansyah.
'Selamat tinggal, Nikolai. Di sini, udara tidak mengenal bau salju, hanya bau tanah basah dan pengkhianatan. Aku merasakan detak jantung Tora-Tora memanggilku. Aku harus masuk tanpa terdeteksi oleh radar lokal Marko.'
Aku berjalan menuju apron tempat pesawat turboprop Cessna Caravan bermesin tunggal menunggu. Pesawat perintis ini adalah satu-satunya cara untuk mencapai Tora-Tora tanpa melewati blokade jalan raya yang mungkin sudah dipasang anak buah Marko di jalur darat sepanjang 150 km dari Manawe, ibukota provinsi, ke Tora-Tora.
Suara baling-baling pesawat menderu memecah kesunyian bandara kecil itu. Aku duduk di kursi paling belakang, di samping jendela yang sedikit bergetar. Saat pesawat lepas landas, aku melihat hamparan hutan hijau dan ladang jagung yang luas membentang di bawahnya.
Saat pesawat mulai menurunkan ketinggian, Tora Tora menampakkan wajahnya. Dari jendela, aku bisa melihat struktur geografis yang aku hafal di luar kepala. Pilot melakukan manuver tajam untuk menghindari turbulensi angin laut yang kencang. Aku hanya memegang sabuk pengamanku, mataku tajam mengamati landasan pacu darurat yang hanya berupa hamparan tanah merah dan rumput liar di pinggiran kota.
Cekit! Roda pesawat menyentuh tanah merah dengan guncangan keras. Debu merah berterbangan di jendela saat pilot mengerem paksa di landasan yang pendek. Pesawat berhenti tepat sebelum ujung landasan yang berbatasan langsung dengan ladang jagung.
Pintu kecil pesawat terbuka. Aku melangkah turun, sepatu botku langsung menginjak tanah merah yang lembap. Aroma tanah, jagung, dan uap garam dari Samudra Hindia menyergap hidungku. Aku berjalan menjauh dari pesawat tanpa menoleh ke belakang, melompati pagar kayu kecil dan menghilang ke dalam rimbunnya ladang jagung, menuju titik di mana aku menyembunyikan motor trailku beberapa saat yang lalu.
Motor trailku, sempurna. Perang di Tora Tora telah dimulai.
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/